
Samar-samar terdengar suara tangisan bayi di dalam kamar berukuran sedang. Tangisan itu semakin kentara seiring dengan suara alunan pengantar adzan yang berhenti.
Perhatianku pun teralihkan. Ku langkahkan kaki ini menuju sumber suara Si bayi.
Oe... Oe... Oe...
Tampaknya bayi itu masih belum berhenti. Dia semakin mengencangkan suara seolah hendak memberitahuku di mana posisinya berada.
Pelan-pelan kaki ini berayun maju, sembari mengendap-endap mendekati kamar itu.
Terdengar lenguhan seorang wanita tengah menenangkan bayi itu.
Dari arah belakang, punggungnya sangat familiar. Netra ini tak akan pernah bisa melupakannya.
"Cup, cup, cup, Sayang. Haus, ya? Ayo ***** dulu."
"Suara itu? Bukankah dia... Ah, tidak mungkin. Mana mungkin dia mempunyai seorang bayi? Dia baru saja ku ceraikan. Wanita itu pasti orang lain," gumamku.
"Solatullah solamulla ala toha rosulillah. Solatullah solamullah ala yasin habibillah." Bayi itu masih terus menangis histeris, sampai akhirnya wanita itu kembali bersolawat guna menenangkan dia.
"Suara itu, apakah benar dia? Tidak salah lagi. Itu pasti dia. Bagaimana bisa secepat itu ku melupakan suaranya. Bahkan sampai maut menjemput pun, suara itu tak akan pernah hilang dari ingatan." Aku masih bergumam seorang diri sembari mengintip Ibu dan anak bayi itu.
Saat hendak ku beranjak, wanita dengan khimar abu-abu itu menoleh ke arah kanan, hingga wajahnya terlihat begitu jelas.
"Ifa?"
Ya, benar. Dia adalah Khalifa Humaira, mantan istriku. Namun, mengapa dia tidak mengenakan cadar lagi? Bukankah selama ini dia kerap menggunakan penutup wajah itu untuk menghindari fitnah serta godaan dari kaum Adam?
Lantas mengapa harus dibukanya? Benarkah Khalifa telah berubah? Benarkah perceraian kami sangat mempengaruhi kesehatan mentalnya?
Tapi tunggu, jika benar dia Khalifa, lalu itu bayi siapa? Benarkah ia sudah menemukan penggantiku?
Namun, bukankah terhitung singkat bila harus ada bayi di dalam pernikahannya?
Kami baru bercerai satu bulan lalu, lantas tiba-tiba Khalifa mempunyai seorang bayi. Mustahil.
Tidak mungkin Khalifa bermain api di belakangku selama menjadi suaminya. Wanita itu sangat pandai menjaga martabat. Aku berani bersaksi untuk itu.
Dan bila Khalifa menikahi seorang duda, lalu untuk apa ia memberinya asi dari tubuhnya sendiri?
__ADS_1
Ataukah dia... tidak mungkin. Ya Allah, jika benar kejadian malam itu melahirkan seorang bayi, maka itu artinya dia adalah anakku, darah dagingku.
"Ya Allah, Ifa. Terimakasih kau bersedia menjaga Anak kita. Terimakasih, sayang," bisikku seorang diri sembari menangis haru.
Ku usap air mata ini, lantas menghampiri Khalifa yang baru saja usai memberi asi bayinya.
"Assalamu'alaikum, Ifa," sapaku dari arah belakang.
Wanita itu pun menoleh kepadaku sembari berkata, "Mas Alvin, kau?"
Wajah Khalifa terlihat sangat pucat. Mungkin merasa terkejut atas kehadiranku yang mendadak.
"Ifa, dia anak siapa?" tanyaku tanpa basa-basi. Sungguh hati ini sangat penasaran siapa nasab dari bayi mungil nan manis tersebut.
"Mengapa kau bertanya? Bukankah kau tidak menginginkan bayi ini?!" Jawaban Khalifa seolah menegaskan, bahwa bayi itu adalah darah dagingku.
"Apakah itu artinya dia adalah anakku? Anak kita?" tanyaku antusias.
"Tidak! Dia bukan anakmu, melainkan anak orang lain," sarkasnya.
"Bohong! Dia adalah anakku. Kau jangan menipu, Ifa. Aku tahu kau bukan wanita pendusta. Bukankah sangat jelas, bahwa dia sangat mirip denganku?" bantahku tetap keukeh.
