Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Akhirnya Aku Tanu Isi Hati Mas Al


__ADS_3

Aku memang bukan istri yang sempurnah, lagi bijaksana. Sebagai seorang Ibu, jelas aku butuh Ayah dari Anakku.


Namun, bila kejadiannya seperti ini, sekiranya apa yang harus ku lakukan?


Malam itu ku lewati dengan penuh kecemasan. Seolah waktu berhenti di menit itu juga.


Ku rasakan getaran yang begitu hebat, tatkala suara monitor ruang ICU berbunyi kencang, menandakan tanda vital Mas Alvin tengah bermasalah.


Para tim Dokter pun berdatangan untuk memeriksa kondisi suamiku.


Hati ini semakin gelisah, takut terjadi apa-apa. Dalam hati menguntai doa setulus hati untuk kesembuhannya. Sekiranya Allah memberi mukjizat kepada kami.


"Dokter, bagaimana kondisi Putra saya?" Satu jam kemudian, para tim Dokter pun keluar dari ruang ICU.


"Berdoa saja ya, Pak. Kami tidak bisa memberi harapan." Bahkan para Dokter pun tidak berani memberi kami harapan.


Namun, ku lihat raut wajah mereka seolah menggambarkan ketegangan, tetapi masih tetap stabil.


Lama aku terdiam menyaksikan orang-orang itu, lantas aku beralih pada Maryam yang tertidur pulas dalam gendongan Umi.


"Rukaya, sebaiknya kita menginap di hotel depan rumah sakit ini. Kasihan bayimu, Nak." Sejak tadi Umi mencemaskan kondisi Maryam.


"Baiklah." Dan aku tidak ingin egois dengan mengorbankan kesehatan Putri kecilku. Akhirnya aku pun mengalah.


"Aku sudah memesan kamar untuk kalian setelah sholat maghrib tadi. Ini kuncinya." Saking takutnya, bahkan aku pun tidak menyadari, bahwa Mas Al telah menyiapkan tempat untuk kami beristirahat.


"Nanti aku dan Abah yang akan menemani Alvin di sini. Kalian pergi lah, jaga diri," imbuh Mas Al.


Sejujurnya banyak hal yang ingin ku bahas bersama Mas Al ihwal Khalifa dan Putranya.

__ADS_1


Akan tetapi, tenagaku seolah masih belum mengizinkan. Pun perasaan ini. Semua yang terjadi begitu mendadak. Sehingga membuatku tak tahu harus berbuat apa.


Ditambah lagi kondisi Mas Alvin yang belum stabil. Andaikan ia telah melewati masa kritis, mungkin kami bisa sedikit tenang. Sayang, hal itu belum terjadi. Bahkan Dokter pun tidak berani mengambil kesimpulan.


"Beri lah asimu untuk Maryam, Nak. Sejak tadi dia belum minum apa-apa," kata Umi, menyadarkanku dari lamunan ini.


Beruntung Maryam tidak rewel. Mungkin dia tahu, bahwa mental Ibunya belum stabil. Pun Ayahnya yang baru saja mengalami kecelakaan.


"Iya, Umi." Bibir ini seakan berat untuk berucap. Yang ada hanya ingin menangis dan menangis.


Kami tidak pernah mengalami hal seburuk ini sebelumnya.


Sejujurnya yang membuatku sedih adalah bukan hanya karena kecelakaan itu, melainkan Mas Alvin yang masih belum tahu, bahwa ia mempunya Putra dari Mba Khalifa.


Aku hanya berharap, semoga Allah memberi Mas Alvin kesempatan untuk bertemu mereka. Setidaknya hal itu akan membantu membangkitkan semangat hidupnya yang kian hampa.


Keesokan harinya, aku dan Umi telah bersiap untuk ke rumah sakit. Menengok Mas Alvin yang masih belum sadarkan diri.


Pagi ini kondisi psikisku lumayan stabil. Sehingga mudah bagiku untuk mencerna kata-kata.


"Katakan lah apa yang hendak kau sampaikan padaku. Bukankah tadi kau bilang ingin bicara?" tanya Mas Al.


Ada rasa cemas saat ingin mengajukan pertanyaan ihwal Mba Khalifa. Namun, sepertinya aku tidak bisa menahan diri lebih lama. Cepat atau lambat segalanya akan ketahuan.


"Benarkah Mba Khalifa mempunyai Putra bersama Mas Alvin?" tanyaku hati-hati.


Ku lihat wajah Mas Al tampak datar, seolah pertanyaan ini telah ia tebak sejak awal.


Di sisi lain, seperti yang ku ketahui, bahwa Mas Al sangat pandai mengendalikan perasaan. Ia sulit untuk ditebak.

