
Bergetar tubuhku, menahan pedihnya. Bagai tersayat-sayat hatiku ini kala mendengar kabar duka yang datang dari rumah sakit kota D.
Mas Alvin mengalami kecelakaan dan sedang menjalani perawatan secara intensif.
Aku yang kondisinya masih belum stabil, seketika rubuh. Hingga tak terasa air mata ini jatuh berderai.
Entah takdir apa yang sedang menimpaku, sampai Allah memberiku ujian bertubi-tubi.
Baru juga menikmati indahnya menjadi seorang Ibu, kini aku harus dihadapkan dengan situasi menyedihkan.
"Rukaya, kau baik-baik saja, Nak?" Beruntung Umi datang tepat waktu. Sehingga mentalku sedikit terjaga.
"Mas Alvin, Umi," lirihku mulai ketakutan.
Ya, aku takut kehilangan Mas Alvin. Meski sadar, bahwa setiap usia manusia telah ditentukan oleh Allah.
Tiada siapapun yang dapat mengobati serta mencegah ajal. Bila saatnya tiba, maka tak akan ada daya dan upaya untuk menarik ulur ajal tersebut.
Hanya sedikit orang yang beruntung mengalami mati suri.
"Tenanglah, Nak. In sya Allah Alvin akan baik-baik saja. Serahkan segalanya kepada Allah," kata Umi, merangkul tubuh ini.
"Umi, sebaiknya kau temani Rukaya di sini. Kami akan ke rumah sakit sekarang." Kemudian Abah dan Mas Al datang ke kamarku.
"Aku ikut!" kataku penuh penekanan.
"Sebaiknya kau di rumah saja, Nak. Kasihan Bayimu jika kau tinggal," ucap Abah, menahanku agar tetap tinggal.
"Tidak, aku tetap harus ikut. Aku ingin memastikan kondisi Mas Alvin. Aku tidak mau berada di rumah ini, sementara suamiku harus menjalani penderitaan seorang diri di sana." Bagai dikejar situasi, aku bersi kukuh ingin ikut.
Aku tidak suka hanya duduk diam di rumah sembari menunggu hasil.
Aku ingin menyaksikan secara langsung bagaimana kondisi suamiku. Setidaknya aku ingin merawat Mas Alvin.
"Benar kata Abah, Nak. Sebaiknya kita di rumah saja. Tidak baik bila kau ikut. Kasihan bayimu. Jika kau memaksa pergi, bukankah dia juga akan merasa?" seloroh Umi, menasehati.
"Maryam akan ikut bersamaku ke rumah sakit. Aku sudah membuat keputusan." Entah mengapa aku bersih kukuh hendak menemui Mas Alvin sore itu. Seolah tak akan ada lagi hari-hari berikutnya.
Duniaku bersama Mas Alvin telah berhenti sampai di sini.
"Rukaya..."
__ADS_1
"Pokoknya aku ingin ikut!" Umi masih mau mengasehatiku, tetapi ku sanggah secepatnya.
Aku sadar, bahwa yang dikatakan mereka memang benar. Tidak sepatutnya aku turut serta meninggalkan Maryam di rumah.
Pun membawa bayi itu ke rumah sakit bersama kami. Namun, hati kecil ini seolah memaksaku untuk segera menemui Mas Alvin.
Entah firasat ini benar atau salah, tetapi aku merasa Mas Alvin akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Maka ku biarkan diri ini bersama Maryam menemuinya.
"Baiklah, kita akan pergi beramai-ramai di rumah sakit. Bersiaplah, kami akan menunggu di mobil." Abah terpaksa mengalah demi aku yang tak ingin ditentang.
Di sisi lain, mungkin juga Abah merasakan hal serupa denganku.
Sepuluh menit kemudian, kami pun berangkat. Mas Al mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sebab, ada Maryam di antara kami.
Di dalam mobil itu, aku sangat gelisah memikirkan Mas Alvin. Entah bagaimana bisa ia mengalami kecelakaan.
Lantas Umi mencengkeram jemari yang mulai berkeringat ini. Seolah hendak memberiku kekuatan lewat sorot matanya.
Aku tahu, di antara semua orang, Umi lah yang paling terpukul. Walau bagaimanapun juga beliau lah yang melahirkan Mas Alvin.
Sesakit apapun perasaan ini, tak akan mampu menyaingi rasa sakit seorang Ibu ketika kehilangan Anaknya.
