
Wanita tak berdosa itu namanya Khalifa Humaira. Dia adalah istriku yang diberkahi kesabaran seluas samudra.
Tidak! dia bukan lagi istriku, melainkan mantan istri.
Ya, tepat tiga bulan lalu aku resmi menjatuhkan talak kepadanya.
Saat itu hatiku bergetar hebat. Ku kuatkan mental agar tubuh ini tidak rubuh kala menggelar kalimat talak.
Selama satu tahun terakhir aku memendam rasa ini seorang diri, hingga badanku kurus kering.
Dia yang sengaja ku sakiti, dia yang sengaja ku khianati, dia yang sengaja ku duakan, dia yang sengaja ku hina, dia yang tak pernah ku hargai, rupanya membawa pergi sebagian hidupku.
Ya, semenjak hari itu, aku telah jatuh cinta pada istri pertamaku, Khalifa Humaira.
Malam di mana kami menghabiskan waktu bersama, aku benar-benar tulus menggaulinya. Dan itu atas dasar cinta, bukan sebatas nafsu belaka karena adanya hujan lebat.
Sejujurnya setelah malam itu, aku tidak berencana melangsungkan pernikahan bersama Rukaya. Aku ingin memperbaiki diri serta menyelamatkan pernikahan kami.
Namun, aku telah berjanji kepada Rukaya serta kedua orang tuanya.
Saat itu aku masih belum menyadari perasaanku sendiri. Aku pikir sesuatu yang aneh datang menghinggap, itu bukan lah cinta. Melainkan hanya prasangka sementara.
Akan tetapi, semakin hari kian mendera. Hingga sulit rasanya tuk menghindar.
Janji tetap lah janji. Hubungan relasi bersama kedua orang tua Rukaya tak dapat ku cegah lagi.
Bibir ini terlanjur mengukir janji untuk membahagiakan Putri mereka.
Sebagai pria, tentu saja aku harus mempertanggung jawabkan perkataan. Meski pada akhirnya aku telah mengkhianati janjiku kepada mendiang mantan mertua.
Tak pernah sekalipun Khalifa mengecewakanku. Bahkan ketika Bang Al datang, dia selalu menjaga dirinya. Padahal seharusnya Bang Al lah yang menjadi suaminya kala itu.
Mengingat fakta tersebut, hatiku menjadi cemburu. Berbagai macam alasan ku lakukan demi memisahkan mereka. Walau harus menyakiti perasaannya.
Aku sangat mencintainya, demi Allah. Namun, aku terlalu egois untuk mengakui perasaan itu.
Seakan aku menjilat ludah sendiri, maka sengaja ku abaikan rasa ini.
Aku terlalu menjunjung tinggi gengsi, sampai akhirnya enggan mengakui.
Padahal Khalifa secara terang-terangan mengaku cinta kepadaku.
__ADS_1
Ajaibnya, ia jatuh cinta saat aku mengikrar ijab qobul dahulu.
Khalifa bukan perempuan murahan dengan mudah mencintai seorang pria. Akan tetapi, dia rela membuka diri dan menerima hubungan ini.
Tak ada salahnya bila harus jatuh cinta pada suami sendiri, bukan?
Hanya aku yang terlalu bodoh mengabaikan cintanya.
Susah payah dia berjuang seorang diri untuk memenangkan hati ini. Namun, lagi-lagi aku menampik.
Jujur saja, tiap kali Khalifa membuka cadarnya, aku benar-benar terpesona. Dia sungguh sangat cantik alami.
Pesonanya sukses menyita perhatianku. Sayangnya aku terlalu bodoh.
Berulang kali berusaha untuk menjauhinya, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyerah dan meridhaiku menikahi Rukaya.
Sungguh tak akan ada wanita seperti Khalifa. Dia rela berbagi suami demi menjaga marwahnya.
Janji yang dahulu pernah diikrarkan kepada mendiang Abahnya, dipegang teguh sampai akhir.
Saat malam pertamaku bersama Rukaya, aku lebih memilih bersama Khalifa. Aku telah merasakan sensasi nikmat dunia melalui tubuhnya.
Malam itu diam-diam aku menginginkan dia, tetapi tak tahu bagaimana caranya memberitahu wanita itu.
Malam berikutnya, aku tak lagi mengunjungi kamar Khalifa. Sebab, merasa malu pada diri sendiri. Lagi-lagi aku menganggap telah menjilat ludah sendiri.
