
Tiada hidup tanpa ujian. Meski demikian, Allah melarang Hamba-Nya untuk mengeluh.
Dan ketahuilah, bahwa Allah tidak akan menguji setiap hamba-Nya sampai luar batas kemampuan mereka.
Ada banyak manusia yang jauh lebih menderita dibanding diriku.
Mungkin aku hanya tak beruntung dalam urusan rumah tangga, dan di situlah letaknya ku diuji.
Allah membolak-balikan hati ini, menghajar mentalku habis-habisan. Merenggut wanita yang telah melahirkanku sejak pertama kali hadir di dunia ini.
Kemudian berselang dua puluh tahun lebih, Dia pun memanggil Abah.
Dan sekarang suamiku yang diyakini dapat menjadi Imam bagiku.
Apakah aku menyesal telah menikahi Mas Alvin? Tentu saja tidak, karena dari pernikahan itu lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki ke dunia ini yang ku beri nama Muhammad Reyhan Sauqi yang berarti hadiah dari Tuhan yang penuh kasih sayang.
Saat itu aku masih belum menyelesaikan tugas mengajar.
Bibir ini masih tengah asik melantunkan sholawat Jibril seperti biasa yang kami lakukan.
Tiba-tiba saja aku merasa perut ini mengejang mengeras. Seperti isi di dalam hendak keluar.
Aku pun merasa kesakitan, hingga para Santri mulai riuh. "Ustadza, apakah Anda baik-baik saja?" Amina, salah satu Santriku bertanya cemas begitu melihatku memegang perut.
"Tolong bantu aku," ucapku dengan suara yang mulai terbata-bata akibat dari menahan sakit.
Sementara para Santri pria sudah mulai keluar ruangan, karena merasa tak pantas menyaksikanku yang bukan mahramnya.
Namun, ada pula dari mereka yang memberitahu tenaga pengajar lain, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
"Ustadza, sepertinya baju Ustadza basah. Apakah ini air kencing?" Aminah yang masih sangat polos untuk urusan kehamilan, tentu saja tidak tahu, bahwa cairan yang baru saja ia lihat itu adalah air ketubanku yang telah pecah.
"Tolong panggil ambulan," lirihku sembari menahan sakit.
Sungguh rasanya tak dapat ku jabarkan dengan kata-kata.
Mungkin seperti inilah saat mendiang Umi melahirkanku. Seakan nyawa ini hendak keluar dari ragaku.
Lima belas menit kemudian, beberapa Ustadza datang ke ruangan untuk membantuku. Lantas membawaku ke rumah sakit tanpa menunggu ambulan datang lagi.
Bila harus menunggu ambulan datang, entah apa jadinya aku di pesantren kala itu.
Selama empat jam mengalami sakit yang luar biasa, akhirnya pembukaan itu telah mencapai sempurnah. Maka lahirlah seorang bayi mungil yang bersuara merdu ke dunia ini.
Hatiku sontak bergetar hebat. Tak ku sangka bila aku telah menjadi seorang Ibu setelah berjuang melawan maut di ruang bersalin.
__ADS_1
Alhamdulillah Allah memudahkan segala urusan serta jalanku.
Allah tidak mencabut nikmatnya melahirkan, serta memberiku anugerah terindah sepanjang hidup ini.
Bayi itu sangat tampan dan bersih. Tak ada satu kekurangan apapun.
Alhamdulillah fisiknya sempurnah, serta organ tubuhnya baik-baik saja.
Lantas Mas Al mengumandangkan adzan di telinga Putraku.
Aku sangat heran, mengapa Kakak iparku itu selalu muncul di saat-saat tergenting seperti ini. Sedang aku tak memberitahu dia sama sekali.
"Umi, Paman, mengapa Mas Al bisa ada di rumah sakit ini? Bukankah aku tidak memberitahu dia tentang kondisiku?" Aku bertanya pada Umi dan Paman Yusuf.
"Kami tidak memberitahu dia, Nak. Kami pikir kau yang memberitahunya." Sontak aku semakin heran. Sebenarnya siapa yang memberitahu Mas Al terkait persalinanku.
Sedang ponsel pun masih belum ku pegang sejak tadi. Atau mungkin saja Mas Al mempunyai informan khusus memantau diriku. Entahlah.
"Ifa, lihatlah Putramu. Dia sangat tampan." Tak lama kemudian Mas Al pun datang dengan menggendong bayiku.
Sungguh netra ini berdecak kagum memandangnya. Dia yang tak ada hubungan nasab denganku, justru berbelas kasih.
Sementara pria yang masih berstatuskan suamiku tak pernah sekalipun menghubungiku. Dunia benar-benar sudah terbalik.
Lantas aku mengambil alih Putraku yang masih merah itu dari tangan Umi setelah tadi beliau mengambil alih dari gendongan Mas Al.
"Barakallahu laka fil mauhubi laka wasyakartal-wahiba wa balagha asyuddahu wa ruziqta birrohu." Umi melantunkan doa untuk bayiku yang baru lahir.
