Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Cemburu


__ADS_3

Di balik punggung kokoh itu, ku menatap senyap geraknya. Terlihat naik terun secara perlahan.


Suara dengkuran cukup keras memenuhi kamarku, hingga mata ini sulit terlelap.


Ku lihat suamiku sedang tidur di atas ranjang yang dulu ia tempati. Entah apa jadinya setelah fajar menyingsing. Apa yang harus ku katakan kepada maduku perihal malam pertama mereka. Haruskan aku berterus terang, bahwa Mas Alvin tidur di kamar ini?


Memikirkan saja membuatku tak tenang. Jujur saja, aku tidak tega memikirkan perasaan Rukaya yang hancur di malam pertama mereka. Sebab, aku pernah mengalaminya jauh sebelum dia.


Malam yang seharusnya menjadi momen paling berkesan, justru menjadi hal paling menyakitkan. Apakah Mas Alvin memang sangat suka mempermainkan perasaan wanita? Dahulu aku, kini Rukaya.


Pagi hari yang terasa canggung, dimana aku harus berhadapan dengan Rukaya di dapur. Biasanya hanya ada aku dan Umi, kini ada orang lain memasuki kehidupan kami.


"Assalamualaikum, Mba." Bagaimana Rukaya setenang itu setelah apa yang terjadi semalam? Apakah mereka tidak bertengkar?


Semuanya memang terlihat berjalan normal, lantas apa yang dilakukan Mas Alvin semalam? Mengapa ia memilih kamarku untuk menghabiskan malamnya? Aku sungguh tidak memahami jalan pikiran dua orang ini.


Mereka saling mencintai, tetapi harus hidup seperti dalam dongeng. "Waalaikumsalam," sahutku.


"Oh iya, apakah tidur Mba nyenyak?" Kali ini apa lagi? Mengapa dia menanyakan tidurku? Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan? Apakah jangan-jangan Rukaya mengira aku dan Mas Alvin melakukan... Ya Allah, astagfirullah. Mas Alvin benar-benar keterlaluan.


Jika dia tidak ingin menghabiskan malam bersama istri keduanya, setidaknya jangan pakai namaku untuk menghindari masalah.


"Khalifa, tolong potong dadu tempe ini. Umi mau buat sambal terasi." Beruntung Umi menyela percakapan kami. Entah jawaban apa yang bisa ku berikan untuk Rukaya.


"Baik, Umi," sahutku.


"Oh iya, Khalifa. Apakah hari ini kamu ada jadwal mengajar? Jika tidak, tolong temani Umi ke pasar, ya? Kebutuhan dapur kita sudah berkurang. Umi juga mau belanja buah," ucap Umi sembari mengulek sambal terasi kesukaan Abah dan Mas Alvin.


"Boleh, Umi. Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal mengajar. Aku senggang."

__ADS_1


"Apakah aku boleh ikut ke pasar?" Kami terdiam pasca Rukaya menawarkan diri hendak turut serta.


Sejujurnya aku merasa malu untuk jalan bersamanya. Aku masih belum terbiasa dengan situasi ini. Aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya. Terlebih lagi harus jalan bersama. Apa kata orang-orang? Mereka pasti akan bergunjing tentang kami.


"Rukaya, tolong temani aku ke butik hari ini, ya? Aku mau mengecek pakaian anak santri. Apakah sudah kelar atau belum." Tiba-tiba Mas Alvin datang ke dapur, mengajar Rukaya untuk menemaninya.


Hal itu sukses membuatku cemburu. Pasalnya Mas Alvin tak pernah mengajaku kemana-mana pasca menikah. Selalu Umi yang memintanya untuk menemaniku. Akan tetapi, bersama Rukaya dia sangat leluasa. Sungguh nasibku yang malang.


"Tapi aku mau ikut Umi dan Mba Khalifa ke pasar," kata Rukaya.


"Tidak apa-apa, biar Umi dan Khalifa saja yang ke pasar. Kau cukup temani Alvin ke butik." Sepertinya Umi merasakan seperti yang ku rasa. Tidak nyaman bila harus jalan bersama Rukaya.


Mungkin Umi belum terbiasa juga atas kehadiran menantu barunya. Andai Rukaya merupakan istri dari Mas Al, mungkin hubungan kami tak akan secanggung ini.


"Baiklah," jawab Rukaya.


Lantas ku lihat mereka jalan beriringan. Saling memegang tangan seolah tak terjadi apa-apa.


"Khalifa." Nyaris saja aku menangis andai Umi tak menyadarkanku dari pandangan ini.


