Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Permintaan Khalifa


__ADS_3

"Aku mau mengajar di pesantren, tempat Mas Alvin," pinta Khalifa, bernada dingin.


Tatapannya sungguh tak bersahabat. Sepertinya kesabaran gadis tersebut telah habis. Kini waktunya memerankan Tokoh Antagonis.


Bila kebaikan tak dapat mengubah pendirian suaminya, maka ia pun menempuh jalur lain. Tidak masalah bila setiap hari harus bertemu Rukaya, toh dia tidak menyakiti gadis tersebut.


Niatnya adalah menyebar ilmu kebaikan, bukan menyesatkan umat.


"Apa kau sudah gila? Aku tidak mengizinkanmu mengajar di pesantren!" bantah Alvin.


"Aku tidak butuh persetujuan Mas Alvin untuk mengajar di pesantren," sarkas Khalifa semakin mendinginkan sikap.


"Apa kau mau menjadi istri durhaka?" Lihatlah, betapa tidak tahu dirinya Alvin. Menuntut Khalifa untuk patuh padanya, sedangkan dia sendiri lalai akan tugas dan kewajiban.


"Sejak kapan aku menjadi istri, Mas Alvin? Bukankah Mas tidak suka menganggapku sebagai istri? Lagi pula, apakah Mas membutuhkan izin dariku untuk mengingat gadis yang bukan mahramnya?" Kali ini Khalifa membungkam mulut Alvin.


Tak ada lagi kata yang ia lontarkan dari bibir tipisnya. Pemuda dengan peci hitam tersebut membenarkan perkataan Khalifa. Itulah sebabnya ia diam.


"Mulai besok pagi aku akan mengajar, suka atau tidak sukanya, Mas Alvin," imbuh wanita bercadar coklat tua itu.


"Aku bilang tidak, ya tidak! Mengapa kau memaksa?!" seru Alvin, tetap kekeh menolak Khalifa untuk mengajar di pesantren yang ia pimpin.


"Seperti yang sudah ku katakan, aku tidak butuh izin darimu. Aku hanya butuh izin dari Abah dan Umi. Berhubungan mereka sudah setuju, maka tak ada lagi yang perlu didiskusikan. Aku memberitahu Mas soal ini, karena aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari pria yang baru saja mengakuiku sebagai istri," sahut Khalifa tak mau kalah.


"Oh, jadi sekarang kau mencari perlindungan dari Umi dan Abah? Benar-benar kekanak-kanakan!" Alih-alih menyadari kesalahan, Alvin semakin membenarkan diri.


"Setidaknya mereka masih peduli padaku. Menganggapku ada di rumah ini," sahut Khalifa masih tak mau kalah dari suaminya yang sangat keras kepala.


"Baiklah, aku tidak ingin berdebat lagi. Menguras energi saja," imbuh wanita itu seraya meninggalkan Alvin.


"Tapi aku--" Alvin masih ingin mengeluarkan isi hatinya, tetapi Khalifa keburu pergi. Seolah sengaja tak memberinya kesempatan untuk bicara.

__ADS_1


Pasalnya, tiap kali berdebat Khalifa akan berakhir dengan air mata. Selalu saja kecewa yang ia rasa. Kali ini gadis itu tak mau kalah dari Alvin.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memperhatikan gerak-geriknya. Sepertinya dia sengaja meminta izin Abah untuk mengajar di sana demi mendekati Rukaya. Wanita itu pasti mempunya niat buruk." Sungguh terlalu, pria cerdas seperti Alvin justru berprasangka buruk pada wanita yang selama berbulan-bulan mendampingi dirinya.


Seharusnya Alvin sudah mengenal sifat Khalifa. Sayangnya, ia kerap menghindar. Menutup diri.


**


"Kau sudah siap untuk mengajar di pesantren, Nak?" Keesokan harinya, Umi Huraira tersenyum bangga saat menyaksikan Khalifa dengan penampilan barunya.


Hari ini gadis bercadar hitam itu akan memulai aktivitasnya yang baru. Tidak lagi berjibaku dengan sakit hati pemberian suami.


"In sya Allah aku siap, Umi," sahut Khalifa penuh kebahagiaan.


"Alvin, kau mau ke pesantren kan? Berangkatlah bersama istrimu. Hari ini dia akan mulai mengajar di pesantren kita." Umi yang melihat Alvin baru saja keluar dari kamar, meminta pria tersebut untuk berangkat bersama Khalifa. Padahal dalam hati Alvin masih sangat marah.


