
"Umi, Ustad Alvin sudah menikahi gadis lain." Sebagai seorang Ibu yang melahirkan, tentu saja hati Ratna hancur saat menyaksikan air mata Sang Putri. Dia bisa merasakan betapa pedihnya ditinggal kawin.
Harapannya untuk memiliki seorang menantu, pupus sudah. Alvin telah mengkhianati kepercayaannya.
Ratna cukup mengenal sosok Ustad tampan tersebut. Pasalnya Alvin sangat familiar di kalangan pesantren. Secara dia lah pewaris dari pesantren yang didirikan oleh Abahnya.
Sedangkan Algazali menolak hal tersebut. Ia lebih memilih mandiri ketimbang mewarisi aset orang tuanya.
"Anaku, jangan bersedih. Semua sudah takdir Allah. Mungkin saja dia bukan jodoh yang dipilih Allah untukmu." Rupanya Ratna sangat bijaksana menyikapi persoalan Putrinya. Tidak menghasut, apa lagi sakit hati.
Mungkin wanita bertubuh gemuk itu merasa kecewa terhadap Alvin, tetapi ia tak membencinya. Ratna bukan anak kecil yang tak pandai menyikapi setiap persoalan dunia.
"Tapi Mas Alvin gak bilang kalau dia telah dijodohkan sebelumnya. Aku juga baru tau beberapa hari belakangan," lirih Rukaya, masih dalam pelukan Uminya.
"Mungkin saja dia tidak tega menyakitimu, Nak." Lihatlah, betapa bijaknya Ratna. Padahal dalam kasus ini putrinya la yang tersakiti. Namun, ia justru tak mempersoalkan hal tersebut.
"Tapi bukankah lebih sakit lagi bila dia sengaja menutupinya? Toh pada akhirnya juga semua orang akan tahu, Umi." Rukaya melepas pelukan Uminya, masih menyalahkan keputusan Alvin yang terkesan sengaja menyembunyikan pernikahan. Sedangkan gadis itu tidak akan memaksa bila hubungan mereka harus berakhir di tengah jalan. Toh semua adalah bagian dari rencana Tuhan. Dia lah sebaik-sebaiknya penyusun rencana.
"Kemarilah," kata Ratna seraya kembali memeluk Putri tercinta. Lantas kembali berkata, "Terkadang manusia tidak mempunya pilihan lain selain menempuh jalur kebohongan. Bagimu dia sengaja menyembunyikan hal sebesar ini. Namun, bisa saja baginya semua dilakukan adalah demi menjaga perasaanmu. Barangkali dia masih ingin memilih waktu yang tepat untuk menjelaskan padamu terkait pernikahan itu. Kita tidak pernah tahu kisah seseorang, Nak. Bisa saja Ustad Alvin terpaksa menikahi gadis itu demi berbakti kepada orang tuanya. Bisa saja kan?"
Mendengar itu, tiba-tiba Rukaya mengingat perkataan Alvin yang mengatakan, bahwa ia tidak tahu menahu soal perjodohan itu. Dia juga terpaksa melakukannya demi cinta kasih terhadap orang tua.
"Mungkin Umi benar, tapi wajar kan Umi bila aku kecewa terhadap cara Ustad Alvin?" Kini Rukaya memahami posisi Alvin. Meski begitu ia tak menampik, bahwa ia masih kecewa terhadap pemuda tersebut.
__ADS_1
"Tidak masalah, Nak. Manusiawi bila kau kecewa. Hanya saja jangan terlalu lama, nanti setan masuk di antara kalian. Lalu membujukmu untuk memelihara sifat dengki di dalam hati. Apa kau paham sekarang?" Beruntungnya Rukaya memiliki Ibu yang luar biasa baiknya. Memahami kelu kesah yang melanda, serta tak menuntut atas apa yang menimpa mereka.
Sejujurnya baik Rukaya maupun Ratna sangat malu atas apa yang menimpa mereka. Pasalnya sebagian keluar mereka telah mengetahui hubungan dua pemuda yang saling mencintai tersebut. Rasa malu itu telah mencapai ke ubun-ubun. Hingga sulit rasanya menunjukan wajah ke semua orang.
Namun, mereka tak dapat berbuat banyak. Toh keluarga Alvin belum pernah mencetuskan akan meminang Rukaya. Semua masih sebatas rencana mereka.
