
Seperti yang ku duga, bahwa Bang Al tidak pergi untuk menemui Khalifa. Melainkan salah satu teman lama sesama pendiri pondok pesantren.
Sejak awal sudah bisa ku tebak, bahwa Abang memang tak mungkin menipuku. Dia bukan tipikal lelaki pendusta sepertiku.
Bang Al boleh ku sebut manusia mulia, meski tahu tak ada mahluk Allah yang sempurnah.
Bang Al sedang berbincang-bincang di kedai Haji Usman, dekat pondok pesantren mereka.
Menyaksikan itu, aku tersenyum senang. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Khalifa.
Ya, sejak pagi aku berencana mengunjungi mantan istriku. Namun, masih terbentur kecemburuan terhadap Bang Al.
Beberapa lama tak melihat Khalifa secara langsung, sukses membuatku merindukannya.
Masih ada rasa takut serta malu, hanya saja ada beberapa hal ingin ku pertanyakan padanya. Sedang hal itu membuatku penasaran sampai saat ini.
Empat jam perjalanan, akhirnya sampai juga.
Ku lihat Khalifa sedang menggendong seorang bayi di kedai tetangga. Usianya sekitar tiga atau empat bulan.
Andaikan peristiwa malam itu menghasilkan bayi di antara kami, maka aku akan menyambutnya dengan senang hati.
Sebab, dengan cara itulah aku bisa menahan Khalifa agar tetap tinggal. Dengan segenap jiwa akan ku pertahankan wanita itu di sisiku. Lantas memperbaiki ahlak.
Sayangnya, tidak ada apa-apa setelah kejadian malam itu. Bahkan Khalifa tidak mengatakan apapun.
Di sisi lain, setiap bulan Khalifa masih menstruasi. Aku tak pernah alpa membelikan pembalut wanita untuknya.
Semua kebutuhan bulanan Khalifa aku yang penuhi. Tak pernah sekalipun ku abaikan kewajiban yang satu ini.
Sialnya, kewajiban utama justru aku lalai.
"Ifa," panggilku memberanikan diri.
Khalifa menatapku datar. Mungkin saja ada sedikit rasa terkejut. "Mas Alvin," gumamnya.
"Iya, ini aku. Apakah kita boleh bicara?" tanyaku penuh harap.
__ADS_1
Demi Allah, aku sangat merindukan Khalifa. Sorot matanya memang tak bersahabat. Sedang ku lihat samar-samar wajah cantiknya melalui pori-pori cadar putihnya.
"Maaf, Mas. Saya sedang terburu-buru. Assalamualaikum." Sudah ku duga, Khalifa pasti tak akan mau begitu saja duduk berdua denganku.
"Ini tidak akan lama, please." Namun, ada hal mendesak yang membuatku penasaran.
"Aku tidak ingin duduk berduaan bersama Mas Alvin. Kita bukan satu muhrim lagi. Aku tidak mau menimbulkan fitnah di antara kita berdua. Permisi." Lagi-lagi Khalifa menolak.
Dia tidak keras hati, hanya saja sedang mempertahankan harga diri serta nama baik.
Yang ku lakukan ini memang kurang tepat, tetapi tak ada daya yang mampu ku tempuh. Inilah satu-satunya cara untuk mencari tahu.
"Baiklah, jika kau tidak mau kita bicara di sekitar sini, kau boleh menentukan tempat. Aku siap menurutimu," kataku.
"Di manapun itu, aku tidak bersedia untuk bicara denganmu, Mas. Akan banyak pasang mata yang melihat kita. Lagi pula, untuk apa Mas Alvin jauh-jauh datang ke sini? Bukankah sebentar lagi istri Mas akan melahirkan?" Sorot mata Khalifa seperti memancarkan keresahan. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Ku coba gali isi hati wanita itu, tetapi tak dapat ku temu.
"Ifa, aku mohon. Aku janji ini tidak akan lama." Ku tatap sendu mata Khalifa. Berharap dia akan bersedia bicara empat mata denganku.
Anggap saja aku lelaki gampangan. Tidak masalah, asal aku mendapat jawaban atas pertanyaan yang selama ini ku pendam seorang diri di dalam hati.
"Alhamdulillah terimakasih, Ifa," ucapku setulus hati.
Kesempatan ini tak akan ku sia-siakan.
