
Malam itu awan berkabut hitam. Tak ada cahaya rembulan seperti malam sebelumnya. Langit seolah sendu menatap dunia. Sedangkan bintang turut menghilang.
Di ruangan tak seberapa luas itu, Khalifa menangisi kondisi Sang Ayah yang semakin memburuk.
Sementara di kota berbeda, tepatnya di jakarta. Keluarga Ilham akhirnya mendengar kabar berita terkait kondisi Ibrahim.
Buru-buru ia dan keluarga mengunjungi sahabatnya itu. Padahal baru tadi pagi mereka melangsungkan khitbah.
Tak lupa pula Alvin turut serta mengunjungi calon Ayah mertua. Dengan hati setengah ikhlas, pemuda yang dijuluki ustad keren tersebut menapakan kaki di rumah sakit tempat Ibrahim dirawat.
Tepat pukul tiga dini hari Ilham serta keluarga tiba di sana. Terlihat Khalifa masih setia mendampingi Sang Ayah yang napasnya terengah-engah.
Sejak tadi Ibrahim mengatakan banyak hal kepada Khalifa. Salah satunya adalah apapun yang terjadi pada rumah tangganya kelak, harus hadapi dengan lapang dada serta jangan pernah lari dari masalah. Ibrahim tidak menginginkan perceraian terjadi dalam rumah tangga Putri semata wayangnya tersebut.
"Tua, apa yang terjadi padamu?" Ilham menghampiri sahabatnya itu, menggantikan Khalifa yang sejak tadi duduk di tepi brankar.
"Tik, bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Anggap saja sebagai permintaaku yang terakhir." Seolah tahu waktunya hampir tiba, Ibrahim pun mengutarakan isi hatinya kepada Ilham.
"Kau bicara apa, Tua? Kau pasti akan baik-baik saja. Allah pasti akan menyembuhkanmu lewat Dokter di rumah sakit ini." Tidak bisa dipungkiri, bila hati Ilham juga turut iba saat menyaksikan kondisi Ibrahim yang memprihatinkan.
Betapa tidak, sekujur tubuh pria yang dikenal baik serta dermawan tersebut membengkak. Bibirnya sedikit membiru, sedangkan matanya terlihat sayu. Ibrahim nyaris tak bertenaga untuk menggerakan tangan.
"Tidak, Tik. Waktuku tidak akan lama lagi, maka dengarkanlah aku," ucap Ibrahim dengan suara terbata-bata.
"Baiklah, katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku," titah Ilham akhirnya.
"Sebelum Allah memerintah Malaikat-Nya untuk memanggilku, bolehkan aku menyaksikan Putriku menikah sekarang juga?" pinta Ibrahim akhirnya, setelah sekian lama memendam.
Khalifa dan Alvin, mereka sama-sama terkejut. Betapa tidak, hubungan yang baru tadi pagi terjalin dalam ikatan khitbah, mendadak dipaksa sah.
Sementara Alvin menganggap dirinya masih memiliki harapan untuk membatalkan pernikahannya. Lantas melanjutkan hubungan bersama Rukaya. Namun, sungguh sangat disayangkan, harapan itu terpaksa pupus di tengah jalan.
"Baiklah, Tua." Dan Ilham pun menyetujui permintaan Ibrahim.
__ADS_1
"Alvin, kemarilah, Nak." Kemudian Ilham memanggil Alvin.
Dengan berat hati, pemuda itu menghampiri dua pria paruh baya tersebut.
"Turutilah permintaan calon mertuamu. Waktunya tidak banyak," imbuh Ilham.
Seperti tersambar petir di siang hari, hati Alvin terbakar situasi dan kondisi. Permintaan Ibrahim sungguh tak dapat ia penuhi. Akan tetapi, bila ditolak ia akan dicap sebagai pria tak bertanggung jawab.
Sedangkan Khalifa masih terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Umi Huraira.
Menyaksikan orang tua satu-satunya dalam keadaan sekarat, sungguh menyayat hati. Seperti separuh jiwa menghilang.
Kini Alvin berada dilema. Di satu sisi ia sangat mencintai Rukaya, serta hendak menikahinya begitu perjodohan itu dibatalkan.
Namun, di sisi lain Ilham tak memberinya pilihan. Kondisi Ibrahim semakin memburuk. Di samping itu juga, ia tak ingin menjadi anak durhaka. Ilham banyak menaruh harapan padanya. Lantas, pantaskah ia mengorbankan perasaan dua orang yang telah memberinya cinta tanpa syarat itu demi wanita yang baru tiga tahun mendekatkan diri padanya?
