
Mendadak Mas Al menepikan mobil di jalan. Tepatnya di bawah pohon kelapa yang daunnya cukup rindang.
Lantas pria itu menatapku aneh. Sulit bagiku untuk menafsirkan maknanya. Entah Mas Al sedang marah, atau justru mengasihaniku.
"Sudah berapa bulan?"
Deg!
Sontak jantungku seperti kejatuhan bom atom yang ujungnya sangat runcing. Pertanyaan Mas Al sungguh membuatku gemetar. Apakah itu artinya dia telah mengetahui ihwal kehamilanku?
"Apa maksud Mas Al? Aku gak ngerti." Pura-pura aku memalingkan wajah ke jendela mobil, seolah pertanyaan itu tak pernah ada.
"Tatap mataku dan katakan, bahwa kau tidak sedang mengandung!"
Duar!
Tembakan Mas Al tepat kena ke ulu hati. Rasanya sungguh tak dapat ku jabarkan dengan kata-kata.
Selalu saja Mas Al tahu apa yang terjadi padaku. Susah payah aku menyembunyikan perihal kehamilan ini, tetapi harus berakhir dengan kejujuran.
Mungkin ini adalah bagian dari rencana Allah yang patut ku ungkap tabirnya.
Allah telah mengutus seorang pria baik seperti Mas Al untuk menjagaku.
Namun, yang ku sesali adalah mengapa bukan Mas Alvin yang memperlakukanku seperti ini? Mengistimewakan diriku bagai wanita solehah.
Sumpah, aku tidak berani menatap mata Mas Al, hingga aku memilih menundukan kepala. Tak sanggup rasanya membohongi lelaki bijak seperti dia.
"Mengapa diam saja? Apa kau membenarkan pertanyaanku? Atau kau sedang mencari-cari alasan lain untuk membohongiku seperti yang kau lakukan pada Abah dan Umi?" cerca Mas Al. sedang aku hanya bisa menundukan kepala sembari menahan pahitnya kegetiran.
"Mas, aku..." Dengan segenap jiwa dan raga, aku memberanikan diri mengangkat kepala. Menatap wajah merah Mas Al yang kian kentara.
Lantas aku kembali menunduk. Terlalu malu untuk mengukir kata dusta lagi dan lagi.
"Ifa, mengapa kau tidak berkata jujur pada kami? Terutama pada Umi dan Abah. Tidakah kau tahu betapa mereka sangat mendambakan kehadiran seorang cucu darimu? Mengapa kau memilih untuk menutupi fakta ini?" tanya Al secara beruntun.
__ADS_1
Sedang aku hanya bisa pasrah menerima cercaan Kakak iparku itu. Sudah terlalu banyak aku menutupi kenyataan yang terjadi. Kini Allah telah membuka segalanya.
"Andai aku tidak mengikutimu pagi itu, mungkin selamanya aku tidak akan tahu soal kehamilanmu," lanjut Mas Al.
Rupanya pagi itu diam-diam Mas Al membuntutiku.
"Kau bahkan sampai tertidur di kursi tunggu." Sontak aku pun mengangkat kepala, menghadap Mas Al yang benar-benar misterius.
Rupanya di balik sikapnya yang dingin belakangan ini, dia mengetahui segala yang ku lakukan.
Tapi mengapa? dan untuk apa? Aku sungguh tidak memahami jalan pikirannya.
"Mas, tolong jangan beritahu siapapun soal kehamilanku. Ini hanya antara kita berdua," ucapku sembari menahan takut.
Ya, aku takut bila Mas Al membongkar cerita yang sengaja ku rahasiakan dari keluarga.
"Termasuk suamimu?" tanya Mas Al.
Mendadak hatiku tercubit saat nama pria yang meluluh lantakan seluruh hidupku tercetus dari bibir Mas Al. Air mukaku pun menjadi sendu. Tak pandai menutupi hati yang kian sakit.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Apa kau tidak bisa mempertimbangkannya kembali? Setidaknya Alvin harus tahu, bahwa ada darah dagingnya dalam tubuhmu, Ifa." Mas Al tampak emosional melihatku yang seolah pasrah menerima cara Mas Alvin memperlakukanku.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Apakah aku harus menunjukan hasil USG bayi ini pada semua orang? Sedangkan Mas Alvin tidak bersedia menerimanya," lirihku.
