
Malam adalah waktu yang melambangkan kegelapan. Warnanya hitam pekat bila tak ada cahaya.
Malam adalah pengganti waktu siang yang terang benderang, seterang hati Khalifa kepada Rukaya.
Ya, dua wanita itu akhirnya bertemu juga tanpa sengaja. Baru saja Alvin memperkenalkan istrinya kepada seluruh Ustad, mendadak Rukaya hadir di antara orang-orang tersebut.
Rencananya malam itu Rukaya tak ingin datang ke pesantren, ia meminta Ustadza Zaenab yang menggantikan dirinya untuk mengajar. Namun, Rukaya memutuskan untuk membatalkan hal tersebut. Alhasil terjadilah pertemuan antara dua wanita yang berpengaruh dalam hidup Alvin itu.
Khalifa memandang Rukaya dengan tatapan kagum. Sebab, kecantikannya. Berhubung Rukaya tak memakai cadar. Sedangkan Rukaya memandang Khalifa dengan tatapan datar.
"Assalamu'alaikum Ustadza," sapa Khalifa penuh hormat setelah Ustad Guntur menyebut nama Rukaya.
Sementara itu, Alvin yang menyaksikan dua gadis tersebut merasa cemas. Khawatir Khalifa akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Rukaya. Tanpa Alvin sadari, bahwa istrinya itu justru menghormati wanita yang ia dambakan.
Khalifa sadar, bahwa kehadirannya telah menghancurkan rencana masa depan mereka. Namun, pernikahan itu sungguh bukan keinginannya. Dia juga terpaksa menerima khitbah Alvin demi Sang Ayah.
Andaikan perjodohan itu tak pernah ada, mungkin saja saat ini Khalifa sudah berada di negri yang terkenal dengan piramidanya itu untuk memperdalam ilmu agama di sana.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wa barokaatum," sahut Rukaya. Ekspresinya sungguh tak terbaca. Gadis itu pandai menyembunyikan perasaan.
"Ustadza Rukaya, perkenalkan. Ini adalah istri dari Ustad Alvin, Khalifa." Ustadza Zaenab mengambil alih pertemuan itu, memperkenalkan Khalifa kepada Rukaya.
Betapa tidak, lima menit saling bersua, tak ada tanda-tanda perkenalan. Alvin seolah enggan untuk menunjukan pada dunia tentang siapa istrinya.
Andai bukan karena Zaenab, keberadaan Khalifa tak akan dianggap.
"Rukaya."
"Khalifa."
Dua perempuan itu pun akhirnya saling berjabat tangan sembari melempar senyuman.
__ADS_1
Dalam hati Rukaya tersimpan kecemburuan. Sedangkan Khalifa masih bisa menyeimbangkan diri serta perasaan. Lagi-lagi ia sadar diri akan keberadaannya dalam hidup Alvin.
Di sisi lain, wajar bila Rukaya menaruh rasa cemburu terhadap Khalifa. Walau bagaimanapun juga dia yang pertama dalam kehidupan suaminya. Sedangkan Khalifa baru beberapa hari belakangan memasuki kehidupan pria tersebut.
Namun, Rukaya tak dapat berbuat benyak. Posisinya saat ini tidak mengharuskan ia menyakiti Khalifa.
Memang ada rasa cemburu di hatinya, tetapi tak sampai menjurus ke rasa benci. Rukaya adalah wanita yang bijaksana, lagi dewasa.
"Oh iya, Ustad. Kebetulan Ustad ada di sini. Saya ingin menyetor nilai santri didikan saya yang kebetulan hafalan Qur'annya telah tuntas. Dan ini buku yang dua minggu lalu Ustad pinjamkan ke saya. Terimakasih banyak." Kemudian Rukaya memberi Alvin selembar kertas putih berisi nilai para santri didikannya. Sekaligus buku yang ia pinjam.
Buku itu berjudul 'Fiqih Wanita' karya Anshori Umar. "Sama-sama," sahut Alvin seraya mengambil kertas dan buku tersebut.
Ada rasa sedih sekaligus rindu hadir dalam hati Alvin. Ingin rasanya ia mengajak Rukaya mengobrol bersama seperti yang biasa mereka lakukan.
Sayangnya, ada Khalifa serta para Ustad di sana. Hal itu membuat Alvin cukup kesulitan. Di sisi lain, ia tak ingin membuat keributan sehingga menimbulkan fitnah.
"Oh iya, Ustadza Rukaya di sini ngajar mata pelajaran apa?" tanya Khalifa setelah beberapa saat diam memperhatikan sikap Alvin terhadap Rukaya.
"Jangan panggil Mba, panggil nama aja. Ifa atau Khalifa, mana enaknya aja." Tutur kata Khalifa yang bijak lagi sederhana membuat Ustad Guntur kagum.
Sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi Alvin. Pikirnya, Khalifa mencoba untuk mengulik kehidupan Sang pujaan hati. Nyatanya adalah Khalifa berusaha untuk mengakrabkan diri.
Tak ada maksud terselubung dari pertanyaan tersebut. "Baiklah, Ifa," sahut Rukaya, canggung.
"Ah ya, sampai lupa. Bukankah minggu depan Anak-anak akan ujian nasional? Beberapa soal sudah siap untuk diedarkan. Hanya saja dari pihak Dinas masih menahan soal ujian tersebut. Katanya Pimpinan harus menghadap ke sana dulu." Untungnya Ustad Guntur mencairkan suasana, sehingga tak lagi terjadi ketegangan serta rasa canggung.
"Baiklah, terimakasih," sahut Alvin, singkat.
"Oh iya, Ustad. Malam ini Ustad mau ngajar juga, ya? Atau hanya sekedar jalan-jalan bersama Istri?" goda Guntur.
Tak pelak membuat Rukaya semakin merasa cemburu. Alvin menoleh pada gadis itu, merasa canggung atas pertanyaan salah satu Ustad terbaik di persantren tersebut.
__ADS_1
"Ah ya, permisi. Sepertinya saya harus pamit sekarang. Masih ada sedikit urusan. Assalamu 'alaikum." Rukaya yang tak sanggup menahan diri, akhirnya memilih untuk pamit. Terlalu sakit rasanya bila harus menyaksikan kemesraan pasangan pengantin baru tersebut. Tanpa ia ketahui, bahwa Khalifa merasa bersalah padanya.
Sementara hati Alvin seperti tertusuk duri mawar merah. Sungguh pedih. Ia merasa bersalah pada gadis pujaan hatinya itu.
"Wa'alaikumussalam wa rohmatullahi wabarokaatu," sahut mereka secara bersamaan.
"Ah ya, kebetulan malam ini saya tidak mengajar. Saya hanya ingin menyelesaikan tugas yang kemarin sempat dipercayakan padamu." Kemudian Alvin mengalihkan perhatian semua orang.
"Ayo, kita pergi," imbuh pemuda tersebut, mengajak Khalifa yang masih menyimpan rasa bersalah di hatinya terhadap Rukaya.
"Tadi itu apa? Apa kau sengaja mengulik hidup Rukaya?" Setibanya di ruangan, Alvin mencerca Khalifa. Menghardiknya dengan nada sedikit tinggi. Beruntung di ruangan itu tak ada orang lain.
"Mas, aku tidak sedang mengulik hidup siapapun. Aku hanya ingin tahu sisi lain dari pesantren ini. Aku sangat bahagia kembali menginjakan kaki di sekolah ini setelah sekian lama," jelas Khalifa bersungguh-sungguh.
"Terserah apa katamu. Namun, kau harus ingat satu hal dariku, bahwa kau tidak boleh berinteraksi dengan orang-orang di pesantren ini. Terutama Rukaya, kau tidak boleh mengajaknya bicara. Apa kau paham?" Lihatlah, betapa teganya Alvin terhadap istrinya sendiri. Melarang Khalifa.
"Sebelumnya maafkan aku, Mas. Tapi, tolong jangan salah paham padaku. Aku tahu yang Mas alami saat ini. Namun, aku berani bersumpah atas nama Allah, bila aku tak ada maksud apa-apa." Baru juga beberapa menit menapakan kaki di pesantren itu, Khalifa dan Alvin terlibat perdebatan.
"Rupanya selain munafik, kau juga tukang bohong, ya? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Apa kau pikir aku tidak tahu apa maksud dan tujuanmu menikahiku? Bukankah kau menginginkan pesatrren ini?"
Sumpah demi apapun, Khalifa sangat terkejut pada perkataan suaminya itu. Tidak disangka bila pikirannya sangat picik.
Harus Khalifa akui bila impiannya adalah mendirikan pesantren. Namun, tidak seperti yang Alvin katakan. Khalifa tidak menginginkan pesantren dari Ayah mertuanya itu.
Meski kecil kemungkinan, tetapi Khalifa tidak ingin berpangku tangan. Dia berharap bisa memiliki pesantren dari hasil jerih payanya sendiri. Bukan hasil dari warisan, apa lagi belas kasih dari seseorang. Sungguh itu bukan sifatnya.
"Tidakah Mas Alvin sudah keterlaluan?" lirih Khalifa dengan mata berkaca-kaca.
Ingin rasanya ia menangis sekencang angin, tetapi ditahannya karena tempat yang tidak memungkinkan.
Di dalam pesantren itu, mereka harus terlibat perdebatan yang cukup menyayat hati.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang saja, Mas. Aku tidak ingin melanjutkan percakapan ini di pesantren. Sungguh tak etis rasanya." Kemudian Khalifa memutar badan, hendak pulang ke rumah mertua seorang diri.