__ADS_1


"Apa kau mendengar percakapanku bersama Khalifa tempo hari?" Alih-alih menjawab, Mas Al justru balik mengajukan pertanyaan.


"Sebelumnya maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud menguping percakapan kalian. Aku tidak sengaja lewat dan mendengar Mas Al membahas soal Mba Khalifa dan Putranya. Awalnya aku masih belum yakin. Namun, setelah Mas mengatakan, bahwa Mas Alvin harus tahu keberadaan bayi itu, maka di situlah aku percaya, bahwa Mba Khalifa telah melahirkan Putra Mas Alvin," ungkapku.


"Sejujurnya aku tidak berhak membahas masalah ini denganmu. Namun, karena kau sudah tahu, maka dengarkan aku baik-baik." Mas Al menghadap ke langit, lantas menatap pohon di depan kami.


Kemudian ia pun kembali berujar, "Khalifa tidak ingin siapapun tahu soal bayinya."


"Mengapa begitu? Bukankah Mas Alvin juga berhak tahu? Walau bagaimanapun juga dia adalah Ayah dari Bayi itu." Pernyataan Mas Al sontak membuatku terperanjat. Betapa tidak, selama ini Mba Khalifa sengaja menyembunyikan fakta itu dari kami, terutama dari Mas Alvin.


"Khalifa mempunyai alasan di balik keputusannya itu. Baik aku maupun kau, tidak berhak untuk menghalanginya. Khalifa telah memikirkan secara matang. Dia buka tipe wanita gegabah dalam mengambil keputusan. Dia tidak terburu-buru. Sejak awal dia tidak berniat untuk bersembunyi. Namun, tahu kah kau penderitaan yang dialami oleh wanita malang itu karena keegoisan kalian berdua?"


Kata-kata Mas Al seolah menamparku. Sehingga aku tertunduk malu sekaligus merasa bersalah.


Hari ini aku menuntut kejujuran pada wanita yang telah ku sakiti itu. Tanpa ku sadari, bahwa aku lah alasan dibalik jalan yang ia tempuh.


"Tanpa memikirkan perasaan Khalifa, kalian bahkan mengabaikan kesejahteraannya. Hari ini kau mempertanyakan alasan di balik jalan yang ia pilih, besok kau akan menyesali perbuatanmu. Aku tidak bermaksud menyinggung masalah rumah tangga kalian. Sebab, aku hanyalah orang luar. Namun, ketahui lah, bahwa keegoisan itu telah membawa petaka. Seorang istri harus kehilangan suaminya. Seorang Bayi harus kehilangan kasih sayang Ayahnya. Jika kau menuntut keadilan kepada Alvin, lantas bagaimana dengan Khalifa yang sengaja kalian hancurkan hatinya?


Maaf, tapi aku tahu, bahwa diam-diam kau cemburu pada Khalifa, karena Alvin kerap menyebut namanya, merindukan dirinya, serta menyanjung ahlaknya. Namun, sadarkah kau, bahwa karenamu lah mereka harus berpisah. Aku tahu ini bukan hanya tentang kau, melainkan tentang Alvin yang gagal menjadi seorang pemimpin. Dia tidak sanggup membimbing kalian berdua. Sehingga Khalifa lah yang menjadi korbannya.


Rukaya, aku tidak memintamu untuk memahami Khalifa. Namun, sebagai sesama wanita, bukankah seharusnya kau bisa merasakan hal serupa bila berada dalam posisinya? Beruntung lah kau yang masih ditemani suami sewaktu melahirkan Maryam. Sedangkan Khalifa harus berjuang seorang diri di ruang bersalin.


Seorang Ayah harus mengumandangkan adzan ketika anaknya lahir. Akan tetapi, Khalifa tidak seberuntung dirimu, pun seperti wanita lain di luar sana. Dia menahan sakit sendirian. Saat ia mulai lelah, senyuman Putranya lah yang dijadikan obat sebagai pelipur lara.


Alvin baru menyadari perasaannya setelah perceraian itu terjadi. Dia terlihat putus asa. Aku sangat kasihan padanya, tetapi aku juga kecewa terhadapnya. Begitu juga denganmu. Itu lah sebabnya aku tidak bisa menerima keberadaan kalian di dalam rumah itu. Andaikan Alvin tidak curang, maka aku ridha. Sayangnya, kalian mengukir senyuman di balik tangis Khalifa."


Hari ini Mas Al mengutarakan isi hati yang selama ini dipendamnya.


Apakah aku marah? Tentu saja tidak, karena setelah mengetahui fakta itu, aku semakin mengucap syukur. Setidaknya aku tahu apa pendapat Mas Al tentangku. Sehingga aku bisa mengoreksi diri.

__ADS_1


Mungkin sudah terlambat, tetapi aku tidak akan menyerah untuk meminta maaf kepada Khalifa.


__ADS_2