Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Bayi Itu Milik Siapa?


__ADS_3

Aku memaklumi kecemburuan Rukaya terhadap Khalifa. Setiap hari ku sanjung ahlak mantan istriku itu di depannya tentu saja mempengaruhi mental.


Terlebih lagi kami mempunyai bayi. Biasanya, wanita yang baru saja bersalin, bila mentalnya tidak dijaga maka akan mengalami baby blush.


Dampak baby blush tersebut sangat luar biasa. Bila Sang Ibu tak pandai menjaga iman, maka bayi lah ujung tombak mengalihkan amarah.


Terkadang bayi itu meregang nyawa akibat dari dampak baby blush tadi.


Betapa dahsyatnya penyakit itu bila tak disertai iman yang kuat serta dukungan dari suami serta keluarga.


"Maafkan aku bila ada sikap dan perkataan yang sekiranya membuatmu cemburu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya sedang berusaha menjelaskan, bahwa apa yang kau pikirkan tentang Khalifa itu tidak lah benar. Di sisi lain, kau harus mengubah pola pikirmu tentangnya, agar jiwamu lebih tenang. Ingat, ada bayi yang harus kau jaga. Bila kau gelisah, maka dia pun bisa merasakan apa yang kau alami. Paham?" Aku menurunkan ego, memelankan suara agar Rukaya tidak tertekan batinnya.


Semenjak kepergian Khalifa, tak henti-hentinya Rukaya gelisah. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Walau berulang kali aku menasehati.


"Baiklah, sekarang kau perlu istirahat. Mumpung Maryam sedang tidur, em?" Lantas ku kecup kening Rukaya dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih, Mas," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


**


Hari tausiyah pun tiba, akhirnya aku menyebar ilmu agama di masjid kota D. Dari sekian banyak jemaah, di antaranya ada Umi Kalsum dan Paman Yusuf.


Mereka adalah mantan kerabatku dulu. Terus terang saja, aku masih canggung untuk menyapa mereka. Sebab, rasa bersalah yang terus mengikutiku seperti hantu.


"Syariat tidak memperbolehkan suami menyakiti hati istrinya, bahkan seorang suami harus menjaga hati istrinya yang sangat lembut dan mudah tersakiti.


Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat kasar kepada wanita, apalagi seorang istri . Kaum Hawa ini, memiliki perasaan yang lembut dan sangat mudah tersentuh. Sedikit saja mereka disakiti maka mereka akan sakit hati. Maka itu, wanita harus diperlakukan secara baik.


Dalam keseharian, seorang istri bisa jadi dia sanggup melaksanakan banyak perkerjaan rumah tangga di satu waktu. Dalam kondisi hamil, istri masih bisa memasak, membersihkan rumah, itu pun sambil menyuapin anak yang masih kecil, dilanjutkan dengan menyeterika pakaian. Seorang suami dengan badan yang kekar, mungkin hanya mampu menggendong anak tidak lebih dari setengah jam. Berbeda dengan sang ibu yang tahan berjam-jam lamanya.


Sungguh ketahanan fisik yang luar biasa. Akan tetapi, sekali bentakan suami yang dia dengar dan rasakan, semua tubuhnya tiba-tiba lemas dan tidak berdaya. Lau dia pun hanya bisa menumpahkan air mata di atas bantal, tidak membalas bentakan suaminya karena tingginya kedudukan suami di matanya. Sekali saja suami memukulnya, rasa sakit dalam hatinya tidak akan pernah hilang, meskipun bisa jadi secara fisik tidak berbekas sama sekali."


Tausiyah kali ini berjudul 'Pentingnya Menjaga Perasaan Istri'.

__ADS_1


Tadinya aku tidak ingin menerima tema ini, aku hendak menggantinya. Namun, para pihak panitia menolak.


Biasanya, tiap kali membawa tausiyah seperti ini, aku lah yang menentukan temanya. Akan tetapi, berbeda dengan yang terjadi di kota D.


Tahu-tahu tema dan lain sebagainya telah disetting secara teratur. Aku tinggal menjalankan peran saja.


Terus terang, melihat judul tausiyah ini seolah menghempasku ke dasar lautan terdalam. Dimana aku lah Tokoh utamanya.