Lalu aku pun menjawabnya, "Barrakallahu laka wa baraka 'alaika wa jazakallahu khairan wa razaqallahu mitslahu au ajzalallahu tsawabaka. Aamiin."
Kemudian aku meniup wajah bayi mungil yang sangat imut itu.
Jujur saja, wajah bayiku sangat mirip Mas Alvin. Namun, konon katanya wajah bayi masih sering berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Mungkin saja setelah beberapa bulan akan lebih mirip mendiang Abah.
Dari mata, hidung, rambut, sampai kulit, seluruhnya menyerupai Mas Alvin. Apalah daya aku yang hanya melahirkan saja, tetapi tak ada satu pun ciri fisik yang ku wariskan untuknya.
"Mas Al tahu dari siapa aku di sini?" tanyaku penasaran.
Tadinya aku tak ingin mengajukan pertanyaan ini, tetapi hatiku tak tenang. Sebab, ada banyak pasang mata yang menyaksikan kami. Terlebih lagi saat Dokter yang menanganiku bersalin mengira Mas Al adalah suamiku.
Mendengar itu pun sontak hatiku tercubit. Ada banyak ribuan perasaan tak enak menghinggap, hingga ingin rasanya aku menggulung bumi ini dan menghilang dari peredaran.
Aku bukannya tak menyukai atau tak menghormati Mas Al, hanya saja seperti yang aku khawatirkan selama ini, bahwa hubungan kami pelan-pelan pasti akan menimbulkan fitnah.
Oleh sebab itu, sebelum terjadi aku pun memilih untuk menghindari.
__ADS_1
"Tadi aku sedang mengunjungi salah satu teman lama di sini, ternyata tanpa sengaja aku melihatmu masuk ruang bersalin. Jadi, aku memutuskan untuk menemuimu. Maaf jika aku telah melanggar perjanjian kita," jelas Mas Al.
Aku menatap dalam-dalam mata Mas Al, berusaha untuk mencari kebohongan di sana. Namun, tak ku temukan.
Entah mengapa aku seperti meragukan pernyataan Mas Al. Akan tetapi, dia begitu meyakinkan.
Aku tahu, pasti Mas Al sedang menyembunyikan sesuatu dariku selama ini.
"Begitu rupanya." Meski ragu, tetapi aku memilih untuk percaya padanya. Bila aku mendesak, bukankah justru akan menimbulkan huru hara?
Ada banyak pasang mata yang menyaksikan kami berdua
"Siapa namanya?" tanya Mas Al.
"Muhammad Reyhan Sauqi," jawabku.
"Maa sya Allah, nama yang indah," ujar Mas Al.
Untuk beberapa saat keheningan menghampiri kami berdua. Sedangkan Paman Yusuf dan Umi masih berada di luar. Tadi ada Perawat yang datang, katanya soal administrasi.
"Ifa, apa kau masih tidak ingin Umi dan Abah tahu soal kau dan bayimu?" tanya Mas Al setelahnya.
Jujur saja, hatiku iba tatkala nama kedua mertuaku disebutnya. Aku tahu telah egois terhadap mereka. Aku sudah tak adil, tetapi hatiku masih saja sempit.
Perlakuan Mas Alvin terhadapku berimbas pada hubunganku bersama Umi dan Abah.
Demi Allah, aku tidak membenci mereka. Hanya saja bila Umi dan Abah tahu soal bayiku, maka otomatis Mas Alvin juga akan tahu tentang kami.
"Maafkan aku Mas, mungkin lain kali saja. Untuk saat ini aku masih belum bisa memberitahu siapapun dari pihak Mas Al." Aku tahu jawabanku ini membuat Mas Al tak puas hati. Namun, apalah daya aku yang masih saja menutup diri.
Sulit bagiku untuk menengok ke belakang lagi dan lagi.
Tadinya aku ingin hidup tenang, serta jauh dari hiruk pikuk kotaku. Jauh dari Mas Al yang selalu saja tahu aku di mana, ingin butuh apa, serta sedang apa.
Namun, siapa sangka bila akhirnya dia hadir di saat-saat penting seperti ini.
Padahal mengingatnya pun tidak pernah. Aku hanya memikirkan bagaimana aku dan bayiku sehat serta selamat.
"Lalu Alvin? Apakah kau juga tidak ingin memberitahu dia?" tanya Mas Al hati-hati.
"Jika dia tahu, apakah Mas Al yakin bila Mas Alvin akan menerima bayi ini? Dia bahkan tidak pernah menginginkannya. Selama aku di sini, tak sekalipun dia menanyakan kabarku. Hanya Umi dan Abah yang peduli. Dulu aku memintanya untuk bercerai, tetapi dia menolak. Aku pikir setelah menjauh darinya, setidaknya ada setitik rindu untukku. Namun, sepertinya aku terlalu berpikir jauh," lirihku sembari tersenyum getir.
Sakit hati yang ku rasa terhadap Mas Alvin, seolah tak pernah habis. Selalu datang lagi dan lagi.
Entah sampai kapan aku begini. Mungkin setelah Allah menggerakkan hatiku yang terkunci.
__ADS_1