
"benarkah Rik?" heran Kayla ketika Riki menceritakan tentang Fatih padanya, kini Keyla tengah menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya itu, bahkan dia memejamkan mata sambil menerima telfon dari sahabatnya Riki, entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah.
"tentu saja! Key, apa benar yang aku dengar jika kamu menjadi sekertarisnya?"
Inilah alasan Riki menelfon Keyla, karena Riki masih ragu dengan ucapan Fatih yang mengatakan jika Keyla bekerja dengannya sebagai sekertaris.
"sementara sih, kak Reno masih mencari pengganti sekertaris yang sebelumnya dibawa kak Fatih."
"kekasihnya kan yang Priamu itu bawa?" Riki banyak tahu tentang Fatih dari Keyla, itu sebabnya dia tahu jika Sekertarisnya sebelum Keyla, adalah Siska, yang tidak lain adalah kekasih Fatih.
"sudahlah, tidak perlu dibahas!" entah kenapa mood Keyla anjelok jika mendengar soal kekasih Fatih, meskipun Fatih sudah mejelaskan jika dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan Siska, dan hanya mencintai dirinya.
"cemburu?" goda Riki dari sebrang sana, ketika mendengar suara kesal Keyla, bahkan Riki sepertinya tertawa puas, hingga membuat Keyla cemberut.
"Nona!"
__ADS_1
Keyla langsung membuka matanya dan duduk dengan tegak, ketika mendengar suara Bastian, dia segera mematikan ponselnya dan tersenyum pada Bastian.
"bagaimana pak Bastian?"
"tuan Fatih meminta anda untuk keruangannya Nona."
"saya?" tunjuk Keyla pada dirinya sendiri.
"tentu saja Nona, apa mungkin saya kemari jika tidak untuk menyampaikan ini pada anda"
"baik, terima kasih!" Keyla berdiri dan berjalan menuju ruangan Fatih, Keyla menarik nafas panjang sebelum masuk, pintu mulai terbuka otomatis, ketika Keyla sudah hampir sampai, Keyla berjalan masuk, setelah pintu otomatis itu terbuka lebar.
"anda memanggil saya tuan?"
Fatih mendongak, dia menatap Keyla begitu dalam, "apakah dia ingin menjaga jarak dariku, sehingga berbicara begitu formal" batin Fatih, ketika mendengar Keyla kembali memanggilnya tuan, seperti ketika awal bertemu.
__ADS_1
"terima kasih, berkat anda kerja samanya sukses, semoga kedepannya prusahaan ini akan lebih baik lagi," sepertinya begini lebih baik, pikir Fatih, setidaknya dia bisa bersama Keyla setiap harinya, sebelum Fatih kembali kenengara I.
"itu sudah tugas saya tuan, jika tidak ada lagi, saya permisi tuan," Keyla membungkuk hormat dan mulai berlalu dari sana, "kenapa dia tidak menghentikanku," batin Keyla, karena Keyla tidak mendengar Fatih memanggil namanya.
Mulut Fatih yang ingin meminta Keyla tetap tinggal terasa keluh, karena Dia bingung ingin bagaimana, sebab Keyla seformal itu padanya sekarang.
"apa iya, kita akan sejauh ini Key, meskipun kita sedekat ini," gumam Fatih yang sudah tidak melihat Keyla lagi.
Tidak terasa sorepun tiba, semua karyawam sudah bersiap untuk pulang, begitupun Keyla dan juga Fatih, Fatih melewati Keyla begitu saja, tanpa menyapa atau mengajaknya pulang bersama, meskipun mereka pulang kearah dan gendung yang sama.
"ada apa dengan priamu itu?" goda Riki, yang melihat cueknya kedua insan ini.
Iya, kini Riki tengah menjemput Keyla, itu sebabnya Fatih tidak menyapa, karena dia merasa panas melihat kedekatan keduanya, bahkan Fatih hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada jalan yang iya lewati.
"diamlah!" Keyla berjalan cepat mengitari mobil Riki, dan segera masuk kedalam mobil Riki, "kenapa kak Fatih jadi cuek, bukankah seharusnya dia berjuang untukku" gumam Keyla yang melihat mobil Fatih melintas didepannya bersama Bastian.
__ADS_1