
Dalam Islam, fitnah lebih bahaya dari pembunuhan itu terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah.
Dalam surat tersebut menjelaskan tentang fitnah yang dilepaskan oleh seseorang bisa sangat berbahaya, bahkan disebut lebih berat dari pada pembunuhan.
“Fitnah itu lebih berat daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah: 191).
Maka dari itu, fitnah adalah perkara yang wajib dihindari bagi seorang Muslim karena larangannya begitu jelas dan nyata.
Bahayanya, fitnah bisa mengakibatkan perang saudara, kekejaman dalam masyarakat, serta kekacauan.
Itulah dalam Islam, fitnah kerap diartikan secara bahasa bermakna 'murtad' atau 'musyrik'. Padanan lain adalah 'ghibah' dan 'tajassus' atau mencari-cari kesalahan orang lain yang belum tentu benar.
Fitnah diartikan sebagai murtad atau keluar dari Islam, perang saudara, kekejaman, kakacauan, ujian dan cobaan, serta perkataan jelek.
Sementara fitnah dalam pengertian murtad terdapat dalam QS al-Baqarah ayat 193. Fitnah karena dapat menimbulkan keresahan sosial hingga keagamaan di kalangan masyarakat Islam.
Selayaknya yang sedang ku alami saat ini, di tengah bahagianya menikmati proses menjadi seorang Ibu, aku pun harus diuji dengan berbagai macam gunjingan di luar sana.
Ada yang mengatakan, bahwa Reyhan adalah Anak haram. Ada pula yang mengatakan, bahwa aku adalah istri zalim yang tak patuh terhadap suami. Oleh sebab itu, diceraikan suami hingga memilih menikah lagi.
Dan masih banyak lagi ungkapan di luar sana yang begitu menyakitkan.
Namun, yang tak kalah menyayat hati adalah ketika nasab Putraku diragukan oleh orang-orang tersebut.
Inilah manusia, berkata sesuka hati tanpa menelisik kehidupan orang lebih dalam. Berkata tanpa memikirkan efek dari perkataan itu sendiri.
Jika menyangkut diriku yang dikatakan istri zalim, maka aku masih bisa terima. Sebab, aku pun mempunyai banyak dosa dan cela. Namun, aku tidak terima bila Anakku yang masih berusia empat bulan harus diseret namanya melalui bibir-bibir manusia zalim.
"Itu lah sebabnya Umi katakan padamu saat itu, Nak, bahwa kau harus memberitahu Ustad Alvin ihwal kehamilanmu. Dia adalah Ayahnya dan dia juga berhak tahu. Lihatlah hasilnya sekarang, bayi yang tak berdosa itu harus menjadi buah bibir orang-orang di luar sana." Umi Kalsum emosional saat mengetahui kenyataan pahit, bahwa bayiku menjadi sasaran empuk para manusia laknat.
"Meski begitu, tetapi perkataan mereka tidak bisa dibenarkan, Umi. Reyhan bukan anak haram," sarkasku tak terima.
__ADS_1
"Apa kau bisa membungkam mulut zalim mereka? Tentu saja kita tidak bisa mencegah fitnah itu. Andai lebih awal kau mengantisipasi masalah ini, maka nasab bayimu tak akan diragukan oleh orang-orang sekitar," papar Umi.
Aku memang mengaku salah, tetapi aku tidak terima bila bayiku disangsikan siapa nasabnya.
Aku benar-benar marah dan murka. Maka dengan segenap jiwa dan raga, aku pergi menemui orang yang telah lancang memfitnah bayiku.
"Aku keluar sebentar," pamitku sembari menahan amarah.
"Kau mau kemana?" teriak Umi.
"Tolong jaga Reyhan untukku. Aku tidak akan lama," balasku seraya berlalu pergi.
Di sepanjang jalan aku mencengkeram kesepuluh jemari ini. Batin pun bergejolak hebat. Ingin rasanya aku meremas bibir laknat orang itu.
"Hei Julaiha!" teriakku sembari membanting pintu ruang tamu Julaiha.
Sejatinya aku dan Julaiha masih kerabat, Ayahnya adalah sepupu dari mendiang Abah. Namun, hubungan kami tidak akrab selayaknya saudara.
"Ada apa kau kemari? Masuk tanpa salam, membanting pintu pula! Apa ini yang diajarkan mendiang kedua orang tuamu, ha?! Sudah melahirkan Anak haram, masih juga membuat gaduh di rumah orang!" omel Julaiha dengan nada lantang.
