Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Tamat


__ADS_3

Malam itu hujan rintik-rintik. Khalifa tengah membaringkan Reyhan yang baru saja tertidur. Sedangkan Umi Kalsum masih berada di dapur.


Umi Kalsum turut serta ke jakarta untuk menemani sang keponakan demi meringankan beban.


Sehari-hari wanita paruh baya tersebut menjaga Reyhan kala Khalifa sedang mengajar.


Sengaja Khalifa mengontrak rumah yang jaraknya cukup dekat dengan sekolah agar lebih memudahkan tugas serta tanggung jawabnya sebagai tenaga pengajar sekaligus Ibu.


Sementara Umi Huraira dan Ilham telah mengetahui status Reyhan yang merupakan Putra kandung Alvin.


Mereka menyambut Anak itu dengan penuh suka cita, meski sempat terjadi drama keluarga. Dimana Khalifa mendapat amarah dari Umi, karena sempat menyembunyikan cucu mereka.


Namun, setelah meluahkan emosi, Umi pun memaafkan Khalifa.


Khalifa tidak membalas mantan mertuanya itu dengan kemarahan pula. Sebab, ia tahu, bahwa telah melakukan kesalahan.


Menyembunyikan keberadaan Reyhan dari keluarga Alvin bukanlah rencananya. Hanya saja saat itu Khalifa masih belum tahu, bahwa Alvin bersedia menerima bayinya.


Akan tetapi, yang terjadi telah terjadi. Hubungan mereka semakin erat. Umi dan Abah seakan mendapat pengganti Putra mereka melalui sosok Reyhan yang begitu mirip dengan mendiang Ayahnya.


"Nak, ada tamu di depan yang mencarimu." Umi Kalsum menemui Khalia yang baru saja kelar membaringkan Reyhan.


"Siapa, Umi? Apa aku mengenalnya?" tanya Khalifa, merasa tak membuat janji bersama seseorang.


"Sepertinya teman di sekolah," jawab Umi yang semakin membuat Khalifa bingung.


"Teman di sekolah? Laki-laki atau perempuan?" Khalifa mengerutkan kening.


"Laki-laki." Kini Khalifa mulai curiga siapa orang yang malam-malam datang menemuinya.


Ia pun mengambil cadar yang sengaja diletakkan di atas nakas. Lalu dikenakan untuk menutup wajah cantiknya.


Masih seperti dulu, fisik wanita itu tidak berubah. Dia masih saja terlihat cantik alami walau tanpa sentuhan makeup.


"Titip Reyhan ya, Umi. Aku segera kembali," pamit Khalifa.


Wanita yang identik dengan gamis abu-abunya itu menemui tamu yang dimaksud.


"Assalamu'alaikum, Ustadza."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokaatu, Pak Danang."


Ya, Danang lah yang berani datang menemui Khalifa malam hari.


Padahal sejak awal wanita itu melarangnya. Sebab, takut akan menimbulkan fitnah.


Status Khalifa yang sebagai janda sangat dijaganya dengan baik. Tidak ingin mengundang siapapun ke rumah itu selain sesama wanita.


"Ada apa, Pak? Apakah Bapak butuh sesuatu? Bukankah saya sudah melarang Anda untuk datang ke rumah saya?" ucap Khalifa datar, tetapi penuh penekanan.


"Maafkan saya, Ustadza bila sekiranya mengganggu waktu istirahat Anda. Hanya saja ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Ustadza," jawab Danang sembari berdiri.


"Kan bisa besok di sekolah, Pak. Kalau Bapak datang ke rumah seorang wanita malam-malam begini, takutnya akan menimbulkan fitnah. Bukankah Bapak tahu status saya sebagai janda?!" Sangat tegas Khalifa memperingati pria berkepala plontos tersebut.


"Itu lah yang ingin saya bahas dengan Ustadza. Soal status Anda." Khalifa bingung. Untuk apa Danang membahas statusnya malam-malam begini? Mengapa lelaki itu harus repot-repot mengurus dirinya?


"Maksud Bapak apa ya?" tanya Khalifa mulai merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Jadi begini, Ustadza. Kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Ustadza secara pribadi. Jika Ustadza berkenan, mohon diterima lamaran saya ini." Danang menunjukkan perhiasan satu set berlian dalam kotak bludru hitam.


Mata Khalifa membeliak. Merasa marah sekaligus kecewa pada rekan kerjanya itu.


Disangkanya Danang adalah lelaki yang baik. Sebab, tak pernah sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda premanisme di sekolah. Nyatanya dia justru menganggap semua wanita sama saja. Mencintai perhiasan berlian.


