
Sejatinya pernikahan melibatkan dua orang, yakni antara suami dan istri. Di dalamnya terdapat cinta kasih, rindu, serta komunikasi yang terbuka serta terjalin secara intens.
Pernikahan merupakan simbol welas asih dari Tuhan. Sebab, menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.
Tidak semua orang mencicipi manisnya pernikahan, atau melalui pahitnya bahtera rumah tangga. Sebagian dari mereka ada yang menemui ajal di usia yang masih belia, hingga bertemu jodohnya di surganya Allah. Wallaualam bissawab.
Pernikahan itu ibarat kertas putih kosong, bila kita menulisnya dengan cerita yang menarik lagi epik, dimana di dalamnya tercatat welas asih, cinta, perhatian, serta kepercayaan, maka baik pula kisahnya serta akan mendapat ridhanya Allah.
Sebaliknya, bila kertas itu terisi dengan coretan tinta hitam, cakaran tak terbaca, maka yang terlihat hanyalah noda. Orang-orang akan membaca kisah kita sebagai cerita yang buruk, tak menarik, serta mengecewakan.
Pun yang dialami oleh Khalifa Humaira, kisahnya tak seindah menggoreskan kisah Adam dan Hawa, yang berjumpa lantas jatuh cinta, hingga menempati surganya Allah.
Atau seperti Qais dan Laila yang saling memuja dalam diam, serta ibarat Romeo dan Juliet yang rela bertaruh nyawa demi menyatu dalam ikatan cinta abadi.
Rumah tangga impian yang didambakan tak benar-benar terwujud. Sebab, pemuda yang disangka Abahnya sanggup menjadi Imam soleh bagi dirinya, ternyata masih tak ridha atas pernikahan mereka.
Sebulan telah berlalu, tetapi pernikahan itu masih terasa hambar. Alvin yang kerap meninggalkan Khalifa sendirian, serta merangkai kisah dusta demi mengelabui kedua orang tuanya.
Ironisnya, Alvin meminta dukungan dari Sang istri untuk menutupi segala kebohongan yang ia lakukan. Lantas, kemanakah perginya sikap agung lagi bijak yang selama ini dipegang teguh?
Alvin telah berubah bagai sosok pendusta. "Maaf, Mas. Aku tidak bisa lagi menuruti kebohongan, Mas Alvin. Ini dosa, Mas," ujar Khalifa, menolak permainan suaminnya.
"Bukankah kau jauh lebih berdosa bila menolak permintaan suami?" sarkas Alvin seolah tak berempati sama sekali.
"Permintaan yang bagaimana dulu yang wajib dituruti oleh seorang istri, Mas? Bila mendatangkan kebaikan, maka aku siap berkorban. Namun, tidak dengan berkata dusta. Kita sudah sering membohongi Umi dan Abah," tolak Khalifa.
"Lalu, apa yang kau inginkan sekarang? Apakah aku menginginkan perceraian?" Sontak kalimat itu menghujam jantung Khalifa. Sebulan menjadi istrinya, tak pernah sedikit pun terlintas kata perpisahan, apa lagi perceraian.
__ADS_1
Di sisi lain, amanah mendiang Ibrahim sangat Khalifa junjungi tinggi. Janji itu masih dipegang teguh sampai saat ini.
"Mas, aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Namun, aku juga berada di posisi yang sama sepertimu, Mas. Namun, apakah kita sama-sama berdaya? Tidak kan? Satu lagi, jangan pernah singgung masalah perceraian. Aku tidak suka!" sahut Khalifa emosional.
"Namun, kau bisa menolak permintaan Abahmu saat itu, kan? Lalu mengapa kau tidak lakukan?" sarkas Alvin, melimpahkan semua kesalahan kepadanya.
"Lantas bagaimana denganmu, Mas? Mengapa Mas Alvin tidak menolak perjodohan itu bila menurut Mas kita tak akan bahagia?" Jawaban Khalifa sukses membungkam mulut Alvin. Dia pun sejenak terdiam dan larut dalam pikirannya.
Tidak seharusnya ia melimpahkan segala kesalahan itu kepada Khalifa. Bukankah mereka sama-sama tidak berdaya kala itu? Bukan hanya dia yang merasa dipermainkan oleh takdir, Khalifa pun sama.
"Kau mau kemana?" Kemudian Khalifa hendak keluar kamar, tetapi Alvin khawatir wanita itu mengadu kepada kedua orang tua mereka.
"Aku mau cari udara segar, di sini terlalu sesak!" seru Khalifa, lalu meninggalkan Alvin tanpa menunggu jawaban.
Khalifa meraih kunci motor, lalu mengendarainya melintasi beberapa rumah warga. Kemudian tibalah ia di taman kota.
Serta melimpahkan semua yang terjadi padanya. Sedangkan ia sendiri tidak pernah memaksa Umi Huraira serta Ilham untuk meminang dirinya. Apa lagi meminta mendiang Abah untuk dinikahkan dengan pria asing.
