Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Soal Mas Al


__ADS_3

Pelan tapi pasti, aku pun mulai terbiasa dengan hidup yang saat ini ku jalani. Tidak ada lagi rasa kesal, apa lagi marah.


Terkadang rasa cemburu menghantui benak ini, tetapi aku selalu berhasil menyingkirkannya. Mungkin Allah telah melapangkan hati ini, sehingga tak lagi merasa sesak.


Allah telah menyaksikan betapa aku sangat meridhai rumah tangga suamiku bersama Rukaya.


Harus aku akui bila bersama maduku itu, Mas Alvin kerap tertawa ceria. Sedangkan saat bersamaku dia selalu bermuram durja.


Baik di rumah maupun di pesantren, Rukaya memperlakukanku dengan sangat baik. Aku pun menghargai itu. Namun, bila untuk mengakrabkan diri dengannya. Aku masih belum bisa.


Bukan karena tak suka, ataupun merasa malu. Aku hanya ingin menjaga hati ini agar tak mudah membenci. Toh aku juga memperlakukan Rukaya dengan sangat baik. Hanya saja hubungan kami bukan selayaknya saudara, atau seperti para Ustad yang mempunya istri lebih dari satu.


Hubungan kami boleh dikatakan kaku, tetapi boleh juga tidak. "Ifa, apa kau mendapat undangan pernikahan Ustadza Zaenab?" Mas Al duduk di kursi samping kananku.


Hari ini adalah hari minggu, semua keluarga berkumpul di rumah. Begitu juga Mas Al yang terkadang menghabiskan waktu di luar semenjak Rukaya menjadi bagian dari keluarga ini.


"Iya, aku dapat. Memangnya kenapa, Mas?" tanyaku sembari melepas majalah kosmetik yang kini ku tekuni.


Ya, sudah dua bulan terakhir aku menekuni bisnis kosmetik bersama salah satu teman lama sewaktu menimba ilmu di pesantren Azzahra. Hitung-hitung menambah pemasukan serta hiburan.


Aku memang tidak kekurangan uang. Mas Alvin pun masih menafkahiku. Setiap bulan aku mendapat jata bulanan.


"Apa kau mau ikut bersamaku? Aku tahu kau tidak akan langsung setuju, karena pastinya kau ingin meminta izin suamimu yang payah itu. Namun, untuk kali ini. Ikut lah bersamaku, em?" Aku nyaris tertawa saat Mas Al menyebut suamiku payah.


Entah mengapa setelah pernikahan kedua Mas Alvin, Mas Al kerap sentimental terhadapnya. Terkadang ia menyebut Mas Alvin sebagai pria stupid. Kadang juga memanggilnya Si tukang payah, dan hal itu sukses menghibur hatiku.


Mas Al memang sejak dulu adalah pria humoris, dan dia tak akan segan-segan membuatku tertawa meski hati sedang terluka. Contohnya seperti hari ini.


"Umi dan Abah kan ikut juga, Mas. Kita akan pergi beramai-ramai," jawabku.


"Ya mana tahu Umi dan Abah gak sempat. Jadinya aku memintamu lebih dulu," katanya.

__ADS_1


"Iya deh, ntar kalo Umi dan Abah gak jadi ikut, aku bakalan pergi sama Mas Al untuk mewakili keluarga ini."


"Kalian mau pergi kemana?" Tiba-tiba Mas Alvin muncul dari arah pintu samping. Seperti biasa, Mas Alvin melempar tatapan yang sulit untuk ku artikan.


"Ke kondangan, emang kamu mau ikut juga?" sahut Mas Al sedikit bernada ketus.


"Kondangan? Siapa yang mau nikah?"


"Mas, ini tehnya." Lima menit kemudian, muncullah Rukaya, memberi secangkir teh untuk Mas Alvin.


Melihat kemesraan pasangan itu tak lantas membuatku marah. Justru aku merasa geli memandangnya.


"Loh, emang kamu gak tahu ya? Ustadza Zaenab kan mau nikah nanti malam," kata Mas Al.


"Oh iya, hampir lupa. Sayang, kamu mau ikut juga kan?" Hubungan Mas Alvin dan Rukaya semakin hari kian mesrah. Panggilan mereka pun menjadi 'Sayang' sungguh sangat romantis.


Ku lihat wajah Mas Al seperti tengah menahan sesuatu. Air mukanya berwarna merah muda. Seakan menggambarkan situasi dimana aku yang tersakiti, tetapi dia yang terluka.


"Oh iya juga ya. Aku jadi lupa." Lantas Mas Alvin beralih padaku. "Ifa, apa kau tidak keberatan ikut bersama kami?" Entah mengapa Mas Alvin mempertanyakan hal ini padaku.


"Tentu saja dia akan pergi. Bukankah tadi kau dengar sendiri kami sedang membahas apa?" Kali ini Mas Al yang menyahut perkataan suamiku itu.


Hubungan mereka seperti renggang semenjak kehadiran Rukaya di dalam rumah ini. Sejujurnya perubahan sikap Mas Al bukan tanpa alasan. Melainkan karena ia menyayangiku sebagai adiknya.