"Apa? Ustad Alvin sudah menikahi gadis lain? Siapa, Umi? Mengapa kita tidak diberi tahu ihwal pernikahan itu?" Bila Ratna lebih bijaksana menyikapi persoalan Putrinya, maka lain halnya dengan Jamal, suaminya.
Pria berkepala plontos tersebut tidak terima bila Alvin menikahi gadis lain, bukan Putrinya. Terlebih lagi pernikahan tersebut terkesan diam-diam. Harga diri Jamal merasa tersudutkan dalam hal ini.
"Abah, sabar. Tenangkan dirimu. Jangan berteriak, nanti didengar anak-anak. Kasihan Rukaya." Ratna memelankan suara agar Rukaya tidak mendengar percakapan mereka. Pasalnya mental anak gadisnya itu masih down.
Kini Jamal duduk di tepi ranjang. Perasaannya berkecamuk, antara marah dan juga kecewa.
"Tapi dia sudah menyakiti hati Putri kita. Dia telah berjanji akan meminang Rukaya, Umi. Apa kau tahu artinya itu?" sarkas Jamal.
"Aku tahu, Abah. Namun, bila kita menuntut mereka, bukankah kita yang akan malu nantinya? Keluarga Kiayi Ilham pasti tak akan terima dengan perlakuan kita ke mereka. Terlebih lagi Rukaya mengajar di pesantren itu. Apa Abah ingin Putri kita dipermalukan di sana?" Kini Jamal berada dalam dilema.
Di satu sisi dia sangat menyayangkan sikap Alvin yang telah menyakiti Putrinya. Namun, di sisi lain bila ia menindak lanjuti masalah ini, maka taruhannya adalah nama baik Rukaya.
Di samping itu juga, Ilham dan keluarganya tak terlibat masalah apapun. Bisa dibilang mereka adalah relasi yang baik.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Rukaya sekarang? Apa dia masih shok?" tanya Jamal akhirnya setelah beberapa saat diam.
__ADS_1
"Seperti yang kau ketahui, Putri kita memiliki mental yang kuat. Namun, tidak dipungkiri bila dia masih kecewa terhadap Ustad Alvin. Namun, aku yakin pelan-pelan dia pasti bisa melupakan peristiwa ini seiring berjalannya waktu," sahut Ratna.
"Suruh dia keluar dari pesantren itu. Cari pesantren lain untuk mengajar." Mendadak Jamal membuat keputusan secara sepihak tanpa merundingkan bersama Rukaya.
"Tidak bisa gitu dong, Bah. Kita tidak boleh memutuskan sendiri masa depan Rukaya. Walau bagaimanapun juga ini adalah masalah pribadinya. Kita harus tahu apa pendapatnya soal ini." Tampaknya Ratna kurang setuju dengan stigma Sang suami.
"Biar aku yang bicara dengannya." Jamal hendak berdiri menemui Rukaya di kamarnya.
"Jangan dulu, Abah. Biarkan dia tenang dulu. Jangan desak dia dengan persoalan pesantren. Perasaannya masih belum stabil saat ini. Tunggu beberapa hari lagi, em?" Akan tetapi, Ratna mencegat suaminya itu.
"Baiklah." Dan beruntungnya Jamal tidak memaksakan kehendak terhadap Rukaya.
"Dengar-dengar kau dicampakan ya sama Ustad Alvin?" Julaiha, Kakak Rukaya. Memojokan gadis itu.
Seperti yang diketahui, hubungan keduanya tak begitu baik. Julaiha kerap merasa dengki terhadap adiknya, karena lebih diutamakan oleh kedua orang tua mereka. Padahal nyatanya Ratna dan Jamal tidak pernah membeda-bedakan kedua Putri mereka.
"Mau Kakak, apa?" Rukaya menyeka air matanya yang masih tumpah ruah. Lantas berdiri menghadap Julaiha dengan tatapan menantang.
Seperti itulah hubungan mereka. Tidak pernah akur semenjak Jamal memutuskan menyekolahkan Rukaya ke Kairo ketimbang dirinya.
Bukan tanpa alasan Jamal membuat keputusan tersebut, hanya saja Julaiha tidak memiliki bakat dalam bidang agama.
Julaiha tersenyum sinis, lantas ia maju tiga langkah lebih dekat dari Adiknya. Lalu ia pun berbisik, "Aku mau kau menangis darah."
__ADS_1
Mata Rukaya membeliak tak percaya. Seorang Kakak yang sejatinya mampu menjadi panutan baginya, justru seperti musuh yang mematikan.