"Di sisi lain, Rukaya juga mengandung Anak Mas Alvin. Aku benar-benar merasa bingung, Mas," lanjutku.
"Apa kau pernah bertanya pada Alvin soal kehamilan ini? Atau setidaknya kau mendengar jawaban dia, apa," ujar Mas Al.
"Tanpa bertanya pun aku sudah tahu jawabannya. Mas Alvin tidak akan menerima bayi ini," jawabku penuh keyakinan.
"Kau benar-benar egois, Ifa. Bayi itu bukan hanya milik serta tanggung jawabmu. Melainkan harus ada campur tangan Alvin. Kau tidak bisa mengurusnya seorang diri. Apa kau tega melihat Anakmu tumbuh tanpa sosok Ayah? Lalu apa yang akan kau katakan padanya bila kelak ia bertanya?" Mas Al seakan bisa menebak jalan pikiranku.
Bahwa aku tidak akan pernah memberitahu Mas Alvin soal kehamilan ini. Mas Al mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
Dan memang aku berencana ingin bersembunyi dari suamiku.
__ADS_1
Percuma juga bila memberitahunya. Dia tidak akan mengerti. Anehnya, Mas Alvin justru tidak bersedia menceraikanku setelah semua yang terjadi.
"Mas, aku tahu yang aku lakukan ini salah besar. Namun, keputusanku telah bulat. Aku tidak ingin memberitahu Mas Alvin. Anggap saja aku egois dan tak punya hati. Bagiku yang terpenting adalah janin ini harus tetap sehat dan selamat. Itu saja. Aku juga akan mengurus perceraian begitu usai melahirkan," jelasku mantap.
Mas Al tak lagi berkata-kata. Dia memalingkan muka ke arah jendela agar tak ku lihat mimik wajahnya.
Akan tetapi, ku tahu bila dia sedang memendam sesuatu yang bergejolak di dalam hati.
Lelaki baik seperti Mas Al, sangat pantas mendapatkan wanita yang baik pula.
Pernah beberapa kali Mas Al dan Abah serta Umi memanggilku ke dalam kamar. Mempertanyakan keputusanku ihwal poligami Mas Alvin.
Jujur saja, saat itu hatiku bergetar menahan pedihnya luka. Abah tetap kekeh pada keputusannya. Namun, aku terus membujuk agar beliau setuju.
Sebab, Mas Alvin terlihat tak tenang. Setiap hari dia menyalahkanku atas pernikahan ini.
Bahkan menjelang pernikahannya bersama Rukaya, Abah tidak bersedia mendampingi Mas Alvin. Beliau sangat malu menghadapi semua orang.
Pun Umi yang hatinya terluka akibat dari ulah suamiku itu.
Namun, perlahan mulai meredup ketika aku merelakan segalanya. Toh percuma juga aku bertahan, tetap tak ada hasil yang memuaskan.
Mas Alvin tetap tidak menerimaku sebagai istrinya.
Setahun lebih kami bersama, tetapi tak pernah ada tanda-tanda munculnya benih cinta.
"Baiklah, aku tidak akan mencercamu lagi. Namun, kau tidak boleh menyembunyikan apapun itu dariku. Aku akan terus mengawasimu. Ingat, kau tidak sedang berjalan dalam satu tubuh. Melainkan ada nyawa lain yang kau bawa hingga sembilan bulan lamanya," tutup Mas Al setelah keheningan menghampiri kami berdua.
"Terimakasih, Mas. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Mas sangat baik padaku." Akhirnya aku tertunduk menangis pilu.
Lelaki yang bukan siapa-siapa dalam hidupku, justru menjelma bagai Malaikat peneduh hati.
"Kau tidak perlu berterimakasih, Ifa. Sebagai sodara, aku berkewajiban memperhatikanmu. Aku turut prihatin atas apa yang terjadi. Entah apa yang membuat Alvin berubah drastis. Sifatnya sangat mencerminkan sosok Iblis. Kau juga, mengapa kau bersedia menikahi pria bodoh itu? Apa kau begitu tergila-gila padanya? Sampai matamu pun ikut tertutup rapat."
Aku tahu, bahwa Mas Al sedang menghiburku dengan menyudutkan saudaranya. Ini bukanlah bahasa kalbu yang nyata. Melainkan untuk membuatku tertawa.
__ADS_1
"Karena bukan Mas Al yang datang ke rumah saat itu," jawabku dengan senyuman, membalas guyonan Mas Al.