Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Pulangnya Algazali


__ADS_3

Alvin terdiam tatkala mendengar pengakuan Khalifa. Pengakuan tulus itu terpampang nyata dalam netranya.


Sialnya, Alvin masih memelihara ego yang tinggi. Sehingga memilih mengabaikan perasaan Sang istri.


Alvin pun memalingkan wajah, tidak siap menatap lebih lama mata Khalifa. Alhasil wanita itu pun semakin kecewa pada suaminya.


Ungkapan kasih yang coba ia sampaikan setulus hati, justru dibalas dengan sikap dingin. Tanpa berkata apa-apa lagi, Khalifa pun meninggalkan Alvin yang masih setia dalam diam.


Kemudian Alvin duduk di tepi ranjang sembari menatap kursi sofa tempat istrinya tidur setiap malam. Ia pun mengusap kasar wajahnya. Hati pria itu menjadi gundah gulana.


Pengakuan Khalifa barusan sukses mempengaruhi hati serta pikiran Alvin. Tadinya ia mau memaksakan kehendak untuk tetap poligami, tetapi mendadak terurung.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana bisa gadis itu jatuh cinta padaku? Dia pasti sedang berhalusinasi," gumam Alvin, menyangsikan pernyataan Sang istri.


"Ya Allah, mengapa aku tidak bisa menahan diri seperti yang sudah-sudah? Bukankah aku selalu berhasil melakukannya?" Di kamar mandi dapur, Khalifa berbicara seorang diri.


Ada rasa malu yang menyelimuti setelah mengakui perasaan. Terlebih lagi melihat Alvin yang memilih tak meresponnya.


"Khalifa, kau harus bisa menguatkan mental," lanjut gadis itu.


Lantas Khalifa membuka cadar untuk membasuh wajah. Namun, ternyata mendadak seseorang datang dan melihat wajah cantiknya.


"Aakk--" Alhasil Khalifa pun berteriak ketakutan.


Ia pun segera mengenakan kembali cadarnya dengan posisi membelakangi orang tersebut.


"Apakah kamu yang bernama Khalifa?" tanyanya. Khalifa menoleh. "Iya, maaf Anda siapa?" sahut gadis itu setelah berhasil mengenakan kembali cadarnya.


"Saya Kakak iparmu, Algazali. Namun, panggil saja Bang Al." Rupanya orang yang tak sengaja melihat wajah cantik Khalifa adalah Algazali, saudara Alvin yang baru saja kembali dari Maroko.


"Maaf, Kak. Saya tidak tahu kalau Kakak akan datang. Bukankah kata Umi Kakak pulangnya nanti bulan depan?" kata Khalifa.


"Iya, tadinya begitu. Cuma Alhamdulillah waktunya dipercepat. Dan aku sudah menyelesaikan studi di sana. Sengaja gak ngomong sama Umi dan Abah, biar dikata kejutan." Rupanya Algazali merupakan tipikal cowok humoris. Lihatlah dari caranya bertutur kata kepada Khalifa. Pemuda itu berani melempar senyuman lebar, hingga menunjukan gigi putihnya.


Sewaktu tak sengaja melihat wajah Khalifa, Algazali benar-benar terpana akan kecantikan adik iparnya itu. Lantas ia pun berpikir, bagaimana bisa gadis secantik Khalifa ditolak oleh Alvin? Ataukah Rukaya lebih cantik darinya?


Namun, bukankah lebih baik cantik iman dan takwa ketimbang fisik yang hanya bersifat sementara?

__ADS_1


"Kak Al!" panggil Khalifa setelah melihat Algazali terdiam sembari menatap wajahnya yang tertutup cadar.


"Ah iya, maaf saya sedikit melamun, Hehe." Lagi-lagi Al menunjukan jejeran giginya.


Ternyata pria itu murah senyum serta mudah akrab kepada siapa saja yang dianggapnya baik.


"Kakak udah ketemu Umi dan Abah?" tanya Khalifa seraya keluar dari kamar mandi.


"Belum, seperti yang aku bilang tadi, ini adalah kejutan," jawabnya.


"Terus, Kakak ngapain ke kamar mandi dapur?"


"Kebelet mau pipis. Hehe."


"Ha?"


Khalifa tercengang karena tingkah Algazali yang terkesan aneh, tapi lucu. Ingin rasanya Khalifa tertawa, tetapi ditahannya.


Ia pun merasa malu, karena harus bertemu Al dalam keadaan sembrono. "Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya? Udah gak tahan lagi."


Kali ini Khalifa benar-benar tertawa karena Al yang langsung masuk kamar mandi dengan menyilangkan kedua kaki.


Ini adalah pertama kalinya gadis itu tertawa setelah delapan bulan menikah. Sialnya, tawa itu justru hadir karena Sang Kakak ipar, bukan disebabkan oleh suaminya.


"Apa yang sedang kau tertawakan?" Ternyata Alvin melihat Khalifa sedang tertawa. Ia pun menghampiri gadis itu. Sehingga mendadak Khalifa terdiam.


