Ketos Dingin VS Gadis Manja

Ketos Dingin VS Gadis Manja
Possessive Rich Man 46


__ADS_3

Dengan pakaian casual dan tas yang menggantung di punggungnya Zahra menuruni anak tangga rumahnya dengan santai. gadis itu beralih membuka iphone nya nya saat suara notif itu terdengar.


Zahra tersenyum kecil menatap line Chat dari Rafa.


Line Chat


#Rafa


•siap siap bentar lagi gue nyampe


^^^#Zahra^^^


^^^•aku tunggu^^^


^^^•hati hati nyetirnya^^^


^^^•i love you😘^^^


"Ais... di read doang!"


Zahra berdecak kesal saat pesannya hanya di read oleh Rafa. padahal ia sudah mengetik kata i love you lengkap dengan emoticon cium.


Tengah bergulat dengan rasa kesalnya sontak Zahra mendongakkan kepalanya saat ada seseorang yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. ia membulatkan matanya menatap laki laki berperawakan tinggi dan tampan itu.


"BANG SEM?" teriak Zahra kaget saat mendapati kakak laki lakinya yang kini tengah menampakan senyum box smilenya.


"Berisik bege! biasa aja dong."


"Huhu... kangen." dengan secepat kilat Zahra langsung memeluk Samuel yang selaku kakak kandungnya itu.


Samuel membalas pelukan Zahra dan mencium puncuk kepala adiknya itu.


"Gimana kabarnya? gal mati kan saat gue tinggal?"


Zahra melepaskan pelukannya dan memukul tangan Samuel pelan. "Ya kali gue mati cuman gegara lu tinggal doang, bang."


"Hehe... kirain."


"Gak lucu."


"Gal ngelawak gue."


"Bodo... btw abang kapan pulang koo aku aku ga tau?"


"Tadi malam... Lo udah tidur."


Zahra mengangguk.


"Mamah sama papah mana? Ikut pulang nggak?"


Samuel menggeleng.


"Sibuk."


"Kebiasaan."


Samuel mengelus Rambut sang adik dan mengacaknya gemas membuat gadis itu berdecak kesal.


"Lo mau ngampus?"


"Iya." Jawabnya sembari merapihkan rambut yang di berantakin oleh kakaknya itu.


beda banget sama Rafa. biasanya jika pria itu mengacak rambutnya malah hatinya yang berantakan.


Aneh memang.


"Buru buru nggak?"


"Ngga sih... Rafa juga belum datang."


"Gue mau ngomong bentar."


"Itu abang lagi ngomong."


"Maksudnya yang lain bege! penting ini. Susah ya punya adek yang otaknya setengah."


"Kalau gue setengah, punya lo berapa?"


"Seper empat."


"Hehe... Ngaku."


"Ck... udah ah, ayo." Samuel menarik tangan adiknya menuju sofa dan mereka duduk di sana.

__ADS_1


"Ngomong apa?"


"Mamah sama papah nyuruh Lo pindah ke Sidney dan ngelanjutin sekolah di sana?"


"WHATT?"


"Ck... gak etis kaget Lo."


Samuel melempar bantal sofa ke arah adiknya itu saat gadis itu menutup telinganya. emang oon ya adeknya itu kaget ko nutup telinga.


"Hehe Sory... eh btw abang serius?"


"Ya serius lah buat apa gue becanda."


"No... and no. Zahra gak mau pindah."


"Ngapa emang?"


"Gak mau ninggalin Indonesia."


"Halah... sok sok an lu... palingan juga gak mau jauh jauh sama Rafa."


"Nah itu abang tau."


"Ya lu LDR an aja, cuman Indo Sidney doang."


"Cuman abang bilang? di kira Indo ke Sidney cuman 5 langkah doang? Jauh tau bang... Zahra gak mau pokonya."


"Idup dah modern njirrr. nanti lo kalau kangen bisa ke indo atau ngga Rafa yang ke Sidney. Kan gampang ga usah di bikin ribet ngapa?"


"Tetep ae ngga mau... beda pulau, beda kota, beda negara, beda bahasa, beda rumah, beda kampus nanti kalau beda perasaan gimana?"


"Itu sih DL."


"yah bang... Pokonya Zah gak mau.... "


"Siapa yang mau ke Sidney?"


dengan santai Rafa menduduki dirinya di samping Zahra dan menatap Samuel.


Zahra langsung memeluk sebelah tangan Rafa dan menangis bombay dengan sedikit drama sambil ngunyel ngunyel tangan Rafa.


"Aku... masa aku suruh pindah ke Sidney dan ngelanjutin sekolah di sana?! aku gak mau Raf."


"Kenapa emang?"


"Ko nanya kenapa? Aku ga mau jauh jauh dari kamu lah. aku gak mau! LDR an itu berat aku gak bakalan kuat."


"Lebay lu ah."


