Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Aku Tidak Akan Menceraikanmu!


__ADS_3

Satu hal yang masih belum bisa ku cerna, saat Mas Alvin menolak untuk bercerai. Sedang dulu dia lah yang menginginkannya. Lantas mengapa sekarang dia menolak saat aku meminta?


Bukankah dengan kepergianku, mereka lebih bahagia? Aku tidak dibutuhkan di rumah ini. Aku hanyalah ibarat patung manekin yang kapan saja bisa dipajang sesuka hati.


Statusku memang sebagai istri pertama, tetapi Mas Alvin memperlakukanku selayaknya seorang pencuri.


Kini aku meminta pergi, karena sudah tak tahan lagi. Aku ingin merenung di rumah Abah. Mungkin dengan begitu suasana hatiku lebih tentram.


Apa gunanya hidup satu atap bila tak satu visi dan misi. Apa gunanya menikah bila tak sepemahaman.


Sudah cukup aku berjuang mempertahankan pernikahan, tetapi usahaku tak dihargai. Aku disia-siakan seperti sampah.


"Mengapa Mas tidak mau menceraikanku? Bukankah segalanya akan lebih mudah bila kita berpisah?" tanyaku sebelum Mas Alvin keluar kamar.


"Mengapa kau sangat keras kepala? Bila aku berkata tidak, maka artinya tidak. Lagi pula, bukankah kau yang tidak menginginkan perceraian? Lalu mengapa sekarang kau berubah pikiran?" balas Mas Alvin, melempar kesalahan itu kepadaku.


"Lalu bagaimana dengan Mas Alvin? Mengapa Mas tidak mau melepasku? Bukankah sudah ada Rukaya? Bahkan sebentar lagi kalian akan mempunyai anak," lirihku di penghujung kalimat.


Kegetiran itu lagi-lagi menyapa hati yang kian sakit. Aku hidup menderita selama ini, dan kini aku tak mau lagi. Aku harus menyelamatkan calon buah hatiku.


Penting bagiku untuk menjaga kewarasan sebelum aku benar-benar gila menghadapi sikap suami yang tak ada rasa tanggung jawabnya.


"Jika kau memilih untuk tinggal di rumah mendiang Abah, maka silahkan saja. Namun, perceraian itu tak akan pernah terjadi. Silahkan berpikir sesuka hati, dan anggap aku egois. Namun, sampai kapanpun juga kita tetap sepasang suami istri yang sah, suka dan tidak sukanya kau. Apa kau paham sekarang?"


Lantas Mas Alvin benar-benar keluar kamar, membanting pintu cukup keras. Aku hanya bisa menatap nanar daun pintu kayu tersebut.


Keesokan harinya, kami berkumpul di ruang keluarga. Aku hendak menyampaikan keinginan yang telah bulat.


"Apakah kau tidak bisa mengubah keputusanmu, Nak?" Umi menghampiriku. Lantas memegang jemari ini.


Seperti biasa, Umi menatapku penuh kasih. Aku tahu beliau masih merasa bersalah terhadapku karena ulah Mas Alvin.


Pun Abah dan juga Mas Al yang kerap menatapku iba. Dua pria itu tak kalah dari Umi yang menyayangiku sepenuh hati.

__ADS_1


"Maafkan aku, Umi. Aku sudah membuat keputusan. Lagi pula di sana aku tak sendirian. Ada Paman dan juga Umi Kalsum yang menemaniku. Disamping itu juga ada para santri tempatku mengajar."


Ya, seminggu lalu diam-diam aku mendaftarkan diri ke pesantren dekat rumah Abah. Aku tak ingin meratapi kemalangan seorang diri di rumah. Biarlah ku bawa tubuh yang mulai terasa berat ini dengan menyebar ilmu kebaikan.


"Jadi kau akan mengajar di sana? Lalu bagaimana dengan santri di sini?" Abah berdiri menghampiriku.


"Kan ada Ustadza Zaenab yang membantu. Lagi pula Rukaya juga ada di sana. Dia pasti bisa membantu mengembangkan pesantren itu," jawabku.


"Baiklah kalau memang menurutmu ini yang terbaik. Kami tidak bisa memaksakan kehendak. Namun, kau harus ingat satu hal, Nak. Kami masih mertua serta keluargamu. Jika sempat, sering-sering lah berkunjung. Kami akan merindukanmu." Aku tahu Umi tak akan mencegahku pergi. Sebab, beliau tak ingin melihatku menderita lebih lama lagi.