"Ifa, ku mohon. Kedatanganku kemari bukan untuk mengusik hidupmu. Melainkan ingin bersilaturahmi denganmu. Aku tidak tahu bila ada bayi dalam pangkuanmu. Aku hanya merasa penasaran saat mendengar suara tangisan bayi dari sini. Suaranya seolah memanggilku. Merasa gelisah, akhirnya aku memutuskan untuk mencari sumber suara tangisan bayi itu. Namun, ternyata di sinilah dia, bersamamu," balasku bernada lirih.
Ku lihat wajah Khalifa semakin cantik mempesona dengan balutan hijab syar'inya. Sejak dahulu ia memang begini, tetapi wajahnya kerap ditutupi cadar.
Sekarang aku puas menatap wajah manis tersebut. Aura Khalifa semakin bersinar terang. Sehingga hatiku bertekad ingin memenangkan kembali hatinya.
"Mas Alvin, ku mohon pergilah. Jangan buat masalah di sini. Aku tidak ingin para warga datang ke rumahku dan membuat keributan karena melihat kita berdua di dalam kamar. Tolong jaga nama baikku dan bayi ini." Khalifa memutar badan menghadap diriku. Lantas memintaku untuk segera pergi.
"Tidak! Sebelum kau menjawab pertanyaanku, bahwa siapa Ayah dari bayi itu?" tolakku, tak ingin beranjak pergi.
"Ya, dia adalah Putramu. Apa kau puas sekarang?" Betapa bahagianya hati ini saat Khalifa memberiku jawaban memuaskan, bahwa bayi itu adalah darah dagingku.
Sekujur tubuh ini pun bergetar hebat, serta diiringi dengan detakan jantung yang kian cepat. Bersamaan dengan itu, netra ini berkaca-kaca. Terharu akan sosok bayi manis di depan mata.
"Dia Anakku?" Bahkan suaraku pun tercekat di tenggorokan, masih belum menyangka bila kami mempunyai bayi dari hasil hubungan satu malam kala itu. Sungguh Khalifa memberiku kejutan tak terduga.
"Ya, dia Anakmu, Mas. Anak kita. Sentulah dia, dia sangat merindukanmu." Akhirnya Khalifa berkata jujur.
__ADS_1
Lantas wanita itu memberiku kesempatan untuk menggendong bayi kami.
Tangis pun tak dapat terbendung lagi. Lalu ku cium seluruh wajah bayiku dengan penuh cinta sekaligus rindu. "Anakku," lirihku, masih sambil mencium sayang wajah bayiku.
"Terimakasih, Ifa. Kau telah bersedia mempertahankan bayi kita." Kemudian aku beralih pada wanitaku, mengucap terimakasih tanpa henti.
"Sama-sama," jawabnya sembari tersenyum manis.
Ya, senyuman Khalifa memang tak pernah berubah. Sejak dulu selalu begitu.
"Siapa namanya?" tanyaku.
"Muhammad Reyhan Sauqi."
"Maa syaa Allah, nama yang indah sesuai wajahnya. Dia benar-benar terlihat tampan." Faktanya adalah bayi itu mirip denganku sewaktu kecil.
Tak satupun dibuangnya wajah ini. Siapapun yang melihatnya, pasti mudah menebak, bahwa dia adalah darah dagingku, garis keturunanku.
"Ya, dia memang terlihat sangat tampan, persis sepertimu." Lagi-lagi Khalifa melempar senyumannya kepadaku. Sehingga hati ini mekar bagai bunga yang sedang tumbuh.
"Kalau begitu kembali lah padaku. Kita mulai dari awal lagi. Aku janji, kali ini aku tak akan mengkhianati cintamu. Tak akan ada lagi orang ketiga di antara kita. Kau lah hidup dan matiku. Aku bersumpah," pintaku setulus hati.
"Iya, aku bersedia."
Sungguh tak terjamakkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku saat itu. Akhirnya Khalifa bersedia kembali padaku dan memulai hidup yang baru.
"Lepaskan wanitaku!" Namun, tiba-tiba suara bas seorang pria terdengar kentara dari ambang pintu kamar Khalifa.
"Ifa..."
"Mas Alvin, kau kenapa? Mengapa berteriak, Mas? Apa kau mimpi buruk?"
Rupanya tadi hanyalah mimpi semata. Ku kira kenyataan.
"Tidak, aku baik-baik. Tolong ambilkan aku air putih."
"Baiklah."
Lantas Rukaya bergegas ke dapur untuk memberiku air putih.
__ADS_1
"Ifa, aku sangat merindukanmu," lirihku seorang diri.