Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Kecewa


__ADS_3

Sebaik-baiknya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga, dan sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium baunya.


Pun kabar pergelaran khitbah Alvin dan Khalifa, akhirnya tersebar juga. Pihak keluarga memang tidak menyebar luas perihal tersebut, tetapi khodarullah. Ada salah satu anak santri Alvin menyaksikan prosesi khitbah tersebut. Tak lain adalah sepupu Rukaya.


Saat hendak mengunjungi rumah Sang ustad untuk menyetor hafalan Qur'an, remaja bernama Fatima tersebut tak sengaja melihat Alvin berdadan selayaknya calon pengantin.


Pun kedua orang tuanya. Merasa penasaran, akhirnya Fatima bertanya kepada tetangga Ilham.


Jawabannya sungguh di luar dugaan, akhirnya Fatima mengetahui perjodohan Alvin bersama Khalifa.


Sepulang dari kediaman ustad tampan tersebut, buru-buru Fatima memberi tahu Rukaya, sepupunya.


Semula Rukaya tak percaya pada perkataan Fatima. Ia lebih memilih mempercayai Alvin. Setidaknya Rukaya ingin mendengar langsung dari bibir pemuda tersebut.


Namun, pernyataan Fatima justru diperkuat dengan adanya video yang tersebar di sosial media salah satu santri yang juga turut hadir dalam prosesi khitbah Alvin.


Sialnya, santri itu merupakan kerabat Khalifa yang juga menimba ilmu di pesantren Alvin.


Sungguh takdir yang aneh dan sangat disayangkan. Rukaya harus mengetahui berita tersebut dari orang lain, bukan dari pria yang ia sanjung pekertinya.


"Bukankah video siaran langsung itu sudah cukup membuktikan, bahwa Ustad Alvin telah meminang gadis lain yang merupakan pilihan Umi serta Abahnya?" Remaja lima belas tahun tersebut masih bersama Rukaya di rumahnya, mempertegas pernyataan, bahwa Alvin benar-benar akan segerah menikah.


Maka air mata Rukaya pun tumpah ruah. Ia tak kuasa menahan hati yang terluka. Sungguh yang terjadi saat ini sangat menyakiti perasaan serta harga dirinya.


Betapa tidak, dua hari lalu ia masih sempat bertemu Alvin. Namun, pemuda itu tidak mengatakan apa-apa ihwal perjodohannya. Inikah alasan mengapa Alvin murung sepanjang waktu? Pikir Rukaya kala itu.


Malam hari setelah menggelar khitbah, Alvin menjalani rutinitasnya seperti biasa. mengunjungi pesantren untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya di sana sebagai tenaga pengajar.


Seolah tidak terjadi  apa-apa, Alvin tampak tenang. Tanpa ia ketahui, bahwa seluruh penghuni pondok pesantren telah mengetahui perihal khitbah yang ia gelar tadi pagi.


"Mas, aku ingin bicara." Rukaya menemui Alvin dalam ruangan pribadinya. Mimik wanita tersebut tampak datar.

__ADS_1


"Bicara apa, Dek?" Lihatlah cara Alvin memperlakukan Rukaya. Bukankah seharusnya ia memanfaatkan momen ini untuk berkata jujur? Sebelum akhirnya gadis cantik itu terluka lebih dalam.


"Mengapa Mas Alvin tidak memberitahuku ihwal khitbah yang Mas gelar tadi pagi?" Degup jantung Alvin seketika berdenyut kencang. Dadanya terasa sesak, karena akhirnya Rukaya mengetahui rahasia yang tak sengaja ia simpan.


"Apakah Mas menunggu waktu sampai orang tuaku meminta Mas Alvin meminangku? Tidakah Mas memikirkan perasaan mereka? Apakah Mas ingin Umi dan Abah malu karena mengira lelaki yang disangkanya bijak akan menjadi Imam bagi Putrinya, justru dijodohkan dengan gadis lain?" Tak hentinya Rukaya mengemukakan kekecewaannya terhadap Alvin.


"Dek, dengarkan aku dulu. Aku--"


"Dengarkan apa lagi, Mas? Bukankah semuanya sudah jelas?" sarkas Rukaya dengan air mata.


"Dua hari lalu." Terlihat Rukaya menahan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali berujar, "Dua hari lalu kita masih bertemu. Bukankah saat itu aku mengajukan pertanyaan kepadamu, Mas? tapi saat itu kau hanya diam saja. Apakah Mas menunggu sampai aku dan keluargaku malu? Mengapa Mas Alvin tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk memberitahuku? Setidaknya aku tidak akan sesakit ini. Aku bahkan tahu dari Fatima dan salah satu santri yang live di sosial medianya saat Mas menggelar khitbah di rumah gadis itu."