Sebagai sesama wanita, tentu saja Umi sangat tahu bagaimana perasaanku. Diduakan oleh seorang pria bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


Ku lihat Mas Alvin hanya diam di samping Rukaya. Dia bahkan tak bersedia menatapku sejak kami berkumpul.


Di dalam kamar, aku pun mengemas semua pakaian yang pernah ku bawa dari rumah Abah. Sedangkan pemberian dari Mas Alvin tak satu pun ku bawa pergi. Aku menyimpan rapi di dalam lemari.


"Assalamualaikum." Rukaya datang, berdiri di ambang pintu kamarku. Aku pun menyeka air mata yang tiada henti menetes sebelum akhirnya berkata, "Waalaikumsalam."


"Apakah aku boleh masuk?" tanyanya.


Rukaya mendekatiku, serta duduk di tepi ranjang. Pelan-pelan maduku itu mencengkeram jemari yang mulai berkeringat ini.


"Apakah Mba memutuskan meninggalkan rumah ini, karenaku?" tanya Rukaya bernada lirih.


Mungkin saja dia merasa bersalah terhadapku. "Demi Allah ini bukan karenamu. Perlu kau ketahui, bahwa aku tak pernah membencimu sedikitpun. Aku hanya tidak setuju dengan cara Mas Alvin memperlakukan kita berdua. Meski demikian, aku tetap berterimakasih padamu. Sebab, karenamu lah akhirnya aku bisa melihat senyuman di wajah Mas Alvin. Kau lah hidupnya. Hanya kau yang mampu membuatnya bahagia. Dulu aku terlalu percaya diri, bahwa kelak aku bisa memenangkan hati Mas Alvin. Namun, sepertinya aku salah. Kau lah orang yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna," jelasku panjang lebar.


"Tolong maafkan aku, Mba. Aku tidak bermaksud menyakitimu," lirih Rukaya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tahu," sahutku.


Aku menyadari, bahwa selama ini Rukaya menghormatiku selayaknya saudara. Dia tak pernah lupa posisinya sebagai istri kedua. Bahkan pernah aku mendengarnya meminta Mas Alvin agar bersikap adil terhadapku.


Beberapa kali pula ia meminta Mas Alvin menghabiskan malam bersamaku. Namun, Mas Alvin tak pernah bersedia.

__ADS_1


Sekali lagi ini bukan tentang Rukaya, melainkan tentang suami kami yang membagi cinta berat sebelah.


"Aku pamit, ya?" Akhirnya aku keluar dari rumah yang telah memperkenalkanku pada cinta.


Dengan berat hati aku melangkahkan kaki. Ku lihat Mas Alvin memalingkan wajah, seolah enggan menatapku.


Sedangkan Umi masih terisak dalam pelukan Abah. Sedangkan Mas Al entah kemana perginya.


Aku menyeret koper berisikan pakaian, menumpangi taksi yang sudah sejak tadi menunggu di depan pagar.


Mas Alvin tidak bersedia mengantarku. Sedang aku pun tak ingin di antar oleh siapapun itu.


Namun, di tengah jalan. Mendadak taksi yang ku tumpangi berhenti. Sehingga membuatku nyaris terpental.


"Ada apa, Pak?" tanyaku dengan jantung berdegup kencang.


"Ini, Dek. Ada yang menahan kita," jawabnya.


Aku pun melihat di sisi kanan taksi. Rupanya Mas Al yang menghentikan kami. "Ifa, keluar lah," katanya seraya mengetuk jendela mobil.


"Mas Al? Ada apa?"


"Biar aku mengantarmu ke kampung halaman."


"Tapi, Mas."


"Ayo." Tiba-tiba Mas Al membuka pintu taksi sebelum aku menyetujui perkataannya.


Kemudian ia pun membuka bagasi dan mengambil koper yang ku tadi ku bawa. "Ini Pak ongkos taksinya." Lantas Mas Al memberi uang seratus ribu kepada Supir taksi tersebut.


Ia pun mengantarku ke rumah Abah. Sungguh aku tidak mengenal Kakak iparku ini. Terkadang dia terlihat cerita, kadang juga bersikap misterius. Tadinya aku mengira Mas Al sedang berada di pondok pesantren yang baru seminggu ini dibukanya.


Namun, siapa sangka bila ia justru mengikuti kami dari arah belakang.

__ADS_1


"Mengapa bisa Mas Al mengikuti kami?" tanyaku.


Mas Al tidak menjawab, dia hanya diam dengan wajah muram. Tepatnya pria ini terlihat seperti sedang memendam amarah. Entah dia marah padaku, atau justru terhadap Mas Alvin yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


__ADS_2