"Ifa, aku mau bicara denganmu, empat mata," ucap Mas Alvin seraya menatapku tajam.


Rukaya dan Mas Al mungkin tahu akan posisi mereka, hingga memilih meninggalkan kami berdua.


"Bicaralah, aku mendengarkan," titahk setelah dua Rukaya dan Mas Al hilang dari pandangan.


Lalu Mas Alvin duduk di kursiĀ  seraya berkata, "Apa kau begitu menyukai saudaraku sampai kau sedekat itu dengannya? Apa kali ini juga kau lebih memilih pergi bersamanya ke kondangan ketimbang bersama kami?"

__ADS_1


Sumpah demi Allah, aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan Mas Alvin. Bukankah semuanya sudah jelas, bahwa Umi dan Abah juga turut serta ke acara pernikahan itu? Lantas mengapa Mas Al yang dipersoalkan.


Disamping itu juga, bukankah dia dan Rukaya juga turut serta? Lalu apa masalahnya? Di mana letak kesalahanku?


"Apa maksud Mas Alvin? Bukannya seluruh anggota keluarga ini turut serta? Bukan hanya aku dan Mas Al loh yang pergi, Mas," sahutku tanpa merasa marah sama sekali. Aku hanya tidak memahami tujuan dari pertanyaan ini.


"Namun, bukankah tadi kalian berencana pergi berdua?"


"Tapi, bukankah di pesta kita akan bertemu juga? Lalu apa masalahnya?" Jawabanku kali ini membuat Mas Alvin bungkam. Dia terlihat memendam kekesalan.


"Meskipun begitu. Apa kau tidak memikirkan apa kata orang nanti? Kau jalan berdua bersama saudara iparmu ketimbang bersama suamimu? Setidaknya pikirkan itu." Mas Alvin berbicara soal rasa malu, sedang dia sendiri tak menunjukan sikap itu. Sungguh tak ku percaya suamiku yang notabenenya sebagai seseorang yang paham akan agama, rupanya memiliki sikap egois yang tinggi.


"Apa Mas Alvin sedang menginterogasiku bersama Mas Al? Ataukah ini sebagai bentuk rasa peduli Mas terhadapku? Mas berusaha untuk adil kah? Atau terjadi sesuatu?" tanyaku secara beruntun.


"Aku tidak menginteriogasimu, tapi aku hanya tidak ingin kau menimbulkan fitnah begitu sampai di sana. Aku tidak ingin orang-orang bergunjing tentang kita." Mas Alvin berbicara seolah aku pernah mempermalukan dirinya. Bukankah dia sendiri yang menimbulkan fitnah itu?


Mengapa sekarang aku yang menjadi tertudu? Seolah aku lah penyebab dari segalanya.


"Fitnah? Apakah menurut Mas Alvin aku telah memicu fitnah di mana-mana? Bukankah seharusnya Mas mencubit kulit sendiri? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Jika ini soal Mas Al, aku rasa tidak masalah bila aku pergi bersamanya. Toh Umi dan Abah juga turut serta, Kalau Mas Alvin mau pergi bersama Rukaya, ya silahkan saja. Aku tidak marah atau kecewa," jawabku panjang kali lebar.


"Tapi bukankah kau tahu sendiri, bahwa Bang Al adalah seorang bujangan? dan dia juga bukan muhrimmu, Ifa!" sarkas Mas Alvin seakan tak tahu diri.


"Muhrim? Itukah sebabnya Mas Alvin menikah lagi agar orang-orang tidak memfitnah Mas? Agar hubungan Mas bersama Rukaya menjadi sah menurut agama dan negara? Sehingga kalian dikatakan sebagai satu mahram?" Aku pun mulai kesal. Betapa tidak, perkataan Mas Alvin seolah hendak menyudutkan diriku. Sedang dia tahu sendiri hubunganku bersama saudaranya seperti apa.


"Ifa!" seru Mas Alvin seraya bediri serta menatapku marah.


"Mas, aku tidak ingin berdebat denganmu. Jika ini soal Mas Al, baiklah. Aku tidak akan kemana-mana bersama siapapun itu, termasuk bersama Mas Al atau bersama Mas Alvin. Apakah Mas puas sekarang?" Akhirnya aku pun lelah. Sejak tadi Mas Alvin hanya memutar-mutar kata-katanya. Tak sedikit pun ia mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.


Jika ini benar tentang fitnah, bukankah dia sendiri yang memperumit segalanya? Orang-orang tidak akan bergunjing bila ia tak membuat masalah seperti ini.


"Permisi, assalamualaikum." Lantas aku pun meninggalkan Mas Alvin seorang diri. Sungguh pertanyaan tak berbobot. Mas Alvin hanya membuang energiku. Aku pikir dia akan membahas tentang hubungan kami, tetapi ternyata Mas Al justru mengusik ketenangannya. Sungguh sangat disayangkan.

__ADS_1


__ADS_2