"Katakan apa yang membawa Mas Alvin kemari? Aku tidak punya banyak waktu. Ada banyak pasang mata yang melihat kita. Aku tidak ingin pertemuan ini justru menimbulkan fitnah. Jadi, jangan bertele-tele." Aku paham sikap dingin Khalifa.
Dia seperti ini karenaku yang telah menyakitinya berulang kali.
"Waktu itu, mengapa kau bersedia dipoligami ketimbang bercerai dariku?" tanyaku langsung ke intinya.
Bisa ku dengar suara Khalifa terkekeh sinis. "Mengapa baru sekarang Mas menanyakan itu? Bukankah dulu kau tak pernah berpikir sampai sejauh ini? Kemana pertanyaan ini saat Mas Alvin bersi kukuh ingin menikahi Rukaya?"
Hatiku bagai tersayat pedang, meninggalkan bekas luka yang dalam.
Mungkin memang tidak seharusnya aku bertanya. Hanya saja aku tak dapat menampik rasa ingin tahu ini.
__ADS_1
"Mungkin pertanyaan ini sangat terlambat, dan tidak sepatutnya aku ajukan. Namun, tidak bisakah kau memberiku jawaban yang memuaskan?"
Selayaknya manusia tidak tahu malu, aku mendesak Khalifa agar bersedia memberiku alasan logis di balik persetujuannya dulu untuk ku persunting Rukaya.
"Karena aku ingin menyelamatkan Mas Alvin dari dosa zina. Memang betul, bahwa Mas dan Rukaya tidak melakukan suatu perzinahan. Namun, jika tetap aku biarkan, bukan berarti Iblis tak akan membujuk kalian berdua untuk melakukan perbuatan tercela. Lagi pula, bukankah Mas menginginkan Rukaya menjadi bagian dari hidupmu? Bahkan setiap hari Mas Alvin menyalahkanku atas perjodohan kita. Sedang kau sangat tahu, bahwa aku juga adalah korban dari perjodohan itu. Tidakkah Mas Alvin seharusnya memikirkan perasaanku juga?"
Maa Syaa Allah, jawaban Khalifa sukses membuatku terenyuh. Wanita yang ku siksa batinnya setiap hari, rupanya telah menyelamatkanku dari perbuatan maksiat.
Sungguh aku sangat menyesal tidak menanyakan hal ini dulu. Aku lebih mementingkan hawa nafsu.
"Ifa, sebenarnya aku..."
"Jika tidak ada lagi yang ingin Mas Alvin pertanyakan padaku, maka sebaiknya aku pergi. Sebelum orang-orang melihat kita." Entah apa yang Khalifa cemaskan, sampai ia terlihat menghindariku.
Dia bahkan terburu-buru, seolah tengah dikejar waktu.
"Tunggu, aku masih belum selesai, Ifa," cegatku.
Khalifa berhenti setelah bergerak beberapa langkah.
"Bukankah tadi Mas Alvin berjanji tak akan lama? Ini sudah lebih dari lima belas menit. Jangan membiasakan sesuatu yang dusta bersarang dalam hatimu. Aku tidak suka itu!" seru Khalifa seraya beranjak pergi.
"Pernahkan kau menyesali perceraian kita?" tanyaku tanpa rasa malu.
"Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah, dari pada harus kehilangan Allah karena sesuatu. Aku lebih ridha jika melepas ciptaan-Nya, ketimbang harus kehilangan cinta kasih penciptaku sendiri. Assalamualaikum."
Salah satu yang membuatku kagum terhadap Khalifa adalah wanita itu tak pernah lalai menjaga ahlaknya.
Di sisi lain, wanita yang telah ku lukai berulang kali itu telah menjagaku dari perbuatan dosa.
Mengapa aku tidak menyadarinya lebih awal? Sehingga keputusanku dulu dapat ku cegat.
Betapa bodohnya aku. Kini hanya penyesalan yang mengintai hati.
Batin ini kian terenyuh sakit kala mengetahui jawaban atas pertanyaanku.
Dalam hidup ini, aku telah kalah dalam melawan hawa nafsu.
__ADS_1
Dan Tuhan telah menghukumku. Lantas aku bisa apa sekarang? Bunga yang dahulu mekar di depan rumah, perlahan mati karena ulahku sendiri.