Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Aku Cemburu, Mas


__ADS_3

Hari-hari ini terasa berat dan sulit. Makan seperti menelan batu, dan minum serasa menelan duri.


Mengajar pun tak konsentrasi. Otak ini selalu dikuasai oleh wanita bernama Khalifa Humaira.


Sudah beberapa bulan lamanya kami berpisah. Bahkan aku telah menjadi seorang Ayah dari Putri cantik yang diberi nama Siti Maryam.


Wajah mantan istri pertamaku kerap datang di alam mimpi. Menyapaku dengan penuh suka cita.


Kami tertawa bersama selayaknya keluarga. Ibu dan Ayah yang mencintai Anak-anaknya.


Dalam mimpi itu tak ada tangis dan air mata. Kami bersenda gurau menikmati kebersamaan yang begitu kental.


Tak lupa pula ada Umi dan Abah yang menemani kami bertiga.


Sedangkan Bang Al tak tampak batang hidungnya. Pun Rukaya. Entah kemana perginya mereka kala itu.


Tapi ya sudahlah, aku tidak mengharapkan kehadirannya di dalam mimpiku.


"Mas, ada undangan tausiyah di kota D besok siang. Tadi Ustadza zaenab yang antar ke sini." Mengetahui fakta, bahwa aku mendapat undangan dari yang merupakan kota tempat Khalifa bermukim, sontak hati ini gembira riang. Seolah baru saja mendapat tiket gratis ke bulan.


"Baiklah, nanti aku ke sana," kataku datar.


Dalam hati aku sungguh bahagia. Sepertinya alam semesta merestuiku untuk menemui mantan istri di sana.


Aku jadi mempunyai alasan untuk menginjakkan kaki di kota itu.


Semenjak beberapa bulan berlalu, tak sekalipun aku mengunjungi Khalifa hanya untuk sekedar mengetahui kabarnya.


"Oh iya, Mas. Apakah Mas mau menginap di sana? Kalau memang iya, biar aku siapkan pakaian ganti." Rukaya memang adalah istri yang baik seperti Khalifa. Namun, entah mengapa aku masih melihatnya sebagai sahabat setelah menyadari perasaanku yang sebenarnya.


Harus aku akui, bahwa Rukaya menjalankan perannya sebagai istri solehah. Tak sekalipun ia lalai.

__ADS_1


"Iya, terimakasih," balasku.


"Ah ya, jangan lupa sama minyak kayu putih juga. Sepertinya aku akan membutuhkan benda itu," imbuhku.


Selama kurang lebih delapan menit Rukaya terdiam memikirkan sesuatu.


"Mas, apakah aku boleh bicara sekejab saja?" Dan setelah itu ia kembali berujar.


"Bukankah sejak tadi kita bicara? Katakan saja bila ada yang hendak kau sampaikan padaku. Aku siap mendengarkan," jawabku kala itu.


"Begini, berhubung Mas ada tausiyah di kota D, apakah tidak sebaiknya Mas Alvin sekalian mampir ke rumah Mba Khalifa? Aku ingin tahu kabarnya. Apakah dia baik-baik saja atau tidak." Rupanya masih menyangkut Khalifa, Rukaya penasaran terkait kabar mantan istriku itu.


"Bukankah kau ada nomornya? Mengapa tidak bicara lewat telpon saja?" Sebenarnya ini pertanyaan random. Hanya sekedar basa-basi untuk mengetahui sejauh mana hubungan kedua wanita ini.


Setahu saya, Rukaya masih menjaga silaturahmi dengan Khalifa. Namun, entah bagaimana dengan Khalifa sendiri. Apakah dia bersedia melakukan hal serupa, atau justru memblokirnya seperti yang dia lakukan terhadapku.


"Aku sudah berusaha, tapi tidak pernah digubrisnya. Beberapa kali aku mencoba untuk membuka pintu komunikasi selayaknya teman lama, tetapi Mba Ifa seolah menghindar. Apakah menurut Mas, dia masih marah padaku?" Aku tahu, mau sejauh mana masalah ini ku bawah pergi, Rukaya tetap akan dihantui rasa bersalah yang teramat besar.


"Kemari lah." Aku mengulurkan tangan, mengajak Rukaya untuk duduk bersama. Membahas masalah yang sama dari hati ke hati.


"Khalifa tidak pernah menyalahkanmu. Dia adalah wanita bijak lagi dewasa. Dalam pandangannya, rumah tangga kami memang sudah salah sejak awal. Kami menikah karena dijodohkan, meski pada akhirnya kami saling jatuh cinta. Bedanya adalah Khalifa berani mengakui, sedangkan aku hanya sanggup menutupi, karena gengsi menjilat ludah sendiri. Aku yakin, dalam sholatnya dia selalu mendoakan kita, termasuk kamu. Khalifa bukan tipikal wanita pendendam. Dia sangat memelihara hubungan," jelasku panjang lebar.