Mata Alvin membeliak tatkala mengetahui fakta lain dari prosesi khitbah yang digelar. Mengapa ia seceroboh ini? Mengapa Alvin tidak mempertimbangkan, bahwa ada santri yang berasal dari keluarga Khalifa serta Rukaya. Kebohongan itu pun pasti terbongkar jua.


Lantas apa untungnya menyembunyikan bangkai? Jika lubangnya berakhir dengan bau tak sedap.


Lihatlah hasilnya sekarang, perbuatannya itu menuai kekecewaan yang teramat besar dari Rukaya.


Sayangnya, Alvin lalai serta memilih memelihara kebohongan. Sedangkan ia sendiri paham akidah.


"Dek, sebelumnya maafkan aku. Tapi sumpah demi Allah, aku tidak tahu ihwal perjodohan itu." Alvin masih membela diri. Padahal nyata-nyatanya dia salah.


"Tapi Mas tahu akan mengkhitbah gadis itu, kan?" sarkas Rukaya, membungkam Alvin.


Alvin pun tersungkur lemas tak berdaya. Gadis yang ia cinta, kini menaruh kecewa padanya. Lantas masih adakah yang tersisa di antara mereka?


"Aku benar-benar kecewa sama Mas. Aku membencimu, Mas. Aku benar-benar membencimu!" Akhirnya Rukaya berlari meninggalkan Alvin yang masih diam dalam kebingungan.


Andaikan dua hari lalu dapat diputar kembali, maka ia akan memilih kejujuran. Sayangnya waktu itu tak dapat diputar kembai. Kini masa depan bersama Khalifa telah menantinya.


"Khalifa! Aakk--" Alvin berteriak di jembatan tempatnya bertemu Rukaya. Pemuda dengan baju koko merah darah itu menyalahkan Khalifa terkait apa yang terjadi pada dirinya. Tanpa ia ketahui, bahwa Khalifa juga tengah berperang melawan hati di rumahnya.

__ADS_1


"Abah!" Tiba-tiba saja Ibrahim jatuh pingsan saat usai menunaikan ibadah sholat isya.


"Bangun, Abah! Apa yang terjadi? Tolong..." Khalifa pun panik saat mendapati orang tua satu-satunya itu terbaring tak berdaya di kamarnya.


Semula Khalifa hendak mengantarkan obat ke kamar Ibrahim. Namun, siapa sangka bila ia menemukan Abahnya terbujur lemas.


Wajahnya pun pucat, serta kakinya membengkak. Ada sedikit busa keluar dari sudut bibir pria paruh baya tersebut.


"Apa yang terjadi, Nak? Ada apa dengan Abahmu?" Beruntung Yahya dan Yusuf masih ada di rumah itu. Sehingga lebih memudahkan Khalifa mendapat bantuan.


"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja Abah terbaring di lantai saat aku hendak mengantarkan obat," jelas Khalifa dengan suara bergetar.


"Sudahlah, sebaiknya kita antar Abahmu ke rumah sakit sekarang juga. Sebelum kondisinya semakin memburuk." Yusuf dan Yahya pun membawa Ibrahim ke rumah sakit terdekat untuk menjalani perawatan secara intensif.


Sesampainya di rumah sakit, Ibrahim langsung ditangani oleh Dokter ahli dalam. Sedangkan Khalifa serta kerabatnya menunggu di luar ruangan.


Terlihat Khalifa panik, takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Abahnya.


"Sabar ya, Nak. Abahmu pasti akan baik-baik saja." Beruntung masih ada Umi Kalsum yang selalu setia mendampingi Khalifa tiap kali ia merasa cemas. Selayaknya seorang ibu, Umi pun menenangkan Sang keponakan.


"As-alu Allah al-'azhima rabb al-'arshi al-'azhimi an yashfiyak." Khalifa membaca doa khusus orang sakit ratusan kali untuk kesembuhan Sang Ayah, meski kecil harapannya.


Tangan gadis itu gemetar. Sementara kedua kakinya sedari tadi tak bisa diam. ia sungguh gelisah mengingat kondisi Abahnya yang malang.


"Keluarga pasien Tuan Ibrahim." Kemudian Perawat pun datang.


"Iya, Suster. Kami." Khalifa menghampiri Perawat tersebut dengan perasan campur aduk.


"Silahkan ikut saya ke ruangan UGD." Hati Khalifa pun semakain ketakutan begitu mendengar kata UGD.


Ingatannya kembali pada peristiwa di mana Uminya meregang nyawa. Seolah mengulang kisah yang sama, kini Khalifa harus menyaksikan Abahnya terbujur lemah di atas brankar rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2