Aku lah suami yang dimaksud Rosulullah SAW. Sebab, aku telah memerankan Tokoh Durjana.


Isi dari tausiyah ini, seolah menyendir perangaiku yang tak baik.


Lebih tepatnya aku layak disebut sebagai lelaki munafik.


Ya, aku adalah manusia munafik. Bertopengkan kemuliaan serta keimanan. Namun, nyatanya aku tak lebih mulia dari seekor keledai.


Sungguh aku merasa malu membawakan tausiyah ini. Sebab, tak sesuai dengan fakta yang ku alami.


Ingin rasanya aku menghilang begitu hati ini semakin bergejolak.


Satu jam berjibaku dengan tausiyah yang sukses menyindirku, akhirnya acara ini selesai juga. Maka ku sempatkan diri menemui Khalifa.


Namun, aku sangat takut sekaligus malu menemuinya.


Alhasil aku hanya bisa menatap dari kejauhan. Ku lihat mantan istriku itu tengah bermain bersama seorang bayi.


Satu yang membuatku heran adalah bayi itu selalu bersamanya tiap kali ku lihat mereka.


Khalifa seperti sangat dekat dengan bayi tersebut. Seolah dia lah Ibunya.


Aku bisa pastikan, bahwa di balik cadar coklat Khalifa tersemai senyuman bahagia.


Wanita itu begitu menyayangi semua orang, termasuk bayi orang lain.

__ADS_1


"Mengapa tidak menemui dia?" Suara bas itu terdengar tak asing di telinga.


Lalu ku berpaling padanya. Benar saja, dia adalah Paman Yusuf.


"Paman? Assalamualaikum." Ku ucap salam seraya mencium punggung tangan beliau. Menghormati yang lebih tua.


"Apa kau ingin menemui Khalifa?" tanya Paman Yusuf sekali lagi.


"Tidak, Paman. Aku tidak berani menemuinya. Lagi pula dia tak akan bersedia bertemu denganku. Aku telah menyak menorehkan luka di hati Khalifa. Andai boleh jujur, aku sangat malu membawa tausiyah tadi. Sebab, tak sesuai dengan kehidupan nyataku. Secara teori aku memang telah khatam. Namun, menurut pratikumnya aku baru merangkak," paparku, sangat lirih.


"Kadang-kadang manusia juga bisa lalai, Nak. Tidak kau, dan tidak juga Khalifa. Semua manusia pasti pernah melakukan dosa." Aku semakin malu menghadapi Paman Yusuf.


Aku yang tak amanah dalam menjaga keponakannya, justru disambut baik oleh mereka.


Entah ku bawa kemana hati nuraniku dulu. Sampai tega melakukan perbuatan tak terpuji.


"Masalahnya aku bukan kadang-kadang, Paman. Melainkan setiap waktu. Entah berapa banyak dosa yang telah ku perbuat pada Khalifa. Dia bahkan tidak pernah membalasku sesikitpun," lirihku.


"Mungkin jodoh kalian hanya sampai di sini saja. Allah tidak menghendaki maut memisahkan kalian berdua. Namun, kau harus sanggup merelakan takdir. Setidaknya ada bayi... ah, maksud Paman, setidaknya masih ada kami yang menjaganya."


Entah mengapa aku merasa Paman Yusuf seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sepintas beliau menyebut bayi.


Ah, sudahlah. Mungkin yang dimaksud adalah bayiku, Maryam.


Tapi dari mana Paman tahu tentang Maryam? Bukankah aku tak pernah menyinggung soal keluarga kecilku bersama Rukaya?


"Baiklah, kalau begitu Paman permisi. Masih ada yang harus diselesaikan di rumah. Assalamualaikum," imbuh Paman Yusuf.


"Waalaikumussalam."


Kemudian ku lihat Umi Kalsum menghampiri Khalifa.


"Assalamu'alaikum, cucu, Umi." Samar-samar aku mendengar perkataan Umi Kalsum. Beliau menyebut bayi yang sedang berada dalam gendongan Khalifa adalah cucunya.

__ADS_1


Sebenarnya bayi itu milik siapa? Benarkah bayi Khalifa?


__ADS_2