"Apa Mas yakin begitu?" Rukaya masih meragukan karakter Khalifa yang mulia.


Hal itu terlihat jelas dari sudut wajahnya yang sendu.


"Tentu saja aku yakin. Meski jarang menghabiskan waktu bersama, tetapi aku tahu bagaimana sifatnya. Khalifa mempunyai kelebihan yang tak dimiliki oleh gadis lain. Dia sungguh luar biasa," ucapku sembari tersenyum membayangkan wajah Khalifa.


"Termasuk aku," lirih Rukaya.


Tanpa ku sadari, bahwa percakapan ini justru telah menyinggung perasaan istriku.

__ADS_1


Mungkin aku terlalu menyanjung ahlak Khalifa, sampai lupa menjaga hati Rukaya.


"Maafkan aku, bukan seperti itu maksudku. Aku tidak bermaksud membandingkan kau dengannya." Berusaha meluruskan pernyataan yang nanti akan meruncing.


"Aku tahu. Tidak perlu dijelaskan. Faktanya adalah aku memang jauh berbeda dari Khalifa. Mungkin dia rela dimadu, sedangkan tidak denganku. Jujur saja, aku tak akan sanggup berkongsi suami dengan wanita manapun. Akan tetapi, sebagai istri kedua aku harus tahu batasan. Di sini aku lah yang merusak rumah tangga orang." Lagi-lagi Rukaya mempersoalkan masalah yang sama. Sehingga membuatku jenuh.


Entah dengan cara apa lagi agar membuatnya mengerti, bahwa yang terjadi memang kehendak kami berdua. Aku merelakan Khalifa, karena tak ingin menyiksanya lebih lama lagi. Wanita malang itu sudah banyak menderita.


"Astagfirullah, Rukaya. Mengapa kau selalu mempersoalkan masalah yang itu-itu terus? Apa kau tidak lelah? Jika kau tidak puas dengan jawabanku, mengapa kau tidak pergi menemui dia dan meminta maaf? Jika kau merasa bersalah padanya, jangan sungkan untuk mengaku. Aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan hal itu. Justru sebagai suami aku berterimakasih padamu. Setidaknya mau masih mempunya etikad baik." Alhasil aku pun tersulut emosi.


Betapa tidak, Rukaya seakan tak pernah bosan membahas masalah yang sama. Meski ku jelaskan ribuan kali, bahwa Khalifa telah memaafkan dirinya.


Namun, bukannya tenang, Rukaya justru semakin menjadi-jadi.


"Jadi menurut Mas Alvin aku tak pernah ada etikad baik untuk meminta maaf pada Mba Khalifa?" Rukaya berdiri, melontarkan kalimat bernada kecewa.


"Astaga Rukaya, mengapa kau justru lari dari topik? Aku hanya berusaha untuk meluruskan jalan pikiranmu, bahwa Khalifa tidak pernah menyalahkanmu. Dan tidak ada siapapun dari kami yang menyalahkanmu. Ini semua adalah salahku yang tidak bisa adil pada kalian berdua. Itu saja. Tolong lah, jangan memperkeruh suasana. Toh kami juga sudah berpisah. Kau lah istriku satu-satunya sekarang," paparku bernada kesal.


"Tentu saja aku satu-satunya sekarang, tapi dalam hatimu kau masih menyimpan rasa untuknya." Aku jadi tidak mengerti jalan pikiran Rukaya kali ini.


Sebelumnya dia menginginkan Khalifa kembali padaku. Lalu sekarang seolah mempersoalkan wanita itu. Sebenarnya apa yang diinginkan para wanita? Aku sungguh tak mengerti.


"Ya Allah, sebenarnya apa masalahmu, Sayang, em? Mengapa kau terlihat kesal? Atau kau lelah mengurus Anak kita seharian?" Kali ini aku mulai memelankan nada. Menurunkan ego, takut pembahasan ini semakin rumit.


"Aku cemburu, Mas. Dan aku marah pada diriku sendiri." Rukaya menangis menunduk sesal.


Kasihan Rukaya, dia harus menanggung beban yang begitu berat. Dimana rasa bersalahnya kian membuncah di dalam sana.


Lantas ku dekap istriku itu, membawanya ke dalam pelukan.


"Tenanglah, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku, em?" Ku bujuk hati Rukaya agar dia lebih tenang dan tak berpikir yang aneh-aneh lagi.

__ADS_1


__ADS_2