
Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa telah memasuki hari ketujuh pasca kepergian Ibrahim, Abah Khalifa.
Kini wanita itu harus mengikut suami serta kedua mertuanya di kota Jakarta, tempatnya dulu menimba ilmu agama pertama kali.
Di depan makam Sang Ayah, Khalifa terkulai lemah. Ia menatap nanar makam tersebut, hendak pamit kepadanya.
Namun, sebelum memasuki area makam. Khalifa membaca, "Assalamu'alaikum ya ahlal kubur." Kemudian dilanjutkan dengan membaca surah Alfatihah. Setelah itu ia mengungkapkan isi hatinya dalam diam di depan makam.
Saking sedihnya, Khalifa meneteskan air mata begitu banyak. Seminggu berlalu, tak membuatnya serta merta melupakan sosok Ayah yang luar biasa bijaknya.
Andaikan waktu bisa diputar kembali, Khalifa ingin menghabiskan waktu bersama Sang Ayah. Merawatnya hingga sembuh, serta melakukan yang terbaik sesuai perintah agama.
Namun, sayangnya waktu itu tak akan pernah kembali, meski ditangisi sampai air mata mengeluarkan bulir-bulir darah.
Alvin hanya diam melihat istrinya menangis sesegukan. Ia tahu, bukan saatnya untuk berkata-kata. Pria itu tak ingin merusak momen penghayatan Khalifa.
"Apa kau sudah selesai? Ayo kita pulang, Abah dan Umi sudah menunggu kita," ucapnya setelah Khalifa menyelesaikan ritual ziarah.
"Iya," sahut Khalifa singkat.
Lantas sepasang suami istri itu pun meninggalkan makam Ibrahim serta istrinya.
"Assalamu'alaikum," ucap Alvin sesampainya di kediaman Khalifa.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokaatu. Kalian sudah kembali. Ayo pamit bersama kerabat yang lain. Sejak tadi mereka menunggu kedatangan kalian." Terlihat Ilham dan Umi Huraira sudah rapi, hendak kembali ke jakarta.
Hari itu menjadi perpisahan yang paling menyayat hati. Dimana untuk pertama kalinya Khalifa meninggalkan rumah masa kecilnya itu dan memulai kehidupan baru bersama Sang suami.
"Jadilah istri solehah. Tidak perlu seperti wanita mulia Siti khodija, atau wanita cerdas seperti Siti Aisyah. Namun, jadilah dirimu yang selalu rindu akan ridha Allah. Kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. Akan tetapi, sebagai manusia dewasa, setidaknya kita bisa membedakan mana yang mendatangkan syafaat dan mudarat," pesan Umi Kalsum kepada keponakannya itu.
Sembari berurai air mata, Khalifa pun memeluk wanita tersebut. "Terimakasih Umi, sudah membimbingku selama ini," lirih Khalifa.
Dengan berat hati, Khalifa meninggalkan kediaman Ayahnya itu. "Sayang, kau jangan sedih. Sekarang kami adalah orang tuamu. Jangan pernah merasa menjadi yatim piatu. Lagi pula, sekarang kau telah memiliki Alvin sebagai suamimu. Bukan begitu, Alvin?" Di dalam mobil, Umi Huraira menasehati Khalifa.
"Iya." Dengan nada bermalas-malasan, Alvin menyahut pertanyaan Uminya.
__ADS_1
Sementara itu, Khalifa tidak mengatakan apa-apa. Pikirannya masih tertuju pada mendiang Sang Ayah serta kediamannya.
Dahulu mereka sering menghabiskan waktu bersama. Baik dalam suka maupun duka. Kini Khalifa harus menghadapi dunia seorang diri.
Memiliki suami, tak membuatnya serta merta kuat. Terlebih lagi ia masih belum mengenal sosok suaminya itu. Perkenalan mereka cukup singkat, seakan tak ada jedah untuk mengenal satu sama lain.
Di sepanjang perjalanan, Khalifa memandang langit, seolah di sana terdapat bayangan kedua orang tuanya.
Umi Huraira pun turut menyaksikan Khalifa yang masih tampak datar. Namun, tak mengatakan apa-apa.
Sedangkan Alvin yang duduk di sisi Khalifa, hanya bisa menahan kekesalan. Entah mengapa ia tidak begitu menyukai keberadaan istrinya itu. Padahal Khalifa tidak melakukan kesalahan padanya.
Jika berbicara tentang pernikahan mendadak beberapa hari lalu, bukankah Khalifa juga korban? Dia tidak meminta Ayahnya untuk mempercepat pernikahan.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya tepat pukul tiga sore mereka tiba di jakarta.
"Masuklah, Nak. Sekarang ini adalah rumahmu." Umi mempersilahkan Khalifa masuk ke dalam rumah mereka.
"Mentang-mentang ada menantu, aku terlupakan. Astagfirullah," batin Alvin menggerutu.
