
Betapa terkejutnya aku saat menyaksikan lemari dalam kamar Khalifa. Tak satupun dari pakaian yang ku berikan sebagai nafkah lahiriah itu dibawahnya.
Kini pakaian itu tinggal kenangan, tergantung rapi di dalam lemari.
Sekali lagi ku usap gamis Khalifa dengan penuh cinta. Menghirup aromanya yang masih kentara.
Tadinya ku sangka mimpi itu nyata, hingga sukses membuat hatiku berbunga-bunga.
Kembali bersama Khalifa adalah salah satu hal paling membahagiakan dalam hidupku. Andaikan Allah memberiku kesempatan yang kedua, maka tak akan ku sia-siakan dirinya.
Memang mustahil, tapi tak ada salahnya memupuk mimpi.
Lantas bagaimana dengan Rukaya? Tentu saja akan ku perlakukan mereka secara adil.
Belajar dari kesalahan, aku tak ingin masuk ke dalam lubang yang sama.
"Ini air putihnya, Mas." Rukaya memberiku segelas air putih untuk menetralkan perasaan ini.
"Terimakasih," ucapku setulus hati.
"Mas, apakah kita boleh bicara jika tidak keberatan?" Lantas Rukaya duduk di tepi ranjang bersamaku.
"Silahkan, katakanlah. Aku mendengarkan."
"Apakah Mas ingin aku menemui Mba Khalifa dan memintanya untuk kembali ke sisimu lagi?"
__ADS_1
Andaikan membujuk Khalifa semudah membalik telapak tangan, pasti sudah lama ku lakukan. Aku sangat mengenal mantan istriku itu. Dia tak akan mudah menelan mentah-mentah bujuk rayuku.
"Istirahat lah, kamu pasti lelah. Malam ini aku tidur di sini. Jangan lupa minum vitamin, agar bayi kita sehat." Ku pegang pipi Rukaya, lalu menatapnya penuh lelah.
Sengaja tidak ku jawab pertanyaannya. Sebab, ku rasa sangat mustahil.
Aku tahu, bahwa Rukaya tidak merasa puas atas jawabanku.
"Mas, ku mohon. Beri aku waktu untuk membahas masalah ini. Aku tahu Mas Alvin sangat menderita. Maka bagi lah dukamu bersamaku, Mas. Entah itu sebagai istri atau sebagai sahabat," katanya.
"Apa yang harus dibahas, Rukaya? Segalanya telah berakhir. Tidak akan ada kesempatan kedua seperti yang kau pikirkan. Membujuk Khalifa bukan semudah mengedipkan kedua mata. Dia sangat memegang teguh prinsipnya. Andai memang ia bersedia, maka situasinya pasti akan berbeda. Khalifa bisa saja memaafkanku, tetapi tak mudah memenangkan kembali hati serta kepercayaannya. Bukannya aku tak ingin berusaha, tetapi aku tak ingin dia menderita lebih lama. Sudah cukup aku memberinya luka. Kini biarkan dia bahagia bersama pilihan hidupnya. Aku rela, karena pada dasarnya dia berhak bahagia seperti orang lain.
Jika kau merasa bersalah karena perceraian kami, maka lupakan saja. Sebab, ini bukan tentangmu, melainkan tentangku yang tak pernah memberinya keadilan. Aku curang terhadapnya. Kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini, em? Jadi, jangan khawatir," jelasku panjang lebar.
"Meskipun begitu, Mas. Aku tetap merasa bersalah padanya. Kau tidak tahu betapa aku sangat ingin meminta maaf padanya. Bila perlu aku bersujud di kakinya." Aku pikir dengan mengatakan banyak hal, Rukaya tak lagi berpikir jauh. Sayangnya, istriku terlalu sensitif.
"Lalu mengapa dulu Mas Alvin tidak adil padanya? Bukankah sudah ku katakan berulang kali padamu, bahwa jangan berat sebelah. Namun, kau tak pernah mendengarku. Lihatlah hasilnya sekarang, keluarga kita jadi berantakan. Umi dan Abah merasa kehilangan sosok Putri tercinta. Dahulu ku lihat mereka ceria saat masih ada Mba Khalifa. Namun, segalanya telah berbeda saat kepergiannya. Andai aku bisa memberi cinta selayaknya Mba Khalifa kepada Umi dan Abah, mungkin aku bisa mengobati luka mereka. Sayangnya kami sangat jauh berbeda," papar Rukaya.
