
Bagi sebagian wanita di dunia ini, khususnya yang beragama islam. Menganggap cadar sebagai mahkota mereka. Fungsinya adalah untuk menjaga kehormatan serta pandangan dari tatapan nafsu kau Adam.
Cadar adalah salah satu simbol keimanan kaum Hawa terhadap Tuhannya. Para istri Rosul pun mengenakan cadar. Pun putri tercinta, Siti Fatima Azzahra.
Sedangk Khalifa yang hanya manusia biasa, bukan bagian dari keluarga Rosullah, menjunjung tinggi cadar tersebut.
Walau sedang bersama suami, cadar itu tetap menutup sebagian wajah cantiknya.
Sementara Alvin, tidak ingin mengganggu privasi gadis tersebut. Cadar adalah bagian dari Khalifa. Keduanya tak dapat dipisahkan.
Namun, semenjak melihat wajah cantik Sang istri beberapa saat lalu, mendadak Alvin ingin berlama-lama menatapnya.
Sungguh, perasaan itu datangnya dari hati yang terdalam. Akan tetapi, buru-buru Alvin menampiknya. Kemudian menggantikan sosok Rukaya yang bermain di pelupuk mata.
"Apa Mas bersedia menjadi Imam?" Bahkan suara Khalifa pun terdengar sangat lembut. Sehingga meluluhkan hati Alvin yang beku.
Tadinya pria itu hendak menghardik Khalifa, karena alasan semu, tetapi suaranya terdengar merdu. Alhasil ia pun melupakan kekesalannya.
"Bukankah sekarang aku telah menjadi Imamu? Lantas apa lagi yang kau inginkan dariku?" Sayangnya Alvin terlalu gengsi untuk mengakui rasa kekagumannya terhadap Khalifa. Lihatlah dia salah paham terhadapnya.
"Maksudnya, Mas yang pimpin sholat. Kita sholat berjamaah." Inilah maksud Khalifa yang sebenarnya. Hanya karena terlalu memelihara ego, akhirnya Alvin pun salah mengartikan maksud istrinya itu.
"Baiklah," sahut Alvin akhirnya, menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana.
Setelah itu mereka pun sholat maghrib bersama. Usainya, Khalifa mencium punggung tangan Sang suami.
Sejatinya itulah yang dinamakan keharmonisan dalam rumah tangga. Beribadah bersama, serta melakukan banyak hal bersama.
Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku dalam rumah tangga Khalifa. Pasalnya Alvin tidak mengistimewakan gadis tersebut, meski akhlaknya terukir nyata di depan mata.
"Umi, biar saya bantu." Setelahnya, gadis bermata bulat indah tersebut bergegas ke dapur, membantu Ibu mertua.
"Apa kau tidak lelah, Nak? Kau baru saja melakukan perjalanan jauh," ucap Umi Huraira, bernada kasih sayang.
"In Sya Allah tidak, Umi. Alhamdulillah saya baik-baik saja," sahut Khalifa tak kalah lembutnya.
__ADS_1
"Oh iya, Umi mau masak apa?" tanyanya lagi.
"Umi mau masak sayur asem, sambal terasi, ikan kakap goreng, sama kerupuk. Biasa, menu nusantara," jawab Umi Huraira.
Dua wanita beda generasi tersebut saling melempar senyuman. Beradu keahlian dalam urusan masak memasak.
"Kalau begitu aku yang masak sayur asemnya sama sambal terasi ya? Dulu Abah sangat menyukai menu ini. Beliau selalu memintaku untuk membuatnya." Khalifa lirih di akhir kalimat. Hatinya kembali bersedih saat mengenang mendiang Abahnya.
"Yang sabar ya, Nak? Doakan Abahmu, In sya Allah ditempatkan bersama orang-orang beriman. " Selayaknya Ibu, Umi Huraira menasehati Khalifa.
"Aamiin Allahuma aamiin," sahut gadis bercadar tersebut.
"Oh iya, mana sayurannya? Biar saya bersihkan."
"Ada di dalam kulkas, Umi belum sempat ambil tadi."
Lantas dua wanita beda usia tersebut melaksanakan tugas masing-masing. Khalifa membuat sayur asem dan sambal terasi sesuai permintaan. Sedangkan Umi menggoreng ikan serta kerupuk.
"Wah, aromanya wangi banget. Masak apa, Mi?" Ilham datang ke dapur.
"Biasa, Bah. Sambal terasi, tapi kali ini menantu Abah yang masak. Abah pasti suka," sahut Umi penuh keyakinan.
"Dari aromanya saja sudah terasa nikmat, apa lagi rasanya. Pasti pengen nambah lagi." Ilham bangga pada Khalifa yang ternyata pandai memasak.
