
Siapapun menginginkan pernikahan yang bahagia. Tidak orang tua, pun Khalifa. Mereka sama-sama menginginkan keharmonisan. Namun,apa gunanya menikah bila yang terjadi hanyalah kecewa?
Hal yang paling berkesan dalam pernikahan adalah malam pertama. Setiap pasangan yang menikah pasti mendambakan hal tersebut. Hari itu adalah puncak dari sebuah hubungan, dimana dua orang melepas masa lajang. Menyerahkan kesucian hanya untuk pasangan. Namun, akankah hal tersebut berlaku pada Khalifa dan Alvin?
Malam itu Khalifa bersiap untuk menyerahkan diri kepada Alvin. Mungkin cara ini akan ampuh meluluhkan hatinya.
Sayangnya, dalam hubungan itu hanya Khalifa yang berusaha untuk menerima takdir. Sedangkan Alvin sibuk berjibaku bersama masa lalu. Sehingga mengabaikan istri sendiri.
Dengan segenap jiwa dan raga, Khalifa memakai lingeri merah menyala, hasil dari membuka google tadi pagi.
Ya, Khalifa mencari tahu cara menyenangkan suami lewat penampilan seksi.
Pasalnya, selama menjadi istri Alvin, gadis yang biasa disapa Ifa juga menginginkan belaian Sang suami.
Khalifa tidak perlu munafik, dia juga menginginkan hal serupa seperti pasangan lainnya. Bukan karena nafsu, melainkan demi menjalankan kewajiban menurut tuntutan agama. Salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk memiliki keturunan. Inilah yang membuat Khalifa memberanikan diri mendekati Alvin terlebih dahulu.
Ada rasa malu sekaligus jijik saat melihat diri sendiri di depan cermin. Khalifa merasa seperti gadis penghibur. Namun, apalah daya. Ini adalah satu-satu jalan untuk menarik perhatian Alvin. Sekiranya Khalifa masih berusaha yang terbaik untuk rumah tangganya.
Khalifa berdiri saat mendengar suara pintu kamar terbuka, lantas tertutup rapat. Diremasnya kesepuluh jemari halus yang mulai berkeringat.
Khalifa gelisah, takut Alvin akan menghinanya. Malam itu suasana kamar remang-remang. Sehingga tidak mengekspose tubuh Khalifa secara terang-terangan.
"Mengapa lampunya hanya sebagian yang menyala? Aku tidak suka suasana remang-remang," kata Alvin begitu memasuki kamarnya. Tanpa ia tahu, bahwa Khalifa tengah bersiap untuk memadu kasih bersamanya.
Tak lama setelah itu, Alvin pun menekan saklar lampu, sehingga menunjukan seluruh penampilan Khalifa.
Alhasil mata Alvin pun terpesona akan kecantikan serta penampilannya. Naluri kelakian Alvin pun mulai bereaksi. Ada setitik benih muncul di dalam hati. Khalifa benar-benar terlihat jauh berbeda seratus delapan puluh derajat.
Gadis yang terbiasa hidup dengan cadar di wajah, mendadak mengekspose seluruh tubuhnya secara terbuka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kenakan bajumu!" Sayangnya Alvin tidak tertarik padanya. Ia memalingkan wajah, seolah merasa jijik pada Khalifa.
Sedetik yang lalu, ia benar-benar terkesima pada penampilan Sang istri. Namun, cintanya terhadap Rukaya sukses menyingkirkan Khalifa.
"Mas, aku ingin kita--" Khalifa tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Terlalu malu untuk menyampaikan hasrat.
"Dasar wanita tidak tahu malu!" batin Alvin, mencela penampilan Khalifa.
Kemudian Alvin menuju ranjang, dan diikuti oleh Khalifa. "Jangan mendekat!" seru Alvin, memperingati Khalifa yang jaraknya kian mendekat.
"Mas, tidakah kau berusaha membuka hatimu untuku? Apa kau pikir aku suka melakukan ini? Aku hanyalah manusia biasa yang membutuhkan nafkah batiniah, Mas. Menurut Alquran, aku wajib meminta haku padamu. Allah memerintahkan kita untuk bersetubuh selama kita memiliki ikatan yang sah. Dan kau pun berkewajiban untuk memenuhi haku, Mas. Bahkan Rosul memerintah seorang suami untuk menggauli istrinya. Lantas mengapa kau tidak bisa?!" sarkas Khalifa, mengeluarkan kekecewaannya terhadap Alvin.
