
Di malam yang indah ini, terlihat seorang gadis cantik yang tengah duduk dengan memeluk lutut nya. pandangan nya menerawang menatap kosong langit malam. tangan nya tak henti henti mengusap buliran buliran air bening yang membasahi pipi nya, di tambah lagi rasa sakit dan nyeri yang juga ia rasakan di bagian pipi kanan nya.
'Ceklek'
Pintu kamar nya terbuka. namun tidak mampu membuat gadis ini teralihkan. tatapan nya masih menatap ke depan, sehingga tepukan pelan di pundak nya membuat gadis ini menoleh dan sudah terdapat Ari, kakanya.
Ari duduk di samping adiknya. tangan nya terangkat, ia mengusap air mata adiknya dengan lembut.
"Cengeng!"
Gadis ini, Syila, ia menyerut kan bibir nya mendengar penuturan kaka nya.
"Rese!" ucap Syila dengan menonjok pelan bahu kaka nya.
Ari terkekeh geli, dan kemudian menyentuh pipi adik nya.
"Sakit?"
Syila menggeleng.
"ngga terlalu."
"Bangsat banget ya papah, sampe nampar lo kaya gini." ucap Ari dengan tersenyum miris, menatap pipi adiknya yang memerah.
Syila tersenyum tipis dan kemudian menatap kaka nya.
"Apa Syila salah ka?"
Ari terdiam dan kemudian menggeleng pelan.
"lo ngga salah de... itu keputusan lo!"
"Tapi ka...."
"Kenapa? lo ragu?" tanya Ari cepat.
"Itu keputusan lo Syil! lo berhak nentuin kemauan lo! buat apa lo mempertahanin cowo yang ga pernah peduli in lo? cowo yang ga pernah ngagep lo ada? lo ngga cape apa berjuang sendirian? ngga cape apa lo ngejar ngejar dia terus? buat apa Syil?"
Syila menunduk. ia mengusap air matanya. kata kakanya benar. buat apa ia mempertahankan pria yang tidak pernah mencintai nya? bahkan pertemuan malam tadi pun yang membahas tentang perjodohan mereka yang di batalkan. Rafi terlihat biasa biasa saja, seakan pria itu tidak masalah dan tidak perduli.
Ya... hubungan nya dan Rafi, kini telah benar benar putus dan sudah di setujui kedua orang tua Rafi. dan dengan terpaksa pun kedua orang tua nya juga mengikuti.
"Nih!"
Syila mendongak saat Ari berucap dengan tangan yang menyodorkan sebuah amplop putih.
"Apa?"
"Buka aja!"
Syila mengambil amplop tersebut dan kemudian mulai membuka nya. matanya menelusuri kata demi kata yang tertulis di kertas putih tersebut.
Gadis ini menatap kakanya dengan tatapan tidak percaya.
"ini serius?"
Ari tersenyum tipis dan kemudian mengangguk.
"Iya."
"Jadi?"
"ini kesempatan bagus buat lo. lo bisa raih cita cita lo disana, di Amrik, sekolah lama lo!"
"Pikirin baik baik!"
*****
Sepasang kaki jenjang ini keluar dari mobil bermerek mini coper itu di ikuti sang pemilik mobil, yaitu Ajeng, sahabat nya.
"Bengong?" tanya Ajeng dengan menepuk pelan pundak sahabat nya, Syila.
saat gadis itu malah terdiam dengan pandangan yang menatap kedua insan berbeda jenis yang tengah mengobrol di samping mobil mercedez benz.
"Udah lah Syil... ga usah di liatin mulu tu mantan, nambah sakit ntar!" sindir ajeng yang membuat gadis ini menatapnya tajam.
Ajeng terkekeh dan kemudian merangkul pundak Syila.
"Kuy gue anterin ke ruang kepsek!"
Syila, gadis cantik ini hanya mengangguk dan kemudian ke dua nya pun berjalan beriringan melewati parkiran yang ramai akan para siswa yang tengah memarkirkan kendaraan mereka.
Sedangkan seorang pria tampan ini hanya menatap sosok gadis yang melewati nya dengan datar sehingga gadis itu pun mulai hilang di tikungan.
"Raf...Rafiii!"
"Apa sih?" tanya Rafi jengkel kepada gadis di hadapan nya ini.
__ADS_1
"Anterin gue ke perpus kuy! ada buku yang pengen gue pinjam." ucap gadis ini, Riri dengan raut ceria.
Rafi menatap Riri dengan datar dan kemudian melengos pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata apapun. membuat gadis dengan rambut yang di kucir kuda itu memberenggut kesal.
*****
"Udah?" tanya Ajeng saat melihat Syila yang baru saja keluar dari ruang kepsek.
Syila tersenyum dan kemudian mengangkat beberapa kertas di hadapan Ajeng.
"udah!"
