
"Mengapa Abang belum menikah juga? Adakah wanita yang Abang dambakan untuk menjadi pendamping? Seperti apa kriteria Abang?" Jujur saja, aku penasaran pada kriteria gadis idaman Bang Al.
Apakah dia seperti Umi, atau justru seperti Khalifa yang sabarnya luar biasa.
"Mengapa pula kau beralih pada urusan asmaraku?" jawab Bang Al.
"Hanya ingin tahu saja. Selama ini Abang tidak pernah membahas soal wanita," kataku.
"Aku tidak mempunyai kriteria. Bagiku, apapun yang diperkenalkan orang tua, maka itulah yang terbaik," jawabnya.
"Lalu mengapa dulu Abang menolak menikahi Khalifa? Padahal dulu Umi dan Abah menjodohkan kalian berdua."
Ini lah puncak dari rasa penasaranku terhadap Bang Al.
Dia memperlakukan Khalifa dengan sangat baik. Namun, anehnya dulu Abang justru menolak menikahi wanita itu.
"Saat itu pemikiranku masih belum matang. Jika ku paksa lanjutkan, maka rumah tangga kami tak akan layak disebut sebagai keluarga, melainkan pecahan kaca yang berubah menjadi kepingan beling. Kami akan saling menyakiti satu sama lain. Bukan bermaksud mendurhakai orang tua saat itu, hanya saja aku tidak ingin melakukan kesalahan yang berujung penyesalan. Lagi pula aku memberi penjelasan secara logis dan terbuka kepada Umi dan Abah. Aku tidak menutupi sesuatu di balik penolakan yang ku lakukan. Sedangkan kau menyembunyikan wanita lain dalam jawabanmu," jelasnya.
"Tapi saat itu aku--"
"Mas." Percakapan kami masih belum usai, tiba-tiba saja Rukaya datang dengan langkah tertatih-tatih sembari memegang perutnya.
"Rukaya, ada apa?" Sontak aku pun berdiri dan meninggalkan obrolan kami.
"Mas, sepertinya bayi kita akan segera lahir." Suara Rukaya terdengar cukup berat. Sepertinya dia hendak melahirkan sekarang.
"Bang, tolong panggil Umi dan Abah. Kita ke rumah sakit malam ini juga," pintaku, membopong Rukaya yang tengah merintih perih.
"Mas, aku sudah tidak kuat lagi. Rasanya sungguh sakit," keluh Rukaya
"Bertahanlah, Sayang. Kita akan ke rumah sakit." Aku menggendong Rukaya menuju mobil.
Seorang pria memang tidak bisa merasakan perihnya melahirkan. Namun, melihat kondisi Rukaya saat ini, maka terbersit lah pemikiran, bahwa seperti ini lah dulu Umi berjuang melahirkanku.
Gelisah, kepanasan, sakit menahan bayi yang beratnya telah mencapai tiga kilogram lebih hendak keluar dari jalur lahir.
Saat itu lah jihadnya seorang wanita. Andai ia meninggal saat bersalin, maka dia termasuk mati syahid.
"Mas, cepetan dikit. Aku sudah tak tahan lagi. Sepertinya bayi ini akan segera keluar." Suara Rukaya semakin terbata-bata.
"Bertahanlah, Sayang. Sedikit lagi kita akan tiba."
Kemudian ku lihat ada cairan bening kekuningan keluar lewat sela-sela paha Rukaya. Akhirnya aku menginjak pedal gas agar cepat sampai ke rumah sakit.
__ADS_1
Setengah jam perjalanan, akhirnya kami tiba juga. Maka ku bawa Rukaya ke ruang bersalin sekaligus, tanpa menunggu Dokter datang.
Sepuluh menit kemudian, Umi dan Abah serta Bang Al menyusulku.
"Bagaimana dengan Rukaya? Apakah dia sudah melahirkan?" tanya Umi.
"Masih sedang ditangani Dokter," jawabku.
"Suami dari Nyonya Rukaya." Tak lama salah satu perawat datang memanggilku.
"Iya, Sus. Saya," sahutku.
"Silahkan temani pasien bersalin. Berhubung ada di sini. Kehadiran Anda bisa memicu kontraksi. Hingga bayi lahir secara normal dan cepat," ucap Suster tersebut.
"Baiklah." Aku menyaksikan perjuangan Rukaya melahirkan bayi kami sungguh luar biasa.
Ia dipaksa mengejang, meski baru belajar. Napasnya ditarik ulur demi menetralkan gerak bayi.
Dokter memberinya aba-aba. Lantas Rukaya pun mengejang sekaligus mengerang kuat.
Sungguh luar biasa para kaum Hawa. Mereka rela merobek kehormatannya demi kami para suami.