"Maaf, Pak. Tapi saya tidak bisa menerima ini," tolak Khalifa tegas.


"Tapi mengapa? Bukankah kau masih sendiri? Atau kau sudah mempunyai calon suami?" tanya Danang.


"Ini bukan soal aku sudah punya calon suami atau belum. Melainkan tentang Pak Danang sendiri. Sebelumnya mohon maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa menerima lamaran Bapak," sahut Khalifa semakin tegas.


"Tapi mengapa?" Namun, alih-alih mengerti, Danang semakin mendesaknya. Menuntut jawaban pasti.


"Sebaiknya Pak Danang pulang. Saya tidak ingin orang-orang bergunjing tentang kita. Tolong hargai privasi saya, Pak," ucap wanita anggun tersebut.


"Apakah karena pria tadi siang?" tebak Danang penuh selidik.


"Sekali lagi maaf, Pak. Saya tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Dan saya pun tidak bisa menerima lamaran Bapak!" seru Khalifa mulai kesal.


Wanita itu merasa terancam, karena Danang membuatnya tak nyaman.


"Mohon maaf Ustadza, jikalau kehadiran saya kesini justru membuat Anda tak nyaman. Namun, bukankah seharusnya Anda memberi saya jawaban lebih spesifik dibalik penolakan ini? Sebab, setahu saya Ustadza belum memiliki pasangan." Danang masih ngotot meminta jawaban mutlak Khalifa.


"Sekarang sudah ada!" Suara bas seorang lelaki dari ambang pintu memecah suasana itu.


Khalifa pun bernapas lega saat melihat Algazali datang. Sementara Danang menatap marah padanya.


Ya, Algazali sengaja datang ke kediaman Khalifa, karena merasa curiga pada Danang. Sejak tadi siang pria itu memperhatikan gelagat rekan kerja mantan adik iparnya tersebut tidaklah baik.


Ia mempunyai niat buruk terhadap Khalifa. Itulah sebabnya Algazali memantau rumah itu sampai ia memastikan Danang datang ke rumah mantan iparnya tersebut.


"Ustadza, bukankah baru saja Anda mengatakan takut terjadi fitnah karena ada seseorang yang bukan mahramnya datang ke rumah? Lalu bagaimana dengannya?" Lantas Danang beralih kepada Khalifa, menuntut penjelasan.


"Karena aku adalah calon suaminya. Apakah sekarang Anda paham? Atau Anda butuh bahasa formal agar memudahkan Anda untuk mengerti?" seru Algazali bersungguh-sungguh.


Khalifa mendengar pernyataan Algazali yang begitu mengejutkan, sontak dibuat berkeringat dingin. Betapa tidak, tatapan dua pria itu seolah menunjukkan akan terjadi pertikaian.


Khalifa tahu, bahwa sikap Al ini hanya untuk menjaga kehormatannya. Namun, tidak sampai ke dalam hati.


"Calon suami? Benarkah itu Ustadza?" Danang tampak putus asa. Disangkanya Algazali hanya sekedar mengerjai dirinya demi menjaga marwa wanita tersebut. Namun, melihat jawaban Khalifa yang menganggukkan kepala, membuatnya terdiam lemas.


Pupus sudah harapan Danang untuk menikahi Khalifa. Sementara dia telah mempunyai satu istri dan tiga orang Anak. Sungguh manusia yang tak tahu diuntung. Sudah diberi kenikmatan oleh Allah, justru mencari jalan kecurangan lewat poligami diam-diam.


Khalifa telah melalui banyak hal, terutama soal poligami. Wanita itu tak mau terlibat lagi dengan yang namanya diduakan. Sebab, pasti akan berujung kegagalan.


Karena sejatinya tak ada manusia yang benar-benar adil.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Danang pun pergi dengan membawa sekotak berlian tadi.


"Terimakasih, Mas. Sudah membantuku. Namun, Mas Al tidak perlu menyebut, bahwa saya adalah calon istri Mas Al. Cukup bilang saja, bahwa Mas adalah saudara saya," kata Khalifa tak enak hati.


"Mengapa begitu? Apakah aku adalah saudara kandungmu?" balas Al sembari menatap Khalifa penuh maksud.


"Ah, bukan begitu maksud saya, Mas. Maksud saya adalah Mas tidak perlu bersandiwara untuk menjadi calon suami saya."


"Kata siapa saya hanya bersandiwara?" Kali ini Khalifa terdiam menatap mata Algazali yang begitu serius.