Ajeng tersenyum riang dan seperkian detik menampakan wajah murungnya.
"Kenapa?" tanya Syila dengan menyentuh pundak Ajeng.
Ajeng menatap Syila dan kemudian langsung memeluk gadis itu.
"lo yakin mau ninggalin gue sama yang lain nya?" tanya Ajeng lirih.
Syila membalas pelukan ajeng dan kemudian mengusap punggung sahabatnya itu.
"aku juga ga mau ninggalin kalian... tapi gimana lagi, ini kesempatan bagus buat aku dan aku ga mau sia sia in itu, Jeng!"
Ajeng terdiam dan kemudian melepaskan pelukan nya.
"okey... Kalau itu emang yang terbaik buat lo, gue sebagai sahabat hanya bisa ngedukung dan berdoa buat lo!" ucap nya di iringi senyum.
Syila tersenyum senang mendengar penuturan ajeng.
"makasih Jeng!"
"Iya... o iya, btw mau langsung pulang?" tanya Ajeng.
Syila mengangguk.
"iya... aku kan harus packing packing dulu."
"Tapi sory banget ya Syil. gue ga bisa bantuin lo. kan lo tau hari ini di kelas kita ada si guru kiler!!" ucap Ajeng tak enak.
"Iya ga papa ko! tapi kamu sama yang lain nya nganter aku ke bandara kan nanti siang?"
"Pasti dong!"
ββββΊ
*****
Ari....
pria tampan itu merenggangkan pelukan adiknya. tangan nya mengusap air mata gadis itu dengan lembut.
"udah ga usah nangis!"
Syila....
gadis cantik itu mengusap air matanya sendiri. ia menatap kakanya dan kemudian kembali memeluk nya.
"Syila sayang kaka!"
"Gue lebih sayang lo!" balas Ari dengan mengecup puncuk kepala adik nya.
Syila melepaskan pelukan nya dan kemudian menoleh ke samping yang terdapat ke 5 sahabat nya yang tengah menangis bombay. ia menghampiri mereka dan kemudian merentangkan kedua tangannya.
"hug me!" ucap nya dan langsung di hadiahi pelukan dari ke 5 sahabat nya ini.
"Huaaa.... Syila gue sad banget harus pisah sama lo!"
"iya gue juga.... lo jangan lama lama di Amrik nya ya, nanti gue kangen berat!"
"Pokonya lo harus kabar kabarin kita kalau lo udah disana nanti."
"Nanti di sana lo jangan jangan galau mulu ya, Syil."
"Hooh... kalau bisa mah cari doi baru Syil!"
Syila terkekeh mendengar penuturan Salsa. ia melepaskan pelukan teman teman nya dan kemudian tersenyum ceria. "kalian tenang aja,
aku di sana ga lama ko. palingan cuman 9 sampe 10 tahunan."
"WHATT!"
" 9 sampe 10 tahun?"
"Lu mau sekolah apa pindah negara Syil?"
"Gila lo mau selama itu di sana?"
__ADS_1
"Ya allah Syil... tega bat lu sama kita kita!"
"Tau nih... ya kali, lo mau selama itu."
"Syila mau netep di sana."
"APAA?"
*****
_____
Syila...
gadis ini duduk di kursi pesawat tepat di bagian sisi jendela. tatapan nya menatap ke arah langit dan sesekali tangan nya mengusap buliran buliran bening yang keluar dari pelupuk matanya.
ia sangat sedih...
jujur ia tidak ingin pergi ke Amerika.
ia ingin di indonesia.
ingin hidup dengan orang orang terkasih nya.
namun keadaan yang memaksa nya untuk pergi.
setelah putus nya hubungan nya dengan kaka kelas nya itu, membuat hatinya hancur. di tambah lagi kedua orang tuanya yang mendiaminya dan seakan tidak lagi menganggap ia sebagai anak nya membuat hidup nya semakin hancur dan sakit.
Ia ingin pergi.
melupakan semua nya.
melupakan masa lalunya dan mengubur rasa cinta nya.
"Selamat tinggal Indonesia!"
"Selamat tinggal ka Rafi....."
Gadis ini menyenderkan kepala nya di kursi penumpang.
mata nya terpejam...
seiring dengan pesawat yg mulai lepas landas.
Good by Syila
End
πππββ
**************************************************
Rafi π Syila
ππππ
Rafsyil putus ni Readers...
bagaimana menurut kakak readers?
mauu Rafsyil lanjut?
atau
Rafsyil berakhir sampai di sini?
Ayo....
like...
Like...
like...
Koment...
Krisan....
selalu dukung cerita ini yaaπππ
πΊπ΄π πΎπ π³πΈπ½πΆπΈπ½ π π πΆπ°π³πΈπ πΌπ°π½πΉπ°
babay....
makasih sudah mau mengikuti cerita ini sejauh iniππ
ππ€ππππ
__ADS_1