
"Sungguh malang nasibmu, Nak. Saat lahir kau ditinggal Umi. Setelah puluhan tahun, Abahmu pun turut pergi. Sekarang suamimu menghilang selayaknya pria tak bertanggung jawab. Padahal seharusnya dia lah yang menjagamu. Mengingat kau seorang yatim piatu. Seharusnya suamimu menjadi tempatmu berkeluh kesah, tapi na'as. Dia justru mengabaikan pentingnya menjaga hubungan." Umi membelai kepalaku, mengusapnya penuh kasih.
Aku tahu bila hal ini akan terjadi. Umi pasti akan merasa kecewa jika mengetahui yang sebenarnya.
"Tolong berjanjilah padaku, Umi. Jangan beritahu Mas Alvin ihwal kehamilan ini," pintaku sekali lagi.
"Namun, tidakkah seharusnya kedua mertuamu tahu yang sebenarnya?" ucap Umi.
"Aku tahu aku telah egois. Namun, aku terlanjur kecewa terhadap Mas Alvin. Biarlah mereka menyambut anak yang dikandung Rukaya," lirihku sembari menahan getir.
Hari demi hari ku lalui dengan penuh semangat. Jika ada air mata, maka itu adalah air mata kebahagiaan, karena sosok bayi dalam rahim selalu aktif mengajaku bercerita.
Tendangannya kerap datang menyapa. Bahkan disaat para Santri mengajakku bersolawat.
Anehnya, diusia yang ke tujuh bulan ini baru lah aku merasakan yang namanya mengidam. Ingin rasanya aku memakan buah rambutan.
Sayangnya belum musim. "Ini buah yang kau inginkan." Namun, siapa sangka bila hasrat itu justru terpenuhi bersamaan dengan kehadiran Mas Al.
Entah siapa yang memberitahu dia. Sedangkan Umi dan Paman Yusuf tidak pernah berkomuikasi dengannya.
"Mas Al? Kok di sini? Dan siapa yang memberitahu Mas kalo aku menginginkan buah ini?" tanyaku heran. Keningku berkerut dalam.
"Statusmu yang memberitahuku." Aku sampai lupa, bahwa beberapa waktu lalu mengutarakan keinginan lewat status whatsapp.
Rupanya Mas Al memantauku lewat itu. Jika ada pertanyaan mengapa Mas Alvin tidak melihat tulisan itu, maka jawabannya adalah aku telah menghapus nomornya. Sedangkan Umi dan Abah tidak aktif dalam bersosial media.
"Jadi karena itu rupanya," gumamku.
"Emangnya kamu pikir karena apa?" Namun, masih bisa didengar oleh Mas Al.
"Gak apa-apa kok. Oh iya, dari mana Mas Al mendapatkan buah ini? Bukannya tidak musim ya?" balasku.
"Aku pesan khusus dari negara tetangga. Ini spesial untukmu." Jujur saja, aku terharu atas pernyataan Mas Al. Terlepas ia hanya sekedar bercanda, tetapi sukses menghibur hati.
__ADS_1
Selama berada di rumah Abah, Mas Al lah yang selalu ada untukku. Kendati kami hanya bertukar kabar lebar panggilan telpon. Akan tetapi, tak jarang ia mengunjungiku di sini.
Aku tahu, bila perhatian Mas Al padaku hanya sebagai bentuk rasa bersalahnya. Sebab, Mas Alvin yang diketahui sebagai suamiku justru lalai.
"Mas Al bisa aja. Oh iya, apa gak capek Mas pulang balik terus ke sini? Minggu lalu juga Mas datang," kataku.
"Aku gak akan merasa lelah selama calon ponakanku menginginkannya." Sontak aku merasa sedih begitu mendengar jawaban Mas Al.
Dia yang hanya sebatas ipar, tetapi perhatiannya terhadap calon bayiku sungguh tak dapat disangsikan. Mas Al tulus menyayanginya.
Sebenarnya aku ingin menanyakan kabar Rukaya. Apakah kandungannya baik-baik saja. Pun Mas Alvin, tetapi aku tak berani. Takut luka lama itu menganga kembali.
Kini pelan-pelan aku mulai terbiasa hidup sendiri.
"Kabar Umi dan Abah, bagaimana? Apakah mereka baik-baik saja?" tanyaku basa-basi. Padahal hampir setiap hari kami komunikasi.
"Alhamdulillah mereka baik," jawabnya.
Untuk sesaat keheningan menghampiri kami berdua. Lantas kemudian Mas Al bertanya, "Apa kau tidak ingin tahu kabar suamimu?"