__ADS_1


Dicarinya setitik kebohongan di sana, tetapi wanita itu tak menemukan apapun.


Sorot netra coklat itu terlalu tulus untuk dianggap dusta.


"Mas, kau..." Khalifa nyaris kehabisan kata-kata untuk sekedar menanggapi pernyataan Algazali kali ini.


"Ya, aku mencintaimu, Ifa. Maukah kau menikah denganku?"


"Ha?"


Permintaan itu terlalu mendadak, hingga Khalifa sendiri nyaris tak percaya pada apa yang terjadi malam itu.


Algazali adalah saudara sekaligus sahabat baginya. Lelaki itu terlalu baik untuk menjadi suaminya.


Selama ini Algazali lah yang membantu dirinya baik dalam suka maupun duka.


Tiap kali Khalifa butuh teman cerita, Algazali selalu ada untuknya.


Saat itu Al masih belum menyadari perasaannya. Disangkanya benih yang tumbuh di dalam hati hanyalah karena iba. Namun, semakin hari rasa itu kian kentara.


Dimana-mana wajah Khalifa selalu bermain di pelupuk mata. Saat hendak tidur, makan, bekerja, hingga ketika sholat malam, wajah Khalifa menemani dirinya.


Dari situlah ia mengerti, bahwa yang dirasanya itu bukan sekedar iba, melainkan cinta.


"Mas, kau jangan mengada-ngada," ucap Khalifa mulai salah tingkah.


"Siapa yang mengada-ngada? Memang faktanya adalah aku mencintaimu. Entah sejak kapan rasa ini mulai ada. Semula memang aku merasa bersalah padamu, karena perbuatan Alvin. Aku pikir perasaan itu hanyalah rasa iba. Namun, siapa sangka bila terus berkembang menjadi cinta. Akan tetapi, demi Allah. Sewaktu engkau menjadi Adik iparku, tak sekalipun aku menaruh hati padamu. Aku selalu menganggapmu sebagai adikku. Tapi tidak lagi. Aku ingin menikahimu, menjadi Ayah bagi Putramu Reyhan. Apa kau mengizinkanku?"


Lagi-lagi Khalifa dibuat terperangah atas pengakuan Algazali. Dikiranya lelaki itu akan menjadi sahabatnya sampai akhir hayat. Siapa sangka bila malam itu ia justru melamarnya.


"Terimalah dia, Nak." Umi Kalsum yang sejak tadi menguping percakapan dua orang itu, memberi dukungan penuh. Direstuinya sang keponakan untuk menikahi Algazali yang merupakan mantan kakak iparnya dahulu.


"Iya, Nak. Terimakasih lah dia." Pun Umi Huraira dan Abah yang diam-diam juga mengikuti kemana perginya Algazali.


"Mungkin kami bukanlah mertua yang baik untukmu saat itu, tetapi Algazali adalah pria yang tepat untukmu, Nak. Maafkan kesalahan kami terdahulu. Kami hanya ingin kau kembali dalam keluarga ini. Melengkapi hidup kami yang hampa," lirih Umi sembari meneteskan air mata.


"Umi, tolong jangan berkata seperti itu. Umi adalah Ibu yang baik. Dan aku bersedia menjadi menantu Umi lagi." Semua orang yang ada di tempat itu merasa bahagia. Terutama Algazali yang cintanya diterima oleh Khalifa.


"Terimakasih, Nak."


Lantas Khalifa menghampiri Algazali, menatapnya penuh cinta.


"Mas, aku..."


"Sstt... Kau tidak perlu mengatakan apa-apa padaku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu. Ya, aku mencintaimu, Khalifa Humaira."


Dua insan yang tengah jatuh cinta itu pun saling menatap kagum.


Dan akhirnya mereka disatukan dalam ikatan pernikahan.


Setelah tiga bulan menikah, Khalifa kembali diberi kepercayaan oleh Allah. Wanita itu mengandung Anak Algazali.


Sementara Rukaya telah meninggal dunia setelah tak sanggup menanggung beban depresi yang dideritanya. Akhirnya Maryam dibesarkan oleh Khalifa dan Algazali.


Note : Cinta itu penuh misteri. Kemarin kita masih menganggap orang itu sebagai sahabat, saudara, hingga teman biasa. Namun, siapa sangka bila dialah jodoh kita.


Terimakasih telah mengikuti cerita ini sejak awal sampai akhir. Semoga ada hikmah serta pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Khalifa Humaira.

__ADS_1


Tamat.


Silahkan komentar ya teman-teman. Beri gagasan yang membangun. Terimakasih.


__ADS_2