
Kepergian Alvin menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga, terutama Rukaya.
Belum genap dua bulan menyandang status Ayah bagi Maryam, Alvin harus dipanggil Tuhan.
Kecelakaan na'as itu telah mengubah segalanya. Rukaya yang lebih banyak diam serta menyendiri. Umi dan Abah yang tampak kebingungan. Hanya Algazali yang masih terlihat normal, walau hatinya tak dapat berdusta, bahwa ia juga merasa kehilangan sosok saudara tercinta.
Masa-masa sulit itu masih belum terlewati. Sebab, seluruh penghuni rumah masih tampak muram.
Pun seluruh Santri berduka atas kepergian Alvin Ilham. Mereka merasa kehilangan sosok Ustad hangat lagi periang.
Di pesantren itu, Alvin dikenal sangat baik. Walau rumah tangganya bersama kedua istri dianggap gagal oleh sebagian orang, meski tak sedikit yang mengidolakan sosok pria tampan tersebut.
Sejak hari duka itu, Pimpinan pesantren pun otomatis diganti oleh Algazali. Walau pemuda tersebut sempat menolak keras.
Namun, setelah mempertimbangkan kembali, Al tak ada pilihan lain.
Ilham yang telah lanjut usia, Umi yang sejak awal tidak berkecimpung secara langsung dalam pesantren tersebut. Maka satu-satunya orang yang layak mewarisi adalah Algazali Ilham Akbar.
Memang awalnya terasa canggung. Namun, sifat Al yang periang serta humoris, sukses memikat hati para Santri dalam waktu singkat. Meski, hati mereka masih belum sepenuhnya rela atas kepergian Alvin.
Pun Khalifa, wanita itu tampak diam menjelang empat puluh hari sang mantan suami.
Wanita bercadar itu duduk di tepi ranjang sembari memandang Reyhan yang tengah tertidur pulas.
Terbersit rasa bersalah di dalam hati, karena mengikuti ego dalam memisahkan Anak dan Ayah.
Khalifa tidak menyesali soal dirinya, melainkan Reyhan yang tak sempat diketahui keberadaannya oleh Ayahanda.
Andaikan ia menanggalkan ego saat itu, maka Reyhan dapat merasakan kasih sayang Alvin, meski hanya sesaat.
Ayah dan Anak itu dapat berjumpa, walau hanya singkat.
Tak lama suara isakan Khalifa mulai kentara, hingga membuat Reyhan terganggu. Bayi malang itu akhirnya terbangun.
Hua...
Pecah sudah tangis bayi tersebut. Khalifa merangkulnya, mendekap cukup keras sembari mengecup lama keningnya.
"Maafkan Ibu, Nak. Karena amarah, kau harus kehilangan kasih sayang Ayahmu," lirih Khalifa penuh rasa bersalah.
Entah takdir apa yang sedang menimpa wanita malang itu. Selain kedua orang tuanya yang tiada, rumah tangga pun turut goyah. Dan kini Putranya harus kehilangan figur Ayah.
__ADS_1
**
Enam bulan kemudian, duka itu perlahan mulai menghilang. Walau kadang kala datang menyapa dikala hati sedang gundah.
Khalifa telah ridha, pun Algazali dan Umi serta Abah. Hanya Rukaya yang masih setia dalam keterpurukan.
Psikis wanita itu kian bermasalah. Sedangkan seluruh keluarga telah berupaya untuk membuatnya lebih ridha.
Namun, alih-alih berubah, kondisi Rukaya semakin parah.
"Bagaimana kondisi Rukaya? Apakah dia baik-baik saja?" Khalifa bertemu Algazali di Jakarta.
Kebetulan Khalifa mendapat tawaran kerja di sebuah madrasah islamiah.
"Seperti yang kau ketahui, kondisinya masih belum stabil. Bahkan Umi dan Abah telah berupaya untuk menghiburnya. Aku kasihan pada Maryam. Anak itu seperti yatim piatu. Sebab, psikis Rukaya yang tak kunjung pulih," jawab Al.
"Apa kalian sudah membawanya ke psikiater?" tanya Khalifa sekali lagi.
"Kami sudah mencoba untuk membujuknya, tetapi dia menolak keras. Bahkan kedua orang tua Rukaya sudah berusaha, tetapi hasilnya nihil. Entah apa yang harus kami lakukan. Rukaya menolak dirukiyah. Segala cara telah kami tempuh, tapi tidak menunjukkan perubahan. Maryam menangis pun dia hanya diam. Kasihan anak itu," papar Algazali.
"Aku tidak ingin mengikut campur lebih jauh dalam urusan Rukaya, hanya saja jika berkenan, ajak lah ia ke pesantren. Barangkali dengan kembali mengajar, pelan-pelan dia bisa berubah."
Sejak kepergian Alvin, hubungan Khalifa dan Rukaya semakin berjarak. Sebab, psikis wanita itu masih belum stabil.
"Kami sudah membujuknya, tapi tetap saja ia tidak mau. Kami hanya bisa berserah diri kepada Allah," jelas Algazali.
