Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Rumah Abah


__ADS_3

Belajar dari perjalanan hidupku, bahwa kisah ini mendeskripsikan cara poligami yang salah. Dengan mengatasnamakan agama, maka banyak yang salah kaprah.


Lebih dari jutaan jiwa manusia, melakukan poligami dengan membawa-bawa agama yang dianutnya. Hingga status sehari-hari turut terseret.


Sejatinya tak ada Ustad yang berperilaku seperti Mas Alvin. Caranya berpoligami membuat banyak kaum Hawa ketakutan. Sebab, ia tak adil dalam membagi cinta.


Meski demikian, masih banyak pasangan suami istri yang melakukan poligami, tetapi mereka baik-baik saja. Selalu akur selayaknya saudara.


Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagiku. Aku justru menerima takdir yang nikmatnya luar biasa.


Mungkin banyak kaum Hawa yang berkata, bahwa masih banyak jalan menuju surga. Maka sebaiknya cerai saja.


Apalah dayaku yang semula masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangga, karena tak ingin mengalami kegagalan, serta berpikir, bahwa kelak Mas Alvin akan berubah pikiran.


Apa salahnya bila berjuang dahulu dalam menghadapi peperangan? Bila kelak aku ditakdirkan harus mengalah, maka aku siap mundur secara teratur.


Aku pikir Mas Alvin dapat melihat perjuanganku. Setidaknya dengan begitu ia akan bersedia membuka hatinya untukku. Namun, Sayang beribu kali sayang, semua itu hanyalah angan-angan dari sebelah pihak.


"Apa kau tidak lapar?" Suara Mas Al menyadarkanku dari lamunan.


"Aku masih belum lapar," jawabku tanpa selera.


"Mungkin kau tidak merasa lapar. Namun, bayimu membutuhkan asupan gizi. Setidaknya lakukan untuk dia." Aku salut pada Mas Al. Meski kami bukanlah sedarah. Namun, perhatiannya lebih dari sekedar Kakak.


Aku yang tinggal sebatang kara, sangat membutuhkan sosok Abang sepertinya.


Seharusnya Mas Alvin yang memperlakukanku seperti ini. Bukannya Mas Al yang notabenenya sebatas saudara ipar.


"Di sana ada kedai. Kau makan lah dulu. Sedang aku mau sholat dzuhur. Ingat, makan yang banyak dan jangan dibuang. Oke?" ucap Mas Al penuh perhatian.


"Iya, iya. Mas Al bawel banget sih," omelku.


"Itu karena kamunya keras kepala. Sudah tahu hamil masih juga ngeyel."


"Iya deh iya. Mas Al yang menang." Dan aku pun mengalah.


"Anak pintar." Mas Al melempar senyuman manis kepadaku.


Andaikan kami berdua adalah sedarah, mungkin aku akan merengek manja padanya. Betapa tidak, Mas Al selalu saja membuat semangatku naik turun.


Terkadang dia menghiburku, kadang pula menceramahiku.


Usai makan, aku menunggu Mas Al ibadah. Sedangkan aku tidak bisa melakukannya. Berhubung tamu bulanan masih datang menyapa.

__ADS_1


Anehnya, aku sedang mengandung. Mungkin ada sebagian wanita yang mengalami hal serupa sepertiku. Entahlah, mengingat ini adalah pengalaman pertama bagiku.


"Kau sudah selesai?" Mas Al duduk di depanku. Posisi kedai makan ini merupakan lesehan.


"Iya, sudah. Aku juga sudah memesan makanan untuk Mas."


"Baiklah, setelah itu kita lanjut ke rumah Abahmu."


Lima belas menit kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan. Lumayan jauh serta melelahkan.


Setibanya kami di rumah Abah, Umi serta Paman Yusuf menyambut kami.


"Khalifa? Kau datang, Nak?" Umi memelukku, lantas mencium kening ini.


Sebelum datang, aku tidak memberitahu mereka. Takut menciptakan kecemasan.


"Assalamu'alaikum, Om, Tante." Mas Al menyapa Paman dan Umi. Mencium punggung tangan mereka berdua.


"Wa'alaikumussalam. Oh iya, mana suamimu?" balas Paman Yusuf.


Sejenak aku terdiam memikirkan jawaban yang sekiranya dapat menutupi fakta di lapangan.


Setidaknya saat ini aku tak ingin membuat suasana menjadi canggung. Kasihan Mas Al, dia pasti akan merasa malu bila ku ceritakan yang sebenarnya terkait Mas Alvin.


Sebagai Kakak, pasti lah Mas Al juga turut andil dalam mendidik adiknya. Kelak dia juga akan disalahkan bila semua orang mengetahui kisah kami.


