
...****************...
Sesuai keinginan Syila, kini ke dua insan tersebut telah sampai di Indonesia. mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah gerbang yang menjulang tinggi, terlihat gerbang terbuka dengan otomatis dan 2 satpam yang menyambut mereka.
Syila menatap takjub bangunan di hadapan nya. sungguh rumah yang sangat indah. Rumah yang berlantai 3 ini dengan kaca kaca besar sebagai pembatas, di tambah rumput-rumput hijau dan tanaman hias di sekitar nya.
aahhh memang rumah idaman!
Syila dan Rafi berjalan menuju pintu utama, yang sudh di sambut 4 bodyguard yang bertubuh besar dan sekitar 6 perempuan yang memakai pakaian seperti suster namun berwarna hitam. rambut mereka pun di gulung dengan rapih dan jangan lupakan wajah mereka yang masih muda dan terlihat cantik. sepertinya mereka berusia 30 tahunan.
"Dea!" panggil Rafi kepada pimpinan para pelayan di rumah nya.
"Iya tuan."
"Antarkan Syila ke kamar."
Dea melirik Syila dan tersenyum manis. "baik tuan."
Rafi menoleh dan menatap Syila yang berada di samping nya.
"kamu ke kamar ya... aku mau keruangan kerja aku dulu!" ucap Rafi dan kemudian mencium pipi Syila sekilas sebelum berlalu pergi.
Sedangkan Syila, gadis itu hanya mengangguk patuh.
"Mari nona, saya antar." ucap Dea yang membuat Syila teralihkan.
"Iya!" ucap Syila dan kemudian Dea pun mengiring istri dari majikan nya itu untuk ke kamar.
****
"Nah ini kamar nya, nona." ucap Dea saat mereka telah sampai di kamar yang di maksud.
"Terima kasih...." balas Syila ramah.
Dea mengangguk dan tersenyum.
"Kalau nona, butuh sesuatu, nona bisa panggil saya atau pelayan lain."
"Iya."
"Kalau begitu saya permisi."
"Iya silahkan."
Setelah kepergian Dea, Syila pun masuk ke dalam kamar tersebut. kamar nya terlihat sangat luas, bersih dan Rapi. ia menyukai kamar ini!
Syila menutup pintu dan kemudian berjalan menuju balkon kamar nya. dari sini ia bisa melihat kolam renang dan para bodyguard yang berlalu lalang.
seperti nya Rafi memang memperketat penjagaan di sini.
*****
"Kak Rafi ngapain Sih di ruangan kerja? lama banget!" rutuk Syila saat Rafi belum datang menghampiri nya. padahal jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
Syila jadi mengingat para pelayan disini yang terlihat masih cantik. jangan-jangan pria itu bekerja dengan di temani para pelayan?
membuat pria itu betah di ruangan kerja nya. namun sedetik kemudian gadis itu pun menggelengkan kepala nya.
"Apaan sih Syil, biarin aja kali dia mau siapa aja. rumah rumah dia kenapa aku yang ribet ya." ucap nya bermonolog.
"Ah lama lama bosen juga di kamar." ucap nya dan kemudian gadis itu pun berjalan untuk keluar kamar.
***
"Nona mau kemana?"
Syila memegang dada nya kaget, saat ia keluar dan sudah ada bodyguard di depan pintu kamar nya.
"Kalian ngapain di sini?" tanya balik Syila yang heran karena dua bodyguard RRaf yang berada di depan kamar nya
"Kami di suruh tuan buat jagain nona. takut nya nona butuh sesuatu dan takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan." jawab salah satu bodyguard tersebut.
Syila menghela nafas kasar. sungguh Rafi memang memperketat penjagaan disini. tapi menurut nya, Rafi berlebihan.
"Nona memang mau kemana?" tanya bodyguard nya lagi.
"Aku mau keruangan kerja nya ka Rafi! dimana yah?"
"Oh kalau begitu mari saya antar."
Syila tersenyum riang dan mengangguk.
"makasih."
*****
"Nona tunggu sebentar ya!" ucap bodyguard tersebut dan kemudian masuk kedalam ruangan berpintu cat putih itu.
Tak lama kemudian bodyguard itu pun kembali keluar dan mempersilahkan nya masuk.
"makasih!" ucap Syila sebelum masuk keruangan tetsebut.
