Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Tidak Ingin Bercerai


__ADS_3

"Khlifa." Semua orang di ruangan itu terkejut saat mendengar suara Algazali menyebut nama Khalifa.


Dan betapa cemasnya Umi Huraira serta Ilham tatkala menyaksikan Sang menantu jatuh pingsan.


Debaran jantung keduanya berkedut kencang, seperti irama musik rock yang terputar dalam diskotik.


Umi dan Ilham menghampiri gadis itu. "Khalifa, bangun, Nak," kata Umi seraya menepuk pelan pipi gadis itu.


"Al, ayo bawa adik iparmu ke dalam kamar," titah Ilham akhirnya.


Seharusnya Alvin lah yang patut menggendong Khalifa, walau bagaimanapun juga ia adalah suaminya. Sedangkan Algazali hanyalah sebatas saudara ipar. Artinya mereka bukanlah muhrim yang wajib bersentuhan. Namun, kondisi saat ini mengharusnya pria tampan tersebut menyentuh kulit Sang adik ipar. Toh Alvin hanya diam saat melihat istrinya jatuh pingsan.


Seperti lelaki tak bertanggung jawab, Alvin mengabaikan Khalifa yang tak berdaya di dalam pelukan Algazali.


Al membaringkan Khalifa di atas tempat tidur. Dan di situlah mereka mengetahui segalanya. Dimana Alvin dan Khalifa tidur terpisah selama menikah.


Kursi sofa itu menjadi saksi bisu mereka. Sehingga kemarahan Ilham semakin membuncah. Namun, kali ini ia menahan diri. Tak ingin membuat keributan di tengah kondisi Khalifa yang memprihatinkan.


Sesaat Umi mengira menantunya itu tengah mengandung. Namun, saat melihat kondisi kamar Alvin, harapannya itu pun seketika pupus. Alvin telah menghancurkan keyakinan yang selama ini di ikrarkan dalam hatinya.


"Al, tolong ambil minyak kayu putih." Melihat kondisi menantunya yang tak kunjung siuman, Umi pun meminta Algazali untuk mengambil sesuatu yang sekiranya dapat membuat Khalifa sadar dari pingsannya.


"Ini, Umi." Lima menit kemudian Al datang dengan sebotol kayu putih yang ia ambil dalam kotak P3K.


Umi membuka tutup botol kayu putih tersebut, lantas meletakan di dekat hidung Khalifa untuk dihirupnya.


Tujuh menit kemudian Khalifa pun sadar. "Air," katanya dengan suara parau.


"Al, tolong ambilkan air itu," titah Umi.


Lagi-lagi Algazali yang menjadi tempat Umi Huraira meminta pertolongan. Sedangkan Alvin hanya menjadi penonton setia.


Lelaki berbaju kaos merah pudar tersebut juga tak mengatakan apa-apa saat Al sibuk mengurus istrinya.

__ADS_1


Entah Alvin membawa kemana hati serta pikirannya, sehingga ia terlihat seperti manusia tak berempati sama sekali.


"Khalifa, apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya Umi setelah memastikan perasaan Khalifa tenang.


"Umi, Abah, apakah aku boleh bicara empat mata bersama Mas Alvin?" Permintaan Khalifa sukses membuat Umi ketakutan. Sebab, berpikir, bahwa wanita itu akan menceraikan Putranya.


Umi dan Ilham tidak pernah menginginkan perceraian terjadi pada rumah tangga Putra bungsunya itu.


Di sisi lain, mereka sangat menyayangi Khalifa selayaknya putri sendiri. Namun, bila wanita itu telah memutuskan untuk bercerai, maka tak ada yang bisa dilakukan.


Umi Huraira dan Ilham tidak berhak menahan gadis tersebut. Sebab, Putranya lah yang bersalah dalam hal ini. Di samping itu juga Khalifa berhak bahagia. Sudah sejak lama ia hidup menderita bersala Alvin.


Ilham memegang pundak istrinya, seakan memberi isyarat kepadanya untuk menuruti permintaan Khalifa.


Pun Algazali yang memahami perasaan adik iparnya itu. "Baiklah," kata Umi akhirnya.


Ketiga orang itu pun keluar kamar, meninggalkan Khalifa dan Alvin yang masih sama-sama diam.


Sembari menahan tangis, Khalifa pun berkata, "Apa benar Mas mau poligami?"


Hatinya hancur ribuan keping. Alvin telah mematahkan kepercayaan dirinya. Khalifa mengira bila pemuda itu tak akan melangkah terlalu jauh bersama Rukaya. Namun, lihatlah sekarang. Dia bahkan berani memberitahu kedua orang tuanya ihwal hubungan terbunyi itu.


"Jika kau tidak ingin dipoligami, maka sebaiknya kita berce--"


"Cukup!" Khalifa tak kuasa mendengar kata 'cerai' keluar dari mulut suaminya. Terlalu dalam makna kata tersebut. Sehingga membuatnya terhempas ke dasar.


