
Seperti hari hari sebelumnya, antrian panjang mulai nampak dari kejauhan. Dua kakak perempuan yang duduk dihalaman gerbang sedang kebingungan karena banyak sekali anak yang berebutan menyebutkan nama untuk kemudian di isi dalam daftar hadir siswa.
"Miyaung.."
"Yong sun.."
"Eun Ae.."
Kala itu Eun Ae telah berhasil mendapat giliran absensi dan langsung bergegas menuju lapangan.
"Eun Ae.. Sini..." Teriak micha dari kejauhan dan berhasil membuat Eun Ae menoleh meski sedang dalam kebisingan.
Micha meminta Eun Ae mendekat, untuk kemudian mengikuti barisan yang tak jauh darinya.
"Masih ada waktu.. Untung kamu gak telat.." Ujar Micha seraya menepuk bahu Eun Ae.ppp
"Iya nihhh. Lagian didepan antriannya panjang banget sih.. Jadi aku agak kesulitan buat absen" Dengus kesal Eun Ae mulai terdengar.
Semua nampak sudah berada didalam barisan.
__ADS_1
"Selamat pagi adik adik sekalian.." Sapa seseorang yang berada didepan barisan.
"Pagi kak" Jawab mereka serentak.
"Kalian tau kenapa kalian dikumpulkan disini dan tidak langsung ke kelas masing masing?"
"Tidak kak"
"Tentunya kalian masih ingat bukan dengan tugas yang kakak kakak berikan kemarin? Jadi hari ini kakak ingin kalian semua mengumpulkan tugas itu tanpa terkecuali. Jika ada yang ketahuan tidak membuat ataupun beralasan ketinggalan lah, hilang lah atau apalah itu.. Yang jelas akan ada hukumannya.. " Lanjutnya dengan nada tinggi terdengar keras. Dia yang sedang berbicara didepan, merupakan ketua osis yang sesungguhnya. Bukan seperti Do Hwa, yang hanya menjabat sebagai ketua panitia saja.
Nampaknya Eun Ae agak sedikit pucat.
"Ya Tuhan, aku sangat takut bila puisiku dipilih untuk dibacakan didepan keramaian seperti ini. Sungguh malu jika itu sampai terjadi.." Batin Eun Ae.
Oh Kakak Seniorku,
Kau sungguh anggun bagai seorang ratu..
Berada didekatmu,
__ADS_1
Tubuhku terasa membisu..
Menahan kentut yang sejak tadi hendak melaju..
"Hahahahah...." Tawa mereka pecah ketika mendengar sepenggal puisi yang dibacakan oleh seorang siswa lelaki. Dibuat secara spontan layaknya sedang menonton acara komedian.
"Ada ada saja anak itu. Liat tuh wajah kak Youn See, malu betul dia dibacakan puisi yang tak ada romantis romantisnya itu. Hhhh..." seru micha dengan nada menahan tawa.
"Gilak kali yaa tuh anak.. Gak ada malu malunya sedikitpun, padahal udah serius banget tuh.. Kirain mau bilang terima kasih kek atau muji dikit kek.. Ehh gataunya malah nahan kentut.. Hahahah..." sambung Eun Ae sedikit melepas tawa.
"Beri tepuk tangan yang meriah atas keberaniannya. Lain kali, jangan diulangi yaa.. Jadi merah kan tuh pipi kak Youn See.." ujar Seon, melirik Youn See yang sedang menutupi wajahnya. Seon, ketua osis yang sedari tadi berdiri didepan. Memimpin barisan, menggantikan peran ketua panitia yang tak tau sedang kemana.
Eun Ae, mencari cari sosok Do Hwa. Namun ia tak berhasil menemukan wajah yang sedang tersimpan dimemori otaknya.
"Maaf yaa telat, abis nganter nyokap berobat nih.." Do Hwa datang menghampiri segerombol panitia yang berdiri tak jauh dari lapangan dimana siswa baru dikumpulkan.
"Yeay.. Kau ini ditungguin.. Kirain bangun kesiangan lagi.. Tuh Seon udah gantiin posisi mu didepan. Buruan gih samperin" seru Eyesti, mendorong Do Hwa untuk mendampingi Seon yang sedang berbicara.
"Yahhh... Itu dia yang kucari.. Darimana saja dia sejak tadi.. Kok baru muncul sih,, hufttt.. Tapi ga apalah, kan jadi sedikit ada semangat lagi" gumam Eun Ae dalam hati.
__ADS_1
Seon dan Do Hwa memberi arahan kepada siswa baru dihadapan mereka.
"Hari ini, akan ada pemateri yang akan masuk diruangan kalian masing masing. Jadi kakak harap kalian dengarkan baik baik apa yang mereka bicarakan dan catat bila perlu. Sekian dari kakak, terima kasih. Sekarang kalian bisa masuk ke ruang masing masing" Jelas Seon panjang lebar.