
Setelah rasanya aku sudah tak sanggup mengungkapkan sepatah kata, kak Firman kembali membawakan kejutan untukku. Pasti dia sudah mempersiapkannya jauh jauh hari setelah kepulanganku dari rumah sakit. Dia meminta temanku untuk memasuki ruangan kelas dengan membawa berbagai macam bunga serta makanan favoritku juga. Pantas saja aku merasa heran mengapa sedari tadi tak ada yang memasuki ruangan ini. Untung saja pagi ini guru sedang rapat diruangan mereka. Jadi mungkin mereka memanfaatkan waktu ini untuk menyambut kedatanganku. Aku sungguh merasa terharu. Untung saja penyakit jantungku tidak kambuh karena saking merasa bahagianya.
Setelah dirasa sudah tak ada lagi kejutan yang kak Firman berikan. Aku memeluk Syafa yang ternyata juga turut membawa salah satu bunga kesukaanku. Aku sangat terharu dan senang sekali sehingga aku bingung harus bahagimana mengekspresikan nya. Aku memandangi kak Firman yang sedang duduk sembari berkata,
"Terima kasih banyak ya kak, maaf adek selalu menyusahkan kakak. Harusnya kakak gak perlu menyiapkan ini semua" Ujarku kepadanya.
__ADS_1
"Gapapa dek, kalo adek senang kakak justru akan senang juga melihatnya" Sahutnya sembari tersenyum.
Akupun menyambut senyumnya dengan gembira. Setelah itu, Kak Firman nampak sudah kembali kekelasnya karena guru guru sudah menyudahi rapat pagi hari ini. Aku duduk ditempat semula. Semua tulisan beralaskan bunga yang ada dipapan tulis ternyata sudah bersih seperti semula. Entah siapa yang mempersihkannya.
Seketika mejaku penuh dengan berbagai macam bunga. Ada juga bunga keabadian atau dengan nama latin yaitu bunga Edelweiss. Ya, memang aku sangat menyukai bunga tersebut. Namun sangat sulit rasanya mendapatkan bunga itu. Aku hidup ditengah tengah kota sedangkan bunga itu hanya tumbuh di pegunungan saja. Aku tak tau siapa yang membawakannya untukku. Setauku, kak Firman itu suka mendaki. Mungkin dia yang membawakannya untukku namun tidak sempat memberikannya. Yang dia genggam dan berikan untukku tadi hanyalah bunga mawar putih namun tidak hanya setangkai saja.
__ADS_1
"Sini nis, taruh dilaciku saja. Kamu gausah sungkan gitu, kita kan sahabat" Ujarnya.
"Terima kasih ya fa, maaf juga aku sudah terlalu sering merepotkanmu" Sahutku.
Syafa membantuku membereskannya karena mengingat pelajaran sebentar lagi akan dimulai. Ketika itu, ibu guru nan cantik jelita memasuki ruang kelas kami. Seketika mata seluruh kaum adam dikelas kami tertuju padanya.
__ADS_1
Guru yang mengajar mata pelajaran Sejarah dikelasku adalah guru termuda di antara guru lainnya. Dia belum menikah saat ini, mungkin usianya sekitar 23 tahun. Dia tampak sangat cantik, makanya setiap ada pelajarannya semua siswa nampak ceria. Dan dia juga termasuk guru favoritku disekolah.
Namanya yaitu ibu Faerulia dan biasa dipanggil bu Fae. Bisa dibayangkan gimana ekspresi seluruh siswa ketika dia menyapa kami didepan dengan keanggunannya. Dia juga menghampiri mejaku dan bertanya mengenai ketidakhadiranku beberapa minggu ini. Syafa yang menjelaskan pertanyaan bu Fae tersebut. Dan nampaknya bu Fae terlihat begitu terkejut ketika mendengarku mengalami koma selama seminggu lamanya.