"Hahahah... anjir ngikik gue."


Gelak tawa membahana itu keluar dari mulut Samuel membuat Zahra mem poutkan bibirnya kesal sembari memukul pelan tangan Rafa.


"Kamu mah gitu. aku tuh mau ke Sidney Lo Raf masa kamu gak sedih gak nangis gitu?"


"Buat apa? gak ada guna nangisin Lo."


"Hahaha... It's true."


"Diam ah bang... ngebacot mulu dari tadi."


Zahra menatap abangnya itu dengan kesal. adegan sedih kok malah ketawa.


Bangsat memang abangnya.


"Rafa bener njirr. buat apa juga nangisin cewek ke lo. gak ada guna."


Zahra semakin mempoutkan bibirnya kesal kenapa abangnya ini pulang sih? bikin berantakan saja hubungannya dengan Rafa.


"Lagian papah juga nyuruh gue ngelanjutin sekolah di Amrik bareng Raka!"


"What? apa apaan ini? masa aku ke Sidney kamu juga ke Amrik? gak mau... hiks."


Zahra memeluk tubuh samping Rafa dan menelusup kan wajahnya di dada pria itu.


Rafa mengangkat tangannya dan membalas pelukan gadisnya dengan satu tangannya dan menarik tubuh gadis itu agar semakin erat untuk memeluknya hingga Zahra yang tadinya hanya drama pun kini jadi nangis beneran. jujur ia memang tidak mau jika harus berpisah dengan Rafa.


"Cuman beberapa tahun doang Zah..."


"Hiks... tetep gak mau. sekarang aja kamu sering lupa kalau aku pacar kamu. gimana kalau nanti?"


"Gue usahain tetep ingat sama Lo, kok."

__ADS_1


"Njirrr."


"Diem bang."


"Iye gue diem."


"Turutin kata kata orang tua Lo. lulusin kuliahnya dan gapai cita cita Lo dan setelah itu gue bakalan datang buat jemput Lo."


Zahra mendongak.


"Jadi in aku istri kamu?"


"Ngasih undangan."


"Iya... ngasih undangan sama pacar baru." Celetuk Samuel.


"Bisa diem gak sih bang? mentang mentang jomblo ngebacot mulu bisanya."


"Jingan Lo."


*****


Ruang tamu besar lengkap dengan televisi yang menyala menampilkan drama romantis asal negara Korea itu membuat suasana hening di antara keduanya.


Zahra yang sedari tadi memeluk tubuh Samping Rafa dengan tatapan pokus ke televisi pun hanya diam dengan hati yang gelisah.


sedangkan Rafa?


Pria itu pun hanya diam dengan tangan yang mengelus lembut rambut kekasihnya itu. Selesai ngampus tadi Rafa membawa gadisnya itu ke apartemennya.


"Janji jangan lupain aku."


"Iya."


"Jaga kesehatan."


"Iya."


"Jaga perasaan."


"Iya."


"Jangan selingkuh."


"Iya... bawel banget sih."


Rafa menyingkir kan tangannya dan mendorong gadis itu dari pelukannya.


Zahra mengerucut kan bibirnya dan beralih duduk di pangkuan Rafa dan mencium pipi pria itu sekilas. ia memeluk leher pria lalu di lanjut menangis di sana.


"Hiks... aku gak mau LDR an."


Rafa memutar bola matanya malas entah sudah berapa kali gadis ini mengatakan seperti itu membuat ia bosan mendengarnya.


"Gue gya suka cewe lebay, Zah."


"Aku sedih... hiks...."


Rafa memeluk pinggang kekasihnya dan menelusupkan wajahnya di lekukan leher gadis itu. Ia hmenghirup aroma stroberi yang menjadi ciri khas gadisnya itu. ia akan merindukan momen ini karena mulai lusa gadis ini akan pindah ke Sidney dan Minggu depannya ia sendiri akan melanjutkan pendidikannya di Ausy.


"Aku sayang kamu."


Zahra yang tadinya terisak pun terdiam. kenapa saat mereka ingin berpisah sikap Rafa berubah?


kata 'Kamu' yang di lontarkan Rafa membuat hatinya bahagia namun kesedihannya lebih besar hingga membuat kebahagiaannya itu lenyap.


Intinya ia menyayangi pria yang berada di pelukannya ini.


"Aku selalu percaya, jarak ialah bahasa Tuhan untuk memahamkan kesetiaan. sebab sebagai penulis aku banyak belajar dari spasi, sebuah jeda dalam aksara."


"Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?"


"Aku percaya kau akan menjaga perasaan ku walau kita jauh. Aku yakin kau akan tetap setia pada ku, Rafa Andreas Sanjaya!"


THE END-TAMAT


#Ketos_Dingin_VS_Gadis_Manja


#Possessive_Rich_ Man


#RafZah


#Rafa_Zahra

__ADS_1


#The_End


__ADS_2