Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Akhir Sebuah Kisah


__ADS_3

Hari itu aku benar-benar putus asa, meski telah mendapat maafnya.


Tujuanku mengunjungi mereka adalah untuk bersilaturahmi sekaligus memperjelas keberadaan Anak Mas Alvin bersama Khalifa.


Seumpama mereka berkenan untuk menemui Mas Alvin di rumah sakit, barangkali kehadirannya bisa membuat suamiku sadar dari koma.


Katakanlah mustahil, tetapi aku tidak akan berhenti berharap.


Di sisi lain, Umi dan Abah juga berhak tahu keberadaan Anak itu. Walau bagaimanapun juga mereka satu nasab.


"Tentang Umi dan Abah, biarkan menjadi urusanku. Kau tidak perlu repot untuk itu. Kelak mereka akan bertemu jika Allah mengizinkan," kata Khalifa.


"Baiklah, aku minta maaf bila ada perkataanku yang menyinggung perasaanmu." Setulus hati aku menghatur permintaan maaf kepada Khalifa.


Tidak bermaksud mencampuri urusan pribadinya. Hanya saja aku ingin menyampaikan isi hati.


"Sekiranya bila kau berkenan, temui lah Mas Alvin di rumah sakit bersama Putramu. Barangkali dengan kehadiran kalian, dia akan siuman." Dalam hati aku berdoa, semoga saja Allah membuka pintu hati Khalifa untuk menemui Mas Alvin dengan membawa darah daging mereka. Setidaknya untuk yang terakhir kali.


"Rukaya, Alvin." Masih belum mendapat jawaban dari Khalifa, tiba-tiba Mas Al masuk ke dalam rumah memanggilku sembari menyebut nama Mas Alvin.


Melihat dari raut wajah Mas Al, tampaknya telah terjadi sesuatu yang buruk. Namun, aku tidak ingin mendengarnya saat itu. Biarkan aku menyaksikan di depan mata.


Namun, mendadak aku tersungkur lemas di atas lantai rumah Khalifa. Rupanya aku tidak sekuat teori yang ku susun rapi.


"Rukaya." Khalifa memapahku.


"Mas, sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Mas Alvin?" Lantas Khalifa beralih pada Mas Al.


"Kondisi Alvin semakin parah. Sepertinya Dokter telah menyerah," ungkap Mas Al.


Hatiku semakin hancur lebur. Seumpama batu karang yang dihantam ombak besar hingga pecah.


"Innalillahi wainna ilaihi rojiuun," sebut Khalifa.

__ADS_1


"Rukaya, kuat lah. Sekarang kita harus kembali ke rumah sakit." Mas memapahku yang tak bertenaga lagi.


"Apa kau mau ikut bersama kami?" imbuhnya kepada Khalifa.


"Aku pamit dulu pada Reyhan dan Umi. Setelah itu kita pergi bersama." Dari situlah aku tahu siapa nama Putra Khalifa. Rayhan, sungguh nama yang indah. Persis seperti Ibunya yang cantik jelita.


Tak berselang lama, Khalifa pun keluar, mengikut kami ke rumah sakit.


Dalam perjalanan, tak henti-hentinya aku menangis dalam pelukan wanita yang telah ku lukai perasaannya itu.


Ajaibnya, dia justru menguatkanku alih-alih merundung.


Aku sungguh iri pada wanita yang satu ini. Betapa besar hatinya ia menerima kesalahan kami. Allah menganugerahkan Khalifa sifat yang luar biasa baik. Dan aku pun malu untuk itu. Sebab, sifat dan perbuatanku tak sesuai dengan akidah yang ku ajarkan di pesantren.


Semoga saja Allah memberi Khalifa jodoh yang sepadan dengannya.


Setibanya kami di rumah sakit, aku langsung berlari menuju ruang ICU, tempat Mas Alvin mendapat perawatan.


Seolah tenagaku kembali, aku tidak memperdulikan orang di sekitar. Bahkan Khalifa ku tinggal jauh bersama Mas Al.


Mungkin seperti ini lah akibatnya terlalu mencintai ciptaan Allah. Sehingga saat ia tiada, maka rasanya sakit luar biasa.


"Mas, sadar lah, Mas. Di sini ada Khalifa. Lihatlah siapa yang datang." Aku meracau di depan Mas Alvin yang terbujur tak berdaya di atas brankar.


Ku sebut nama Khalifa di telinganya, berharap ia akan segera bangun dari tidur panjangnya.


Dan benar saja, suara monitor itu berirama lebih kencang, seolah Mas Alvin tengah meresponku.


Jemarinya mulai bergerak satu persatu. Bibirnya pun turut bergerak, meski terlihat pelan.


"Mas, apa kau mendengarku? Lihatlah, ada Khalifa. Bangunlah, Mas. Beritahu dia, bahwa kau sangat mencintainya." Aku semakin meracau tidak karuan. Membawa nama Khalifa yang mungkin membuat semua orang heran.


Namun, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Imanku seolah tengah bermasalah.

__ADS_1


Harusnya aku istiqharoh, bukan merengek sedih seperti kaum jahiliyah.


Sekali lagi suara monitor itu merespon. Namun, kali ini ritmenya lebih cepat dari yang tadi. Lantas suara itu semakin pelan, pelan, pelan, sampai akhirnya Mas Alvin menghembuskan napas terakhir dengan posisi jari bersyahadat.


"Mas Alvin..." Aku berteriak pilu di samping suamiku itu.


Tubuhnya terasa dingin dan kaku. Ku lihat ada setetes air mata dari sudut netranya. Mungkin saja dia menyadari kehadiran Khalifa saat ini.


Dia juga bersedih, karena tak sempat mengungkap cintanya sampai akhir hayat.


Ironisnya, bahkan Mas Alvin tak pernah tahu, bahwa ia mempunyai seorang Putra dari Khalifa. Andaikan kami menyadari lebih cepat, mungkin Mas Alvin akan sangat bahagia. Hidupnya akan lebih berwarna.


"Innalillahi wainna ilaihi rojiuun." Terdengar kalimat itu dari mulut semua orang yang ada di ruangan.


Kami berduka, telah berpulang ke rahmatullah suami sekaligus Ayah dari Putri kecilku, Maryam.


Sedetik kemudian, terdengarlah suara tangisan anakku yang malang setelah sejak tadi diam membisu.


Mungkin Maryam tahu, bahwa Ayahnya telah tiada.


"Rukaya, tenanglah. Istigfar, Nak. Relakanlah Alvin. Ini sudah jalan takdir dari Allah." Umi memelukku cukup keras. Mengusap kepala yang terasa nyeri luar biasa.


"Umi, Mas Alvin. Huhuhu." Aku pun memeluk tubuh mertuaku. Menangis kencang dalam dekapan hangatnya.


Takdir Allah memang tak ada yang bisa menebak. Kemarin kami masih bersama. Bersenda gurau selayaknya pasangan suami istri.


Bermain bersama Maryam. Bertukar pendapat tentang masa depannya kelak.


Kami membahas banyak hal saat itu. Bahkan kami telah menentukan di mana Putri kami akan mengenyam pendidikan.


Namun, siapa sangka bila hari itu menjadi hari terakhir kami berkumpul bersama.


Kini Mas Alvin telah tiada, meninggalkan kami untuk selamanya.

__ADS_1


Satu hal yang paling ku sesali adalah Mas Alvin tak pernah tahu, bahwa ia mempunyai seorang Putra dari Khalifa. Dan dia juga tak pernah berhasil mengungkap perasaan yang sebenarnya terhadap mantan istrinya itu.


__ADS_2