Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Bukan Siti Khodija


__ADS_3

Malam itu menjadi saksi bisu antara dua pasang suami istri beda generasi makan bersama. Kendati ada hati yang gelisah, karena mengingat kekasih hatinya. Sementara ada istri sah di sisi kanan.


Sungguh Alvin terlihat tak beriman kepada Tuhan. Gadis yang saat ini menyuguhkan makanan penuh cinta adalah jodoh dari Sang pemilik hati yang sesungguhnya. Sayangnya, ia masih menampik. Tidak terima pada keputusan takdir.


Sadar, bahwa Khalifa adalah gadis yang luar biasa, serta berbudi pekerti luhur. Akan tetapi, ia terlalu gengsi untuk mengakui. Egonya telah menanggalkan logika. Sungguh sangat disayangkan.


Di sisi lain, meski harus mengubur dalam-dalam impian, Khalifa terlihat tetap tabah menjalani takdir yang tertulis dari Illahi.


Didikan mendiang Abahnya dipegang teguh, hingga berdiri kuat dan kokoh. Mentalnya dihajar habis-habisan oleh takdir, tapi lihatnya dia masih bisa melempar senyuman. Sedangkan dalam hati tengah menahan duka serta luka.


Dikiranya pernikahan itu akan berjalan mulus serta bahagia. Namun, siapa sangka bila suaminya sedang bersandiwara di depan semua orang.


Ironisnya, dia dipaksa turut serta dalam pusara sandiwara tersebut. Permainan Alvin sungguh cantik. Bisa dikata bergedok peci.


"Apa tidak sebaiknya malam ini kau istirahat saja? Masih ada Ustad Guntur yang mewakilimu di sana. Lagi pula, para Ustad dan Ustadza lainnya turut andil. Bahkan Ustadza Rukaya juga tak pernah alpa." Mendengar nama Rukaya terucap dari bibir Ilham, sontak Khalifa berhenti mengunya makanan. Berpikir, bahwa nama wanita yang disebut oleh Ayah mertuanya barusan ternyata mengajar di pesantren yang sama dengan suaminya.


Namun, sedetik kemudian ia melanjutkan aktivitas makannya seolah tak memikirkan apa-apa.


"Yang dikatakan Abahmu benar, Nak. Sebaiknya kau istirahat saja. Lagi pula, kasihan Khalifa harus kau tinggal sendiri di hari pertama menginjakan kaki di rumah ini," sambung Umi Huraira.


"Dia kan bukan Anak kecil lagi. Ngapain coba aku harus mengasihaninya?" omel Alvin di dalam hati.


"Tapi aku ada tugas di sana, Umi, Abah. Sudah seminggu aku menyerahkan seluruh tugasku kepada Ustad Guntur. Aku tak sampai hati bila terus membebaninya. Masih banyak Anak santri yang menyetor hafalan Quran. Belum lagi aku harus memanage keuangan untuk laporan seminggu belakangan. Bila aku terus mengulur waktu dengan berlibur, aku bisa pastikan, bahwa keberadaanku di rumah ini akan semakin jarang, karena aku harus menyelesaikan semuanya di pesantren," papar Alvin panjang kali lebar.


Memang ada benarnya perkataan Alvin, terlepas dari ia ingin menghindari Khalifa. Semua tugas dan kewajiban telah menantinya di pesantren tersebut.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Begitu selesai, kau harus lekas kembali." Akhirnya Ilham mengizinkan Alvin untuk menunaikan tugasnya di pesantren.

__ADS_1


"Oh iya, Mas. Apa aku boleh ikut?" Baru saja Alvin hendak beranjak dari tempatnya duduk, Khalifa justru meminta turut serta. Sehingga membuat Alvin memendam kekesalan.


Pasalnya ia tak bisa menghardik istrinya itu di depan Abah dan Umi. Di sisi lain, bila ia menolak gadis tersebut, sudah bisa dipastikan, bahwa ia akan mendapat pembelaan. Sedang Alvin dianak tirikan.


"Apa gadis ini mau cari masalah denganku? Atau dia ingin cari tahu tentang Rukaya? Sepertinya aku harus berhati-hati padanya," batin Alvin mulai waspada.


"Mengapa diam saja? Ajak istrimu juga." Lihatlah, Alvin diam pun Umi Huraira membela Khalifa. Lantas bagaimana bila ia menolak? Bisa jadi Alvin akan dikeluarkan dari kartu keluarga.


"Baiklah," sahut Alvin akhirnya seraya memaksakan senyuman.


Sementara itu, Khalifa tersenyum puas saat mendapat izin dari Alvin serta kedua mertuanya.


