
Air hujan menggenangi jalanan, membasahi mobil hitam yang masih terparkir di tepi jalan.
Sedangkan sepasang suami istri itu tengah berada di wisma sederhana sewaan warga setempat.
Baru juga keluar dari mobil, tiba-tiba hujan lebat pun turun. Alhasil pakaian mereka menjadi basah.
Adalah Alvin dan Khalifa, saat ini mereka berada dalam satu kamar, yang mana hanya tersisa kamar itu saja.
Semua kamar wisma tersebut telah ditempati para penyewa lainnya. Tadinya Khalifa ingin pisah ruangan, tetapi ia tak menemukan solusi lain. Alhasil mereka pun berakhir duduk berdua, saling diam-diaman seperti sedang berada di kuburan.
Merasa tak nyaman, akhirnya Khalifa membuka cadar, hingga wajah cantiknya terpampang nyata di netra suaminya.
Kemudian wanita itu membuka khimar yang dikenakan, membasuh rambut yang basah. Handuk putih dalam lemari kecil diambilnya, untuk membilas helaian rambut hitam nan lebat tersebut.
Alvin yang tak sengaja melihat Khalifa sontak terpana akan kecantikannya. Baru kali ini pri itu memperhatikan istrinya secara mendalam. Dan hasilnya adalah Khalifa sungguh cantik luar biasa.
Fisik serta hatinya seiring sejalan. Keduanya sama-sama menawan. Tanpa sadar Alvin pun berdiri. Seakan naluri kelakiannya turut bereaksi.
Pemuda berbaju hitam pekat itu menghampiri Sang istri, hingga membuatnya terkejut. "Ifa," panggil Alvin untuk pertama kalinya menyingkat nama Khalifa.
Nama Ifa disematkan hanya khusus sebagai panggilan akrab. Namun, selama ini Alvin tak pernah menyebutnya demikian. Entah apa yang coba dilakukan pria tersebut, hingga ia terlihat begitu dekat.
Khalifa terdiam, menghentikan aktivitas membilas rambut. Lantas tatapan keduanya pun terkunci.
Alvin menatap Sang istri penuh damba, sedangkan Khalifa justru membalasnya datar. Namun, sayangnya ia tidak bisa menghentikan detak jantung yang mulai berdegup kencang.
Alvin telah membuatnya gemetar. Perasaan itu pun berkecamuk, seperti sedang berkolaborasi bersama rasa kecewa, marah dan juga... cinta???
__ADS_1
Benarkah Khalifa masih menyimpan rasa cinta untuk suaminya? Masih ada kah sisa rasa sayang di dalam sana? Satu yang pasti, saat ini Khalifa sedang berjuang melawan perasaan yang tumbuh secara aneh dalam sanubari.
"Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Dan apa yang coba Mas Alvin lakukan padaku? Mengapa jarak kami begitu dekat?" Batin Khalifa mulai waspada. Namun, bila Alvin meminta haknya sebagai suami, bukankah semula dia yang menginginkannya?
Salah satu syarat yang diberikan adalah membagi tubuh secara adil, meski dirasa mustahil. Akan tetapi, sepertinya malam ini tidak ada yang mustahil bagi sepasang suami istri tersebut.
Pelan-pelan Alvin mengangkat tangan, meletakan ke pundak Khalifa. Sisa air hujan pada rambut gadis itu pun perlahan turun membasahi keningnya.
Pun Alvin yang bercampur keringat. Padahal di luar sedang turun hujan lebat. Lagi-lagi tatapan keduanya kembali terkunci. Namun, kini saling mendamba satau sama lain.
Sialnya, Khalifa gagal menghadang perasaan aneh tersebut, hingga membuatnya lengah. Alhasil Alvin sukses menerobos sukma yang baru saja ia kunci rapat-rapat.
Alvin maju satu langkah lebih dekat, hingga jarak keduanya semakin tak terhitung sentimeter. Khalifa menelan salivanya dengan susah payah.
Gadis itu sungguh takut. Bagaimana jika benar Alvin meminta haknya sebagai suami? Akankah ia berikan?
Namun, mengapa Khalifa harus ragu? Bukankah ini yang ia inginkan selama ini? Tugasnya sebagai istri telah terlaksana. Dan bukankah ini adalah salah satu syarat mutlak yang ia ajukan sendiri? Jika waktunya terhitung cepat, bukankah ia harus siap kapan saja bila suaminya meminta hak tersebut?
