Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Hari itu Paman Yusuf dan Paman Yahya mencercaku habis-habisan. Sedang aku hanya bisa tertunduk pasrah. Sebab, tahu, bahwa aku salah.


Ya, aku salah mengizinkan Mas Alvin poligami. Namun, tak ada yang perlu disesali. Toh inilah pilihanku terdahulu.


Aku merelakan suamiku menikahi cinta pertamanya, dan lihatlah hasilnya sekarang. Aku harus membawa janin yang tak berdosa jauh dari Ayahnya.


"Hubungi suamimu, minta dia datang sekarang juga!" titah Paman Yusuf.


Saat itu bergetarlah hati ini. Betapa tidak, bila Mas Alvin melihatku sekarang, maka dia akan tahu ihwal kehamilan ini. Sementara aku tak menginginkan hal itu terjadi.


Entah mengapa hatiku seakan tertutup rapat untuk Mas Alvin.


"Tapi Paman, aku tidak ingin dia tahu soal Anak ini," ucapku.


"Mengapa begitu? Bukankah sebentar lagi kau akan melahirkan?" tanya Paman Yahya.


"Aku tahu," lirihku, kembali tertunduk lemas.


"Ifa, dengarkan Paman, Nak. Dalam agama, seorang Anak harus jelas siapa nasabnya. Bila kelak dia seorang perempuan, maka menjelang pernikahan Ayahnya harus tahu dan mewakilinya. Jika kau tetap diam seperti ini, maka artinya kau telah mengingkari nasab dari Putrimu sendiri. Jika dia adalah laki-laki, bukankah Anak itu juga berhak tahu siapa Ayahnya? Pun sebaliknya, suamimu juga berhak tahu soal Anaknya sendiri. Tidak semuanya harus kau tanggung seorang diri, Nak. Paman tahu kau sangat kuat dan mandiri, tetapi hal itu tidak mewajibkanmu untuk mengabaikan keberadaan suamimu. Walau bagaimanapun juga kalian masih sah sebagai suami dan istri. Tidak masalah bila kau ingin bercerai darinya, tetapi ajak lah suamimu ke rumah. Maka kita akan merundingkan masalah ini secara baik-baik. Apapun keputusanmu, kami akan terima, kendati harus berakhir dengan perpisahan."


Setelah Paman Yahya mengatakan banyak hal, hatiku pun mulai melunak. Aku bersedia menemui Mas Alvin.


"Baiklah aku bersedia. Namun, aku tidak ingin Mas Alvin sampai tahu, bahwa aku sedang mengandung Anaknya. Kita hanya akan membahas soal perceraian. Akan tetapi, bukan sekarang. Tunggu Anak ini lahir, baru lah kita merundingkan segalanya. Aku takut Mas Alvin menjatuhkan talak padaku saat Anak ini belum lahir." Namun, aku tetap mengajukan beberapa syarat mutlak.


"Boleh jelaskan kepada kami mengapa Ustad Alvin tidak boleh tahu bila kau sedang mengandung Anaknya?" tanya Paman Yusuf.


"Aku terlanjur kecewa padanya, Paman. Hatiku seperti tertutup rapat untuk memberitahu dia. Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak ingin membenarkan yang dilakukan Mas Alvin terhadapku. Jika memang Allah mengizinkan, maka kelak mereka akan bertemu walau apapun yang terjadi. Namun, tidak untuk saat ini. Aku ingin mengobati luka dan hidup tenang," paparku panjang lebar.


"Baiklah, tapi kau harus ingat satu hal dari kami, bahwa kau tidak boleh membatasi suamimu untuk menemui Anaknya kelak."

__ADS_1


"Iya."


Percakapan itu pun berakhir dengan kesepakatan bersama. Dimana sampai waktunya tiba, Paman Yusuf dan Paman Yahya tidak boleh memberitahu Mas Alvin soal kehamilanku.


Keesokan harinya, aku kembali mengajar seperti biasa. Dengan perut yang mulai terlihat membuncit, aku menjalani profesi sebagai tenaga pengajar.


Mengajarkan para santri tentang ilmu fiqih, serta bersolawat kepada Rosulullah, dan masih banyak lg ajaran agama yang ku bagi di tempat ini.


Sekarang mereka lah keluargaku selain Umi dan kedua Pamanku. Apakah Mas Al masih termasuk keluarga? Entahlah.


