Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Aku Bersedia


__ADS_3

Hari itu langit mendung kelabu. Tak ada cahaya mentari yang hadir di antara dua orang yang sedang bersua di jembatan belakang pesantren.


Adalah Rukaya dan Alvin, mereka sedang membahas hubungan yang semakin runyam. Alvin yang masih saja belum bisa menerima Khalifa sebagai istrinya. Sedangkan ia tidak bisa menceraikan gadis tersebut karena alasan orang tua.


Dan Ia juga tidak rela bila harus melepas Rukaya. Sementara Rukaya sendiri kerap mendesak Alvin untuk memilih satu antara dia dan Khalifa.


"Aku tidak bisa menceraikan Khalifa sekarang. Umi dan Abah pasti akan menyalahkanku," kata Alvin saat itu.


"Lalu kau mau tunggu sampai kapan? Apakah sampai aku dikhitbah orang?" sarkas Rukaya semakin mendesak.


"Bukankah waktu itu aku memintamu untuk menikah denganku? Tidak ada salahnya bila aku berpoligami. Toh agama tidak melarang." Lihatlah, betapa egoisnya Alvin. Salah menerapkan konsep poligami.


Bukankah dia tahu sendiri, bahwa salah satu syarat poligami adalah atas izin istri? Lantas mengapa ia seolah bersikap tidak tahu apa-apa.


Poligami bisa terjadi bila sepasang suami istri telah sepakat untuk beberapa hal. Tidak saling menyakiti satu sama lain. Lalu bagaimana dengan keputusan Alvin saat ini? Bukankah dia terkesan sangat egois sekaligus arogan?


"Tapi aku--"


"Rukaya dengarkan aku, sudah satu tahun aku menikahi wanita itu. Apakah kau tidak merasakan sesuatu di dalam hatimu mengenai aku? Tidakah kau ingin menikahiku juga?" Entah apa yang coba dilakukan Alvin, yang pasti pria itu benar-benar sudah melampaui batas.


Di rumah ia selalu mencerca Khalifa, menghardik serta menzolimi bila gadis itu duduk berdua bersama Algazali.


Sementara di pesantren ia juga posesif terhadap Rukaya. Apakah dia inginĀ  mengusai dua wanita sekaligus? Benar-benar tak punya hati.


"Mas, aku--"


"Sstt, aku tahu kau tidak ingin dikatakan sebagai perusak rumah tangga orang. Namun, siapa yang peduli akan hal itu? Bukankah kita saling mencintai? Kau tidak merebutku dari siapapun. Justru dia lah yang hadir di antara kita," ucap Alvin, semakin meyakinkan Rukaya.


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? Bukankah mereka sangat menyayangi Khalifa? Bagaimana bila mereka tidak setuju dengan hubungan kita? Apa yang akan kau lakukan?" sangsi Rukaya.

__ADS_1


"Tentu saja Umi dan Abah tidak akan setuju dengan mudah. Namun, aku akan menjelaskan pada mereka tentang hubungan kita. Satu lagi, kau harus tetap percaya padaku apapun yang terjadi. Kita pasti akan menikah, dan mengenai Khalifa, dia tidak akan bisa menolaku kali ini," ujar Alvin penuh percaya diri.


"Apakah Mas Alvin yakin?"


"Aku yakin,"sahutnya mantap.


"Baiklah, aku bersedia menikah denganmu, Mas." Akhirnya prinsip yang dipegang teguh, runtuh juga.


Prinsip yang telah lama dijunjung tinggi, diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari, serta untuk membentengi diri, kini melebur menjadi dusta sekaligus khianat.


Ya, Rukaya telah mengkhianati prinsip serta kepercayaan yang selama ini diganggam. Ia seolah dibutakan cintanya terhadap Alvin. Sedangkan nyatanya pria itu adalah suami wanita lain.


Seharusnya sebagai sesama wanita, Rukaya mampu melihat duka Khalifa. Namun, ia memilih mengabaikan. Mementingkan ego sendiri.


"Alhamdulillah, terimakasih kau bersedia mempercayaiku. Aku janji padamu, aku tidak akan mengecewakanmu apapun yang terjadi." Alvin terlihat sangat bahagia ketika mendengar jawaban Rukaya.


Kini mereka telah sepakat untuk menghadapi segala konsekuensi yang akan terjadi kedepannya.


