Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Maut


__ADS_3

Aku memang tidak bisa mengembalikan keadaan menjadi seperti dulu lagi.


Adalah hak Khalifa bila ia hendak menikah lagi dengan lelaki pilihan hatinya.


Aku tak berkewajiban untuk menahan, apa lagi marah.


Kami hanya sebatas mantan. Sedang kami telah memiliki kehidupan masing-masing.


Kini aku belajar untuk ridha serta berdamai dengan keadaan.


Hati yang terluka, perlahan ku perban agar tak kembali berdarah apa lagi bila sampai infeksi yang berkepanjangan.


Inilah yang memang seharusnya ku lakukan. Merelakan Khalifa tanpa harus mengusik hidupnya.


Puas sudah ku menatap dari kejauhan. Kini tidak akan ku lakukan lagi. Sebab, ujungnya hanya akan membuat hati terasa sakit.


Setulus hati aku mendoakan Khalifa agar cepat dikarunia jodoh dari Allah yang berahlak mulia. Tidak menyia-nyiakan dirinya.


Menghormati serta mencintainya setulus hati. Dan yang paling penting adalah tidak poligami seperti yang ku lakukan terhadapnya.


Sudah cukup dia menderita. Kini waktunya menebar senyuman bahagia.


Demi Allah, aku telah ikhlas. Kini aku hendak memperbaiki rumah tanggaku bersama Rukaya.


Seperti kata Bang Al, bahwa bila aku tidak berhasil menjadi suami Khakifa, setidaknya aku mampu memperbaiki diri dengan menjadi suami bertanggung jawab terhadap Rukaya serta bayi kami, Maryam.


"Selamat tinggal, Ifa. Doaku menyertaimu. Maafkan aku yang telah menyakitimu selama ini." Masih menatap Khalifa dari kejauhan. Tak terasa air mata ini jatuh berderai membasahi pipi.


Namun, kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata penuh doa kepada Allah. Mengharapkan masa depan yang lebih cerah untuk wanita di ujung sana.


Tadinya aku berencana menemui wanita itu secara langsung, tetapi aku sungguh malu.


Tak sepatutnya aku mengusik dia. Benar katanya, bahwa akan banyak pasang mata yang melihat kami. Lantas selanjutnya terjadilah fitnah di mana-mana.


Sudah jelas nama baik Khalifa yang akan menjadi sasaran empuk para netizen yang maha benar dengan segala komentarnya. Sedang aku harus balik ke dalam rumah tanggaku yang baru. Bukankah ini tak adil untuk Khalifa?


Setidaknya, ini lah hal terbaik yang ku lakukan untuk wanita baik itu. Dengan tidak menemuinya, berarti aku telah melindunginya secara tak langsung.


"Aku pamit, Ifa. Assalamualaikum." Inilah kali terakhir aku menginjakkan kaki di kota Khalifa. Setelahnya...


Duar! Brak! Kedubrak! Brak!


Mobilku mengalami kecelakaan saat menuju jalan pulang.

__ADS_1


Efek melamun, hingga konsentrasiku terganggu.


Ku rasa pening pada bagian kepala. Ada darah kental yang mulai bercucuran menutupi sebelah mataku.


Kehadiranku masih terjaga, hanya saja pandangan ini mulai bulam.


Ku lihat orang-orang mulai berdatangan menghampiri mobilku yang dalam posisi terbalik.


Entah hewan apa yang ku lihat tadi, hingga membuatku salah pilih jalur.


"Ayo bantu dia. Sepertinya dia luka parah." Samar-samar aku mendengar suara para warga yang telah mengkerumuniku.


Sekali lagi aku masih menjaga kesadaran agar tetap stabil. Namun, sepertinya luka yang ku derita cukup parah, hingga aku pun rubuh tak berdaya.


Dapat ku merasakan tubuhku dibopong segerombolan orang. Lantas aku pun seperti melayang.


Mungkin saja ada orang baik yang membawaku ke rumah sakit.


Ya Allah, jika memang ini adalah akhir dari hidupku, maka ampunilah aku ya, Allah. Telah banyak dosa yang ku perbuat. Setidaknya di akhir hayat aku diberi kesempatan untuk bertobat. Doaku dalam hati kala itu.


Kemudian aku merasakan uratku seperti digigit semut. Mungkin saja jarum suntik menusuk kulit ini.


Lama-kelamaan aku masuk ke dalam alam mimpi.