Netra Alvin beralih ke bibir merah alami Khalifa. Dua belahan tipis itu seakan memanggil dirinya. Hingga dengan seratus persen sadar lelaki yang dijuluki dengan sebutan Ustad tampan tersebut menciumnya.
Sontak degupan jantung Khalifa semakin berkedut ribuan kali lipat. Sumpah demi apapun wanita itu dibuat terkejut oleh suaminya sendiri.
Entah apa yang merasuki Alvin, hingga ia begitu berani menyetuh istrinya tersebut. Seperti ada dorongan sensasi yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
Khalifa hendak menolak, tetapi tubuhnya tak dapat bertindak. Otaknya pelan-pelan dilumpuhkan oleh kewajiban.
Ya, Khalifa sadar, bahwa yang terjadi hari ini adalah bagian dari kewajibannya. Mungkin alam semesta menghendaki mereka untuk menyatu sebelum terjadi poligami. Dengan kata lain sebelum Alvin menggauli istrinya yang kedua.
__ADS_1
Naluri Khalifa pun mulai berteriak. Ingin rasanya ia mendorong paksa tubuh kekar tersebut. Namun, lagi-lagi kewajibannya sebagai istri membentur diri.
Bukankah ini yang ia inginkan dari pria yang tak pernah membalas kasih sayangnya? Anggap saja Alvin telah memenuhi harapan tersebut.
Kini Alvin membaringkan tubuh Khalifa di atas ranjang, lantas mencium keningnya cukup lama. Seakan lelaki tersebut telah mencintai dirinya setulus hati.
Khalifa pun hanya bisa pasrah menerima situasi saat ini, hingga tanpa sadar air matanya pun terjatuh di sudut netra yang sayu saat Alvin mengoyak seluruh kehormatannya.
Bagai terkena guncangan yang hebat, Khalifa pun sulit memberontak. Segenap jiwa dan raganya terkunci.
Takdir Allah memang sungguh aneh, dahulu ia menginginkan suaminya mencintai dirinya. Namun, hal itu tak pernah terwujud.
Anehnya, setelah keadaan telah berubah, penyatuan dua tubuh itu justru datang menyapa. Seperti sebuah melodi yang meronta ria di dalam sana.
Mengapa ia harus meminta haknya sebagai suami saat semuanya dianggap terlambat? Mengapa kewajiban itu harus terlaksana begitu cepat? Mengapa tak ada jeda waktu untuknya berpikir dua kali?
Mungkin Tuhan ingin gadis itu menjadi yang pertama dalam hidup Alvin. Atau juga mungkin Tuhan ingin Khalifa lah yang memperkenalkan surga dunia kepada lelami tersebut untuk pertama kalinya. Tidak ada yang bisa menebak rencana Illahi.
Peluh itu turun dari sudut kening, mereka benar-benar hanyut dalam kenikmatan dunia.
Akan tetapi, timbul pertanyaan dalam benak Khalifa. Mengapa Alvin bersedia melakukan ini dengannya? Benarkah lelaki itu telah menerima dirinya sebagai istri? Tapi mengapa? Bukankah dia tak pernah mencintai dirinya? Ataukah karena terbuai hujan lebat di luar sana? Hingga dengan lantangnya Alvin menggauli tubuh rampingnya.
Entahlah, satu yang pasti, bahwa hari ini Khalifa telah menunjukan baktinya sebagai istri. Ranjang sederhana itu telah menjadi saksi bisu penyatuan antara dua anak manusia.
Malam itu merupakan awal kisah yang baru bagi keduanya. Khalifa pun tak bisa melupakan peristiwa tersebut. Seperti cerita yang tiada habis untuk dibahas.
Alvin telah meluluh lantakan seluruh hidupnya. Pertahanan dirinya goyah bukan lagi karena cinta, melainkan karena tugas dan kewajiban yang harus dibayar lunas.
__ADS_1
Sementara ditempat berbeda, terlihat Rukaya sedang berusaha menghubungi Alvin dengan rasa kebimbangan, karena seharian tak saling bicara.
Sayangnya, ponsel lelaki tersebut tersimpan dalam saku celana yang terletak di atas lantai.