Ketika Playboy Jatuh Cinta

Ketika Playboy Jatuh Cinta
Lemah


__ADS_3

Bu Fae berkata,


"Ibu turut prihatin dengan kejadian yang menimpamu nak. Terlebih mengenai penyakit yang kamu derita. Ibu juga ingin menyarankan kepada siswa dikelas ini untuk tidak membuat nisa terkejut dengan kejailan yang kalian lakukan karena itu akan mempengaruhi penyakitnya nisa" Pinta bu Fae.


"Baik bu, kami tidak akan menjaili Nisa" Sahut anak dikelas kompak.


Dan kamipun memulai pelajaran hari ini. Aku nampaknya tidak tertinggal dengan pelajaran Sejarah karena buku yang ku miliki ternyata sudah terdapat catatan yang dituliskan oleh kak Firman. Dari situ aku kembali merasa sangat terharu mengingat apa yang dia lakukan dalam membantuku.


Ting tong... ting tong... ting tong...


Begitulah bunyi bel sekolahku ketika jam istirahat. Aku bergegas merapikan buku dimejaku. Syafa membantuku merapikannya.


"Nis kita ke koperasi yuk, kalo ke kantin kan kejauhan. Aku gak mau kamu kecapekan" Pintanya.

__ADS_1


"Iya fa, aku terserah kamu aja deh. Yang penting aku sama kamu. Hehe" Sahutku.


"Eh kamu ini, aku akan selalu didekatmu dalam kondisi apapun. Jadi kamu berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi seperti kemarin" Ujarnya.


"Kamu tenang aja Syafa. Aku gak bakalan ninggalin kamu lagi kok. Mari kita ke koperasi. Nanti takutnya bel masuk berbunyi jadi kita gak ada waktu buat istirahat lagi" Sahutku sembari menarik tangannya.


"Baiklah, kamu jangan menarik tanganku nisa. Harusnya aku yang menggandengmu. Berjalanlah perlahan, gausah terburu buru" Pintanya sembari meraih tanganku.


Kami berjalan menuju koperasi. Setelah sampai disana ternyata ada kak Firman dan teman temannya. Termasuk juga kak Arul yang sedang berdiri menutupi jalan kami. Dia berkata agak keras ketika melihat kami masuk.


"Kak, gausah kebanyakan ngomong deh. Harusnya kakak yang minggir karena telah menghalangi jalan kami" Sahut syafa dengan nada yang tegas.


Semua siswa yang ada diruangan itu tertawa lepas mendengar jawaban Syafa. Dan ada juga yang berkata,

__ADS_1


"Gak salah ini si Rima didik adiknya jadi seperti ini. Biar tau rasa tuh playboy yang sok bisa nakhlukin hati wanita. Makan tuh omongan pedasnya. Hahaha" Ujar salah satu teman kak Rima.


Kak Firman mengagetkanku dengan berbisik ditelingaku ketika aku sedang tertawa kecil mendengar jawaban Syafa.


"Dek, mau jajan apa? Biar kakak yang ambilin. Kamu duduk aja disini" Bisiknya sembari mengambil kursi yang telah disediakan di koperasi.


"Nggak usah kak, adek gak mau ngerepotin kakak lagi" Sahutku tidak bermaksud untuk menolak permintaannya.


"Kakak gak ngerasa direpotin kok, udah kamu duduk aja dulu. Biar kakak ambilkan" Pintanya.


"Iya bener nis, kamu duduk disini saja. Kamu kan gak boleh lama lama berdiri karena tubuhmu masih agak lemah" Ujar syafa yang mendengar pembicaraan kami.


"Baiklah, terima kasih ya untuk kalian berdua" Sahutku sembari duduk dikursi.

__ADS_1


Memang benar, rasanya kepalaku sedikit pusing. Aku melihat kak Firman dan Syafa sedang sibuk memilih makanan ringan untukku. Mungkin untuk persediaan istirahat kedua nanti supaya nggak balik lagi.


__ADS_2