Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Menetapkan Hati


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di dapur?" Alvin masuk ke dalam kamar, lantas mengajukan pertanyaan tanpa memberi aba-aba. Sehingga Khalifa terkejut. Baru saja ia hendak membuka cadar untuk mendi, sontak dipakainya kembali.


"Membasuh wajah," jawab Khalifa tak bersahabat.


"Mengapa tidak kau lakukan di kamar kita saja?" tanya Alvin sekali lagi.


Entah apa yang coba dibahas oleh pria tersebut. Sehingga mencerca Khalifa sedemikian rupa.


"Kamar kita? Bukankah ini hanya kamar Mas Alvin saja?" Alvin sejenak terdiam, membenarkan perkataan wanita tersebut di dalam hati.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Karena kelalaianmu, orang lain melihat wajahmu," sarkas Alvin yang terus saja membenarkan diri.


"Lalu, apa Mas Alvin suka melihat wajahku?" Khlifa terus saja membalas pertanyaan Alvin dengan mengajukan pertanyaan pula. Alhasil Alvin semakin kesal.


Khalifa telah sukses mempermainkan dirinya. Lagi pula perihal cadar, bukanlah kesengajaan. Namun, karena menjunjung tinggi rasa gengsi, lantas Alvin mempersoalkan hal tersebut.


"Kau--"


"Mas, sebenarnya apa masalah Mas Alvin padaku? Jika ini hanya menyangkut cadar, baiklah biar aku jelaskan. Tadi aku ingin membasuh wajah di kamar mandi dapur, dan tanpa ku tahu Kak Al tiba-tiba datang. Mengapa aku tidak ingin melakukan di kamar ini, jawabannya adalah karena masih ada Mas Alvin. Apa Mas puas sekarang? Atau masih ada yang kurang?!" sarkas Khalifa secara beruntun.


"Mas, aku tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh. Bukankah kau tidak peduli padaku? Lantas mengapa kau mempersoalkan Kak Al melihat wajahku?" imbuh gadis berparas cantik tersebut.


"Karena kamu masih istriku!"


Jawaban Alvin sontak membuat Khalifa tersenyum sinis. Betapa tidak, beberapa waktu lalu wanita itu mengakui perasaannya, tetapi ia seolah enggan untuk menerima. Kini lelaki itu bersikap seperti seorang suami yang posesif terhadap istri. Sungguh membingungkan.


"Benarkah? Sejak kapan aku menjadi istri Mas Alvin? Bukankah baru saja Mas memintaku untuk dimadu?" Kini Alvin bungkam, tidak lagi menjawab pertanyaan Khalifa.


Sikapnya kali ini benar-benar membuat Khalifa jenuh sekaligus bingung. Bila memang Alvin hendak menduakan dirinya, setidaknya bersikaplah seperti seorang pria. Jangan mempermainkan perasaan orang. Jika dia melanjutkan, bukankah Khalifa akan salah paham padanya?


Khalifa akan merasa, bahwa Alvin sedang cemburu pada saudaranya sendiri.


"Soal poligami, aku tetap akan melakukannya. Suka dan tidak sukanya kau. Namun, kau harus ingat satu hal dariku, bahwa kau adalah istriku. Jadi, jaga martabatmu selayaknya seorang Muslimah. Jangan mengumbar aurat di sembarang tempat!"

__ADS_1


Alvin seolah tidak tahu diri, mengatai Khalifa sedemikian rupa. Seolah dirinya lah yang paling benar. Sedangkan Rukaya sendiri tidak mengenakan cadar seperti istrinya itu.


Di sisi lain, Khalifa tidak pernah berencana untuk memamerkan wajah cantiknya kepada semua orang, termasuk mertua dan juga kakak iparnya.


"Egois!" gumam Khalifa, tetapi masih bisa didengar oleh Alvin. Namun, belum juga pria itu menyambar Khalifa dengan kata-kata pahitnya, gadis tersebut masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Hari-hari yang dilalui Khalifa cukup pelik dan sulit. Dimana ia harus bertemu Alvin setiap waktu.


Gadis itu masih saja merasa canggung pasca pengakuan cinta yang ia lontarkan terhadap suaminya tersebut.


Ditambah lagi sikap Alvin yang semakin mengacuhkan dirinya, maka bertambahlah rasa malu yang dimiliki.


Satu yang membuat Khalifa bisa melupakan sejenak persoalannya bersama Alvin, yakni adanya Algazali.


