Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Cemburu Buta


__ADS_3

Perpisahan ini sungguh menyiksa batinku, hingga ingin rasanya ku berlari menuju rumah Khalifa. Lantas mendekap tubuhnya sekuat tenaga.


Andai itu nyata, maka tak akan pernah ku lepas genggaman tangannya lagi dan lagi.


Sumpah demi Allah, aku menyesal menceraikan Khalifa, wanita solehah yang taat terhadap suaminya.


Aku telah membuang istri yang setia menjaga marwa serta harga dirinya. Aku telah menyia-nyiakan perempuan berkalung keimanan.


"Abang mau kemana?" Aku tahu Bang Al menjalin hubungan baik dengan Khalifa, meski kami telah bercerai.


Dan sampai saat ini kecemburuanku terhadap mereka masih sangat kental.


"Ke luar kota." Mendengar itu, sontak hatiku bergejolak. Aku pikir ia akan menemui Khalifa lagi.


Ya, selama ini ku tahu bila Bang Al kerap menemui Khalifa, seolah dia lah suaminya.


"Mau menemui Khalifa lagi?" tanyaku akhirnya.


"Mengapa? Apa kau cemburu? Sebaiknya simpan saja perasaanmu itu, karena kau dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kalian telah resmi bercerai." Bang Al berdiri tepat di depanku, seolah hendak menentang.


"Meski begitu, aku tidak setuju bila Abang mendekati Khalifa. Apa Abang tidak merasa malu menaruh hati pada mantan istri adikmu sendiri?" sarkasku cemburu.


Ku lihat Bang Al tersenyum sinis, seolah tengah menyudutkanku.


"Malu? Bukankah seharusnya kata-kata itu tertuju padamu? Jangan ingatkan aku soal rasa malu, karena aku sangat memahami adab. Tahukah kau apa arti dari kata malu itu?" balas Bang Al.


"Apa maksud Abang? Apakah Abang sedang berusaha menyudutkanku?"


Semenjak kepergian Khalifa dari rumah ini, hubunganku bersama Bang Al kian merenggang. Kami seolah berjarak.


Dahulu kami baik-baik saja. Kerap menghabiskan waktu bersama, serta berbagi suka dan duka.


Bila aku sedang butuh teman, maka Bang Al akan datang dengan sejuta kasih sayangnya.


Abang adalah manusia baik lagi bijak. Dia patut menjadi panutan, serta mampu menggantikan sosok Abah. Namun, hanya karena masalah sepele, lantas aku menjauhi saudaraku satu-satunya itu.

__ADS_1


Mungkin karena terbakar cemburu yang berlebihan. Sehingga hubungan kami kian berjarak.


"Tidak ada yang berusaha menyudutkanmu," jawabnya.


"Lalu apa maksud dari pertanyaan, Abang?" hardikku, memaksakan kehendak.


Ini lah aku, sangat memelihara ego. Namun, tidak ingin disalahkan oleh siapapun itu.


"Tidak ada maksud apa-apa. Abang hanya ingin kau belajar lebih banyak lagi. Kau bukan anak kecil yang harus ku didik dari awal. Kau cukup pandai memahami maksudku. Kecuali kau bukan manusia berilmu, barulah kau tak mampu menafsirkan bahasa khiasanku." Sejujurnya aku tahu arti dari perkataan Bang Al. Hanya saja aku terlalu gengsi dan egois untuk menjabarkannya.


"Jangan bermain teka-teki denganku, Bang! Aku tidak suka!" Lantas aku pun mulai meninggikan suara, karena tersulut emosi. Ditambah lagi kecemburuan yang semakin menjadi-jadi.


"Sebaiknya aku pergi. Aku sudah terlambat. Assalamualaikum." Bang Al tidak menjawab pertanyaanku, justru berencana meninggalkan rumah ini.


"Tunggu! Abang tidak boleh kemana-mana. Apa lagi menemui Khalifa!" Kemudian ku cegat tangan Bang Al, melarangnya menemui Khalifa.


Sungguh aku tidak rela bila mereka merajut kasih. Dan bila itu terjadi, maka Bang Al harus melangkahi mayatku terlebih dahulu.


"Lepaskan," pinta Bang Al penuh penekanan. Namun, sengaja ku abaikan peringatannya itu. Aku benar-benar tidak ridha.