"Umi, sebelumnya aku minta maaf. Namun, apakah tidak sebaiknya Khalifa di rumah saja? Yang ingin aku katakan adalah bukankah sebaiknya seorang istri berada di rumah bersama mertuanya?" Tidak mau putus asa, Alvin masih berupaya untuk membujuk Umi agar Khalifa menetap di rumah, tanpa melakukan aktivitas di pesantren.


Entah apa yang sedang Alvin pikirkan tentang Khalifa, sehingga ia terkesan takut bila berada di dekat dara cantik tersebut.


Pemikiran wanita paruh baya tersebut jauh lebih maju dibanding usianya. Umi Huraira memaklumi kehidupan modern. Sekarang mereka hidup di abad kesetaraan gender.


"Ayo, jangan lama-lama. Nanti kalian terlambat. Sudah mau pukul delapan," imbuh Umi Huraira.


Dengan berat hati Alvin menerima keputusan Ibunya itu, dan mereka pun berangkat bersama-sama.


"Apa kau puas sekarang? Kau berhasil mempengaruhi Umi." Lagi-lagi hanya di dalam mobil Alvin berani mencerca Khalifa secara terang-terangan.


Tentu saja, bila hal itu ia lakukan di rumah, maka bukan hal mustahil bila Ilham mengeluarkan ia dari daftar keluarga.


"Iya, aku puas. Apa Mas senang?" Kini Khalifa tidak segan untuk menyahut perkataan Alvin.

__ADS_1


Dahulu ia hanya menjadi istri penurut yang bila dicolok lubang hidungnya akan mengikut begitu saja.


Namun, lain halnya sekarang. Khalifa melakukan perlawanan. Sehingga sukses membuat Alvin heran sekaligus ketakutan.


Ya, Alvin merasa takut dengan sikap Khalifa yang sekarang. Sebab, bila wanita itu terus melawannya, maka lambat laun kebohongan yang coba ia tutupi selama ini akan terbongkar.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa menghentikan mobil secara mendadak?" Karena marah, tanpa memberi aba-aba, Alvin menginjak pedal rem. Sehingga jantung Khalifa terasa berdebar-debar saking takutnya.


"Apa sekarang kau ingin melawanku? Sekarang kau pandai menjawab setiap perkataanku. Apa kau ingin menjadi kepala rumah tangga?" omel Alvin dengan nada tinggi.


"Maafkan aku." Tidak ada gunanya berdebat bersama Alvin, tidak akan menyelesaikan malasah, yang ada hanya akan menimbulkan masalah baru. Itulah sebabnya Khalifa memilih untuk mengalah.


"Dengar, karena Umi dan Abah sudah terlanjur mengizinkanmu mengajar, maka aku peringatkan padamu. Jangan berbuat yang aneh-aneh di sana. Jauhi Rukaya, jangan coba-coba untuk mengakrabkan diri dengannya. Apa kau paham sekarang?" Lagi-lagi masih menyangkut Rukaya. Entah sampai kapan nama gadis itu akan terucap dari bibir Alvin.


"Hm," sahut Khalifa datar sembari memalingkan wajah.


"Bagus. Aku harap kau dapat dipercaya."


Puas mengeluarkan uneg-uneg, Alvin pun menginjak pedal gas mobil. Lantas melaju dengan kecepatan sedang.


"Apa aku benar-benar tidak pernah ada dalam hatimu, Mas? Mengapa harus aku yang lebih dulu merasakan perasaan aneh ini? Bukannya kau, Mas? Aku sungguh tak sanggup lagi," lirih Khalifa di dalam hati.


Gadis itu melihat ke arah luar jendela, sengaja menyembunyika wajah yang hendak menangis.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di pesantren. Bersamaan dengan itu, Rukaya juga baru memarkir motor metiknya di area halaman pesantren.


Rukaya melihat Alvin dan Khalifa keluar dari dalam mobil yang sama. Sehingga menambah rasa luka di hatinya.


"Assalamualaikum, Ustadza Rukaya." Salah satu santri menyapa Rukaya, hingga Alvin pun mendengar. Lantas menoleh pada dua orang beda usia yang bediri tepat di samping mobilnya.


Khalifa pun menoleh pada Rukaya. Dia hendak menyapa gadis tersebut, tetapi mendadak diurungkannya, mengingat perkataan Alvin.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa-apa, Khalifa langsung meninggalkan Alvin yang masih setia menatap Rukaya.


Apakah Khalifa sakit hati? Tentu saja dia sakit hati. Pasalnya Alvin tak pernah memandang dirinya penuh cinta seperti yang saat ini dilakukan kepada Rukaya.


__ADS_2