Pemuda yang tidak kalah gaga dari adiknya itu kerap menghibur dirinya yang gundah gulana.


Al seolah mengabaikan fakta, bahwa Alvin tidak menyukai Khalifa. Baginya wanita cantik nan manis itu adalah adik iparnya yang sangat baik.


Sayangnya dulu ia menolak perjodohan tersebut, sehingga mereka tidak menjadi pasangan suami istri.


Meski demikian, Al tidak pernah menyesali keputusannya itu. Toh takdir Allah lah yang paling terbaik di muka bumi ini.


"Sedang apa di teras seorang diri? Lagi mikirin suami, ya?" Al menghampiri Khalifa yang sedang duduk di teras samping rumah.


"Ah, Kak Al. Tidak kok, aku hanya sedang melihat bunga mawar putih itu." Khalifa sedikit terkejut saat Al tiba-tiba datang. Sehingga membuatnya merangkai cerita semu. Padahal tebakan Al benar adanya. Dia sedang memikirkan Alvin yang semakin tidak terkendali.


Ya, semenjak Khalifa mengakui perasaannya, pria tersebut justru semakin menjauhinya. Di pesantren pun ia kerap menyaksikan suaminya sering berbincang-bincang bersama Rukaya.


Ironisnya, Khalifa harus melihat tawa suaminya itu hanya saat bersama Rukaya. Itulah sebabnya gadis berambut hitam lebat tersebut bermuram durja.


Mau mengajukan cerai, ia tidak siap. Padahal masih belum terlambat, belum ada yang hilang dari dirinya.

__ADS_1


Sayangnya, janjinya kepada mendiang Ibrahim kerap menghampiri hati nurani. Sehingga menyebabkan ia berpikir dua kali untuk mengajukan gugatan cerai.


Di sisi lain, Khalifa tidak ingin mengecewakan kedua mertuanya. Mereka telah berbuat baik padanya. Kasih sayang orang tua yang dirindukan Khalifa, telah ia dapatkan bersama mereka.


"Kau menyukai bunga mawar? Tahu begitu tadi aku membelikanmu satu ikat di toko bunga," goda Al.


"Kak Al bisa saja. Oh iya, Kakak tidak pergi ke pesantren ya? Bukannya hari ini ada rapat pembaharuan program pesantren?" tanya Khalifa.


"Malas, ah. Mending di rumah ini, aku bisa melihat adik iparku yang cantik nan baik hati. Dari pada wajah orang-orang yang berlalu lalang. Bikin pusing." Lagi-lagi Al menggoda Khalifa agar wanita tersebut tidak murung.


"Hahaha."Dua orang itu pun tertawa bersama. Sehingga perhatian Alvin yang baru saja hendak keluar teralihkan.


"Ehem!" Alhasil ia pun menghampiri keduanya dengan tatan tak suka.


"Eh Alvin. Kau di sini? Kirain sudah pergi," kata Al.


"Abang tidak ikut ke pesantren?"


"Tidak, ah. Malas, mending di rumah saja. Iya ga, Dek?" Al beralih kepada Khalifa, meminta pendapatnya. Alhasil sikap pria tersebut sukses membuat Alvin semakin kesal.


"Tapi Abang salah satu pemegang saham di sana juga. Abang harus turut serta." Alvin terkesan memaksakan kehendak.


"Gak ah, biar kamu aja yang mewakiliku. Lagi pula aku tidak suka berada di sana. Masih ada hal lain yang ingin aku bahas bersama Khalifa," sahut Al.


"Sama aku?" Khalifa tampak bingung, karena sejak tadi Al tidak mengatakan apa-apa padanya semenjak duduk bersama.


"Kakak mau ngomong apa emangnya?" tanya gadis itu penasaran.


Pun Alvin yang masih belum beranjak pergi, "Nanti saja deh, aku mau sholat duha dulu. Setelah itu baru kita bicara." Baik Alvin maupun Khalifa, mereka sama-sama merasa penasaran.


Algazali seolah sengaja membuat mereka tidak tenang. Terutama Alvin. "Kau tidak mau ikut?" Lantas Alvin mengajak Khalifa untuk turut serta ke pesantren.


"Tidak! Lagi pula aku tidak punya wewenang di sana. Aku mau sholat duha dulu," sahut Khalifa dingin. Tak pelak Alvin tercengang dibuat gadis tersebut.

__ADS_1


Khalifa seakan sengaja mengacuhkan suaminya, agar tidak terjadi perdebatan sengit seperti yang biasa terjadi.


__ADS_2