Aku membenarkan seluruh perkataan Rukaya. Mengapa dulu aku mencurangi cinta Khalifa. Alhasil Umi dan Abah merasa kehilangan.
Di sisi lain, Rukaya dirundung rasa bersalah setiap waktu. Batinnya tak pernah tenang andai tidak ku hibur dia. Sebab, kehamilannya yang kian membesar.
Tinggal menghitung hari Rukaya segera melahirkan.
"Maafkan aku," lirihku penuh sesal.
__ADS_1
Tidak ada kalimat yang pantas untuk mewakili perasaan ini selain kata maaf, meski terlambat.
"Apa kau tahu, Mas? Poligami yang kita jalani ini sudah salah sejak awal. Mungkin Mba Khalifa bersedia memberi izinnya. Namun, sejujurnya tak ada wanita di dunia ini yang benar-benar rela membagi suami. Anggap saja Mba Khalifa wanita solehah serta paham agama dan bukan seseorang yang anti poligami. Namun, tidakkah kau dapat melihat penderitaan yang begitu besar di matanya? Saat hari pertama menginjakkan kaki di rumah ini, ku tahu dia sangat tersiksa. Diam-diam ku lihat ia sedang menangis di dapur. Saat itu lah aku berjanji akan memperlakukan Mba Khalifa dengan baik selayaknya saudara. Sebab, aku tahu telah salah memasuki rumah tangga kalian berdua. Siapa sangka bila Mas Alvin justru mengabaikan tugas serta tanggung jawab terhadapnya. Yang Mas lakukan ini seolah menegaskan, bahwa aku adalah wanita perusak rumah tangga orang. Mas Alvin tidak tahu betapa pahitnya kenyataan itu."
Rukaya kembali membahas masalah yang sama. Aku tahu dia merasa kehilangan sosok Kakak. Sebab, aku yang terlalu egois.
"Rukaya, bukankah sudah ku katakan berulang kali padamu, bahwa jangan berpikir terlalu jauh. Masalah Khalifa tidak ada hubungannya denganmu," bantahku.
"Ada, Mas. Ada! Bagaimana bisa Mas mengatakan, bahwa masalah ini tidak ada hubungannya denganku? Apakah Mas sengaja ingin menghiburku? Mau menghilangkan rasa bersalah? Aku bahkan tak tenang semenjak Mba Khalifa meninggalkan rumah ini, Mas. Lantas bagaimana bisa dengan mudahnya Mas Alvin berkata, bahwa ini bukan karenaku?!" Rukaya pun mulai meninggikan suara, menangisi yang telah terjadi.
"Kemarilah." Lantas ku ajak istriku itu pelan-pelan untuk kembali duduk bersama.
Dia adalah wanita sensitif. Maka ku peluk ia serta mengusap kepalanya.
"Sayang, maafkan aku. Karena aku lah kau menderita. Seharusnya aku tidak menyeretmu dalam masalah ini. Namun, ketahuilah, bahwa aku tidak pernah menyesal menikahimu. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Aku sudah tidak sabar ingin melihat rupanya seperti apa. Apakah dia mirip denganku, atau justru denganmu." Sengaja tak ingin memperkeruh suasana. Ku hibur Rukaya dengan mengatasnamakan calon bayi kami.
"Mas aku--"
"Sstt... Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku, em? Sekarang tidur lah. Malam ini aku tidur di kamar ini. Kau jangan lupa minum vitamin, em? Kau sudah makan, bukan? Kasihan bayi kita bila kau tidak memberinya makan." Rukaya hendak menarik diri dari pelukanku, tetapi ku cegat dirinya.
Tiada yang bisa ku lakukan selain memberinya kenyamanan.
Dahulu Khalifa tidak pernah merasakan hal serupa. Sebaliknya, aku justru menyiksa wanita itu.
"Rukaya, maafkan aku. Karenaku kau jadi seperti ini. Aku tahu kau adalah wanita baik. Hanya aku yang buruk," batinku, masih memeluk Rukaya.
__ADS_1
Memang benar kata pepatah, bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Seperti yang ku alami saat ini.