"Aku tidak ingin bercerai!" ungkap Khalifa akhirnya setelah beberapa saat diam, melirik jendela kamar yang basah akibat dari terkena air hujan.


"Dengar..." Suara Khalifa bergetar menahan pedihnya luka di dalam sana.


"Sampai kapanpun aku tidak akan bersedia bercerai, apa lagi dipoligami. Kecuali Mas Alvin sanggup berlaku adil padaku!" Kalimat Khalifa yang satu ini sukses membuat jantung Alvin berdegup kencang. Seperti tersimpan makna tersirat dalam tiap bait katanya.


"Apa maksudmu?" tanya Alvin mulai waspada.

__ADS_1


"Ya, bila Mas memutuskan untuk poligami, maka Mas harus memenuhi persyaratan yang aku ajukan. Apakah Mas Alvin siap?"


"Jangan mengada-ngada!" Seperti sudah tahu apa yang akan disampaikan Khalifa, Alvin pun memalingkan wajah, tak siap mendengar persyaratan yang diajukan istrinya itu.


Khalifa pun tersenyum sinis sembari berkata, "Mengapa? Apakah Mas takut? Baiklah, tidak masalah. Mas boleh poligami, tetapi aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Seperti kata Rosulullah, seorang suami boleh poligami atas izin istri pertama, dan wajib memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Jika tidak, maka pernikahan itu dianggap tidak sah."


"Baiklah, katakan apa syaratnya?" Terpaksa Alvin mengalah. Toh yang dilakukannya memang tidak benar.


"Aku ingin meminta hak yang sama dengan wanita yang akan kau nikahi," ungkap Khalifa.


"Apa maksudmu?" Alvin mengerutkan kening kebingungan.


"Biarkan aku menyelesaikan perkataanku. Setelah itu aku akan memberikan Mas Alvin kesempatan untuk bertanya."


"Lanjutkan."


"Pertama, jika Mas memberinya kasih sayang, maka berikan padaku juga dengan jumlah yang sama, meskipun aku tahu Mas Alvin tidak pernah menyukaiku, tapi berusahalah. Kedua, Mas Alvin harus bisa mengatur waktu untuk kami berdua, jangan berat sebelah, karena aku tahu Mas lebih mencintainya. Ketiga--" Khalifa menarik napas sebelum akhirnya mengatakan, "Jika Mas Alvin menggaulinya, maka lakukan hal yang sama denganku. Aku juga berhak atas dirimu, jiwa dan ragamu. Jika Mas menginginkan Anak darinya, maka aku juga ingin memberikan cucu untuk Umi dan Abah. Jangan pernah melarangku untuk menyebar ilmu di pesantren, dan jangan pernah permalukan aku di depan keluarga. Apa Mas Alvin siap?"


Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Khalifa sangat terpukul atas perlakuan Alvin. Ia pun sengaja mengajukan syarat menyakitkan itu sebagai persetujuan atas permintaan lelaki tersebut, agar Alvin mau mengubah keputusannya untuk poligami.


Sementara Alvin tampak diam memikirkan persyaratan yang diajukan oleh istrinya. Terutama pada poin dimana Khalifa meminta haknya sebagai seorang istri di atas ranjang. Sungguh Alvin tidak berniat melakukan itu bersamanya.


Tak pernah terlintas sedikitpun di benak lelaki tampan tersebut untuk menggauli Khalifa. Apa lagi memiliki anak dengannya. Jikalau mau, telah lama ia melakukannya. Sayangnya hasrat itu tak pernah hadir dalam hati seorang Alvin Ilham Akbar.


Namun, demi menikahi Rukaya, maka ia pun siap melakukannya. Meski tanpa rasa cinta di dalam hati. "Baiklah, aku bersedia."


Maka jatuh sudah air mata Khalifa. Tidak disangka, demi poligami, Alvin rela melakukan persyaratan berat yang ia ajukan. Terutama aktivitas di atas ranjang.


Khalifa sadar betul bila Alvin tak akan pernah menyentuhnya. Namun, hanya demi wanita lain, dia pun rela menanggal ego yang selama ini dipelihara. Sungguh sangat disayangkan.


"Besok aku akan kembali ke rumah Abah untuk memberi tahu Paman serta kerabat lainnya. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari mereka," imbuh gadis malang itu.


"Baiklah, aku akan mengantarmu."

__ADS_1


"Apakah Mas Alvin siap menerima segala konsekuensi yang akan terjadi nanti?" Dalam hati Khalifa berharap agar Alvin mau mengubah keputusannya untuk poligami.


"Aku siap." Namun, sayangnya lelaki itu tetap pada pendiriannya untuk menikahi Rukaya dengan siap melalui berbagai macam cacian serta makian dari semua orang, terutama dari kerabat Khalifa.


__ADS_2