Sikap gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat. Khalifa menjadi dingin terhadap Alvin setelah cintanya tertolak.


"Bukan apa-apa, permisi." Bahkan caranya memberi jawaban pun lumayan ketus. Khalifa mengacuhkan suaminya.


"Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!" Alvin mencegat Khalifa dengan memegang lengannya.


Karena melihat respon Khalifa yang seolah mempersoalkan tangannya, maka Alvin pun langsung melepas gadis itu.


Keduanya menjadi canggung. "Katakan apa maumu?" titah Khalifa, dingin tanpa menatap wajah Alvin.


Mendadak Alvin salah tingkah, tak tahu harus berkata apa. "Aku mau makan." Alhasil ia pun mencetuskan perkataan yang tak seharusnya.

__ADS_1


"Kalau lapar ya makan. Di meja makan sudah tersedia semuanya. Tinggal disendok ke piring," sahut Khalifa, bernada menekan.


"Iya, tapi aku ingin--"


"Hei, Alvin!" Belum juga Alvin menyelesaikan kalimatnya, Algazali tiba-tiba keluar dari kamar mandi setelah usai menunaikan hajat.


"Bang Al? Kapan sampai? Kok gak bilang-bilang? Bukannya nanti bulan depan, ya?" Alvin bahagia karena kedatangan saudaranya.


Kakak yang dulu menjadi tempatnya berbagi, kini bergabung kembali setelah sekian lama meninggalkan rumah.


Mereka pun saling berpelukan. Sedangkan Khalifa hanya diam menyaksikan dua pria beda usia tersebut.


"Ini kejutan, Dek. Sengaja gak bilang ke Umi dan Abah, supaya dikata surpresi gitu," papar Algazali dengan bahagianya.


"Oh iya, istrimu sangat cantik," bisik Al kepada Alvin. Sayangnya, bisikan itu dapat didengar oleh Khalifa. Sehingga membuatnya malu. Sebab, selain Alvin, tak pernah ada yang melihat wajahnya di rumah itu. Bahkan kedua mertuanya pun tidak.


Sontak mata Alvin melirik Khalifa yang tertunduk malu. Seperti ada rasa aneh menghinggapi sukmanya.


"Eh, mengapa Abang gak bilang-bilang sih kalo mau ngasih kejutan ke Abah dan Umi? Kan aku bisa menyiapkan sesuatu buat menyambut kedatangan Abang." Alvin tak ingin menanggapi perkataan Kakaknya barusan. Ia memilih mengalihkan pembicaraan. Baginya membahas kecantikan Khalifa bersama pria lain bukanlah suatu kewajiban. Meski hubungan mereka tak pernah akur.


"Kalau aku bagi tahu kamu, itu namanya bukan kejutan, Dek. Melainkan pengumuman. Dan tentu saja bukan lagi kejutan dong. Gimana sih kamu, Dek?" balas Algazali yang sukses membuat Alvin merasa malu.


Betapa tidak, perkataannya barusan seolah menunjukan dirinya yang bego. "Oh iya, saya permisi ke kamar sebentar. Assalamu'alaikum," pamit Khalifa akhirnya.


"Susul istri cantikmu ke kamar, kali aja dia sedang memberimu kode." Sumpah demi apapun, Alvin merasa malu atas ucapan Abangnya itu.


Disangkanya hubungan mereka harmonis seperti pasangan yang lain. "Bang Al apaan sih? Gak lucu tahu," sahut Alvin malu-malu.


Jujur saja, pambahasan mengenai hubungan suami istri, masih sangat tabu di kuping Alvin. Kendati statusnya telah naik ke level suami.


"E... yang sedang ngelawak, siapa? Emang istri kamu cantik kok?" Lagi-lagi Algazali menyinggung soal fisik Khalifa. Sehingga Alvin merasa sedikit kesal. Ia tidak suka saat saudaranya itu membahas kecantikan Sang istri. Apakah itu artinya Alvin merasa cemburu terhadap Al? Entahlah.


"Emang Abang lihat wajah istri saya? Dia kan pakai cadar, Bang." Suatu keajaiban, dimana untuk pertama kalinya Alvin mengakui Khalifa sebagai istri. Apakah akan ada pertanda baik?


"Hehe, tadi tidak sengaja aku melihat wajahnya. Mungkin dia mau membasuh muka, tahu-tahunya aku muncul, karena kebelet pipis," ungkap Algazali sejujurnya.


Alhasil hati Alvin lagi-lagi merasa kesal. Namun, apa yang sedang ia kesalkan? Bukankah dia tidak pernah menerima Khalifa sebagai istrinya? Bahkan baru saja ia menolak cinta wanita tersebut. Lantas apa yang harus dipersoalkan?

__ADS_1


"Ah iya, saya ke kamar sebentar ya, Bang. Baru ingat kalau ada yang harus diselesaikan." Mendadak Alvin meninggalkan Al.


"Hu... bilang saja kalau mau bertemu istri. Pakai alasan klasik lagi," gumam Al setelah Alvin meninggalkan dirinya.


__ADS_2