"Lalu koper ini? Apakah itu artinya kau akan tinggal lama di sini?"


Sumpah, aku bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Paman membuatku merasa bersalah.


"Iya," jawabku singkat.


Setengah jam Mas Al berbincang-bincang bersama Paman dan Umi. Setelah itu ia pun pamit undur diri.


"Assalamu'alaikum. Apakah Umi boleh masuk?" Umi datang ke dalam kamarku.


Semenjak kepergian Abah, rumah ini ditempati oleh Paman Yusuf dan Umi Kalsum. Mereka merawatnya dengan sangat baik. Bahkan kamar yang telah lama tak ku tempati, terlihat rapi dan bersih.


"Waalaikumussalam. Boleh, silahkan masuk, Umi," jawabku.


Umi duduk di tepi ranjang, menatapku dalam-dalam sembari memegang jemari ini.


"Apa kau dan suamimu baik-baik saja?" tanya Umi hati-hati. Seakan berusaha menjaga perasaanku.

__ADS_1


Aku menunduk, tak tahan menahan air mata yang telah tertampung di pelupuk mata.


Rasa sakit sekaligus kecewa yang sejenak ku lupa, kini mulai datang menyapa lagi seiring dengan pertanyaan Umi.


Aku tahu Umi sedang mencemaskanku. Namun, aku tidak baik-baik saja kala mendengar pertanyaan itu. Rasanya seperti teriris belati tajam.


"Mengapa kau menangis?" tanya Umi setelah melihat air mataku jatuh menetes di atas punggung tangannya.


"Hei, apa yang terjadi, Nak? Mengapa kau diam saja? Setidaknya beritahu Umi apa yang terjadi?" Umi mulai panik. Beliaupun semakin mendekat.


"Umi, aku hamil," lirihku sembari memeluk tubuh Umi.


Dalam pelukan itu, aku menangis sesegukan. Bagai tercekat air panas, melukai tenggorokan.


"Lalu mengapa kau menangis, Nak? Bukankah baik bila kau mengandung?" Umi masih belum tahu fakta sebenarnya.


Sedang aku masih menikmati tangisan dalam pelukan. Rasanya sungguh sakit luar biasa, hingga sulit rasanya ku jabarkan dengan kata-kata.


Sekuat tenaga aku berupaya mengubah nasib, tetapi Allah masih mengujiku dengan kehamilan ini.


Umi melepas pelukan, berusaha mengangkat kepalaku yang masih tertunduk lesu. "Katakan padaku, mengapa kau bersedih saat mengatakan kau mengandung? Apakah suamimu tidak menginginkan anak? Ataukah kau ada masalah dengan madumu? Katakan yang jelas sama Umi, Nak. Apakah suamimu tidak adil padamu?" Kali ini Umi mulai mencercaku secara beruntun.


Sementara aku masih saja menangis. Antara malu dan sedih, berkolaborasi di dalam sanubari.


"Mengapa kau diam saja, Nak? Katakan pada Umi apa yang sebenarnya terjadi? Setidaknya jelaskan pada Umi apa yang membuatmu bersedih seperti ini?" Lagi-lagi Umi kembali mengajukan pertanyaan. Namun, kali ini nadanya penuh desakan.


Aku tidak menyalahkan Umi, karena beliau sangat menyayangiku.


"Mas Alvin tidak adil, Umi," ucapku akhirnya, setelah mengumpulkan segala keberanian.


"Astagfirullah, Ifa. Sungguh malang nasibmu, Nak. Mengapa Ustad Alvin tega memperlakukanmu seperti itu? Bukankah dia paham aturan poligami?" Umi tersulut emosi tatkala tahu alasan di balik tangisanku.


"Umi, tolong jangan beritahu Mas Alvin soal kehamilan ini. Aku tidak ingin dia tahu," pintaku, memohon pengertian Umi.


"Mengapa? Apakah itu artinya Ustad Alvin tidak mengetahui perihal kehamilanmu?"


Aku mengangguk lemas menjawab pertanyaan Umi.


"Lalu kedua mertuamu? Apakah mereka juga tidak tahu?"


"Iya."


"Lantas bagaimana dengan saudara iparmu tadi? Apakah dia juga masih belum tahu?"

__ADS_1


"Hanya dia yang tahu," jawabku.


"Umi, aku mohon. Tolong rahasiakan masalah ini dari keluarga Mas Alvin. Biarkan ini tetap menjadi privasi." Lantas aku mencengkeram jemari Umi, memohon agar tidak membuka tabir fakta yang sebenarnya.


__ADS_2