Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Poligamikah?


__ADS_3

"Apa kau baik-baik saja?" Usai mencerca Sang istri, Alvin menemui Rukaya yang masih duduk di kursi taman.


"Mas Alvin?" Rukaya menyeka air mata begitu tahu Alvin berdiri di belakangnya.


Alvin mengeratkan rahang, marah pada Khalifa yang disangkanya telah menyakiti Rukaya. Padahal sejujurnya Khalifa lah yang menjadi korban.


Sejatinya Rukaya juga korban dari perjodohan Alvin bersama Khalifa, serta korban dari perasaannya sendiri. Namun, bukankah sekarang ia tahu, bahwa Alvin telah menjadi suami orang? Lantas mengapa masih harus mempertahankan perasaan?


"Apa yang dilakukan oleh wanita itu padamu." Sungguh diluar dugaan, Alvin menyebut istrinya sendiri dengan kata 'Wanita itu' seolah Khalifa bukan siapa-siapa.


"Dia tidak melakukan apa-apa padaku, Mas," sahut Rukaya jujur.


"Bohong! Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi?" Alvin melangkah lebih dekat dari Rukaya, seakan mengetahui segala yang diperbincangkan oleh dua gadis itu.


"Jika dia tidak melakukan apa-apa padamu, lantas mengapa kau menangis?" Lagi-lagi Alvin hanya bisa melihat duka Rukaya, sedangkan luka istrinya dia menutup mata.


"Aku berkata jujur, Mas. Istrimu tidak melakukan apa-apa padaku."


"Jangan sebut dia sebagai istriku!" sarkas Alvin membabi buta. Tak pelak membuat Rukaya membeliak.


"Mengapa, Mas? Bukankah status kalian masih suami istri?" tanya gadis itu.


"Kau benar, tapi aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya mencintaimu, Rukaya. Percayalah padaku!" Alvin terlihat frustasi menghadapi masalah yang kian pelik.


"Lalu mengapa Mas Alvin menikahi wanita itu? Bukankah Mas Alvin berhak menentukan pilihan? Ini adalah hidup, Mas. Bukan orang tuamu. Mas Alvin yang menjalani rumah tangga itu, bukan mereka. Andai Mas tak bahagia, lalu mengapa Mas Alvin bersedia melanjutkah khitbah?" Begitu banyak pertanyaa Rukaya, hingga Alvin membenarkannya.


Sontak Alvin menyesali keputusannya menuruti perkataan Abah. Ingin sekali ia memutar waktu agar kembali seperti dulu. Dimana ia memperdebatkan soal perjodohan.


"Kalau begitu, menikahlah denganku."


Deg!


Bagai petir yang tiba-tiba menyambar, ucapan Alvin sukses menyudutkan Rukaya.

__ADS_1


Ya, Rukaya merasa tersudutkan, karena Alvin hendak menjadikan ia istri kedua. Sedangkan masih ada Khalifa di antara mereka. Andaikan pernikahan itu telah berakhir, maka ia rela menerima Alvin, meski dengan status duda yang disandangnya.


"Apa Mas Alvin mau menceraikan Khalifa?" tanya Rukaya.


"Tidak, aku tidak menceraikan dia."


"Lalu, apakah Mas Alvin mau berpoligami?" Sumpah, Rukaya merasa marah atas keputusan yang dibuat Alvin. Dia memang mencintai pria itu, tetapi tidak ingin menjadi istri yang dipoligami. Rukaya tak ingin dimadu. Katakanlah ia egois ingin memiliki Alvin seorang diri. Tidak ingin berbagi suami dengan siapapun. Namun, setidaknya Rukaya masih mempertahankan harga dirinya. Bukan dengan cara berpoligami untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Iya," sahut Alvin akhirnya setelah beberapa saat diam.


"Apa Mas Alvin sudah gila?"


"Ya! Aku memang sudah gila! Aku tidak tahan lagi dengan pernikahan ini. Aku benar-benar tidak bahagia, Rukaya. Apa kau tahu itu? Aku tidak bahagia!" Kini Alvin terlihat lebih frustasi dari sebelumnya, hingga ia mencengkeram kedua pundak Rukaya.


Ingin rasanya Alvin segera mengakhiri pernikahan yang dianggapnya tak masuk akal itu.


"Kalau begitu, ceraikan dia. Lalu datanglah padaku. Aku tidak ingin merampas hak wanita lain. Walau bagaimana pun juga kalian masih sah sebagai suami istri, suka dan tidak sukanya Mas Alvin. Assalamu'alaiku."


"Rukaya, aku--"


"Aakk--" Alvin berteriak frustasi. Benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.


