Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Pelan-pelan Dong


__ADS_3

"Pelan-pelan dong!" Khalifa merintih perih di atas ranjang. Untuk pertama kalinya, ia berbaring di kasur empuk tersebut. Tentu saja atas izin suaminya.


"Ini juga sudah pelan-pelan!" Alvin sedang berusaha untuk mencabut benda keras nan kecil pada bawah tubuh Khalifa.


"Astagfirullah, Mas. Aku berdarah," lirih Khalifa sembari menatap takut pada cairan kental tersebut. "Ini aku gak bisa membersihkan seprei, aku masih lemah. Gak bisa jalan, tolong Mas Alvin yang bersihkan, ya?" imbuh gadis berparas cantik tersebut.


"Iya, iya. Bawel banget jadi cewe! Baru juga tertusuk satu kali sudah menangis. Bagaimana kalau lebih dari satu kali? Pasti kamu berteriak sampai tetangga mendengar suaramu," omel Alvin, masih berusaha untuk mencabut benda keras tersebut.


"Pelan-pelan, Mas. Sakit tahu!" Khalifa masih merintih ngilu.


"Apa kau tidak lihat kalau aku sudah pelan-pelan?" hardik Alvin.


"Alhamdulillah, akhirnya. Apa kau sudah lega?" Alvin menunjukan paku hitam itu ke wajah Khalifa.


Entah bagaimana ceritanya sampai ia menginjak benda kecil tersebut. "Iya, terimakasih, Mas," sahut Khalifa dengan rasa lega lagi senang.


Dua bulan menikah, tak pernah sekalipun mereka sedekat itu. Terlebih lagi Alvin menyentuh kulitnya dengan penuh perjuangan. Setidaknya, pemuda tersebut masih memiliki hati nurani. Tidak menelantarkan Sang istri ketika mengalami musibah kecil.


"Hm," sahut Alvin bernada dingin.


Sejujurnya sikap itu coba ia tunjukan karena wajah Khalifa teramat dekat dengannya. Nyaris bersentuhan. Terlebih lagi Khalifa tidak sedang mengenakan cadar. Sebab, tengah berada di dalam kamar.


"Lain kali hati-hati. Gunakan mata kalau jalan! Untung bukan pecahan beling yang kau injak." Nada suara Alvin terdengar sangat ketus. Tidak bersahabat sama sekali.


"Iya, terimakasih." Meski begitu, Khalifa tertap bersyukur. Sebab, suaminya masih memperhatikan dirinya, walau sikapnya kerap menyakiti perasaan.


"Apa kau bisa sholat dengan kaki terluka? Jika tidak, sebaiknya kau sholat duduk saja." Mendengar perkataan itu, sontak Khalifa terharu.


Bagaimana tidak, lagi-lagi untuk pertama kali dalam pernikahan mereka, Alvin menunjukan rasa peduli terhadapnya. Khalifa merasa seperti bermimpi di siang hari.


"Gak apa-apa kok, Mas. Aku baik-baik saja," sahut Khalifa seraya melempar senyuman manis.


Alhasil Alvin pun dibuat terpana akan kecantikannya. Gigi rapi nan putih bersih itu dilihatnya dengan jelas. Sungguh ciptaan Tuhan yang tak terdustakan. Khalifa benar-benar gadis yang cantik lahir batin.


"Ah ya, sebaiknya kita sholat. Sudah masuk subuh." Sengaja Alvin mengalihkan pembicaraan demi menghindari perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Seperti ada sengatan listrik yang mengalir ke urat nadi.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun akhirnya menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah. Tadinya Alvin hendak sholat ke masjid, tetapi mendadak ia melihat Khalifa sedang menahan sakit pada telapak kaki. Maka ia pun memutuskan untuk membantu.


Usai sholat, Khalifa mencium punggung tangan Alvin seperti yang selama ini ia lakukan. Setelah itu mereka mengaji bersama, membaca surah Al-Waqiah.


Kemudian Alvin membersihkan diri di kamar mandi. Sedangkan Khalifa menyediakan pakaian suaminya itu. Hari ini para santri akan melaksanakan ujian.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Alvin begitu melihat Khalifa memilih pakaian untukknya di dalam lemari.


"Menyiapkan pakaian untuk, Mas Alvin," sahut gadis itu.


"Bukankah sudah ku katakan, jangan pernah menyentuh barang-barangku!" Alvin mulai meninggikan suara seraya merebut baju koko putih dari tangan istrinya.


"Tapi, aku--"


"Apa kau pikir hanya karena aku membantumu mengeluarkan paku di kaki, lantas kau bisa dengan leluasa menyentuh barang-barangku? Kau terlalu percaya diri, Khalifa!" Sumpah demi apapun, hati Khalifa sangat sakit luar biasa.