Mereka tidak akan menerima begitu saja keputusan Alvin dalam berpoligami. Ada syarat dan ketentuan yang wajib dipenuhi, dan itu tak akan mudah.


Bila memutusakan poligami karena terbawa nafsu, tentu saja hal itu akan menimbulkan dosa. Namun, bila alasannya adalah karena ingin membantu Lillahi ta'ala. maka tiada mengapa.


Plak!


Kini telapak tangan Ilham mendarat sempurnah di pipi putih mulus Alvin. Matanya membeliak penuh amarah saat mendengar perkataan Putranya yang memutuskan untuk poligami.


"Kurang ajar! Apa Abah mendidikmu untuk menduakan seorang wanita? Apakah Abah mendidikmu untuk menyakiti seorang wanita? Kau benar-benar memalukan!" omel Ilham penuh rasa kecewa.


"Apa kau tahu apa yang baru saja kau katakan, ha? Kau sudah merusak kepercayaan Umi dan Abah. Begitu juga dengan mendiang Abah Khalifa. Bagaimana bisa kau memutuskan untuk menduakan istrimu? Apa yang kurang darinya, Alvin?!" Suara Ilham semakin menggelegar, hingga memenuhi ruang keluarga.

__ADS_1


"Kami tidak bahagia, Abah!" sahut Alvin akhirnya. Sehingga Ilham dan Umi Huraira terkejut.


"Umi dan Abah memaksaku untuk menikahi Khalifa, aku pun menurutinya. Sebab, aku pikir meski tidak saling mencintai, kami bisa sama-sama saling memahami satu sama lain. Dengan begitu cinta akan hadir dengan sendirinya. Namun, yang terjadi di antara kami hanyalah perdebatan, kecewa dan saling menyakiti," papar pemuda tersebut.


"Saling menyakiti? Apakah itu artinya selama ini kau telah menyakiti Khalifa? Kau membuatnya menangis?" Suara Ilham semakin membahana, tak pelak istrinya semakin ketakutan. Sebab, penyakit jantung yang dideritanya akan kumat.


"Ini semua pasti karena wanita yang hendak kau nikahi itu kan? Kau jadi mengabaikan istrimu karenanya!" Kali ini Ilham menyalahkan Rukaya sebagai penyebab dari hancurnya rumah tangga Sang putra.


"Abah salah, justru Khalifa lah yang hadir di antara kami!" Jawaban Alvin sangat tegas. Suaranya pun mulai meninggi.


Sialnya, Khalifa yang baru saja pulang dari ziarah ke makam kedua orang tuanya justru mendengar perdebatan mereka.


Pun Algazali yang turut bersama Sang adik ipar. Air mata Khalifa pun tak dapat dibendung lagi.


Hatinya mulai berkolaborasi bersama rasa sakit yang luar biasa. Alvin sungguh tega menyakiti dirinya.


Tidak disangka, bila pria yang dikiranya berperilaku baik, justru mendustai pernikahannya sendiri demi wanita lain.


Memang benar bila Khalifa hadir di antara mereka, tetapi Alvin bukanlah suami Rukaya, melainkan hanya sebatas suka sama suka.


"Bukankah sudah aku katakan saat itu, bahwa aku tidak mau menikahi Khalifa. Lihatlah hasilnya sekarang. Aku justru menjadi pria jahat di mata Umi dan Abah. Bukan hanya Khalifa yang ku sakiti, melainkan mendiang Abahnya juga," imbuh Alvin kemudian.


"Kalau kau merasa bersalah pada mendiang mertuamu, maka perbaiki kesalahanmu. Bukan malah menyakiti putrinya. Sampai kapanpun juga Abah tidak akan pernah menyetujui keputusanmu untuk poligami. Tidak akan pernah!" sarkas Ilham semakin emosional.


Mata pria paruh baya tersebut memerah akibat dari menahan tangis serta amarah yang luar biasa.


Ia merasa bersalah sekaligus malu pada mendiang sahabatnya. "Khalifa, kau tidak apa-apa?" Mendadak Khalifa jatuh pingsan.


Beruntung Algazali ada di sisinya, sehingga kepala gadis itu tak terbentur ke lantai.

__ADS_1


"Khalifa." Umi Huraira dan Ilham serta Alvin menoleh pada Khalifa yang sudah dipapah oleh Algazali.


__ADS_2