"Alvin, tolong jaga Khalifa. Dia adalah gadis yang baik. In syaa Allah dia bisa menjadi makmum yang baik untukmu. Jika dia membuat kesalahan, maka tegurlah ia seperti Baginda Rosul menegur istrinya." Kemudian Ibrahim memegang tangan Alvin seraya meminta pria tersebut.
Rasa iba pun menyeruak ke permukaan hatinya. Kondisi Ibrahim sungguh memprihatinkan. Sepertinya memang benar, bahwa ia tak memiliki banyak waktu.
"Iya, aku siap." Dengan berat hati, akhirnya Alvin menyetujui permintaan Ibrahim seraya memegang tangan calon mertuanya itu, seolah hendak memberi keyakinan, bahwa ia akan menepati janjinya untuk menjaga Khalifa.
Sementara Khalifa sendiri semakin berurai air mata. Untuk yang kedua kalinya, gadis itu kehilangan orang tua.
Maka Yusuf dan Yahya mencari seperangkat alat sholat di rumah Ibrahim sebagai salah satu syarat rukun nikah. Tak lupa pula cincin nikah mendiang Uminya dibawa serta.
Maklum saja, Ilham serta istrinya tidak menyiapkan apa-apa. Segalanya serba mendadak.
Malam itu, dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Ibrahim pun menikahkan Putri semata wayangnya itu bersama Alvin, serta disaksikan oleh seluruh kerabat terdekat.
"Saya nikahkah engkau, Alvin Ilham Akbar bersama Putri saya Khalifa Humaira binti Muhammad Ibrahim Marsela. Dengan satu mata cincin emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Khalifa Humaira binti Muhammad Ibrahim Marsela dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan satu kali tarikan napas, Alvin mengumandangkan kalimat ijab qobul itu cukup lantang.
__ADS_1
Maka pupus lah sudah harapannya untuk menikahi Rukaya. Kecuali Khalifa bersedia dipoligami, atau Alvin memaksakan diri untuk mendua hati.
"Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khairin," ucap semua orang yang menyaksikan pernikahan tersebut. Termasuk Ibrahim dengan napas tersengal-sengal.
Setelah itu ia pun mengucap syahadat serta solawat kepada Baginda besar Rosulullah. Kemudian Ibrahim mengembuskan napas terakhir.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun," ucap semua orang-orang itu, termasuk Khalifa dalam tangisnya.
"Abah, jangan tinggalkan aku," teriak Khalifa setelah berdiri memeluk jasad Sang Ayah.
"Khalifa anaku, tenanglah. Ikhlaskan Abah, agar jalannya dipermudah oleh Allah. Ingat, setiap yang bernyawa pasti akan kembali. Sabarlah, Nak." Umi Huraira, yang saat ini resmi menjadi Ibu mertuanya. Memeluk erat Sang menantu.
Dia tahu betul sakitnya ditinggal orang tua. Hancur dan sakitnya luar biasa. Maka tak salah bila Khalifa berduka. Ibrahim adalah tumpuan dan harapan gadis bercadar tersebut.
Khalifa tidak pernah menyangka bila kematian datang merenggut nyawa Ayahnya dalam waktu singkat. Dikiranya penyakit Ibrahim hanyalah migren pada umumnya. Tahu-tahu pria paruh baya itu mengidap kangker otak stadium akhir.
Pukul lima subuh lewat sepuluh menit jenazah Ibrahim di pulangkan ke rumah setelah usai mengurus seluruh biaya administrasi dan lainnya.
Khalifa berjalan dalam pelukan Umi Huraira. Sedangkan Alvin bersama kerabat lainnya membantu membaringkan jasad Ibrahim ke atas kasur yang telah disediakan.
"Umi, tolong jaga Khalifa. Beri dia makan, kata Yusuf sejak semalam dia belum makan sama sekali," bisik Ilham kepada istrinya.
"Baik," sahut Umi Huraira.
"Sayang, sebaiknya kau makan lah dulu. Setelah itu berwudhu, kita sholat subuh berjamaah," ujar Umi.
"Aku langsung sholat saja, aku tidak lapar." Suara Khalifa masih bergetar. Sedih ditinggal orang tua satu-satunya.
"Tapi kau belum makan sejak semalam, Nak," balas Umi.
"Nanti aku makan, ayo kita sholat. Sudah hampir pagi." Meski berduka, tetapi Khalifa tidak meninggalkan kewajibannya kepada Tuhan.
Umi Huraira serta Khalifa akhirnya menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah. Sementara Umi kalsum tak turut serta. Sebab, sedang mendapat halangan.
__ADS_1