Disangkanya peristiwa beberapa saat lalu sukses mengubah pendirian Alvin. Nyatanya pria tersebut masih menutup hati. Benar katanya, bila ia terlalu percaya diri.


Khalifa menundukan kepala, mengedipkan kedua netra, karena nyaris mengeluarkan air mata. Kata-kata Alvin sungguh tiada obatnya.


Khalifa tidak diwajibkan untuk menunaikan tugas dan kewajibannya. Hubungan mereka hanya sebatas kompromi, tidak lebih.


"Maaf," lirih Khalifa, berwajah sendu.


"Keterlaluan!" gumam Alvin. Namun, masih bisa didengar oleh Khalifa.


Wanita itu pun menutup rapat matanya, hingga beberapa tetes air mata jatuh ke lantai. Alvin menyadari itu, tetapi egonya sangat tinggi.


Tak ingin memperkeruh suasana, Alvin pun memakai bajunya. Lantas keluar dari kamar.


"Huhuhu." Khalifa menangis sejadi-jadinya pasca kepergian pemuda tersebut.


Gadis bergamis coklat tua itu memegang dadanya yang terasa sesak. Terlalu sakit perkataan Alvin, hingga kesulitan menghirup udara.


Mengapa dia harus percaya diri tadi? Mengapa harus menyentuh barang-barang Alvin? Mengapa dia tidak bisa menahan diri seperti yang selama ini dilakukan? Mengapa ia sampai bisa melupakan kesepakatan mereka? Mengapa ia bisa seceroboh itu? Apakah karena ia sudah terlanjur cinta pada suaminya?

__ADS_1


Begitu banyak pertanyaan bermain di atas kepaka Khalifa, seolah menyesali sikapnya yang berujung kekecewaan.


"Assalamu'alaikum." Buru-buru Khalifa menyeka air mata begitu suara Umi Huraira terdengar dari ambang pintu.


"Waa'laikumsalam, Umi. Silahkan masuk," jawabnya.


"Loh, kamu nangis? Emang kamu sedang sakit, ya? Atau Alvin menyakitimu?" Umi bisa melihat mata Khalifa yang sembab. Bisa dipastikan itu karena menangis, bukan kelilipan debu.


"Ah iya, Umi. Tadi saya tidak sengaja menginjak paku. Makanya nangis." Beruntungnya peristiwa beberapa saat lalu menyelamatkan dirinya dari rasa curiga Sang mertua. Setidaknya ia masih bisa menjaga nama baik suaminya di depan kedua orang tua.


"Paku? Kok bisa? Coba Umi lihat." Umi memeriksa kaki Khalifa yang terluka.


"Jangan, Umi! Aku gak apa-apa kok." Akan tetapi, Khailfa mencegatnya. Tidak etis bila seorang Ibu mertua memegang kaki menantunya, meski dalam keadaan sakit.


"Beneran gak apa-apa?" sangsi Umi.


"Beneran, Umi."


"Alhamdulillah. Oh iya, Umi hampir lupa, kalau nanti malam akan ada pesta pernikahan di hotel Grand City. Anak dari Ustad Samsul, masih kerabat dengan kita menikah. Kalian harus ikut juga ya? Bukankah kau belum pernah bertemu Ustad Samsul?" ungkap Umi.


"Iya, Umi. In sya Allah saya akan hadir," sahut Khalifa.


"Bukan hanya kamu, melainkan suamimu juga ikut. Masa iya seorang istri ke pesta tanpa suami? Kan Alvin ada di sini." Sontak Khalifa merasa bersalah pada Umi Huraira. Sebab, selalu membohongi mereka.


Pernikahan yang menurutnya harmonis, sakina, mawadah, warohma, nyatanya jauh dari kata baik-baik saja. Mereka memeliki masalah yang cukup serius.


"Iya, Umi." Untuk yang kesekian kalinya Khalifa terpaksa membohongi mertuanya itu.


"Baiklah, kalau begitu cepat keluar. Kita sarapan bersama, ya? Suamimu sudah menunggu di ruang makan."


Rasa bersalah itu kian membuncah kala Umi menunjukan kasih sayang serta kepercayaan terhadapnya. Sungguh besar cinta kasih sepasang suami istri beda generasi itu kepada Khalifa.


Mereka memperlakukan Khalifa selayaknya putri kandung. Terkadang Alvin merasa cemburu. Sebab, semenjak kehadiran Khalifa di rumah itu, ia dianak tirikan.


Pun Algazali, meski masih berada di negara yang nun jauh di sana, tetapi kasih sayangnya terhadap Khalifa tiada berbeda.

__ADS_1


__ADS_2