Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Jatuh Sakit


__ADS_3

Setelah meninggalkan Mas Alvin, tiba-tiba Mas Al mengejutkanku. "Ifa," ucapnya.


"Astagfirullah, Mas Al. Sedang apa di sini, Mas? Kok seperti seseorang yang bersembunyi?" tanyaku seraya memegang dada yang berdegup kencang.


"Ada yang ingin ku sampaikan padamu."


"Silahkan, katakan saja ada apa, Mas?"


"Mengenai masalahmu dengan Alvin, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat hubungan kalian semakin memburuk. Sebenarnya aku tidak berencana  mengajakmu ke pesta pernikahan itu, karena aku sangat mengenalmu. Kau tidak mungkin berani melangkah keluar rumah sebelum mendapat restu dari suamimu. Hanya saja tadi aku sengaja ingin tahu reaksi Alvin jika aku mengajakmu. Apakah dia masih peduli padamu atau justru memilih untuk mengabaikan yang ku lakukan. Namun, ternyata dia masih peduli padamu, meski telah mempunya istri yang lain. Aku sangat bersyukur untuk itu."


Sudah ku duga, pasti Mas Al sengaja mengajaku ke pesta karena hanya ingin mengetahui reaksi Mas Alvin bila kami memutuskan untuk jalan berdua.


Aku sangat mengenal Kakak iparku ini. Meski humoris serta welcome terhadapku, tetapi dia selalu menjaga jarak serta martabatnya. Mas Al bukan seseorang yang salah menggunakan status atau kasih sayang.


Perasaannya terhadapku adalah murni selayaknya Adik dan Kakak. Di sisi lain, Mas Al tahu, bahwa bila kami memutuskan pergi berdua, tentu saja akan menimbulan fitnah. Sebab, kami memang bukan satu mahram. Hubungan kami terjalin hanya karena adanya pernikahan antara aku dan adiknya.


"Aku tahu, Mas. Tadi Mas Al melihat Mas Alvin di pintu samping sebelum mengatakannya, bukan?"


"Alhamdulillah kau paham maksudku. Aku hanya ingin Alvin membagi rata waktu serta kasih sayangnya denganmu. Aku tidak ingin dia menjadi suami yang dzolim dengan menyakiti salah satu istrinya." Dalam hati aku mengucap syukur, di balik penderitaan yang ku alami, Allah masih menyisakan orang baik untuk mencintaiku setulus hati. Seperti kedua mertua serta Kakak iparku.


"Tolong kau jangan salah artikan maksud dari perkataannya tadi. Aku sempat mendengar perdebatan kalian. Dia mengatakan banyak hal menyakitkan, karena dia tidak ingin orang-orang bergunjing tentangmu. Alvin ingin menjaga martabatmu sebagai istrinya," imbuh Mas Al.


"Iya, Mas. Aku tahu, terimakasih telah memberitahuku," balasku.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kau istirahat. Jaga kesehatan, em?"


"Baik, Mas. Syukron."


Salah satu yang sangat ku sukuri dari segala peristiwa yang terjadi, aku dikelilingi orang-orang baik. Termasuk Rukaya, hanya karena status yang membuat kami seperti orang asing. Jujur di lubuk hati terdalam, aku tidak membencinya.


Malam harinya, seluruh anggota keluarga pergi ke pesta pernikahan Ustadza Zaenab. Namun, mendadak aku jatuh sakit. Alhasil aku pun tak turut serta.

__ADS_1


"Apa tidak masalah bila kau sendirian di rumah? Atau sebaiknya Umi tidak usah ikut mereka?" Sebelum berangkat, Umi menemuiku di kamar. Beliau mendapatiku dalam keadaan lemas tak berdaya.


Entah mengapa aku merasa kondisiku semakin hari semakin memburuk. Entah apa yang terjadi pada tubuh ini. Semua makanan yang ku cicipi terasa hambar dan itu sukses membuatku tersiksa.


"Aku baik-baik saja, Umi. Umi pergilah, kasihan Abah dan yang lainnya sedang menunggu di luar," lirihku seraya menahan sakit pada bagian perut serta kepala.


"Yakin kamu tidak apa-apa? Umi khawatir nanti kamu kenapa-napa kalau ditinggal sendiri di rumah." Aku tahu Umi mencemaskanku, tetapi aku tidak ingin membuatnya ketakutan.


"Iya, Umi. Percaya deh."


"Baiklah, kalau begitu Umi pergi dulu. Nanti pukul sembilan kami kembali. Jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat, em? Assalamualaiku."


"Waalaikumsalam."