Satu jam setengah perjalanan, akhirnya kami sampai juga di rumah sakit tempat Mas Alvin menjalani pengobatan.
"Pasien atas nama Alvin Ilham, di ruang berapa?" Setelah tiba, Mas Al langsung bertanya pada salah satu perawat yang jaga kala itu.
"Masih di ruang ICU, Pak. Mohon bersabar, ya?" jawab Perawat berjenis kelamin wanita itu.
Tanpa menunggu waktu lagi, kami langsung ke ruangan tersebut. Sedangkan Maryam digendong oleh Umi.
Jujur saja, bahkan fisikku tak kuat menggendong Maryam setelah mengetahui Mas Alvin mengalami kecelakaan.
Beruntung mental Umi sekuat baja. Sehingga beliau lah yang menggendongnya.
Setibanya kami di ruang ICU, ku lihat kondisi Mas Alvin begitu mengenaskan. Dimana hampir seluruh tubuhnya terdapat selang.
Mas Alvin mengalami patah tulang pada bagian betis, paha, dan tangan. Bahkan tulang pelipisnya pun tidak baik-baik saja.
Sedangkan kepalanya diperban. Hidung Mas Alvin harus dipasang selang oksigen untuk membantu pernapasannya.
Sementara wajah Mas Alvin mengalami luka lebam. Serta ada luka sayatan pada bagian bibir.
__ADS_1
Kata Dokter, Mas Alvin masih belum melewati masa krtis. Dengan kata lain, dia sedang dalam kondisi koma.
Tubuhku pun semakin bergetar. Akhirnya aku jatuh tersungkur di atas lantai.
"Mas Alvin," lirihku pelan.
"Rukaya, tenang lah, Nak. Ingat Bayimu, kasihan dia." Lihatlah, betapa tabahnya hati Umi.
Dalam situasi seperti ini, beliau justru menghiburku alih-alih menangis pilu.
Aku tahu, bahwa hatinya juga berduka. Namun, sekali lagi Umi sangat pandai menjaganya.
"Duduklah di kursi itu," kata Mas Al.
"Mas, apakah Mas Alvin akan baik-baik saja? Aku benar-benar takut," lirihku, bertanya kepada Mas Al.
"Tak ada siapapun yang bisa menjawab pertanyaanmu, Rukaya. Termasuk Dokter. Mereka hanya mengupayakan yang terbaik agar kondisi pasien tetap stabil dan cepat pulih. Selebihnya Allah yang tentukan," jawab Mas Al.
"Aku takut." Sejak tadi hanya dua kata ini yang memenuhi hati.
Firasatku cukup kuat merasakan Mas Alvin yang akan segera tiada.
"Ya Allah, jangan lah Engkau memanggil suami Hamba secepat ini. Sembuhkan lah ia," doaku di dalam hati kala itu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Aku tidak ingin kehilangan dia. Kami baru saja mempunyai keturunan. Bahkan Mas Alvin belum sempat mengajarinya jalan." Air mata ini tak bisa ku cegah. Selalu dan selalu tumpah.
Aku terlalu lemah dalam menghadapi takdir.
"Rukaya, kau jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak, Nak. Andai memang benar Alvin akan meninggalkan kita sekarang, maka itu adalah takdir Allah. Kita tidak boleh menentang kehendak-Nya. Setiap yang bernyawa pasti akan tiada," ucap Abah.
Sejujurnya ini bukan soal tidak menerima takdir Allah, melainkan tentang Khalifa yang telah melahirkan seorang Putra.
Hebatnya, Putra itu adalah milik Mas Alvin.
Ya, pagi tadi tanpa sengaja aku mendengar percakapan Mas Al bersama seseorang melalui sambungan telpon. Tampaknya orang itu adalah Khalifa. Sebab, sempat ku dengar Mas Al menyebut namanya.
Saat itu aku hendak memberitahu Mas Alvin ihwal kabar bahagia tersebut. Namun, ku pikir Mas Alvin masih ada urusan bersama tim dakwahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu Mas Alvin setelah ia sampai di rumah.
Namun, sebelum mengetahui hal tersebut, kecelakaan maut itu telah terjadi.
"Mas Alvin, kau harus tetap sehat, Sayang. Agar kau bisa bertemu dengan Putramu bersama Khalifa," lirihku di dalam hati.
__ADS_1