"Oh iya, jangan lupa perkenalkan juga istrimu pada Ustad dan Ustadza di sana. Walau bagaimanapun juga kalian menikah terlalu mendadak. Kita belum sempat mengumumkan pernikahan kalian. Begitu empat puluh hari kepergian mendiang mertuamu, kita akan menggelar resepsi." Sontak hati Alvin semakin sakit.


Tidak terbayangkan bila ia harus memperkenalkan Khalifa di depan Rukaya. Terlebih lagi harus menggelar pesta di atas luka kekasihnya.


Duduk bersama gadis lain di kursi pelaminan bukanlah bagian dari impian Alvin. Namun, itulah hidup. Terkadang kita menyusun rencana seepik mungkin. Akan tetapi, sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah yang paling sempurnah.


"Iya." Dengan berat hati Alvin mengiyakan perkataan kedua orang tuanya.


Entah apa jadinya bila di pesantren ada Rukaya yang menyaksikan kebersamaan mereka. Atau justru yang terjadi sebaliknya, entah apa jadinya Khalifa bila melihat gadis pujaan hati suaminya mengajar di tempat yang sama.


Sepasang pengantin baru itu pun pergi bersama ke pesantren yang diberi nama Az-zahra tersebut.


"Mengapa kau mau ikut bersamaku? Tidakah kau lelah karena perjalanan yang kita tempuh tadi pagi?" Di mobil, Alvin mulai mencerca Khalifa.


Entah dari sisi mana, sampai Alvin tak menyukai gadis bercadar tersebut. Dari segala sudut, Khalifa adalah wanita yang baik.

__ADS_1


Dia memang bukan titisan dari Sayyidah Siti Khadija binti Khuwailid yang dikenal sebagai perempuan bersifat bijaksana, terhormat, lagi cerdas. Pun istimewa di mata Allah.


Atau seperti Sayyidah Siti Aisyah binti Abu Bakar yang dikenal dengan kecerdasan serta kecemburuannya terhadap para istri Rosulullah.


Akan tetapi, Khalifa adalah perempuan yang dipilih Tuhan untuk dijadikan istri baginya. Lantas mengapa hal itu masih belum bisa Alvin ridha?


Ketetapan Allah adalah yang paling baik dan bijak. Mengapa masih mengharapkan dunia mengubah takdir?


Khalifa ibarat Bidadari perhiasan dunia. Akan tetapi, juga manusia biasa yang diberkahi hati oleh Sang pemilik langit dan bumi. Bila sengaja disayat, maka tersisa luka di sana.


"Terimakasih sudah mencemaskanku. Namun, aku sungguh ingin melihat pesantren dulu tempatku menimba ilmu pertama kali," sahut Khalifa bernada lembut seperti biasa.


"Siapa bilang aku mencemaskanmu? Aku hanya bertanya," sarkas Alvin, menampik perkataan istrinya.


"Iya," jawab Khalifa, singkat.


"Jadi, dulu kau sekolah di pesantren kami? Mengapa aku tidak pernah melihatmu?" Kali ini nada bicara Alvin sedikit melunak. Dia penasaran pada kisah Khalifa yang ternyata alumni pesantren yang saat ini ia pimpin.


"Apa Mas mengenal semua Santri di pesantren itu?" Jawaban Khalifa seakan menunjukan kecerdasan yang dimilikinya. Tanpa memberi jawaban mutlak, kata-kata tadi secara tidak langsung menjawab pertanyaan Sang suami. Sehingga membuat Alvin tersindir.


"Aku memang tidak mengenal semua santri di sana. Namun, setidaknya sekali saja kita pernah bertemu, tapi nyatanya tidak pernah, kan?" sahut pemuda itu.


"Mungkin itu cara kerja Allah mempertemukan kita, terkesan unik." Lagi-lagi jawaban Khalifa membungkam Alvin. Tampaknya gadis itu bukan sembarangan gadis. Kecerdasannya di atas rata-rata. Jadi, ia harus waspasa. Tidak boleh salah langkah. Pikir Alvin kala itu.


"Terserah apa katamu, yang ingin aku sampaikan adalah kau tidak boleh tebar pesona di sana. Apa lagi bicara sama Rukaya." Alvin memberi peringatan kepada Khalifa yang malang tanpa memikirkan perasaannya.


"Apa Mas Alvin takut seluruh Ustad di sana tertarik padaku? Tenang saja, Mas. In sya Allah aku pandai menjaga kehormatanku. Dan mengenai gadis bernama Rukaya, aku tidak tertarik untuk bicara dengannya. Aku tidak ingin turut serta dalam hubungan kalian." Lagi-lagi Alvin dibuat tercengang atas jawaban Sang istri.

__ADS_1


Tampaknya Alvin memang harus berhati-hati. Dia bukan menikahi gadis sembarangan. Khalifa adalah wanita yang pandai menjaga kehormatan serta lisannya.


Namun, sekali ucap, Alvin pun kalah telak.


__ADS_2