Mereka rela menahan sakit tiada tara demi mempertahankan nyawa Malaikat kecil.
Maa Syaa Allah, kuasa Allah memang tak tertandingi. Dikaruniai kami seorang bayi perempuan bersuara merdu lagi cantik.
Oe... Oe... Oe...
Dan akhirnya perjuangan Rukaya pun telah memasuki tahap awal sebagai seorang Ibu.
Suara nyaring bayi itu sungguh menggetarkan jiwa kebapaanku. Inikah darah daging yang dulu hanya berbentuk seperti biji kecamba?
"Selamat ya, Tuan. Bayinya lahir dengan sehat, begitu juga Ibunya." Suara Dokter bahkan nyaris ku abaikan.
Perhatianku teralihkan pada bayi merah yang masih bercampur darah.
"Bayiku," lirihku terharu.
Lantas Suster tadi membersihkan bayi mungil itu. "Silahkan diadzankan Bayinya, Tuan." Kemudian memerintahku untuk mengazani bayi cantik tersebut.
Dengan suara bergetar, aku mendekatkan bibir ini ke kuping bayi merahku. Lalu melantunkan alunan adzan.
Usai mengurus segalanya, akhirnya Rukaya dan Bayi kami dipindahkan ke ruangan Ibu dan Anak. Di sanalah Umi dan Abah menyaksikan cucu pertamanya itu.
__ADS_1
"Maa Syaa Allah, cantiknya," puji Umi.
Bayi itu berada dalam gendongan Umi. Sembari tersenyum senang, Umi mengecup keningnya.
"Terimakasih telah melahirkan Putri kita. Apa kau masih merasa sakit?" tanyaku kepada Rukaya. Membelai kepalanya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Mas. Cuma tulang panggulku yang masih terasa ngilu," jawabnya.
Perjuangan seorang wanita saat melahirkan memang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Maka tak sepatutnya aku melukai hati Khalifa, karena dia juga seorang wanita. Meski tidak melahirkan Anakku.
Lalu ku beralih pada Bang Al. Ku lihat wajah saudaraku itu terlihat aneh. Dia seperti sedang memendam sesuatu.
"Mas, aku haus." Ingin ku bertanya, tetapi Rukaya mengalihkan perhatianku.
"Saya permisi sebentar, ada urusan sedikit." Sampai akhirnya Bang Al meninggalkan kami sembari memainkan ponselnya.
Mungkin dia sedang menghubungi seseorang. Entah siapa itu, aku penasaran. Apakah itu Khalifa?
Usai mengurus Rukaya, aku mencari Bang Al yang ternyata berada di kantin rumah sakit.
"Di sini rupanya. Sejak tadi aku mencari, Abang," ujarku. Duduk di depan Bang Al.
"Ada apa? Semuanya baik-baik saja, kan?" Seperti biasa, Abang memang pandai menutupi sesuatu. Sedangkan tadi ku perhatikan mimiknya sejenak berubah kala ku gendong Putri kecilku.
"Alhamdulillah baik. Hanya saja aku ingin mengajukan pertanyaan kepada, Abang."
"Silahkan, aku mendengarkan."
"Apakah Abang sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Ku tatap curiga Bang Al. Namun, dia selalu saja membalasku datar.
"Apa aku terlihat begitu?" Alih-alih menjawab pertanyaanku, Abang justru balik mengajukan pertanyaan.
"Seperti yang terlihat, Abang sedang menyembunyikan sesuatu. Aku sangat mengenal sifat Abang. Abang tak akan mudah mengakui. Namun, setidaknya kali ini jujur lah padaku. Sebab, aku merasa, bahwa hal itu berkaitan denganku."
Ya, hati kecil ini mengatakan, bahwa Bang Al sedang menyimpan rahasia besar. Entah apa itu. Ini lah yang coba ku gali kebenarannya.
Abang mengembuskan napas berat. Seakan terjadi peperangan batin dalam dirinya.
"Tidak terjadi apa-apa, Dek. Aku hanya sedang memikirkan pesantren yang akhir-akhir ini bermasalah." Entah mengapa aku merasa, bahwa Bang Al sedang membohongiku.
Jawaban yang diberikan tidak memuaskan, karena bukan ini yang sebenarnya tersembunyi di balik wajah sendu Abang.
"Aku harap Abang tidak mengecewakanku. Aku percaya pada, Abang." Ini adalah hari bahagia, dimana darah daging pertamaku lahir ke dunia. Sehingga tak ingin memancing pertikaian.
__ADS_1
Sekali lagi coba ku gali rahasia tersembunyi melalui sorot mata Abang. Namun, lelaki ini memang sangat pandai menaklukkan keadaan. Hingga akhirnya aku gagal lagi dan lagi.