Dahulu, semenjak kepergian mendiang Ibunya. Khalifa lah yang menggantikan peran itu di dalam rumah. Memang ada asisten rumah tangga, tetapi hanya sekedar bersih-bersih rumah. Selebihnya Khalifa yang kerjakan.
Khalifa tidak ingin melewatkan sedetik pun waktu bersama Abahnya di meja makan. Gadis itu kerap memastikan makanan serta obat-obatan mendiang Sang Ayah tercinta.
Akan tetapi, sudah menjadi otoritas Tuhan memanggil tiap hamba-Nya saat waktu telah tiba. Sedang manusia hanya bisa ikhlas menerima takdir.
"Bau apa ini? Kok wangi banget. Pasti Umi masak sambal terasi kesukaanku." Alvin girang saat mencium bau sambal terasi yang menyeruak hampir ke seluruh ruangan.
Pria itu baru saja berencana pergi ke pesantren. Namun, perhatiannya teralihkan.
Ia melihat kedua orang tuanya bersama Khalifa tengah tertawa bersama sembari memasak.
__ADS_1
"Ada dia juga rupanya. Jadi, malas ke dapur," gumam Alvin, seakan kecewa saat melihat Khalifa ada di antara kedua orang tuanya.
Sesungguhnya pemandangan tersebut sangat indah, persis menggambarkan keluarga yang sempurna. Namun, entah mengapa Alvin masih belum ridha menerima pernikahannya bersama pilihan Abah dan Uminya.
"Alvin? Kau mau ke mana, Nak?" Tiba-tiba Umi melihat Alvin yang baru saja akan pergi.
"Mau ke pesantren, Umi," sahutnya.
"Jangan buru-buru, sebaiknya kita makan malam bersama dulu. Bukankah ini adalah malam pertama kalian di rumah ini? Setidaknya cicipi dulu masakan istrimu. Pasti kamu suka." Umi menunjukan masakan Khalifa yang terlihat menggiurkan. Namun, memang dasar Alvin Si tukang gengsi, maka ia pun bergumam, "Biasa aja."
Sayangnya masih bisa didengar oleh ketiga orang tersebut. Umi yang merasa tak enak hati pada Khalifa, pun berkata, "Belum dicoba sudah membuat keputusan. Lihat saja nanti, kamu pasti minta nambah."
Dengan penuh percaya diri Umi menegaskan kalimatnya. Alhasil Alvin pun mendengus mengejek.
"Eh, kau mau ke mana? Bukankah Umi sudah bilang, kalau kita makan malam bersama?" Alvin terkesan tak menghormati kedua orang tuanya, hendak beranjak pergi. Beruntung Ilham mencegah pemuda dengan baju kokoh coklat susu tersebut.
"Baiklah." Dengan berat hati Alvin menuruti permintaan Abahnya.
Empat orang itu pun duduk bersama di ruang makan. Khalifa menyuguhkan makanan untuk suaminya, sedangkan Umi melakukan hal serupa kepada Ilham.
Pertama Alvin mencoba sambal terasi buatan Khalifa bersama kerupuk. Saat pertama menyentuh lida, seperti ada daya tarik tersendiri. Rasanya sungguh jauh berbeda dari buatan Uminya.
Lantas ia beralih pada nasi putih bercampur sayur asem. Lagi-lagi Alvin merasakan seperti ada sensasi yang berbeda. Menu malam ini sungguh luar biasa dari malam-malam sebelumnya.
"Ini Umi yang masak?" tanya Alvin dengan ekpresi tak terbaca.
"Bukan, istrimu yang masak. Umi hanya menggoreng ikan dan kerupuk. Selebihnya itu, dia," sahut Umi seraya tersenyum bangga.
"Oh, pantas saja. Rasanya berbeda. Masakan Umi jauh lebih enak." Seakan tak mau mengakui kehebatan Sang istri, Alvin justru memuji masakan Umi Huraira. Padahal lidahnya justru membenarkan perkataan Sang Bunda. Dasar munafik.
Alih-alih kecewa, Khalifa justru menganggap perkataan suaminya itu sebagai motivasi untuk membenahi diri. Mungkin saja yang dikatakan Alvin benar adanya. Setiap lidah dan selerah manusia beda-beda.
Mungkin Ibrahim menyukai masakannya, tapi tidak dengan suaminya. Alvin mempunyai selerah yang lain. Oleh karena itu, Khalifa bertekad ingin mempelajari apa saja yang disukai serta tidak disukai Alvin.
Barangkali ia bisa menyanggupi kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Gadis ini pintar masak juga, tapi tentu saja Rukaya jauh lebih cerdas darinya." Lihatlah, meski mengakui kelebihan istrinya, Alvin tetap mengagungkan Rukaya. Gadis cantik nan anggun pilihan hatinya.