Aku selalu berpikir, bahwa dia yang mentalnya ku hajar habis-habisan, kemudian memohon cinta padanya. Sungguh betapa tidak tahu malunya aku.
Rukaya tahu perasaanku terhadap Khalifa, dan dia pun mendukung kami.
Bahkan Rukaya kerap memintaku untuk jujur padanya, berbuat adil, serta memperlakukan ia selayaknya istri. Akan tetapi, lagi-lagi aku terlalu malu dan gengsi.
Masih sangat jelas di ingatan saat Rukaya berkata, "Akuilah perasaanmu terhadap istrimu, Mas. Aku meridhai kalian."
Sungguh hatiku pilu kala itu. Betapa berdosanya aku telah mempermainkan dua orang wanita.
Semula ku pikir perasaanku terhadap Rukaya adalah cinta. Namun, ternyata hanya lah sebuah kepedulian terhadap rekan kerja.
Sedangkan Khalifa, dia lah cintaku yang sesungguhnya. Hanya saja aku terlambat menyadarinya. Sungguh bodoh aku ini, melepas berlian yang nilainya tak terhingga demi memenuhi ego semata.
kini aku menyesal setelah Khalifa memutuskan untuk menyerah dalam hubungan kami.
__ADS_1
Hari itu dia memintaku menjatuhkan talak, tetapi aku menolak.
Sungguh aku tak rela bila harus melepasnya. Ironisnya, aku masih juga tak pandai mengakui cintaku padanya.
"Rukaya, tahukah kau betapa aku sangat mencintainya? Maaf telah membuatmu kecewa," ucapku kala itu.
Sejujurnya, setelah pernikahanku bersama Rukaya, tak sekalipun aku menyentuhnya andaikan malam itu dia tidak ku sangka Khalifa.
Ya, selama menikahi Rukaya, aku selalu memikirkan Khalifa. Seolah enggan untuk berhubungan badan. Sampai akhirnya aku salah mengenal orang.
Malam-malam berikutnya pun ku lampiaskan hasrat ini kepada Rukaya, tetapi batinku berteriak menyebut nama Khalifa.
Bukankah aku pantas dikatakan sebagai lelaki bejat nan tak terhormat?
Aku adalah pria gila yang tak beretika, dan ku akui itu.
Namun, demi Allah aku tak ridha bila harus melepas Khalifa. Dia adalah istriku, bukan orang lain.
Melihatnya bersama Bang Al membuat darahku mendidi.
Andaikan peristiwa malam itu membuahkan hasil, mungkin aku akan mengakui perasaan ini sebagai bentuk rasa tanggung jawabku terhadapnya.
Sayangnya, tak ada tanda-tanda kehamilan dalam fisik Khalifa. Ataukah karena dia kerap memakai pakaian longgar serta cadar? Sehingga ciri-ciri itu tak dapat ku lihat.
Aku memang pantas disebut sebagai lelaki pendosa, mempermainkan hati dia wanita yang tak bersalah.
Saat bersama Khalifa, aku mati-matian mengejar Rukaya demi membuktikan diri, bahwa aku tulus mencintainya.
Setelah ia memilih untuk menyerah, aku pun mulai sadar, bahwa perasaanku terhadap Rukaya bukan lah sebuah cinta, melainkan hasrat sahabat.
Katakanlah aku egois, tapi ini lah yang sesungguhnya.
Silahkan maki aku, silahkan caci itu, aku bisa menerima itu. Namun, tidak dengan melepas Khalifa.
Sadar, bahwa dia tersiksa, maka aku berencana belajar membuka hati serta memperbaiki diri, tapi entah mengapa aku selalu bersikap lain di bibir lain di hati.
Alih-alih bersikap manis pada Khalifa, aku justru menyakitinya lagi dan lagi. Padahal mengakui cinta tidak membutuhkan kursus khusus. Hanya perlu sebuah pengakuan secara lantang dan tegas.
Akan tetapi, lihatlah yang ku lakukan. Aku justru membagi cintanya untuk yang kesekian kali.
Benar-benar payah aku ini. Hanya dalam urusan asmara pun aku tak becus. Padahal bila ku perhatikan dalam film romansa percintaan, tokoh prianya sangat mudah mengakui cinta. Sedang aku persis disebut kucing basah.
__ADS_1
Lihatlah hasilnya, aku telah kehilangan Khalifa.