
Kami berbincang menghabiskan waktu yang cukup lama. Mama membawakan banyak makanan ringan untuk kak Firman. Setelah dirasa cukup, kak Firman meminta izin kepada mama untuk berpamitan ke sekolah. Karena melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Kak Firman berkata padaku bahwa dirinya akan menghadiri rapat Osis pada jam ini. Jadi dia bergegas meninggalkan rumahku. Seketika itu hatiku merasa senang karena melihat sekuntum mawar yang kak Firman berikan untukku. Aku sangat menyukai pemberiannya. Begitu juga dengan orang yang memberinya. Sungguh membuat hatiku semakin berbunga. Apakah ini yang dinamakan cinta? Lantas bagaimana dengan rasaku yang masih tersisa untuk sang playboy sekolah? Haruskah aku melupakannya dan memulai semuanya dengan orang yang saat ini ku cinta? Entahlah..
Tak terasa, detik demi detik ku lalui. Menit demi menit beranjak pergi. Jam demi jam silih berganti. Hingga saatnya hari demi hari mulai ku jalani. Dan kini aku semakin dekat dengan dua orang pria yang berada didekatku.
Aku melihat ketulusan dari kak Firman, namun kak Arul? Aku rasa dia hanya memanfaatkan kedekatan kami untuk membuatku semakin tertarik dengannya dan menuruti semua keinginannya. Keinginan untuk memiliki Syafa melaluiku. Kini aku sadar, kak Arul tak benar benar tulus kepadaku. Aku yang sejak saat itu mengetahui pengakuannya melalu obrolan singkat dengan kak Firman lantas merasa kecewa yang teramat sangat. Tak kusangka dia sejahat itu. Aku sangat suka menumpahkan kesedihanku melalui coretan puisi. Dan saat itu pula aku mulai menuliskannya melalui diary kesayanganku.
Saat Benci Menghantui
Terdengar jelas ditelingaku..
__ADS_1
Perkataannya yang begitu menusuk kalbu..
Membuat hatiku semakin luka tak berdarah..
Mengirisnya hanya dengan sebuah kata..
Kebencianlah yang kini sedang melanda..
Menghantui fikirku melalui bayangnya..
Kini harusnya ku segera memusnahkannya..
__ADS_1
Menjalani hari seperti sediakala..
Tanpa dirinya,
Yang sedari dulu tak ada..
Begitulah sepenggal puisi yang mewakili isi hatiku saat ini. Aku memang lebih menyukai curhat dengan diary harianku ini. Semua yang kualami sering ku tuliskan didalam diary ini. Meninggalkan jejak air mata ketika kesedihan mulai kuukir didalamnya. Sungguh tak ku sangka. Dia setega itu melakukannya.
Awalnya aku sudah menduga, namun kini aku juga sudah terlalu mempercayainya. Aku pernah dengan gembira memberikan sebuah arlogi army yang kini melekat ditangannya. Disaat hari ulang tahunnya. Sungguh kini merasa tak percaya. Dia mengkhianati kepercayaan yang kugenggam. Hanya dengan satu hantaman. Memusnahkannya seketika itu juga. Sungguh luar biasa keberaniannya mempermainkan hati seorang wanita.
Aku mulai berfikir untuk sejenak melupakannya. Aku yang dahulu merasa ingin menjalankan misiku untuk menjadi kekasihnya, lalu terlebih dahulu memutuskan hubunganku dengannya. Kini harus mengubur dalam dalam misi yang sudah kujanjikan.
__ADS_1
Harusnya kini aku mulai membuka mata. Melihat betapa tulusnya orang yang menantiku, memberi perhatian kepadaku sejak pertama kali bertemu. Ya, aku harus segera memusnahkan kesedihan ini. Menggantikannya dengan kebahagiaan dikemudian hari.