"Karena aku tidak mencintaimu! Bukankah kau tahu, bahwa aku hanya mencintai Rukaya?" jawab Alvin dengan lantangnya. Sehingga membuat Khalifa semakin sakit hati.
"Meski demikian, tapi aku berhak meminta haku padamu. Dan kau berkewajiban memenuhi itu. Apa kau ingin melanggar perintah Allah? Ini dosa besar, Mas!" sahut Khalifa.
Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya Khalifa menghampiri Alvin. Mengecup pipi pemuda itu dengan penuh kasih.
"Apa yang kau lakukan?" Tak pelak membuatnya marah. Alvin menghardik Khalifa seraya mendorong tubuhnya. Sehingga gadis malang tersebut jatuh di atas ranjang. Alhasil bagian paha atasnya sedikit terekspose. Namun, secepat kilat Alvin memalingkan wajah.
Sumpah demi apapun, Khalifa benar-benar sangat malu. Perlakuan Alvin padanya sungguh diluar nalar. Dia tidak berperikemanusiaan.
Meski demikian, Khalifa tetap menguatkan hati dan mental, agar tak dipandang rendah oleh suaminya.
Malam itu suasananya semakin memburuk saat Khalifa tak putus asa meminta haknya kepada Alvin. Sampai akhirnya ia menyerah begitu pria tersebut berkata, "Meski kau bertelanjang dada di depanku, aku tidak akan pernah menyentuhmu! Biarlah saya berdosa, dari pada harus menggaulimu tanpa ada rasa cinta!"
Bagai petir menyambar di siang hari, melulu lantakan pertahanan diri Khalifa. Bagaimana bisa pria yang paham akan agama, justru mengabaikan tugas dan kewajibannya.
Tidak memberi nafkah batinia, serta menjatuhkan mental setiap hari. Itu bukanlah pernikahan, melainkan kompromi tiada henti.
__ADS_1
Ya, Alvin bekompromi dalam rumah tangganya sendiri. Begitu mencapai batas waktu yang ditentukan, maka ia pun segera meninggalkan Khalifa. Itulah rencananya.
Kini Khalifa menjauhi Alvin dengan perasaan hampa. Hatinya sangat sakit luar biasa. Pria yang dianggapnya rajin beribadah, justru memandang rendah dirinya.
Khalifa bukan tipe wanita yang haus akan nawa nafsu, tetapi ia hanyalah manusia biasa yang mendambakan cinta kasih dari pasangannya.
Apa salahnya meminta duluan? Bukankah balasannya adalah surga? Sebaliknya, bila suami tidak memenuhi kebutuhan istri secara batin, maka Allah akan melaknatnya. Naudzubillah.
Khalifa meraih satu persatu pakaian yang sengaja ia letakan di atas kursi sofa. Lantas memasuki kamar mandi untuk ia kenakan.
Di dalam ruangan itu, Khalifa pun menangis sejadi-jadinya. Seolah seluruh organ tubuh tercabik-cabik.
Suara tangisan itu pun sampai ke indera pendengaran Alvin. Sialnya, hati lelaki tersebut tak juga luluh, apa lagi merasa bersalah setelah menyakiti istrinya.
Hati serta pikiran Alvin seolah telah mati. Hanya Rukaya yang mampu mengendalikan dirinya.
Khalifa memukul-mukul dada yang kian sesak. Lantas mencuci wajah yang dipenuhi air mata. Kemudian mengenakan pakian, menutup seluruh tubuh serta wajahnya.
Puas menenangkan diri, Khalifa pun keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mensucikan diri dengan air wudhu.
Ia melihat punggung suaminya tengah membelakangi dirinya. Disangkanya Alvin sudah lelap, rupanya lelaki itu masih terjaga, larut dalam pikiran yang kian kalut.
"Mas, harus dengan cara apa lagi kau membuka hati? Mengapa kau tidak bisa menerima takdir? Lantas untuk apa kita bersama bila harus hidup menderita seperti ini? Aku sungguh tak sanggup lagi," lirih Khalifa di dalam hati.
Samar-samar terdengar suara isakan Khalifa, hingga akhirnya Alvin menoleh. Melihat punggung istri yang bergetar.
Alvin tidak mengatakan apa-apa, hanya kembali bermain dengan pikiran yang kian menyempit.
"Ya Allah, mengapa takdir ini begitu menyakitkan? Aku telah menjadi seorang penjahat. Namun, hati ini masih juga mati. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya sebagai istriku." Rupanya batin Alvin juga berteriak, menyuarakan ketikdapuasannya terhadap kodrat yang dijalani.
__ADS_1