"Hei! Mengapa kau melamun? Abah bilang bawa koper istrimu ke dalam kamar," imbuh Ilham setelah melihat Alvin tak bereaksi sama sekali. Pemuda itu terdiam tanpa kata, seolah bingung pada situasi saat ini.
Alvin nyaris tak percaya jika statusnya telah berubah. Kini ia memiliki istri. Alvin adalah pria beristri.
Sialnya, sampai saat ini nama Rukaya masih melekat di dalam hati. Sehingga sulit baginya menerima kenyataan.
"Baik, Abah." Sedang ia hanya bisa pasrah di depan Abahnya.
Ada dua koper milik Khalifa yang dibawa. Satu berisi pakaian, satunya lagi berisi buku pelajaran.
"Mengapa dia membawa begitu banyak barang? Apa dia sangat senang pindah rumah? Benar-benar payah," omel Alvin seraya mengangkut kedua koper Khalifa.
"Ini diletakan di mana?" Pertanyaan Alvin sungguh membuatnya terlihat bodoh di mata Ilham serta Umi Huraira. Betapa tidak, ia mempertanyakan posisi Khalifa di dalam rumah tersebut melalui koper yang dibawanya.
"Apa kau sedang bermimpi disambar petir? Jelas saja kau membawanya ke dalam kamarmu. Khalifa adalah istrimu," jawab Ilham penuh rasa tak percaya.
__ADS_1
"Hehe, maaf lupa kalau aku sudah menikah." Alvin menunjukan jejeran giginya yang putih bersih. Sehingga membuatnya telihat bodoh di mata Khalifa. Alhasil wanita tersebut tersenyum untuk pertama kalinya setelah Sang Ayah tiada.
Andai ia tak menggunakan cadar, barangkali Alvin akan menyaksikan senyuman manisnya.
"Ikut lah suamimu." Kemudian Umi Huraira memerintah Khalifa untuk mengikuti langkah Alvin ke dalam kamarnya.
Jujur saja, saat ini jantung Khalifa berdegup kencang. Tak percaya bila sekarang ia telah menjadi istri dari seseorang.
Pernikahan adalah sesuatu yang jauh dari bayangan serta cita-citanya. Meski sadar, bahwa setiap manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Namun, takdir justru membolak-balikan keadaan. Menjungkir balikan hati yang luar biasa tak pernah goyah tiap kali kaum Adam mendekatinya.
Namun, semenjak ijab qobul itu diikrarkan, seperti muncul getaran cinta di dalam hati untuk Sang suami.
Anehnya, Khalifa masih belum yakin, apakah rasa itu benar-benar cinta atau bukan.
"Siapa yang memintamu untuk duduk di ranjangku?!"
Seperti mendapat kejutan tak terduga, pernyataan Alvin sukses membuatnya terbelalak tak percaya. Khalifa kembali menegakan badan setelah nyaris mencapai tepi ranjang.
Padahal badannya benar-benar lelah setelah menempuh perjalan jauh. Sekarang yang ia butuhkan adalah merebahkan badan.
"Mas, aku--" Khalifa nyaris kehabisa kata menjawab suaminya.
"Maafkan aku." Khalifa menundukan kepala setelah Alvin menatapnya tajam.
"Apa kau pikir aku menikahimu karena cinta? Aku menikahimu karena terpaksa demi baktiku kepada Umi dan Abi. Statusmu hanyalah sebagai istri sementara. Setelah dua tahun pernikahan, aku akan menceraikanmu. Perlu kau ketahui, bahwa wanita yang ku cinta adalah Rukaya, dan dia lah satu-satunya wanita yang berhak atas diriku. Bukannya kau!"
Belum hilang sakitnya kehilangan orang tua, bahkan belum kering tanah kuburan Ibrahim, Alvin telah melukai hati Khalifa. Melupakan janji yang seminggu lalu diikrarkan di depan semua orang.
Sumpah demi Tuhan, harga diri Khalifa seolah dipertaruhkan saat ini. Hatinya tercabik-cabik perkataan suaminya sendiri.
Bila ada gadis lain di antara mereka sebelum pernikahan, lalu mengapa khitbah dilangsungkan? Mengapa kedua orang tua Alvin tak berterus terang sebelumnya? Ataukah pria itu yang sengaja menyebunyikan fakta tersebut dari semua orang? Pikir Khalifa.
"Mulai saat ini kau tidur lah di sofa itu. Sedang aku tidur di ranjang. Namun, kau tidak boleh memberitahu Abah dan Umi terkait hubungan kita. Kita hanya berpura-pura menjadi sepasang suami istri di depan semua orang. Namun, faktanya adalah kita hanyalah dua orang asing yang dipaksa untuk menikah."
Telah banyak Alvin memberi interupsi, hingga Khalifa lupa, bahwa saat ini ia telah berstatuskan istrinya.
__ADS_1
Seakan tak bertenaga, gadis itu pun hanya bisa diam. Mungkin lain waktu barulah bisa menyampaikan pendapatnya.