"Sama sama nona!"
Setelah itu pun Syila masuk kedalam ruangan kerja Rafi. seperti biasa ruangan nya terlihat sangat luas. dengan kaca besar sebagai pembatas. sehingga membuat siapa pun bisa langsung melihat langit malam dari dalam.
Syila berjalan menghampiri Rafi yang terlihat masih sibuk dengan berkas nya, ia menghentikan langkah nya saat berada di depan meja Rafi. dan saat itu lah pria itu mendongak dan menatap nya. lalu pria itu pun bangkit dari duduk nya dan menghampiri nya.
"Kenapa sayang? ko kesini?" tanya Rafi yang sudah berada di hadapan istri nya itu.
Syila mendongak dan menatap Rafi.
"kuliah aku gimana?"
Rafi tetdiam beberapa saat mendengar pertanyaan istri nya itu. ia menyentuh pipi Syila dan tersenyum.
"ga usah di lanjut ya...."
Raut wajah Syila berubah menjadi sedih mendengar omongan Rafi.
"ga mau! aku mau kuliah...."
"Ga usah ya, sayang."
Syila menggeleng.
"aku mau jadi dokter, Rafi!"
__ADS_1
"Kamu cukup jadi istri aku, dan anak-anak buat kita nanti. itu aja!"
"Apaan sih ko malah nyambung kesitu." ucap Syila kesal.
"Ya habis nya mau gimana lagi?"
"Aku mau kuliah! sayang loh aku udah semester tiga...," ucap Syila memelas.
"Gini deh... kamu sayang an aku atau kuliah kamu?"
"Kuliah aku!" ucap Syila, membuat Rafi menatap nya datar.
"Tau ah... pokonya aku ga ngijinin!" ucap Rafi dan kemudian kembali duduk di kursi kerja nya.
Syila menunduk sedih, harapan nya hancur dan tidak bisa mencapai cita cita nya. padahal ia sangat ingin menjadi seorang dokter.
sedangkan Rafi, pria itu hanya menghela napas kasar menatap Syila. dan kemudian Rafi pun bangkit dari duduk nya kembali dan menghampiri Syila.
"Ga usah nangis!" ucap nya yang mengangkat dagu Syila.
Syila mendongak dan benar saja gadis itu menangis.
"Kamu di rumah aja ya..., aku cuman ga mau kamu kecapean. Lagian kan kamu kuliah nya di US. kamu mau ninggalin Indonesia?"
Syila menggeleng lemah.
"Nah kalau gitu kamu cukup diam di rumah."
"Tapi kan aku bisa pindah ke indonesia, kuliah nya!" ucap Syila.
Rafi menggeleng. "aku tetep ga ngijinin!"
"Kamu jahat banget sih..., kamu mau aku jadi orang oon ga tau pendidikan?."
"Bukan gitu sayang...."
"Tau ah kamu mah ngeselin!" ucap Syila dengan memberenggut kesal dan tangan yang di lipat di dada.
"Aku mohon kali ini aja kamu turutin kata-kata aku ya?"
"Ga mau!"
"Ayo dong sayang..."
"Gak."
Rafi menghela napas kasar. sungguh Syila memang keras kepala.
"gini aja deh... aku akan nurutin semua kemauan kamu. asal kamu nurutin kata-kata aku tadi!" ucap Rafi yang seperti nya membuat Syila tertarik.
"Semua?"
"Iya."
"Apapun yang aku mau?"
"Iya sayang ku." ucap Rafi yang membuat Syila tersenyum senang.
"Okey..., aku turutin dan ga lanjut kuliah!" ucap nya yang membuat Rafi tersenyum.
"Nah gitu dong. harus nurut sama suami." ucap nya yang langsung mencium kedua pipi Syila sekilas.
Syila terdiam sejenak...
ia bingung harus berkata apa?
"Tapi kamu jangan marah ya?"
"Emang kenapa?"
"Janji dulu."
"Gak janji."
"Janji dulu ihhhh...."
"Ga janji sayang, emang apaan sih?"
Syila menggigit bibir bawah nya saking gugup nya.
ia takut Rafi marah.
"aku masih pengen perawan ya?"
Rafi terdiam. ia menatap Syila dengan datar. sedangkan Syila, gadis itu menatap Rafi dengan takut.