"Assalamu'alaikum, Ustadza Khalifa." Suara seorang pria memutus percakapan dua orang itu.
"Wa'alaikumussalam, Pak Danang." Khalifa memutar badan menghadap lelaki yang bernama Danang tersebut.
"Sejak tadi saya mencarimu, rupanya di sini," ucap lelaki bertubuh tinggi tersebut.
"Ada apa ya, Pak? Apakah Bapak butuh sesuatu?" tanya Khalifa.
Sedangkan Algazali menatap datar pria itu. Sementara Danang justru tidak menyukai kehadirannya.
"Apakah kita boleh bicara?" pinta Danang.
Sejenak Khalifa menoleh kepada Algazali. Namun, diperhatikannya tatapan mantan saudara iparnya itu justru kian berbeda. Seperti sedang menyelidik Danang.
"Empat mata," imbuh Danang, mempertegas permintaan sembari menatap tak suka kepada Al.
__ADS_1
Alhasil dua pria itu terlihat tak akur. Danang seolah membenci lelaki berpeci hitam tersebut.
"Tidakkah sebaiknya Anda menjaga marwah seorang wanita? Mengapa harus bertemu empat mata? Bukankah kalian tidak terlibat satu nasab?" seloroh Algazali datar. Namun, penuh penekanan.
Entah mengapa tiba-tiba saja lelaki itu mengikut campur urusan Khalifa. Sementara selama ini ia tidak pernah mempersoalkan kehidupan wanita tersebut. Namun, yang terjadi hari ini sungguh di luar dugaan.
Bahkan Khalifa sendiri merasa heran. Sebenarnya ada apa dengan Algazali? Pikir Khalifa saat itu.
"Lalu bagaimana dengan Anda? Bukankah kita berdua sama?" sarkas Danang, menyudutkan Al.
Algazali tidak menyadari, bahwa dia dan Danang mempunyai status yang sama. Dimana keduanya tidak mempunyai hubungan nasab dengan Khalifa.
Al diam, tidak ingin membantah. Sebab, membenarkan pernyataan Danang.
Namun, diamnya Al cukup unik. Dia tidak membalas, karena sedang merencanakan sesuatu. Bukan hanya berdiam diri seperti penonton pasif.
"Mas, sepertinya aku harus pergi. Nanti kira bicara lagi. Tolong maafkan aku." Khalifa tidak ingin memperkeruh suasana. Sehingga ia memilih untuk menurut permintaan Danang.
"Em, baiklah. Sampai ketemu nanti sore. Assalamualaikum." Algazali pergi begitu saja usai mengucap salam.
Sikapnya kali ini cukup dingin kepada Danang, pria yang belakangan diketahui menaruh hati kepada Khalifa.
"Apa nanti malam kau ada waktu?" Lihatlah Danang yang seolah tak menghargai Khalifa.
Wanita itu tidak menyukai dunia malam. Apa lagi untuk sekedar diajak diner oleh seseorang yang bukan mahramnya.
Ini bukan soal ia memakai cadar, melainkan menjaga diri dari kaum Adam. Terlebih lagi statusnya yang sebagai janda. Ia tidak ingin orang-orang memandangnya rendah.
"Maaf, Pak. Tapi sepertinya saya tidak ada waktu. Sebab, saya masih harus menemani Putraku," jawab Khalifa.
"Kalau begitu bagaimana bila saya ke rumahmu? Kita akan bicara di sana. Dengan begitu Putramu tetap ada yang jaga." Danang seolah tak kehabisan akal demi mendekati Khalifa.
Namun, sayang seribu kali sayang. Khalifa bukanlah tipe wanita murahan. Dia memang seorang janda, tetapi ia tidak akan pernah menggadai harga dirinya demi mendapat gelar istri. Jika Alvin saja yang dicintainya dapat ia tinggalkan, apa lagi hanya lelaki seperti Danang?
"Maaf, Pak Danang. Namun, saya tidak bisa menerima tamu yang bukan mahramku." Khalifa menolak tegas ide Danang yang tak masuk akal itu.
"Apakah hanya pria tadi yang boleh berkunjung?" Pertanyaan Danang kali ini sukses melukai harga diri Khalifa. Seolah wanita itu mempunyai hubungan khusus bersama Algazali.
"Jika Bapak tidak mengenali seseorang lebih baik, maka sebaiknya jangan menggiring opini yang kelak akan menimbulkan fitnah. Saya tidak akan mentolerir orang yang telah merendahkan sesama. Assalamualaikum." Khalifa meninggalkan Danang tanpa menunggu tanggapan pria tersebut.
"Wanita ini benar-benar membuatku penasaran. Kita lihat saja nanti, kau akan jatuh dalam pelukanku hanya dalam waktu singkat." Alih-alih kesal, Danang semakin bersemangat untuk memiliki Khalifa.
__ADS_1
Dia begitu percaya diri. "Sebaiknya aku ke toko perhiasan sekarang. Bukankah wanita menyukai berlian?" gumam lelaki berkulit sawo matang tersebut.