Plak!
Darahku pun seketika mendidih. Sehingga ku daratkan tamparan keras ke pipi Julaiha, wanita cantik jelita, tapi sayang tak berahlak mulia.
"Kau berani menamparku?!" hardiknya sembari memegang pipi yang memerah.
Plak!
Namun, aku tak gentar. Sekali lagi aku menampar pipi sebelahnya. Dan akhirnya aku pun melampiaskan amarahku pada wanita itu.
"Itu balasan untukmu yang suka menyebar fitnah. Aku tahu kau lah orang yang tega meragukan nasab Putraku. Lantas mengajak warga untuk mempercayai opinimu. Kau tidak ingin sesat sendirian, maka kau ajak orang-orang untuk berbuat zalim sepertimu. Tidakkah kau takut kepada Allah? Jika hari ini kau masih bisa bernapas, itu karena kemurahan hati-Nya. Namun, jika Dia telah melaknatmu, maka tak akan ada tempat untuk orang sepertimu, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, sebaiknya kau bertobat sebelum terlambat!" ujarku berapi-api.
__ADS_1
Inilah puncak dari kemarahanku terhadap Julaiha. Dahulu aku tidak berani melawan mereka. Aku sangat lemah tak berdaya. Namun, kehadiran Reyhan seolah memberiku kekuatan serta semangat. Mungkin seperti inilah yang dikatakan sebagai 'the power of Emak-emak'.
"Ada apa ini?!" Paman Musa muncul dari arah pintu belakang.
Beliau menatapku penuh amarah, karena telah membuat kegaduhan di rumahnya.
"Tanyakan saja pada Anak Paman, apa yang sebenarnya terjadi. Jika Paman paham tentang agama dan akidah, maka datang lah padaku untuk meminta maaf setelah mengetahui faktanya. Maka dengan besar hati aku akan memaafkan kalian, terutama Putri Paman. Namun, jika Paman memilih untuk menutup hati, maka biar Allah yang akan membalas kalian. Aku sudah selesai dengan urusanku, sekarang berundinglah," jelasku datar. Namun, penuh penekanan.
"Dan kau Julaiha, jika sekali lagi aku mendengar kau mengulang perbuatanmu, maka aku tidak akan segan-segan membeberkan seluruh maksiat yang telah kau perbuat." Lantas aku beralih kepada Julaiha, mengultimatum dia yang sungguh lancang.
"Assalamu'alaikum," pamitku akhirnya.
"Ada apa ini, Julaiha? Katakan pada Abah apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Khalifa datang ke rumah kita dan marah-marah?" Samar-samar aku mendengar Paman Musa mengomeli Julaiha.
"Abah, aku tidak salah. Khalifa sedang berusaha untuk memfitnahku." Sungguh luar biasa Julaiha, kau bahkan tidak berniat untuk mengakui kesalahanmu meski tahu aku telah memegang kartu As-mu.
"Wanita munafik!" Tak ingin berlama-lama mendengar perdebatan Ayah dan Anak itu, maka aku pun memilih untuk pergi.
Menemui Putraku yang menggemaskan. Setiap hari Reyhan membuatku rindu, padahal kami selalu bersama. Dia adalah tempat pelipur lara di tengah hati yang gundah.
Reyhan telah membuat hidupku lebih berwarna. Setelah kelahirannya, pelan-pelan aku pun mulai melupakan beban yang selama ini ku pikul.
Sejujurnya aku merasa bersalah padanya, karena keegoisanku, ia pun harus terkena dampaknya.
Andaikan rumah tanggaku baik-baik saja dan berjalan normal, maka hal ini tak akan terjadi. Status Reyhan tak akan diragukan oleh siapapun.
Jika Mas Alvin berbuat adil terhadapku, maka dengan senang hati aku akan memberitahu keberadaan Reyhan. Namun, sayangnya aku terlalu sering dibuat kecewa olehnya. Alhasil aku harus menelan mentah-mentah fitnah pahit ini seorang diri.
"Reyhan, maafkan Umi, Nak. Tunggu Umi pulang, Umi sangat merindukanmu," lirihku sembari mempercepat langkah kaki ini.
Lantas ku usap air mata yang tiba-tiba tumpah ruah membasahi cadarku.
__ADS_1