Sejujurnya aku merasa enggan tiap kali Mas Al mengunjungiku. Takut menimbulkan fitnah, mengingat kami bukanlah mahram.
"Mas, aku ingin bicara. Apakah boleh?" pintaku setelah hati ini dihinggapi rasa sungkan.
"Silahkan, bukankah sejak tadi kita sudah saling bicara?" jawabnya.
"Mas, mohon maaf sebelumnya. Apakah tidak sebaiknya Mas jangan sering-sering mengunjungiku? Aku takut akan menimbulkan fitnah. Orang-orang pasti akan bergunjing tentang kita. terlebih lagi mereka tak pernah melihat Mas Alvin mengunjungiku di sini," pintaku akhirnya setelah mematangkan pikiran.
"Aku tahu kau akan mengatakan ini. Jika memang kau takut akan menimbulkan fitnah, maka aku akan berhenti mengunjungimu. Namun, kau harus tetap memberiku kabar terkait kondisimu. Jangan sungkan, aku tahu kau kesepian. Aku berkata seperti ini sebagai seorang Kakak, tolong jangan salah paham," ungkap Mas Al.
"Aku tahu. Terimakasih telah memahamiku, Mas. Tolong maafkan aku."
Meski begitu, aku tak ingin membuat Mas Al tersinggung. Kami sama-sama sadar, bahwa hubungan kami hanyalah sebatas ipar, tidak lebih.
__ADS_1
Namun, pandangan orang terhadap kami tak akan sama. Terkadang orang menilai kita berdasarkan apa yang dilihatnya, bukan apa yang dirasakan.
"Mengapa harus meminta maaf? Justru aku berterimakasih padamu, karena telah mengingatkanku. Sebagai manusia biasa, aku juga bisa khilaf. Setidaknya tak akan ada fitnah yang muncul. Kasihan bayimu." Beruntungnya wanita yang menikahi Mas Al. Perangainya Maa sya Allah sungguh bijak.
Lihatlah caranya memahamiku, sungguh tak dapat didustakan.
"Iya," jawabku singkat.
Setelah kami berbincang-bincang, Mas Al pamit undur diri.
Ini lah pertemuan terakhir kami. Selain dari itu kami hanya saling bertukar kabar melalui sambungan telpon.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Dan aku tidak ingin kau selalu merasa bersalah padaku dengan mengorbankan masa depanmu. Sudah waktunya kita memulai kehidupan masing-masing. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan pula. Aamiin Allahuma Aamiin."
Setulus hati aku mendoakan Mas Al. Tadinya aku ingin menghapus nomor ponselnya, agar supaya tak ada lagi bagian dari Mas Alvin yang mengetahui kabarku.
Aku ingin menghilangkan jejak sejauh mungkin. Entah kapan hal itu akan terlaksana. Semoga Allah mengizinkan.
"Ifa, Paman mau bicara denganmu. Apakah boleh?" Kemudian Paman Yusuf datang dari kota sebelah.
"Tentu saja, Paman. Ada apa?" balasku.
"Apakah benar kau akan menceraikan Ustad Alvin setelah bayimu lahir?" Pertanyaan ini sontak membuat mataku membeliak.
Mungkinkah Umi memberitahu Paman ihwal rumah tanggaku kepada Paman Yusuf?
"Katakanlah, Nak." Tak lama muncul Paman Yahya, menuntut jawaban dariku.
Hati ini pun semakin tidak karuan. Mungkin memang sudah saatnya Allah membuka tabir rahasia yang sengaja ku tutupi.
"Iya," jawabku akhirnya.
"Apakah karena poligami itu? Jika iya, bukankah sudah kami katakan padamu saat itu, jangan biarkan suamimu menikah lagi. Lihatlah hasilnya sekarang, kau hidup terlunta-lunta. Posisimu sebagai istri pertama terabaikan. Paman sudah tahu semuanya. Mengapa kau tidak mengatakan sejak awal, Nak? Apakah kau tidak menganggap kami sebagai walimu lagi?" ucap Paman Yusuf.
__ADS_1
"Maafkan aku, Paman. Aku tidak bermaksud menyakiti Paman. Hanya saja aku tidak ingin membuat kalian cemas." Sementara aku hanya bisa tertunduk pasrah, sembari menangisi takdir yang begitu pedihnya.
Mengapa aku harus menyedihkan seperti ini? Allah benar-benar mengujiku dengan luar biasa. Namun, ku tahu, bahwa Dia tidak akan mengujiku sampai di luar batas kemampuan.