"Ah iya, Umi. Tempenya sudah siap."


"Apa kau baik-baik saja?"


"Iya, Umi. Aku baik-baik saja."


"Mengapa kau melakukan ini, Nak? Apakah hatimu tidak sakit?"


Andaikan boleh jujur, tentu saja hatiku sangat sakit. Siapa yang merasa riang bila melihat suaminya bergandengan tangan bersama wanita lain? Dan siapa yang tak akan terluka bila harus dimadu?

__ADS_1


Selayaknya para wanita di luar sana, aku pun sama. "Ayo kita ke pasar setelah ini." Aku tak tahu lagi harus berkata apa, hanya ini lah yang bisa ku lakukan.


"Anaku, bila hatimu terasa sakit, lalu mengapa kau mengizinkan suamimu untuk menikah lagi? Seharusnya kau melarang saat itu. Setidaknya kau memprotes caranya memperlakukan dirimu." Umi melepas pisau di tangan, lantas menatapku dalam-dalam sembari memegang kedua pundak.


"Umi, mungkin ini bagian dari cobaan hidupku. Mengenai sakit hati yang Umi katakan tadi, tentu saja aku sakit hati. Hanya saja aku tidak berhak untuk marah," jawabku.


"Kamu berhak, Nak. Siapa bilang kamu tidak berhak? Kau bahkan memiliki hak penuh atas suamimu. Jika perlu, Umi akan membantumu untuk memisahkan mereka. Terus terang saja, Umi tidak setuju wanita itu menjadi menantu di rumah ini. Andai saja saat itu kau tidak memutuskan untuk menerimanya sebagai madumu, Umi tidak akan sudi membiarkan dia menginjakan kaki di rumah ini. Bagaimana bisa dia begitu tega pada sesama wanita?" Umi mulai terisak.


Sungguh tidak ku sangka bila kasih sayang Umi terhadapku begitu besarnya. Sampai hendak memisahkan Rukaya dari Mas Alvin. Seolah akulah anak kandungnya.


"Umi, bisa jadi ini adalah cara Allah mencintaiku. Aku tidak lagi mempersoalkan itu. Aku memang cemburu pada Rukaya, karena dia mendapat cinta Mas Alvin. Namun, demi Allah aku telah ridha," ujarku setulus hati.


"Sungguh mulia hatimu, Nak. Umi saja tak akan sanggup menghadapi persoalan hidup seperti yang kau lalui saat ini. Tolong maafkan Umi yang telah gagal mendidik Alvin," lirih Umi sembari mengatupkan kedua tangan kepadaku.


Air mata mertuaku pun bercucuran di pipi mulusnya. Umi benar-benar merasa malu sekaligus bersalah padaku.


"Apa yang Umi lakukan? Mengapa Umi meminta maaf? Aku baik-baik saja, Umi jangan khawatir." Aku memeluk hangat tubuh Umi. Tak kuasa melihatnya bersimpuh kepadaku.


Aku paham bagaimana perasaan Umi saat ini. Tentu saja dia merasa malu atas apa yang dilakukan oleh Mas Alvin.


"Umi, Khalifa? Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Abah datang menghampiri kami.


"Apakah ini tentang Alvin dan wanita itu?" Pun Abah yang masih mempersoalkan pernikahan kedua suamiku.


Jujur saja, seluruh anggota keluarga tak ada yang meridhai pernikahan kedua suamiku itu. Namun, kami tak dapat memisahkan dua sejoli yang saling mencintai. Ibarat menabur genderang perang. Maka hubungan kami akan terpecah belah.


"Abah tidak habis pikir, bisa-bisanya Alvin melakukan ini padamu, Nak." Sebelum akhirnya Mas Alvin menikahi Rukaya, telah terjadi bertikaian di dalam rumah kami.


Abah bersi kukuh tidak merestui pernikahan itu walau apapun yang terjadi. Bahkan Abah tidak bersedia hadir ke pernikahan mereka. Abah mengurung diri di dalam kamar selama seminggu lebih. Sedangkan Alvin semakin keras kepala pada keinginannya.

__ADS_1


Lantas aku bisa apa? Tentu saja aku tak kuasa melihat seorang Ayah dan Anak berseteru. Maka aku harus mengalah dan mendinginkan keduanya.


Akhirnya aku pun menemui Abah dan membujuknya untuk merestui Rukaya. Aku tahu Abah sangat terpukul dan tidak akan setuju. Namun, sekali lagi aku sangat menyayangi keluarga ini. Mana mungkin aku tega melihat mereka saling menyakiti.


__ADS_2