"Ya Allah, mengapa Engkau memberiku takdir seperti ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan?" lirih pria itu sembari mengusap kasar wajahnya.


Sementara itu, di sudut taman, Khalifa mendengar dengan jelas percakapan dua insan yang saling mencintai tersebut. Dengan derai air mata, Khalifa pun berkata, "Kau benar-benar tega padaku, Mas. Kau sungguh bukan manusia."


Lagi-lagi hati Khalifa hancur ribuan keping. Rasanya seperti hendak terbakar bara api. Mungkin inilah balasannya bila terlalu mencintai mahluk Allah, melebihi cintanya kepada Sang Pencipta.


Khalifa telah menanggung resiko, karena memupuk dalam-dalam cinta kasih itu untuk suaminya. Sedangkan Allah sudah pasti akan cemburu padanya.


Tadinya Khalifa tidak memperdulikan perasaan istimewa selayaknya wanita kepada pria. Cintanya hanya ia persembahkan untuk Allah. Namun, seiring berjalannya waktu, cinta kepada suaminya pun tumbuh dan berkembang sedemikian rupa.


Sore hari, di rumah Alvin. Khalifa baru saja usai menunaikan sholat ashar setelah tadi sempat ketiduran.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu." Mendadak Alvin datang menghampiri Khalifa yang masih mengenakan mukena.


Khalifa sudah tahu apa yang akan disampaikan suaminya itu. Sehingga membuatnya tak tegang. Namun, meski demikian ia tetap waspada pada pendirian yang dipegang teguh, bahwa ia tidak ingin berpisah. Khalifa tidak menginginkan adanya perceraian dalam rumah tangganya.


"Katakanlah, aku mendengarkan," titah Khalifa seraya melipat mukena. Sehingga menunjukan rambut hitam nan lebat miliknya.


Hari itu, Khalifa terlihat sangat cantik. Konon katanya air wudhu dapat mempercantik seseorang. Wallahualam bissawab.


"Aku ingin menikahi Rukaya." Sontak Khalifa mencengkeram sejadah coklat miliknya. Hatinya kian patah.


Entah mengapa Alvin selalu menyakiti dirinya. Sedangkan ia tidak pernah membalas keburukan pemuda tampan tersebut.


"Aku tidak mengizinkan, Mas Alvin berpoligami," sahut Khalifa datar. Namun, penuh penekanan.


"Mengapa tidak?"


"Karena Mas Alvin adalah suamiku, dan aku adalah istrimu. Sampai kapanpun aku tidak akan rela dipoligami!" Kini Khalifa mulai meninggikan suara untuk pertama kalinya kepada Alvin. Dia sungguh tak sanggup lagi.


Emosi yang dulu pandai ia tekan, telah mendarah daging. "Namun, bukankah kau juga tidak bahagia dalam pernikahan kita? Bukan hanya aku yang menderita, tapi kamu juga, Khalifa," kata Alvin dengan suara yang mulai melunak.


"Masalahnya tidak sesederhana itu, Mas," lirih Khalifa semakin emosional.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Alvin tak paham.


"Masalahnya aku jatuh cinta padamu, Mas," jawab Khalifa akhirnya.


Sontak mata Alvin membeliak. Tidak disangkanya bila pernikahan yang tak sempurnah itu justru menimbulkan rasa cinta kasih dalam hati Khalifa.


Alvin dapat melihat cinta itu melalui kedua netra istrinya. Anehnya, dia bisa tahu, bahwa cinta itu sangat tulus untuknya. Namun, ia masih menjunjung tinggi ego dan gengsi.


"Andaikan aku tidak mencintaimu, dan andaikan aku tidak mengingat pesan mendiang Abah, aku tidak akan melangkah jauh seperti ini. Aku juga tidak sadar jatuh cinta padamu, Mas. Hari dimana Mas Alvin mengucap ijab qobul, maka cinta itu pun hadir," lanjut Khalifa.


Alvin pun terdiam saat mendengar pengakuan Khalifa. Bagaimana bisa wanita itu mencintai dirinya? Sedangkan selama ini ia memperlakukan Khalifa secara kasar, bahkan tak adil.

__ADS_1


Alvin mengira, bahwa Sang istri berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, karena memegang teguh janjinya kepada mendiang Ibrahim. Namun, siapa sangka bila cinta bisa tumbuh dalam hubungan yang tak pernah harmonis.


Segitu lemahnyakah pendirian Khalifa? Sampai mudah jatuh cinta pada pria yang tiap hari mengecewakan dirinya, terhitung dari saat pertama kali menikah, hingga delapan bulan masa berumah tangga.


__ADS_2