"Kenapa emang?" tanya Rafi.
"Aku belum siap, Rafi."
"Tapi itu kewajiban kamu, Syil."
"Iya aku tau... kamu pasti ngerti kan, kalau aku bener bener belum siap."
"Emang kapan siap nya?
Syila menggeleng.
"ngga tau."
Rafi menghela napas kasar. astaga Syila ada ada saja. lalu buat apa ia menikah kalau ga di kasih jatah.
Ia harus berpuasa.
"Yaudah."
"Serius?" tanya Syila dengan mata berbinar.
"Iya..., lagian aku juga gak mungkin maksa kamu." ucap Rafi dengan nada tidak ikhlas.
"Ko kayak ga ikhlas gitu sih?"
"Ikhlas sayang."
"Tapi mukanya lesu?"
"Nih aku senyum." ucap Rafi dengan senyum yang di paksa kan.
__ADS_1
"Nah gitu dong, kan ganteng." ucap Syila dengan tersenyum senang.
Sedangkan Rafi, pria itu rasanya ingin sekali menceburkan gadis itu ke kolam. astaga kenapa istri nya ngeselin banget sih.
"Tapi kalau kiss, hug, sama slepp together boleh kan?" tanya Rafi yang membuat Syila terdiam.
"Yank, boleh ngga?"
"Gimana ya?"
"Ayo dong, yang."
Syila menghela napas dan mengangguk.
"Yaudah boleh... tapi kalau kiss jangan ya?" ucap Syila dengan tersenyum Pepsodent
"Kamu mah aneh. masa iya udah nikah, Kiss aja ga boleh?"
"Boleh... tapi di pipi aja ya?"
"Ga mau... mau nya di sini!" ucap Rafi dengan menyentuh sudut bibir istri nya.
"Apaan sih?!" ucap Syila dengan menepis tangan Rafi.
" Pelit banget sih, yank!" ucap Rafi dengan wajah cemberut nya.
"Kamu mah suka kebablasan. nanti bengkak lagi bibir aku!"
"Biarin lah... bengkak sama suami juga!" ucap Rafi nyolot.
"Ko kamu ngeselin sih?"
"Kamu juga ngeselin!"
"Terserah lah...." Kesal Syila
dan kemudian berbalik dan melangkah pergi. namun sayang tangan Rafi mencekal nya.
"Mau kemana?"
"Minggat! bosen aku berantem sama kamu mulu."
Rafi terkekeh kecil dan kemudian memeluk pinggang gadis itu.
"mau minggat ke mana, hmm?"
"Amrik."
"Ngapain?"
"Ketemu ka Ervin."
Seketika Rafi menatap Syila dengan tatapan datar nya. saat Syila menyebutkan nama Ervin
"Ga usah sebut-sebut dia!"
"Kenapa emang?"
"Ngga suka!"
"Yaiya lah... kak Ervin kan cowo masa iya kakak suka, homo dong." ucap Syila dengan terkekeh kecil.
"Apaan sih ga jelas!" ucap Rafi kesal namun membuat Syila ingin sekali tertawa terbahak bahak.
"Huhuhu... bayi besar ngambek!" ucap Syila dengan mengelus-elus pipi Rafi.
Rafi menggenggam tangan Syila yang berada di pipi nya dan kemudian tersenyum manis.
"Tidur yuk! kayanya kamu udah ngantuk."
Syila mengangguk dan kemudian tersenyum kecil.
"Iya, aku ngantuk."
"Yaudah ayo."
"Tapi inget, kamu jangan...."
"Gak janji ya?" potong Rafi cepat.
"Lah ko gitu? tadi kan udah janji."
"Aku takut ga bisa tahan nafsu, yank!"
"Ya di tahan lah."
"Susah yank!"
"Yaudah kalau gitu gausah satu bed cover... kita misah aja!"
"Ga mau ihh!"
"Ya makanya...."
"Iya... iya di tahan."
"Awas kalau kamu kelepasan saat aku lagi tidur!"
"Ngga!"
"Ngga apa?"
"Ngga janji!"
"KA RAFIIIII...."
"ampun yank... ampun!"
...****************...
#Ketos_Dingin_VS_Gadis_Manja
#Possessive_Rich_Man
#RafSyil
__ADS_1
#Rafi_Syila