Ketika Playboy Jatuh Cinta

Ketika Playboy Jatuh Cinta
Menanti Hari Esok


__ADS_3

Mereka berpamitan pulang setelah mendengar beberapa cerita dari mama mengenai bagaimana aku bisa dilarikan disini. Senja juga nampak membentang dicakrawala. Terlihat indah dibalik kaca. Saat mereka pulang, diruangan itu hanya ada aku, kak Firman dan Syafa. Aku meminta kak Firman untuk mengantarkan Syafa pulang. Karena aku khawatir Syafa dicari ibunya jika pulang larut malam. Kak Firmanpun mnenyanggupi permintaanku. Dia berpamitan kepada mama. Dan aku juga bersalaman kepadanya. Usianya juga dua tahun diatasku. Makanya aku sedikit menghormatinya walaupun dia kekasihku. Aku juga menjabat tangan Syafa sembari tersenyum.


☆☆☆


Beberapa hari berikutnya, aku sudah diperbolehkan untuk kembali kerumah. Aku merasa terbebas dari ruangan sana. Rasanya muak sekali bila harus memakan makanan hambar itu setiap hari. Terlebih obat yang rasanya begitu pahit. Jika dirumah kan aku bisa meminta mama untuk memasakkan makanan yang lebih berasa. Dan juga ayah akan lebih fokus memperhatikan pekerjaannya. Karena semenjak aku dirawat dirumah sakit, dia banyak meninggalkan pekerjaannya dikantor. Aku bersyukur memiliki ayah seperti dia. Pahlawanku dimasa kini. Begitupun dengan mama, dia juga sekarang lebih memperhatikanku. Pahlawan perempuanku disetiap hari.

__ADS_1


Ketika dirasa aku sudah cukup membaik, aku meminta kepada papa supaya aku bisa kembali bersekolah. Aku sangat merindukannya. Terlebih merindukan Syafa teman semejaku itu. Juga merindukan dia yang sedang mengisi hatiku. Dan entah kenapa aku juga merindukan si playboy itu. Apa kabar ya dia? Kenapa dia gak datang menjengukku saat masih berada di rumah sakit? Apa mungkin dia tak tau bahwa aku sedang sakit? Entahlah, kenapa aku jadi memikirkannya. Padahal kan dia bukan siapa siapa.


Ddrrrtttt... Ddrrrtttt... Ddrrrttt...


Getaran ponsel yang menghempas lamunanku. Ternyata ada yang mencoba menghubungiku. Aku langsung meraih ponselku yang terletak dimeja dan mengangkatnya tanpa membaca nama yang tertera.

__ADS_1


"Hallo nisa, bagaimana kabarmu? Kamu besok sudah mulai berangkat ke sekolah kan? Aku rindu kamu tau, kamu cepet berangkat ya supaya bisa temani aku lagi" Ujarnya dari kejauhan sana.


Sepertinya aku mengenal suara ini. Bahkan sangat mengenalnya disaat pertama kali ia menyapa.


"Hay Syafa, aku sudah sehat lagi kok. Aku janji besok akan berangkat ke sekolah. Kamu besok berangkatnya lebih awal dari biasanya ya. Karena aku butuh bantuanmu nih" Sahutku.

__ADS_1


"Assiiiaaapppp Nisa. Apapun yang kamu butuhkan aku pasti akan siap sedia membantumu" Ujarnya sembari tertawa entah apa yang lucu. Mungkin karena dia menyamakan suaranya sendiri selayaknya youtuber yang terkenal itu. Wkwkwk, sungguh aneh temanku yang satu ini.


Aku menutup mengakhiri pembicaraan via telfon karena ini sudah larut malam. Aku harus segera menyiapkan diriku untuk esok nanti. Semoga esok tak terjadi apa apa lagi denganku. Dan aku berharap cukup kemarin saja penyakitku ini kambuh sehingga membuat jiwaku tak sadarkan diri selama beberapa hari. Aku tak ingin merepotkan orang yang berada disekitarku lagi. Terlebih mereka orang yang kusayangi. Cukup ini untuk yang terakhir kali. Dan juga aku tak ingin menjadi beban fikiran mereka sekaligus membuat mereka sedih karenaku. Ingin rasanya melihat mereka bahagia selalu.


__ADS_2