"Sholawat Jibril memiliki banyak keutamaan seperti diantaranya mendatangkan rezeki hingga mengabulkan permintaan. Meskipun telah mendengar sholawat Jibril, tak sedikit yang masih belum memahami mengenai permohonan doa kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW beserta keluarga serta sahabatnya ini. Sholawat Jibril adalah salah satu sholawat nabi yang lebih pendek. Sholawat ini diberi nama sholawat Jibril, karena yang pertama melafalkan sholawat ini adalah malaikat Jibril ketika memberikan pengajaran pada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, sholawat Jibril merupakan salah satu jenis sholawat yang paling sering diamalkan oleh umat Muslim, karena penuh makna dan singkat. Kita dapat membaca sholawat jibril di sela-sela aktivitas yang sedang dijalani sebanyak seribu kali. Tentu kalian sudah tahu kan bunyi dari sholawat Jibril ini? Ayo sama-sama kita lafalkan.


Shallallaahu ‘ala Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kami melantunkan sholawat secara bersama-sama saat proses belajar mengajar berlangsung.


Disetiap akhir pengajaran, aku selalu mengajak para Santri untuk bersolawat. Contohnya seperti hari ini.


Di tengah-tengah sholawat itu, tiba-tiba ponselku berdering, menandakan ada panggilan masuk.


Aku berkerut kening penuh tanya, karena tak mengenal nomor tersebut. Maka aku pun memilih mengabaikan panggilan itu. Lantas kembali bersolawat bersama para Santri.


Namun, baru berapa detik pasca mengabaikan panggilan tadi, tiba-tiba nomor yang sama melakukan panggilan video.


"Siapa sih?" gumamku.


Jujur saja, aku tidak suka menerima panggilan dari orang asing.


Lagi-lagi aku mengabaikan panggilan tersebut. Namun, sekali lagi dia melakukan panggilan video.


Sedang untuk yang kesekian kalinya aku menolak. Bagiku tidak penting.

__ADS_1


Setelah itu, ia kembali menghubungiku melalui panggilan biasa.


"Halo." Dan aku memutuskan untuk menerimanya. Barangkali orang itu ku kenal, atau ada hal penting yang hendak disampaikan.


Akan tetapi, tak ada suara sama sekali. Orang itu tidak membalasku.


"Assalamu'alaikum, halo." Sekali lagi aku mengucap salam, dan untuk kesekian kalinya pula orang itu tak bersuara.


Entah orang iseng yang sedang mengerjaiku, atau ada gangguan jaringan, hingga komunikasi kami tak berjalan mulus.


Merasa penasaran, mungkin saja itu Umi yang berusaha menghubungiku, maka aku memutuskan untuk menghubungi nomor tersebut sebanyak tiga kali. Namun, selalu tak ada suara.


Anehnya, aku bisa mendengar suara kendaraan tengah berlalu lalang. Bahkan suara hujan yang teramat kentara di kupingku. Namun, orang itu tetap bungkam. Apakah dia bisu?


"Siapa orang ini?" gumamku berpikir.


Konsentrasiku terganggu dengan panggilan itu. Sehingga anak Santri terabaikan untuk beberapa saat.


"Jadi, perbanyak lah sholawat kepada Rosulullah SAW, agar Allah menjamin hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat." Terakhir, aku menutup pertemuan itu dengan beberapa pesan.


"Pulanglah, diam-diam ada yang merindukanmu di sini." Beberapa menit kemudian, nomor tanpa nama yang berbeda mengirimku pesan singkat.


Entah siapa yang sedang mempermainkanku saat ini. Aku benar-benar bingung.


Tadi ada nomor asing menghubungiku beberapa kali. Sekarang ada pula nomor tanpa nama yang berbeda mengirim pesan singkat yang nyeleneh.


Siapa yang merindukanku? Tidak mungkin Mas Alvin merindukanku yang tak berarti apa-apa dalam hidupnya.


Lagi pula nomor tadi bukanlah milik Rukaya. Aku masih menyimpan nomor ponsel Maduku itu.

__ADS_1


Ataukah dia sudah menggantinya? Tapi tidak mungkin, karena aku masih bisa melihat satu menit yang lalu status di whatsappnya.


"Kalau bukan dia, lalu siapa?" gumamku, berpikir keras.


__ADS_2