Saat itu Khalifa masih ingin memperdalam ilmu agama, hendak menggapai cita-cita mulia sejak dini.
Takdir sungguh tak adil padanya. Pria itu memperlakukan ia dengan sangat buruk. "Hiks, hiks, Abah. Inikah pria yang Abah sangka baik ahlaknya? Dia menyiksa mental serta batinku," lirih Khalifa, menggigit bibir bawahnya.
hati gadis berparas cantik tersebut hancur berkeping-keping. Suami yang disangkanya dapat memimpin rumah tangga, membawanya ke surga, serta mengajarkan hakekat berumah tangga, nyatanya bertopengkan dusta. Alvin benar-benar tak dapat dipercaya.
Bila ada gadis lain dalam hidupnya, lantas mengapa sejak awal ia tak berkata jujur? Bukankah dia juga berhak menentukan pilihan seperti Abangnya?
"Mengapa wajahmu ditekuk seperti Sincan? Apa kau ada masalah dengan rumah tanggamu?" Di rumah, saat ini Alvin sedang menerima panggilan video bersama Abangnya, Algazali.
__ADS_1
"Bang, aku mesti gimana? Aku sudah cukup berusaha selama sebulan. Katanya cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun, aku tidak merasakan sesuatu yang istimewa dari wanita itu." Alvin menceritakan kelu kesahnya kepada Al terkait pernikahan yang dianggapnya sebagai kutukan.
"Apa kau pernah memberinya kesempatan? Setidaknya cobalah untuk membuka hati, Dek. Barangkali dia lah yang dipilih Allah untuk menemanimu sampai akhir hayat. Lagi pula, kalian sudah menikah, artinya dia lah jodohmu. Suka tidak suka, kau harus terima. Bila kau menolak, artinya kau mengingkari takdir Allah," papar Algazali panjang lebar, menasehati adiknya yang tampak kekanak-kanakan.
Memang benar, bila sebulan masa pernikahan, ia tak pernah memberi Khalifa kesempatan. Hatinya ditutup rapat-rapat. Hanya Rukaya lah yang memegang kuncinya.
"Lalu mengapa dulu kau menolak perjodohan ini? Bukankah seharusnya kau yang menikahi gadis itu? Artinya dia adalah jodohmu, bukannya aku!" sarkas Alvin tak mau kalah.
Entah datang dari mana pemikiran konyol itu. "Mana ada begitu, Dek? Apakah menurutmu adik iparku adalah jodohku yang tertunda? Memangnya kisah kalian seperti sinetron layar terbang? Kau terlalu berpikir banyak, Dek. Just enjoyed your life, Bro. Allah menikahkan kalian, karena Dia tahu, bahwa gadis itu adalah yang terbaik untukmu. Ingatlah, bahwa pria yang baik hanya untuk wanita yang baik pula. Pun sebaliknya."
Algazali jauh lebih dewasa semenjak memperdalam ilmu di negeri kairo. Lihatlah nasehatnya yang sangat bijaksana. Di sisi lain, ia merupakan Abang yang patut menjadi panutan bagi Sang Adik.
"Bang, kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu menginginkan pesantren kita. Dia menikahiku demi itu, Bang." Sungguh Alvin salah menilai istrinya sendiri.
Andaikan ia bersedia mengakrabkan diri dengan Khalifa, atau setidaknya memberi kesempatan kepada gadis malang itu, mungkin ia akan menemukan sejuta kebaikan di dalam sana lewat sorot matanya yang bulat lagi sendu.
Khalifa adalah sosok gadis yang istimewa. Banyak kaum Adam yang tergila-gila padanya. Namun, semua dihempas demi cintanya kepada Allah. Sebab, mereka berasal dari golongan kafir serta munafik.
Tak peduli orang-orang itu berharta lagi bertahta. Baginya, cinta kepada Allah dan Rosulnya lebih utama.
Apalah artinya ketampanan serta uang, bila tak dibarengi iman. Seperti hidup di dunia tanpa tujuan.
"Kau terlalu berpikir jauh, Dek. Ingat, fitnah lebih kejam dari membunuh. Artinya kau telah membunuh karakter istrimu sendiri." Beruntungnya Algazali tak sepemikiran dengan Alvin. Ia tidak yakin bila adik iparnya itu memiliki sifat serakah.
Sedangkan ia melihat Khalifa dari profilnya adalah gadis yang mulia serta beragama. Sangat mustahil bila menjadikan pernikahan sebagai ajang tipu daya.
"Ah sudahlah! Percuma bicara sama Abang. Gak membantu." Sebab tak menemukan solusi dari saudaranya, Alvin memutus panggilan tersebut secara sepihak. Sehingga menyebabkan Algazali geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Rupanya adik yang dahulu ia jaga, masih belum dewasa. "Alvin, Alvin, rupanya kau masih belum berubah juga, Dek," gumam pemuda tinggi itu seraya tersenyum menatap layar ponsel yang bergambarkan potret keluarganya.