Setelah kepergian Umi, saat itu juga aku berlari ke kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perut yang terasa diaduk-aduk. Aku benar-benar merasa tak nyaman. Ingin rasanya aku berbaring dalam pangkuan Umi.


Puas memuntahkan isi perut, akhirnya aku pun membasuh wajah. Lantas memandangnya penuh seksama. Rupanya aku terlihat pucat. Sepertinya kondisiku cukup serius.


Pukul dua belas malam, rasa sakit itu kembali menyapa. Menyerang ulu hati yang kian perih.


Bersamaan dengan itu, telingaku menangkap suara ******* dari kamar sebelah. Aku tahu itu suara maduku. Akhirnya aku pun menarik selimut, menutup seluruh tubuh sembari menahan sakit yang semakin keronta ria di dalam sana.


Ya Allah, jika memang sakit ini adalah bagian dari penggugur dosa, maka berilah aku secuil kekuatan. Angkatlah penyakit ini. Doaku malam itu.


Bisa bayangkan bagaimana perasaan saat sedang menahan sakit secara lahiria? Ditambah lagi dengan guncangan batin dari kamar sebelah? Sungguh sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Sesulit inikah mencari nikmatnya Allah?


Pagi harinya, aku memutuskan untuk ke Dokter tanpa sepengetahuan siapapun. Aku berangkat pagi-pagi sekali.


Setibanya di rumah sakit, ternyata Dokter masih belum ada. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sambil menahan rasa sakit yang timbul tenggelam menggelitik perut.


Hampir dua jam menunggu, akhirnya Dokter pun datang. Aku menjalani pemeriksaan secara intens.

__ADS_1


Hasilnya pun menakjubkan. Aku dinyatakan hamil tujuh bulan. Mengapa aku tidak bisa merasakan kehadiran darah dagingku sendiri? Apakah karena setiap bulan aku masih menstruasi? Sehingga mengabaikan kehadirannya.


Anehnya, tak ada perubahan fisik yang ku alami. Semuanya berjalan normal. Seminggu belakangan barulah rasa sakit ini menggerogoti tubuh.


Setelah mengetahui fakta, bahwa aku hamil, demi Allah aku benar-benar bahagia. Akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ibu.


Tidak kusangka, bila hubungan yang hanya sekali dilakukan telah membuahkan hasil. Sungguh cara kerja Allah tak ada yang mampu menebak.


Namun, di sisi lain aku merasa dilema. Antara hendak memberitahu Mas Alvin dan keluarga, atau justru menyembunyikannya.


Bila aku menyembunyikan kabar bahagia ini dari Umi dan Abah, tidakkah mereka akan kecewa terhadapku bila mengetahuinya?


Sejak lama mereka menantikan kehadiran seorang cucu di dalam rumah itu.


Lama menimbang rasa, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu Umi dan Abah. Pun Mas Alvin yang masih berstatuskan suamiku.


Akan tetapi, setibanya di rumah. Aku mendapati kenyataan pahit, bila Rukaya juga turut mengandung anak Mas Alvin. Usia kandungannya telah menginjak dua bulan.


Tak terasa air mata ini jatuh menetes di pipi, kala menyaksikan kebahagiaan orang-orang di depanku.


Ada Umi, Abah, dan juga Mas Alvin. Hanya Mas Al yang tak menampakkan batang hidungnya.


Aku hendak memberitahu perihal kehamilanku, tetapi mendadak hati ini terurung melemah. Aku telah kehilangan gairah. Melihat Umi dan Abah bahagia, sudah cukup membuatku tenang.


Di sisi lain, bila Mas Alvin tahu aku mengandung anaknya, belum tentu dia akan menerima kehadirannya. Mengingat cara Mas Alvin memperlakukanku. Dia tidak pernah menginginkan anak dariku.


Yang terjadi malam itu hanyalah sebuah kesalahan. Dia terbuai pada suasana malam yang diguyur hujan lebat. Sehingga jiwa kelakiannya tak dapat terkendali.


Aku lihat Umi tersenyum ceria, mengusap kepala menantu keduanya. Aku tahu Umi adalah orang yang baik. Meski sempat menolak poligami, tetapi beliau tidak pernah membedakan kami.


kasih sayang Umi sama rata. Baik kepadaku, maupun terhadap Rukaya. Umi tidak mungkin menolak kehadiran cucu yang telah lama diidamkan.

__ADS_1


Lantas aku pun memegang perut yang masih rata meski telah berusia tujuh bulan sembari membaca surah Al-Fatihah.


__ADS_2