Namun, sedetik kemudian beliau pun terisak pilu. Mungkinkah Abah Khalifa merasa kecewa kepadaku? Sebab, ku perlakukan Putrinya yang dibesarkan susah payah dengan sangat jahat.


Aku tidak amanah pada pesan beliau. Padahal dahulu aku sempat memberinya keyakinan, seolah tidak ada perbuatanku yang lalai.


"Anakku, Anakku. Hiks, hiks, hiks." Lantas Abah pun melambaikan tangan, menanggilku sembari menangis.


Kaki ini pelan-pelan melangkah ke arahnya. Lalu meraih jemari dingin Abah.


"Assalamu'alaikum, Abah," ucapku penuh sesal.


"Mengapa kau datang menemuiku, Nak? Ini bukan tempatmu," kata Abah saat itu.


"Karena aku ingin meminta maaf secara langsung kepada Abah," jawabku berwajah sendu.


"Lalu bagaimana dengan Khalifa dan Putra kalian?" Pertanyaan kali ini sukses membuatku kebingungan.


Entah jawaban apa yang harus ku beri pada beliau. Sedangkan kami tak mempunyai keturunan sama sekali.


Ditambah lagi aku telah menjatuhkan talak kepadanya Khalifa. Sungguh aku tak tega menyakiti perasaan Abah.

__ADS_1


"Tolong maafkan aku, Abah. Aku tidak amanah dalam menjaga janji. Aku telah lalai, dan aku telah banyak melakukan perbuatan dusta," lirihku sembari menundukan kepala.


"Tidak, Nak. Kau sangat amanah." Entah apa maksud dari perkataan Abah Khalifa. Tatapan beliau seolah mencerminkan cinta untukku. Sedang telah ku patahkan hati Putrinya berulang kali.


Mungkin seperti inilah cara kerja Allah menunjukkan cinta-Nya kepada setiap hamba yang mau bertobat.


Seperti yang kita ketahui, bahwa Allah maha pengampun.


"Mengapa Abah berkata demikian? Bukankah Abah telah menyaksikan bagaimana aku memperlakukan Putri Abah selama ini?" tanyaku saat itu.


"Aku tahu, tetapi sebaik-baiknya pengampunan, itu adalah milik Allah. Manusia tidak memiliki kuasa untuk itu. Jika Allah bersedia memaafkanmu, lantas mengapa aku tidak?"


Maa sya Allah, jawaban Abah sungguh menyentuh kalbu.


"Kembali lah, Nak. Temui keluargamu, ucapkan selamat tinggal kepada mereka. Maka aku menunggumu di sini," ucap Abah.


"Tidak, aku tidak akan kemana-mana. Biarkan aku menemani Abah sekarang saja. Di sana sangat dingin." Aku menolak perintah Abah.


Entah mengapa aku merasa sangat betah duduk berdua bersama Abah Khalifa.


Bila ku pandangan senyuman tulusnya, membuatku terenyuh. Inikah orang tua yang dulu ku sia-siakan kepercayaannya?


"Baiklah, bila itu yang kau inginkan. Kita akan menetap di tempat ini bersama-sama. Abah akan memberimu singgasana. Duduk lah di sana, aku akan menuntunmu." Abah mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kursi berwarna kuning keemasan.


"Apakah itu..."


"Iya, itulah tempatmu, Nak. Kau berhak mendapatkannya." Ku lihat kursi itu berada di atas puncak, dimana kedua sudutnya terdapat mutiara putih.


Benda itu memancarkan kilau, hingga pandangan ini sedikit terganggu.


"Benarkah itu milikku?" tanyaku tak yakin.


Pasalnya kursi itu terlalu indah untuk ku tempati. Aku tidak layak me dapatkannya.


"Percayalah, bahwa kursi itu adalah milikmu. Telah lama Abah menantimu di sini. Sekarang waktunya telah tiba. Kau akan memimpin kami semua yang ada di sini."


Lantas aku pandanganku mengitari tempat kami berada. Tiba-tiba muncul orang-orang dengan memakai jubah putih.


Mereka berjalan ke arahku sembari melempar senyuman. Kemudian mengucapkan, "Assalamu'alaikum."


Tidak ada satu pun yang ku kenal di antara orang-orang tersebut selain Abah Khalifa.


"Waa'laikumsalam warohmatullahi wabarokaatu."

__ADS_1


__ADS_2