"Tidak!" sarkasku.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan barusan? Kau telah melukai harga diri Kakakmu sendiri! Jika kau tidak rela Khalifa menikah lagi, lalu mengapa saat itu kau menceraikan dia? Apa kau tahu? Karena ulahmu, aku harus menelan rasa bersalah terhadap wanita malang itu. Sebagai suami, seharusnya kau menjadi pengganti mendiang Abahnya yang telah tiada. Bukan malah menyiksanya. Kau bahkan tidak mengenal ampun melukai dia. Apa kau pikir Khalifa tidak mempunyai hati? Dia juga berhak bahagia, Alvin. Jika kau yang masih beristri sanggup menikah lagi, lantas mengapa dia tidak bisa? Sedangkan statusnya adalah sebagai janda.


Perlu kau ketahui, bahwa kau lah yang memberinya status itu. Kau yang telah menyia-nyiakan wanita baik itu. Kau mencintainya, tapi justru menyiksanya, alih-alih mengakui perasaan. Kau cemburu terhadapku? Bukankah dulu kau tidak menerima perjodohan itu? Dan satu lagi, seharusnya aku yang menjadi suami Khalifa, bukannya kau. Namun, apakah aku pernah cemburu terhadapmu? Tidak, sama sekali aku tidak menyimpan rasa cemburu terhadapmu. Sebab, aku sadar, bahwa dahulu adalah keputusanku untuk tidak menikahi Khalifa. Akan tetapi, melihat sikapmu yang seperti ini, membuatku ingin menikahi wanita itu."


Bang Al mengatakan banyak hal, hingga membuat mataku terbuka lebar.


Benar apa katanya, bahwa seharusnya dia lah yang menjadi suami Khalifa.


Di sisi lain, Bang Al tak pernah menaruh rasa cemburu terhadapku. Aku sangat mengenal Abangku itu. Dia bahkan kerap menasehatiku sewaktu masih bersama Khalifa. Hanya saja akunya yang berlebihan.


Bug!


Terbakar cemburu, akhirnya aku pun menghantam wajah Bang Al.

__ADS_1


Entah Iblis apa yang merasuki hati ini, hingga tanganku sangat lancang melayangkan pukulan.


Ku lihat Bang Al tersenyum kecut alih-alih membalasku.


Lantas Bang Al mengusap setetes darah di sudut bibirnya. Kemudian pergi meninggalkanku yang masih marah.


Satu yang membuatku salut pada Bang Al, dia mampu meredam amarah yang membuncah.


Dalam situasi seperti ini, seharusnya Bang Al memukulku. Namun, tidak dilakukannya.


Aku telah banyak menyudutkan dia. Sebagai Kakak, seharusnya Bang Al memberiku pelajaran, atau mengaduhkanku kepada Umi dan Abah. Namun, tak pernah dilakukannya.


"Mas Alvin masih di sini?" Tiba-tiba Rukaya datang, hingga meredam amarahku yang tadinya berkobar.


"Iya," jawabku, menurunkan ego.


"Apa Mas tidak terlambat? Keburu sore loh tibanya," kata Rukaya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Assalamualaikum."


Buru-buru ku meninggalkan Rukaya, mengejar Bang Al untuk mencari tahu kemana ia hendak pergi.


"Bang!" panggilku.


Beruntung Bang Al masih belum menancap gas mobilnya. Sehingga aku masih menyempatkan diri melanjutkan masalah tadi.


"Ada apa? Apa kau masih belum puas dengan jawabanku? Baiklah, biar aku beritahu. Aku mau pergi menemui Khalifa. Apa kau puas? Sekarang menyingkir lah, sebelum aku kehilangan kendali."


Ku lihat wajah Bang Al seperti sedang memendam amarah. Akhirnya aku pun melepas saudaraku itu pergi entah kemana.


Betulkah ia hendak menemui Khalifa, atau hanya sekedar menguji kesabaranku saja. Yang pasti aku telah melukai hatinya.


Entah pria macam apa aku ini. Menuding saudaranya sendiri hanya karena merasa cemburu. Padahal aku sangat mengenal Abangku itu.


Dia tak akan mungkin mengkhianati kepercayaanku.

__ADS_1


Di sisi lain, tidak sepatutnya aku melayangkan kata-kata sarkasme. Sebab, sama artinya aku telah memfitnah Khalifa.


"Aku harus mengikuti kemana Bang Al pergi. Aku tahu dia pasti pergi menemui Khalifa." Masih memegang teguh ego, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti kemana perginya Bang Al.


__ADS_2